Ini adalah memoar hidup aku. Segala hal yang aku ceritakan di sini adalah kejadian nyata yang pernah aku alami. Nama tokoh aku samarkan untuk melindungi privasi orang-orang yang bersangkutan. Aku menulis ini karena aku pelupa, jadi aku cuma enggak mau suatu saat apa yang aku ceritakan di sini aku lupakan begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilbonpcs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Perundungan
Aku adalah salah satu korban perundungan, dan aku juga salah satu dari ratusan orang korban perundungan yang berhasil bertahan dan selamat. Pikiranku masih waras, dan bahkan kemarahanku sebagai korban menjadi bahan bakar untuk terus bertahan hidup.
Masa SD-ku benar-benar normal. Sekalipun aku ini seorang introvert, aku selalu punya lingkaran pertemanan yang suportif. Seakan semua hal selalu berjalan baik, sekalipun keadaan enggak baik.
Namun, masa SMP-ku berbeda...
Enggak tahu… entah ini pengaruh atau enggak, aku SD di sekolah swasta Katolik, sementara itu aku SMP di sekolah negeri. Jujur… aku merasa perbedaannya sangat jauh. Pergaulan di swasta, sekalipun tetap ada kenakalannya, tapi tetap beraura positif. Sementara di negeri, benar-benar seperti hutan rimba. Kupikir istilah “makan atau dimakan” bisa diterapkan di sini.
Alasan aku dulu ingin masuk SMP negeri adalah karena celana… hahaha. Serius… dulu aku mikir, kayaknya keren banget gitu sekolah pakai celana panjang. Soalnya kalau aku masuk SMP swasta Katolik lagi, celana anak SMP swasta Katolik kan celana pendek, bukan celana panjang. Nah… aku ini bosan sekolah pakai celana pendek.
Waktu masuk SMP, untuk pertama kalinya aku merasakan kalau aku ini berbeda.
Jadi begini… sekalipun teman-teman SD-ku banyak yang Islam… yup, sekalipun sekolahku sekolah swasta Katolik, yang sekolah malah kebanyakan orang Islam… tapi aku enggak merasa berbeda. Karena dalam hal pergaulan dan pendidikan agama, semuanya diajarkan secara Katolik.
Tapi waktu SMP beda. Satu kelas cuma dua orang yang Katolik: aku dan satu temanku, yang sudah kulupa namanya, dan aku juga enggak pernah menganggap dia Katolik sama kayak aku… hahahaha. Soalnya, ya, auranya kayak lebih condong ke Islam daripada Katolik, jadi aku selalu merasa kalau satu kelas cuma aku sendiri yang Katolik.
Nah, di SMP ini juga aku mengalami yang namanya “rasisme secara enggak langsung” yang dilakukan teman-teman sekolahku secara enggak sadar. Kayak mereka yang mulai mencandai keyakinanku soal Tuhan, ibadah, dan pemimpin agama.
Tapi aku yakin mereka melakukan itu bukan dengan maksud rasis. Itu mungkin karena mereka belum paham saja kalau yang mereka lakukan menyinggung aku.
Tapi… waktu itu, daripada aku sibuk menanggapi candaan mereka, yang kulakukan malah mencoba mengerti sudut pandang mereka tentang agamaku.
Jadi, aku mulai membaca Quran terjemahan Indonesia dan Hadis riwayat Bukhari terjemahan Indonesia. Aku menemukan buku-buku itu di perpustakaan sekolah.
Dan aku menarik kesimpulan yang lumayan ekstrem waktu itu: “Agamaku salah.”
Jadi, aku mulai serius belajar agama Islam dan berencana pindah agama. Karena waktu itu aku belum menekuni ajaran agama Katolik. Apa yang aku tahu soal agama Katolik itu bukan berasal dari sudut pandang agama Katolik, melainkan dari sudut pandang agama Islam, karena aku tumbuh dan dibesarkan di lingkungan mayoritas penganut agama Islam.
Tapi beruntungnya, aku belum benar-benar lanjut pindah agama… hahaha.
Terus, karena waktu itu aku lagi senang-senangnya baca, aku baca apa saja. Dari mulai komik, novel, ensiklopedia, sampai kitab suci.
Setelah aku selesai membaca Quran dan Hadis itu, karena penasaran, aku lanjut baca Alkitab. Yup… dari sinilah keinginanku untuk pindah agama tertahan, karena aku menemukan fakta yang unik: “Apa yang agama Islam pikir benar tentang orang-orang Kristiani enggak pernah diyakini oleh orang Kristiani.”
Jadi ini semacam mispersepsi atau kesalahpahaman teologis yang mendalam dan sudah mendarah daging.
Aku mulai membaca Alkitab dari kelas dua dan baru selesai di kelas tiga semester awal, lengkap dari mulai Alkitab Perjanjian Lama sampai Alkitab Perjanjian Baru.
Tapi, SMP-ku belum terlalu religius…
Ah… ini cuma sekadar selayang pandang saja…
Intinya, aku pernah dirundung juga karena perkara agama, tapi yang paling bikin aku tertekan bukan karena aku pernah dirundung karena perkara agama. Ini mah aku biasa saja.
Ada perundungan super sadis yang bertahan sampai aku lulus sekolah…
Jadi waktu SMP, kayaknya hormonku naik, jadi keringatku bau. Tapi dulu aku enggak pernah mengerti kalau aku bau karena hormonku naik.
Anak-anak kelas mulai menjuluki aku “batang”, atau kalau dibahasaindonesiakan, “bangkai”.
Ini aku awalnya bingung. Kupikir aku enggak jorok. Aku bahkan rajin banget mandi, gosok gigi, dikit-dikit cuci tangan. Tapi kenapa badanku bau?
Kupikir dulu aku kena kutukan, dan ini membuatku minder…
Aku yang introvert jadi makin introvert lagi…
Aku lakukan segala cara biar badanku enggak bau. Mulai dari sabunan tujuh kali waktu mandi, sikat gigi tujuh kali waktu mandi. Makanya aku dulu kalau mandi pasti lama.
Orang-orang benar-benar menjauhiku.
Maksudku, kalau tahu badanku bau, jangan cuma merundung. Kalau serius peduli sama aku, kasih solusi. Karena bahkan aku dulu juga pakai parfum orang tuaku kalau berangkat sekolah, tapi tetap saja mereka bilang aku bau.
Tapi dari semua orang di sekolah yang menjauhiku, ada satu orang yang enggak komentar apa-apa soal bau badanku. Malah dia mulai berteman denganku.
Namanya Argi.
Anak laki-laki berbadan kecil yang mulai membahas segala hal soal pencak silat padaku.
Jadi… darinya, lingkaran pertemananku di SMP terbentuk.
Di masa SMP juga, aku menemukan cinta pertamaku.
Ceritanya, guru agamaku menyuruh aku dan seorang teman kelasku untuk datang ke acara retret remaja Katolik sekota.
Sebenarnya aku malas, tapi acara itu setiap sekolah negeri di kota harus mengirim dua orang wakilnya. Dan karena waktu itu aku kelas dua, enggak mungkin mengirim anak kelas satu, dan anak kelas tiga lagi sibuk menyiapkan ujian nasional.
Jadi, aku dan temankulah yang terpilih.
Acaranya berlangsung dua hari satu malam. Dari hari Sabtu sore sampai Minggu sore.
Aku berangkat dengan sangat terpaksa, karena aku introvert. Untuk mengajak kenalan anak-anak dari sekolah lain, aku malu. Jadi aku cuma diam saja, kayak orang hilang.
Pada salah satu sesi acara, guru pembimbing membuat suatu permainan biar kita semua makin akrab.
Kita diharuskan berpasang-pasangan cowok-cewek dan enggak boleh dari satu sekolah.
Paniklah aku…!
Aku bingung. Kalau begini caranya, mau enggak mau aku harus mengajak kenalan satu cewek.
Dan kucoba… apa reaksinya?
Dia langsung berkata di depan mukaku:
“Aku enggak mau, aku jijik!”
Di sini mentalku langsung kena. Aku yakin wajahku langsung pucat waktu itu.
Tapi akhirnya aku mendapat pasangan juga.
Kulihat satu cewek ini… yang sudah kulupa namanya… kayaknya dia mengalami hal yang sama kayak aku.
Tapi kulihat dia juga jijik padaku. Dia mau kuajak berpasangan enggak lebih karena dia juga enggak mendapat pasangan.
Tapi ada satu cewek unik…
Di sesi acara yang lain, kita diminta untuk membuat kelompok berisi lima orang.
Aku yang sadar diri cuma diam, karena aku yakin enggak ada yang mau satu kelompok denganku.
Tapi seorang cewek cantik mendatangiku.
Namanya Stefi.
Dia langsung mengajakku kenalan begitu saja, dan enggak cuma itu saja, dia juga mengajak dua cowok dan satu cewek lain untuk bergabung.
Di titik ini, hatiku merasa ada yang aneh… jantungku berdegup kencang.
Benar… aku jatuh cinta pada cewek itu.
Ini benar-benar cinta pertamaku. Cinta yang enggak pernah kuungkapkan padanya sampai sekarang.
Karena aku cukup goblok, pas acaranya berakhir, aku lupa menanyakan dia berasal dari sekolah negeri mana, dan aku lupa menanyakan nomor handphonenya.
Berhari-hari aku mengecek media sosial Friendster untuk mencari namanya, tapi enggak ketemu.
Tapi, penyesalan tinggal penyesalan.
Pada akhirnya, cinta pertamaku itu cuma tinggal kenangan.
---
Kalau kalian suka, kalian bisa mentraktirku kopi, dengan mengklik link di profilku, atau search link ini di browser kalian https://trakteer.id/lilbonpcs thanks sudah mengapresiasi karya ini...
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰
Tidak ada tujuan akhir disana. Tidak ada hadiah menanti. Tapi justru saat dia menyadari absurditas itu dan tetap memilih untuk mendorong batu, di situlah kebebasannya muncul.
Bahkan dalam penderitaan, Sisyphus bahagia
bukan karena penderitaannya menyenangkan,
melainkan karena penderitaan itu tidak lagi menguasainya🔥