Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
"Kakak Aluna! Mana bonekanya? Kok nggak ada yang gede?"
Suara cempreng Berlian yang tiba-tiba muncul di kepala tangga bagaikan siraman air es bagi Arsen. Cowok itu langsung memutar kursinya dengan gerakan patah-patah, sementara Araluna yang tadinya hampir menempel pada Arsen, meloncat mundur dengan kecepatan cahaya.
Wajah Luna memerah, bukan karena malu tertangkap basah oleh anak kecil, tapi karena adrenalin yang masih terpompa. Ia menoleh ke arah Berlian yang berdiri dengan wajah bingung sambil memegang gaun mininya.
"Eh! Iya, iya sayang! Maaf, Kak Luna lupa, boneka beruang gedenya lagi 'bobok' di dalem lemari! Yuk, kita cari bareng!" teriak Luna sambil berlari menuju tangga.
Namun, sebelum kakinya menapak anak tangga pertama, Luna menyempatkan diri menoleh ke arah Arsen yang masih mematung dengan wajah kaku seperti semen kering. Dengan mata yang berkedip nakal, Luna menempelkan jemari ke bibirnya, lalu meniupkan sebuah kiss jauh yang sangat dramatis ke arah Arsen.
Muach!
Arsen refleks menangkap udara di depannya seolah-olah ingin menepis "serangan" itu, tapi telinganya yang merah padam tidak bisa berbohong. Ia segera membuang muka kembali ke layar laptop, meski yang ia lihat hanyalah deretan huruf yang mendadak menari-nari tak terbaca.
)
Sisa sore itu diisi dengan keceriaan yang belum pernah dirasakan di rumah itu sebelumnya. Luna benar-benar menjadi sosok kakak idaman. Ia membentangkan karpet di depan TV, memesan pizza porsi besar, dan mulai menyuapi Berlian sambil sesekali mencandainya.
"Ayo, Berlian, buka mulutnya! Pesawat tempur mau lewat!" ucap Luna sambil mengarahkan sepotong pizza ke mulut Berlian.
Arsen yang awalnya berniat melanjutkan tugas, akhirnya menyerah. Ia ikut duduk di karpet, meski tetap dengan gaya kaku dan tangan yang bersedekap. Namun, tanpa sadar, ia mulai ikut tertawa saat Luna memasangkan bando kelinci milik Berlian ke kepala Arsen secara paksa.
"Nah! Kak Arsen sekarang jadi kelinci kaku. Lucu kan, Berlian?" ledek Luna.
Berlian tertawa terpingkal-pingkal sambil menepuk-nepuk pipi Arsen. "Kak Arsen lucu! Kayak kelinci lagi marah!"
Mereka bertiga makan bersama, bercanda, dan sesekali Arsen menjahili Luna dengan merebut potongan sosis dari pizzanya, yang tentu saja dibalas Luna dengan cubitan di pinggang. Untuk beberapa saat, Arsen lupa pada dinding pembatas yang ia bangun. Ia melihat Luna dengan cara yang berbeda; bukan sebagai "cegil" yang menyebalkan, tapi sebagai gadis hangat yang bisa membawa warna di hidupnya yang datar.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam saat tantenya Berlian datang menjemput. Suasana rumah mendadak terasa sepi setelah bocah mungil itu pergi.
"Yahh, Berlian... nanti kita main lagi ya, sayang. Jangan bosen-bosen sama Kak Luna," ucap Luna sambil melambaikan tangan dengan wajah yang tampak tulus sedih.
Begitu mobil yang membawa Berlian menjauh, Luna menghela napas panjang. Ia merasa lelah tapi senang. Dengan langkah gulai, ia berbalik masuk ke dalam rumah, berniat langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan tidur.
"Capek juga ya ngurus anak kecil," gumam Luna pelan. Ia melangkah melewati Arsen yang berdiri di dekat pintu, berniat menaiki tangga.
Namun, baru saja kaki Luna menyentuh anak tangga pertama, sebuah tangan yang hangat dan kuat tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya. Tarikannya tidak kasar, tapi cukup kuat untuk membuat Luna berputar dan hampir menabrak dada bidang di depannya.
"Eh! Apasih, Kak!" pekik Luna kaget. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Luna mendongak dan mendapati Arsen sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada kejailan, tidak ada kekakuan yang dibuat-buat. Hanya ada sepasang mata tajam yang menatapnya dengan intensitas yang membuat lutut Luna mendadak lemas.
"Urusan kita belum selesai, Araluna," ucap Arsen dengan suara rendah yang sedikit serak—suara yang selalu berhasil membuat pertahanan Luna runtuh.
Luna mencoba menarik tangannya, tapi Arsen justru semakin mengunci posisinya, memojokkan Luna ke pegangan tangga. "Urusan... urusan apa? Gue mau tidur, Kak!"
Arsen memajukan wajahnya, hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Bau parfum maskulin Arsen yang bercampur dengan sisa aroma pizza tadi terasa begitu memabukkan bagi Luna.
"Tadi lo niup leher gue. Terus lo kasih kiss jauh depan Berlian," bisik Arsen. Ia menunduk sedikit, menyejajarkan matanya dengan mata Luna yang mulai bergetar. "Lo pikir gue bakal diem aja setelah lo bikin konsentrasi gue berantakan seharian?"
Luna menelan ludah. Sifat "cegil"-nya biasanya selalu punya jawaban, tapi kali ini lidahnya terasa kelu. "Ya... ya kan gue cuma bercanda, Kak. Lo kan kaku, makanya gue cairin dikit."
"Bercanda ya?" Arsen memberikan senyum tipis—jenis senyum yang jarang ia tunjukkan, senyum yang terlihat berbahaya namun sangat memikat. "Gimana kalau sekarang gantian gue yang 'bercanda'?"
Tangan Arsen yang tadinya memegang pergelangan tangan Luna, kini perlahan naik, menyelipkan anak rambut Luna ke belakang telinga. Sentuhan jarinya yang kasar namun hangat membuat bulu kuduk Luna meremang.
Di bawah lampu koridor yang remang, tensi di antara mereka memuncak. Araluna menyadari satu hal: ia mungkin seorang "cegil" yang hobi memancing api, tapi Arsen Sergio adalah api itu sendiri yang siap membakarnya kapan saja.
"Kak..." bisik Luna pelan, antara takut dan sangat menginginkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Arsen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap bibir Luna sejenak, lalu kembali ke matanya, membiarkan keheningan malam itu menjawab segala perasaan yang selama ini mereka tutupi dengan label "saudara tiri".
Hening. Benar-benar hening sampai detak jantung Araluna yang menggila terasa seperti dentuman drum di telinganya sendiri. Jarak mereka sekarang benar-benar tidak masuk akal untuk ukuran kakak-adik tiri. Luna bisa merasakan embusan napas Arsen di permukaan kulit wajahnya.
Arsen tidak melepaskan tatapannya. Tangannya yang masih berada di belakang telinga Luna perlahan turun, mengusap rahang gadis itu dengan ibu jarinya. Gerakannya sangat pelan, seolah ia sedang menimbang-nimbang apakah harus melangkah lebih jauh atau kembali menjadi Arsen yang kaku.
"Kenapa diem, Cil? Biasanya mulut lo nggak bisa berhenti ngoceh," bisik Arsen, suaranya makin berat, menciptakan vibrasi yang bikin Luna merinding.
Luna menelan ludah paksa. Jiwa "cegil"-nya yang biasanya meledak-ledak mendadak mati kutu. "Ya... ya abisnya lo aneh. Tiba-tiba narik gue, tiba-tiba begini. Lo kerasukan penunggu rumah ya?"
Arsen terkekeh rendah, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat seksi di telinga Luna. Bukannya menjauh, Arsen malah semakin mengikis jarak hingga kening mereka bersentuhan. Luna bisa merasakan suhu tubuh Arsen yang meningkat.
"Gue nggak kerasukan. Gue cuma mau kasih pelajaran buat bocil yang hobi banget main api tapi takut pas apinya mulai nyala," ucap Arsen.
Luna memberanikan diri. Ia tidak mau kalah. Ia melingkarkan tangannya di leher Arsen, menantang tatapan cowok itu. "Siapa yang takut? Gue nggak takut sama api, Kak. Gue malah mau kebakar bareng lo, kalau perlu."
Mata Arsen menggelap. Ucapan Luna barusan seperti menyiram bensin ke api yang sudah menyala. Sifat kaku Arsen yang selama ini menjadi benteng pertahanan terkuatnya terasa runtuh dalam sekejap.
Tangan Arsen yang berada di pinggang Luna menarik gadis itu lebih rapat, hingga tidak ada lagi celah di antara mereka. Arsen menunduk, bibirnya kini hanya berjarak satu senti dari bibir Luna. Luna memejamkan mata, hatinya bersorak sekaligus ketakutan. Apakah ini saatnya? Apakah "cegil" ini akhirnya memenangkan pertandingannya?
CEKLEK!
Suara pintu depan yang terbuka membuat keduanya terpental menjauh secara otomatis. Arsen langsung membalikkan badan, berpura-pura sedang membetulkan jam tangannya dengan gerakan yang sangat kaku, sementara Luna hampir terjungkal dari anak tangga kalau tidak pegangan pada railing.
"Lho, kalian belum tidur? Kok gelap-gelapan di tangga?" suara Papa Arga terdengar berat, disusul Bunda yang masuk membawa beberapa kantong belanjaan.
"Ini... anu, Pa... lampu tangga tadi kayaknya agak redup, jadi Arsen cek bentar," dalih Arsen. Suaranya terdengar sangat datar, kembali ke mode "robot kaku" andalannya, meski dadanya masih naik turun tidak teratur.
Luna buru-buru mengatur napas dan memasang wajah polos. "Iya, Pa! Tadi Luna mau naik tapi takut, makanya minta tolong Kak Arsen liatin. Ya udah, Luna tidur dulu ya! Ngantuk banget!"
Tanpa menunggu jawaban, Luna melesat lari ke lantai atas, masuk ke kamarnya, dan langsung membanting tubuh ke kasur. Ia menelungkupkan wajahnya di bantal, berteriak sekencang mungkin tanpa suara.
"AAAAA! DIKIT LAGI! DIKIT LAGI GUE MENANG!" batin Luna meronta-ronta kegirangan sekaligus gemas karena gangguan orang tua mereka.
Sementara di bawah, Arsen masih berdiri mematung. Ia menatap telapak tangannya yang tadi sempat menyentuh kulit Luna. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan debaran di dadanya yang masih liar.
"Sial," umpat Arsen pelan dalam hati. "Gue beneran bakal gila kalau begini terus."
Malam itu, di bawah atap yang sama, dua orang itu tidur dengan pikiran yang saling bertautan, menyadari bahwa label "saudara tiri" kini terasa semakin berat untuk dipikul.