Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Langit di luar mansion tampak seperti tumpukan abu; mendung tebal menyelimuti pagi yang seharusnya membawa harapan. Di dalam koridor yang sunyi, langkah kaki Dr. Arisov terdengar seperti lonceng kematian. Ia menjinjing tas medis perak yang dingin, berjalan di belakang dua pengawal bertubuh raksasa yang diperintahkan untuk menjemput Alana.
Pintu kamar utama dibuka paksa. Alana, yang semalam tidak memejamkan mata sedetik pun, berdiri di sudut ranjang. Wajahnya yang tirus tampak kuyu, namun matanya memancarkan kilatan yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya. Saat kedua pengawal itu mencoba menyentuh lengannya untuk menyeretnya menuju ruang medis di sayap kiri mansion, Alana bergerak dengan kecepatan yang tak terduga.
Prang!
Ia menghantamkan vas bunga kristal di nakas ke lantai, lalu dengan tangan gemetar namun mantap, ia memungut pecahan kaca terbesar yang paling tajam.
"Jangan mendekat! Satu langkah lagi, dan aku bersumpah kalian hanya akan membawa mayat ke hadapan tuan kalian!" teriak Alana. Suaranya tidak lagi lembut; itu adalah lengkingan penuh keputusasaan seorang ibu.
Dante muncul di ambang pintu. Sosoknya menjulang, menutupi cahaya lampu koridor. Ia menatap pemandangan di depannya dengan rahang yang mengeras. Melihat Alana yang biasanya tunduk kini berdiri dengan pecahan kaca yang diarahkan ke nadinya sendiri, menciptakan amarah sekaligus gejolak aneh di dadanya.
"Semua keluar," perintah Dante, suaranya rendah dan sarat akan otoritas yang mematikan. "Dokter, tunggu di luar. Pengawal, tutup pintunya."
Ruangan itu seketika menjadi medan tempur dua jiwa. Dante melangkah maju, perlahan namun pasti, seperti predator yang memojokkan mangsanya. "Kau pikir kau bisa mengancamku dengan drama murahan ini, Alana?"
Dante bergerak secepat kilat. Sebelum Alana bisa bereaksi, tangan besar Dante sudah mencengkeram rahangnya dengan kuat, menekannya hingga Alana meringis kesakitan. Dante mendekatkan wajahnya, napasnya yang beraroma wiski dan tembakau menerpa wajah Alana.
"Dengar baik-baik," desis Dante dengan mata biru es yang berkilat kejam. "Di mansion ini, di dunia ini, kau tidak punya hak atas nyawamu sendiri. Kau tidak akan bisa mati tanpa seizinku. Bahkan maut pun harus meminta izin padaku sebelum menjemputmu!"
Alana menatap tepat ke mata pria yang telah menghancurkan dunianya itu. "Kalau begitu, lihatlah bagaimana aku tidak membutuhkan izinmu untuk merasakan sakit."
Dengan gerakan nekat, Alana menarik pecahan kaca itu di sepanjang lengan kirinya.
Sret!
Kulit putih susu itu terbelah, dan seketika cairan merah kental merembes keluar, membasahi gaun tidur putihnya. Dante mematung. Matanya melebar melihat darah Alana mengalir—darah yang seharusnya ia lindungi, namun kini tumpah karena kekejamannya sendiri.
"SIALAN! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Dante meraung murka. Melihat warna merah itu merusak kulit murni istrinya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia tidak bisa menoleransi ada orang lain yang menyakiti Alana, bahkan jika orang itu adalah Alana sendiri.
"ARISOV! MASUK! SEKARANG!" teriak Dante kalap.
Dr. Arisov berlari masuk dan dengan sigap segera menangani luka Alana. Dante melepaskan cengkeramannya, namun ia tetap berdiri sangat dekat, menatap dengan napas memburu saat dokter membalut lengan Alana yang bersimbah darah. Ruangan itu kini beraroma amis darah, memicu insting paling gelap dalam diri Dante.
Alana, meskipun wajahnya semakin pucat karena kehilangan darah dan syok, tidak melepaskan tatapan tajamnya dari Dante. Ia mengabaikan rasa perih di lengannya.
"Aku bersumpah padamu, Dante Volkov..." bisik Alana dengan nada yang dingin dan menusuk. "Jika kau berani menyentuh bayiku, jika kau berani memaksaku masuk ke ruang operasi itu, aku tidak hanya akan menggores lenganku. Aku akan menusukkannya tepat di jantungku saat kau lengah. Kau mungkin bisa menjagaku selama dua puluh empat jam, tapi kau tidak akan bisa mencegahku mati jika jiwaku sudah memilih untuk pergi."
Dante terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang lebih kuat dari kekuasaannya: insting pelindung seorang ibu. Ia melihat mawar kecilnya telah tumbuh menjadi singa betina yang siap mati demi benih yang ia tanam.
Amarah Dante masih membara, namun di balik itu, ada rasa takut yang mulai merayap. Ia sadar, jika ia memaksa menggugurkan janin itu, ia mungkin akan mendapatkan keinginannya, tapi ia akan kehilangan Alana selamanya—entah secara fisik atau karena jiwa gadis itu akan mati dan meninggalkan raga yang kosong.
"Kau berani menantangku demi seonggok daging yang belum bernyawa ini?" Dante bertanya, suaranya bergetar antara murka dan frustrasi.
"Daging ini adalah satu-satunya alasan aku masih bertahan di neraka yang kau buat ini, Dante," jawab Alana tegas.
Dante memandang Dr. Arisov yang baru saja selesai membalut luka Alana, lalu kembali menatap istrinya yang terluka. Di dalam kepala sang Predator, terjadi perang antara trauma masa lalu dan obsesi gila pada istrinya.
Sama klau bisa request yg dominan cewenyabdongggg
kecewa😔😔😔