NovelToon NovelToon
Rencana Gagal Mati

Rencana Gagal Mati

Status: tamat
Genre:Action / Mantan / Komedi / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.

dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan

Angin malam di Bogor biasanya membawa ketenangan, namun malam ini, udara di sekitar pusat distribusi Koperasi Kurir Jujur (K.KJ) terasa berat dan pengap. Cahaya lampu neon dari gedung pusat memantul di atas genangan air hujan, menciptakan bayangan yang gelisah. Reza berdiri di balik jendela besar ruang kerjanya, menatap ke arah gerbang utama. Di sana, ratusan kurir berkumpul. Bukan untuk mengambil paket, melainkan untuk membakar ban dan membawa papan tuntutan.

"Teknologi adalah pengkhianatan!" teriak salah satu orator dari atas mobil bak terbuka. "Reza yang dulu menyelamatkan kita, kini ingin mengganti kita dengan mesin!"

Reza memejamkan mata. Rasa nyeri di dadanya kembali muncul, meski tidak sehebat dulu. Ini bukan serangan jantung, melainkan serangan kesedihan. Orang-orang yang dulu ia perjuangkan di depan istana, kini menunjuknya sebagai musuh.

"Mas, jangan keluar. Suasana sedang panas," Aris memperingatkan. Tangannya sudah berada di gagang pintu, siap mengunci ruangan jika massa merangsek masuk.

"Mereka takut, Aris. Dan ketakutan adalah bahan bakar yang paling mudah meledak," sahut Reza pelan. Ia menoleh ke arah meja kerjanya, di mana prototipe Exo-Frame sederhana tergeletak—sebuah alat bantu mekanis yang ia rancang untuk membantu kurir mengangkat beban berat tanpa merusak tulang punggung mereka. "Mereka menganggap ini adalah awal dari penggantian manusia, padahal ini adalah cara agar mereka bisa bersaing dengan robot Nova.Link."

Budi masuk dengan napas tersengal. Wajahnya yang biasanya penuh tawa kini tampak kuyu. "Za, Sandi ada di luar sana. Dia yang memimpin aksi. Dia bilang kamu sudah berubah sejak sering bertemu Elena Vance. Dia bilang kamu sudah jadi 'orang gedung'."

Reza tertegun. Sandi, pria yang dulu ia ampuni dari pengkhianatan, kini menjadi ujung tombak perlawanan terhadapnya. Retakan di pondasi K.KJ bukan lagi sekadar retakan kecil; ini adalah patahan besar.

Tanpa menghiraukan peringatan Aris, Reza berjalan keluar. Langkahnya tidak lagi secepat dulu, namun setiap pijakannya masih memancarkan wibawa yang sama. Begitu ia muncul di balkon lantai dua yang menghadap ke arah massa, teriakan hujatan mereda menjadi gumaman yang tidak menentu.

"Sandi!" suara Reza menggelegar tanpa bantuan pelantang suara. "Naiklah ke sini. Bawa perwakilanmu. Kita bicara sebagai keluarga, bukan sebagai majikan dan buruh."

Sandi, dengan jaket K.KJ yang sudah usang, mendongak. Matanya merah, antara amarah dan tangis. Ia mengangguk, lalu berjalan masuk ke gedung diikuti oleh tiga kurir senior lainnya.

Di ruang rapat, suasana mencekam. Reza tidak duduk di kursi pimpinan. Ia duduk di kursi plastik biasa di sudut ruangan, posisi yang sama saat ia memulai koperasi ini.

"Mas Reza," Sandi memulai dengan suara bergetar. "Kami dengar Nova.Link menawarkan dana triliunan untuk membeli sistem kita. Kami dengar Mas sedang menyiapkan alat untuk mengganti tenaga manusia. Kami ini orang kecil, Mas. Kami hanya punya tenaga. Kalau tenaga kami diganti mesin, anak kami makan apa?"

Reza menarik napas panjang. Ia mengambil Exo-Frame dari mejanya dan meletakkannya di depan Sandi. "Ini bukan untuk menggantimu, Sandi. Ini untuk menjagamu. Lihat Pak Salim, punggungnya sudah bungkuk karena sepuluh tahun mengangkat paket besar. Robot Nova.Link tidak punya rasa lelah, mereka tidak punya keluarga untuk diberi makan, dan mereka tidak butuh istirahat. Jika kita tidak menggunakan alat bantu, kita akan kalah cepat, dan pelanggan akan meninggalkan kita. Jika pelanggan pergi, koperasi ini tutup. Itu yang kalian inginkan?"

"Tapi alat ini mahal, Mas. Pasti ada yang harus dikorbankan untuk membelinya," bantah salah satu kurir.

"Yang dikorbankan adalah margin keuntungan tahunan saya dan dewan direksi. Bukan gaji kalian," tegas Reza.

 " Saya sudah menandatangani pengalihan dividen pribadi saya selama lima tahun ke depan untuk membiayai modernisasi ini. Saya tidak ingin kalian diganti robot. Saya ingin kalian menjadi 'Super-Kurir' yang tidak bisa dikalahkan oleh robot manapun."

Sandi terdiam. Ia melihat dokumen di atas meja yang menunjukkan rincian biaya tersebut. Ia menyadari bahwa pria di depannya ini masih tetap pria yang sama pria yang rela memberikan segalanya demi orang lain.

"Maafkan kami, Mas... Kami hanya takut," bisik Sandi, menundukkan kepala.

"Takut itu manusiawi, San. Tapi jangan biarkan takut membuat kita saling menghancurkan," Reza menepuk bahu Sandi.

Di sisi lain kota, Elena Vance memantau aksi demonstrasi tersebut melalui umpan kamera drone. Ia tersenyum tipis saat melihat ketegangan di markas K.KJ. Bagi Elena, manusia adalah variabel yang tidak stabil, dan ketidakstabilan adalah peluang.

"Tingkatkan kampanye beasiswa kita," perintah Elena kepada asistennya. "Targetkan kurir-kurir muda K.KJ yang berbakat IT. Kita ambil otak mereka, biar Reza hanya memiliki otot-otot yang sudah tua."

Elena tahu, Reza memiliki kelemahan terbesar: kasih sayang. Jika ia bisa memancing Reza untuk terus membela kurir-kurir yang sebenarnya sudah tidak produktif secara ekonomi, maka K.KJ akan bangkrut dengan sendirinya karena inefisiensi.

Setelah massa bubar, Reza tidak langsung pulang. Ia duduk di bengkel belakang bersama Aris. Mereka sedang memandangi barisan motor listrik yang baru datang.

"Mas, strategi Elena sangat licin," Aris berujar sambil membersihkan tangannya dari oli. "Dia mencoba memisahkan generasi tua dan muda di dalam K.KJ. Anak-anak muda ingin teknologi, yang tua takut teknologi. Kita terjepit di tengah."

"Kita butuh sebuah simbol, Aris," sahut Reza. "Sesuatu yang menunjukkan bahwa teknologi dan kejujuran bisa berjalan beriringan. Aku akan memimpin pengiriman pertama menggunakan alat-alat baru ini. Rute Bogor-Puncak saat badai besok."

"Mas, jantungmu..."

"Jantungku akan lebih sakit kalau melihat koperasi ini hancur dari dalam, Ris."

Reza tahu, esok hari bukan hanya soal mengantar paket. Esok hari adalah pembuktian: apakah seorang manusia dengan bantuan mesin bisa mengalahkan ketangguhan robot murni, sekaligus memenangkan kembali hati para kurirnya.

Malam itu, sebelum tidur, Reza menatap Fajar yang tertidur pulas. Ia menyadari bahwa ia sedang membangun sebuah dunia di mana teknologi seharusnya memuliakan manusia, bukan membuangnya. Ia teringat kembali pada tali jemuran kuning itu. Dulu, ia ingin mati karena beban hidup. Sekarang, ia berjuang hidup untuk meringankan beban orang lain.

1
magda lena
kalau di buat film pasti seru d, kyk mission impossible 👍
Night Watcher
🤭🤭🤭
zuwariyah c
novel yg inspiratif dan beda dr yg lain😍
Kal Ktria: terima kasih sudah membaca karya saya sampai akhir 🙏☺
total 1 replies
falea sezi
anya ne ngerepotin bgt tau hadeh jangan balik lah g rela q
falea sezi
gagal bundri y
oratakasinama
kek pernah baca di novel sebelah 🤣🤭
Kal Ktria: kak? mna , spil dong
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!