Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gua yang Bernapas
Shen Yi berjalan di depan kelompok kecil itu, lentera minyak di tangan kiri menyala redup, cukup untuk menerangi jalan setapak berbatu yang menuju gua di belakang mata air. Angin malam membawa dingin yang lebih menusuk dari biasanya—bukan dingin musim, tapi dingin yang hidup, seperti napas dari dalam tanah. Di belakangnya, Lian'er melangkah pelan, napasnya sedikit tersengal karena bintik hitam di lengannya mulai merambat lagi. Raden Arya dan Lin Qingzhu mengikuti, diapit dua tentara pilihan yang membawa tombak dan obor.
Tak ada yang bicara banyak. Hanya suara langkah kaki, derak ranting kering, dan sesekali batuk pelan dari Lian'er yang berusaha disembunyikan.
Saat mereka sampai di mulut gua—sebuah celah batu sempit yang hampir tertutup lumut dan akar—dingin langsung menyergap seperti dinding tak terlihat. Lentera Shen Yi berkedip, nyalanya hampir padam.
Lin Qingzhu maju, mengeluarkan sehelai kain merah dari saku jubahnya. Dia membakar ujung kain itu dengan obor, lalu melemparnya ke dalam gua. Api kecil itu melayang masuk, tapi sebelum menyentuh tanah, api itu membeku jadi kristal es merah yang jatuh dengan suara retak pelan.
“Ini bukan dingin biasa,” kata Lin Qingzhu tegang. “Ini Han Gui Bing tingkat tinggi. Inti dingin di dalam gua sudah cukup kuat untuk membekukan api. Kita tak bisa masuk dengan cara normal.”
Shen Yi menatap gua itu. Noda hitam di bahunya berdenyut lebih cepat, seperti tahu bahwa “rumah” aslinya ada di dalam.
“Aku masuk dulu,” kata Shen Yi. “Darah teratai murniku bisa tahan dingin ini lebih lama. Kalau aku berhasil dekat ke batu inti, aku akan beri sinyal.”
Lian'er langsung memegang lengannya. “Tidak sendirian. Aku ikut. Teratai ku bisa lindungi kau dari dalam.”
Shen Yi menggeleng. “Kau sudah terkena. Dingin di paru-parumu masih ada. Kalau kau masuk lebih dalam, kau bisa tak kembali.”
Lian'er menatapnya tajam. “Kalau kau masuk sendirian dan noda itu bangkit lagi, siapa yang tarik kau kembali? Aku tak akan biarkan kau hadapi ini sendiri.”
Raden Arya maju. “Aku juga ikut. Ini tanggung jawabku sebagai putra bupati. Kalau inti itu hancur, wabah berhenti. Aku tak akan biarkan kalian ambil risiko sendirian.”
Lin Qingzhu mengeluarkan beberapa pil Yang Huo Dan dari kotaknya. “Minum ini dulu. Satu pil tahan dingin ekstrem selama satu jam. Tapi efeknya akan berkurang kalau dinginnya terlalu kuat. Jangan lebih dari satu jam di dalam.”
Mereka berempat menelan pil itu. Rasa pedas dan panas langsung menyebar di dada, melawan dingin yang sudah mulai merayap.
Shen Yi memimpin masuk. Lian'er di belakangnya, diikuti Lin Qingzhu dan Raden Arya. Tentara tetap di luar, menjaga mulut gua.
Di dalam, gua semakin gelap dan sempit. Dinding batu basah, tapi air yang menetes membeku jadi kristal hitam sebelum menyentuh tanah. Udara terasa seperti bernapas di dalam es—setiap tarikan napas membuat paru-paru terasa terbakar dingin.
Shen Yi merasakan noda hitam di bahunya berdenyut sangat cepat. Garis hitam mulai merambat lagi ke leher. Suara Xue Han terdengar jelas di kepalanya.
“Kau pulang… ke rumah aslimu. Dingin ini… nyaman kan? Kau tak perlu lawan lagi. Serahkan saja. Aku akan buat kau tak pernah takut kehilangan Lian'er. Kau akan jadi abadi… bersamanya.”
Shen Yi menggeleng keras. “Tidak. Aku nggak mau abadi kalau itu berarti kehilangan diriku sendiri.”
Lian'er mendengar gumaman itu. Dia memegang tangan Shen Yi dari belakang. “Shen Yi… apa dia bicara lagi?”
Shen Yi mengangguk. “Dia bilang ini rumahnya. Tapi aku tahu—ini rumah teratai, bukan es hitam.”
Mereka terus maju. Gua semakin dalam. Udara semakin dingin. Pil Yang Huo Dan mulai melemah—napas mereka mulai terasa berat.
Tiba-tiba, lorong terbuka ke ruangan besar. Di tengah ruangan, batu hitam besar berdiri tegak—tinggi dua meter, permukaannya seperti kaca obsidian yang retak-retak. Dari dalam batu itu, energi dingin hitam keluar pelan, mengalir ke saluran air kecil yang menuju sungai di luar.
“Itu intinya,” kata Lin Qingzhu tegang. “Batu dingin hantu. Kalau kita hancurkan, wabah berhenti.”
Tapi saat mereka mendekat, batu itu bergetar. Energi hitam membentuk sosok samar—bayangan Xue Han, tapi lebih besar, lebih gelap.
“Kalian terlambat,” suara itu bergema di gua. “Inti ini sudah menyatu dengan sungai. Kalian tak bisa hancurkan tanpa hancurkan kota ini.”
Shen Yi maju. “Kau bohong. Kau cuma sisa. Kau tak punya kekuatan lagi.”
Bayangan itu tertawa. “Coba saja. Tapi setiap kau coba hancurkan aku, dingin ini akan masuk ke tubuh kalian. Mulai dari dia…” Bayangan menunjuk Lian'er. “Dia sudah terkena. Dia akan jadi yang pertama membeku dari dalam.”
Lian'er tersentak. Bintik hitam di tangannya menyala gelap, garis hitam merambat cepat ke lengan dan dada. Dia jatuh berlutut, napas tersengal.
“Lian'er!”
Shen Yi berlari ke arahnya. Tapi bayangan Xue Han menghalangi—energi hitam membentuk dinding di depannya.
“Kau tak bisa selamatkan dia kalau kau tak serahkan tubuhmu padaku. Aku bisa buat dia abadi. Aku bisa buat kalian berdua abadi.”
Shen Yi menatap Lian'er yang mulai menggigil. Matanya penuh air mata. “Shen Yi… jangan dengarkan dia. Aku… baik-baik saja.”
Lin Qingzhu maju, melemparkan pil Yang Huo Dan ke arah Lian'er. Pil itu meledak jadi api merah kecil yang membungkus tubuh Lian'er, menahan dingin sementara.
Raden Arya berteriak. “Tabib Shen! Hancurkan batu itu sekarang!”
Shen Yi mengangguk. Dia berlari ke batu hitam, mengeluarkan botol Air Teratai Murni yang tersisa. Dia menuangkan seluruh cairan itu ke batu.
Cahaya emas meledak. Batu hitam retak besar-besaran. Bayangan Xue Han berteriak marah.
“Tidak! Kau tak bisa!”
Batu itu pecah jadi serpihan. Energi hitam meledak ke segala arah, tapi cahaya emas dari teratai murni menyerapnya—mencairkan semuanya jadi air biasa yang mengalir ke tanah.
Dingin di gua menghilang seketika. Udara kembali hangat.
Lian'er bangkit pelan. Bintik hitam di tubuhnya memudar sepenuhnya. Dia berlari memeluk Shen Yi.
“Kau… berhasil.”
Shen Yi memeluk balik. “Kita berhasil.”
Lin Qingzhu memeriksa batu yang sudah hancur. “Inti dingin sudah hilang. Wabah seharusnya berhenti menyebar.”
Raden Arya menatap Shen Yi dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih… kalian selamatkan kota ini.”
Shen Yi menggeleng. “Kami cuma lakukan apa yang harus dilakukan. Sekarang… kita kembali ke aula. Rawat yang tersisa. Dan tutup semua saluran yang tercemar.”
Mereka keluar dari gua. Udara malam terasa lebih ringan. Di kejauhan, kota mulai tenang. Massa di alun-alun sudah bubar—berita bahwa tabib gunung sudah temukan sumber penyakit mulai menyebar.
Di aula timur, pasien mulai membaik satu per satu. Bintik hitam memudar. Demam turun. Batuk darah hitam berhenti.
Lian'er duduk di samping Shen Yi di beranda kediaman bupati saat fajar menyingsing. Mereka memandang kota yang mulai hidup lagi.
“Kita berhasil,” kata Lian'er pelan.
Shen Yi mengangguk. “Tapi kita tahu… kalau ada sisa es hitam lagi di tempat lain, kita harus siap.”
Lian'er memegang tangannya. “Kita akan siap. Bersama.”
Di danau kecil di gunung Qingyun, teratai mekar lagi—lebih indah, lebih kuat, karena sudah melewati dingin terdalam dan tetap memilih hangat.