NovelToon NovelToon
Trapped In My Lover’S Embrace

Trapped In My Lover’S Embrace

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / TKP / Horror Thriller-Horror / Cintamanis / Kekasih misterius
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Achromicsea

Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"

Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenangan Sederhana

Seperginya Gio dari apartemen, pandanganku jatuh ke paper bag cokelat yang ia tinggalkan di atas meja. Entah kenapa seakan akan benda di dalam paper bag itu memanggil namaku

Dadaku mengencang lagi.

Tanganku bergerak duluan.

Belum sempat jariku menyentuh kertas cokelat itu, Arven sudah lebih cepat. Ia meraih paper bag itu dan menariknya menjauh, meletakkannya di sisi lain meja.

"Ini aku simpen ya?" katanya pelan, tapi nadanya tegas. "Kamu masih emosional. Aku takut kamu malah histeris lagi."

Ia mendekat, mengelus kepalaku pelan. Biasanya sentuhan itu bikin aku tenang. Tapi kali ini justru bikin aku makin nggak sabar.

Aku menggeleng keras.

"Ven....jangan."

Aku melangkah mendekat. Tanganku gemetar, dan aku nggak berusaha menyembunyikannya.

"Aku mau lihat sekarang."

"Ren-"

"Aku mohon," potongku cepat, suaraku sudah mulai bergetar. "Itu satu-satunya cara. Satu-satunya."

Elusan tangannya berhenti.

Aku langsung merasa ada yang berubah. Rahangnya mengeras sedikit, sorot matanya meredup. Saat dia bicara lagi, nada bicaranya jadi lebih dingin.

"Tolong," katanya pelan. "Pikirin aku juga, Ren."

Aku membeku.

"Aku khawatir sama kamu," lanjutnya, suaranya rendah. "Aku tahu kamu lagi sedih. Bingung. Kamu pengen tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku ngerti."

Ia menarik napas dalam, seperti lagi menahan sesuatu di dadanya sendiri.

"Tapi jangan dorong diri kamu sampai hancur cuma karena pengen jawabannya sekarang."

Mataku panas lagi. Aku benci bagian ini, benci betapa rapuhnya aku kedengaran.

"Kalau aku nggak lihat sekarang," suaraku hampir pecah, "aku takut semuanya keburu ketutup lagi. Aku takut lupa lagi. Aku takut Maya bener-bener hilang."

Arven menatapku lama. Aku bisa lihat konflik di wajahnya antara ingin melindungi dan sadar kalau menahanku juga bisa melukaiku.

"Aku nggak mau kehilangan kamu juga," katanya akhirnya, lirih.

Kalimat itu langsung bikin dadaku sesak. Aku terdiam. Napasku naik turun cepat. Aku melirik paper bag itu sebentar, lalu balik menatap Arven.

"Aku janji," kataku pelan, hampir seperti bisikan. "Aku bakal kuat. Aku cuma mau lihat. Satu kali aja."

Ruangan jadi sunyi lagi.

Arven menunduk sebentar, lalu menghela napas panjang. Tangannya masih memegang paper bag itu, jarinya mengencang, seolah dia lagi maksa dirinya buat melepas sesuatu yang nggak ingin dia lepas.

Akhirnya dia mengangkat wajahnya lagi, menatapku.

"Kalau kamu mulai nggak kuat," katanya pelan, "kita berhenti. Deal?"

Aku mengangguk cepat, meski pandanganku sudah berkabut.

"Deal."

Arven mendorong paper bag itu perlahan ke tengah meja. Dan jantungku langsung berdegup lebih kencang.

Aku menarik album itu ke pangkuanku. Jari-jariku gemetar saat membuka sampul plastiknya yang sudah mulai menguning di sudut-sudut. Bau kertas lama langsung menyeruak, membawa perasaan aneh dan asing, tapi entah kenapa aku juga merasakan akrab.

Halaman pertama.

Foto-foto lama. Aku dan Maya.

Kami tersenyum lebar di hampir setiap gambar. Duduk di bangku taman sekolah, berbagi es krim, bersandar di pagar lapangan, tertawa tanpa beban. Seragam SMA kami kusut, wajah sangat polos, pada foto-foto itu.

Aku membalik halaman perlahan. Satu per satu. Dadaku terasa sesak, tapi juga hangat. Maya selalu ada di sana. Selalu di sampingku.

Lalu satu halaman membuat tanganku berhenti. Satu halaman penuh, ada empat orang, dua perempuan dan dua laki-laki.

Aku dan Maya berdiri berdampingan, sama seperti di foto-foto sebelumnya. Tapi dua laki-laki di samping kami wajah mereka benar-benar asing. Tidak ada satu pun potongan ingatan yang muncul. Tidak ada rasa akrab. Tidak ada gema apa pun di kepalaku.

Hanya kosong.

Pandangan mataku turun ke bagian bawah foto.

Sebuah caption tertulis dengan tinta warna-warni, dihiasi hati dan bintang kecil, seolah momen itu sesuatu yang sangat berharga.

"AKU, SEREN, BIMA, ROBY."

Napasmu tersangkut di tenggorokan.

Bima.

Nama itu menghantam kepalaku telak.

Aku membeku. Dadaku mengencang, lalu berdenyut. Nama itu aku ingat. Bukan wajahnya, tapi namanya. Maya sering menyebutnya. Berkali-kali. Dengan nada yang selalu samar antara bercanda dan serius.

Bima.

Mantan pacarku.

Tanganku terangkat tanpa sadar. Ujung jariku menyentuh foto itu, lalu berhenti tepat di wajah salah satu laki-laki. Yang berdiri paling dekat denganku.

Seragamnya masih SMA. Di dada kirinya, bordiran nama itu masih jelas.

BIMA.

Jariku mengusap pelan wajah di foto itu, seperti mencoba memancing sesuatu keluar dari ingatan yang terkunci. Tapi yang datang hanya nyeri samar di kepala, dan kekosongan yang membuat panik.

"Aku," napasku terdengar berat. "Aku nggak inget wajahnya."

Sejak tadi Arven memperhatikan dalam diam. Saat melihat gerakanku, alisnya sedikit berkerut.

"Kamu kenal?" tanyanya pelan.

Aku menelan ludah, mataku masih terpaku pada foto itu.

"Aku inget namanya," jawabku lirih. "Maya sering nyebut."

Aku menoleh ke arahnya. Sorot mataku campur aduk bingung, takut, dan sesuatu yang nggak bisa kujelaskan.

"Katanya dia mantanku."

Arven menatap foto itu terlalu lama.

Aku bisa merasakannya tanpa perlu menoleh. Rahangnya mengeras, napasnya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. Tatapannya berpindah dari nama di seragam itu ke jariku yang masih mengusap wajah Bima di foto.

Ada sesuatu yang jelas-jelas tidak ia suka.

"Ren," panggilnya.

Nadanya lebih rendah dari biasa.

Aku tidak langsung menjawab. Mataku masih terpaku pada halaman itu, seolah kalau aku menatapnya lebih lama, ingatanku akan tiba-tiba terbuka.

Ternyata itu tidak cukup untuk membuka ingatanku yang terkunci.

Arven bergerak. Tangannya meraih daguku, memaksaku mengangkat wajah dan melihat ke arahnya. Album di pangkuanku sedikit miring saat pandanganku ditarik menjauh dari foto itu.

"Lihat aku."

Suaranya tidak keras, tapi aku bisa merasakan tekanan di setiap kata yang Arven ucapkan.

Aku terkejut, mataku sempat membesar sebelum akhirnya benar-benar bertemu dengan tatapannya.

"Dia kan masa lalu kamu," ujar Arven, suaranya lebih dalam dari biasanya. "Aku masa depan kamu, kan?"

Beberapa detik berlalu.

Lalu tanpa aku rencanakan, aku tertawa kecil.

Tawaku pecah begitu saja karena merasa situasi sekarang sangat absurd.

"Ven," kataku sambil tertawa pelan, "kamu cemburu?"

Sudut bibirku terangkat. Mataku sedikit menyempit, ada rasa ringan di sana. Untuk pertama kalinya sejak tadi, kepalaku tidak sepenuhnya sesak.

Alih-alih mereda, reaksiku justru membuat wajah Arven makin mengeras.

"Apa lucunya?" balasnya cepat.

Tangannya masih di daguku, ibu jarinya menahan rahangku supaya aku tidak berpaling lagi ke album.

"Kamu pegang fotonya kayak gitu," lanjutnya, suaranya turun tapi makin berat. "Nama dia disebut-sebut. Terus kamu ketawa?"

Aku mengangkat bahu sedikit, senyumku belum sepenuhnya hilang.

"Aku bahkan nggak inget wajahnya," jawabku ringan. "Aku cuma inget namanya."

"Justru itu," potongnya.

"Kamu nggak inget, tapi kamu keliatan ke-distract."

Nada suaranya merendah, penuh emosi yang ditahan.

"Aku nggak suka lihat kamu ngeliat orang lain kayak gitu. Mau itu mantan, mau itu masa lalu, mau itu siapa pun."

Aku tertawa lagi, kali ini lebih pelan. Tanganku turun dari album, lalu menepuk lengannya dengan lembut.

"Ven," kataku, nadaku menghangat. "Kamu beneran cemburu."

"Iya," jawabnya tanpa ragu. "Banget."

Jawaban itu membuat tawaku terhenti sesaat. Aku menatapnya, lalu tersenyum kecil lebih lembut ke dia.

"Tenang," kataku. "Kalau aku masih inget apa-apa soal dia, mungkin aku juga bakal bingung. Tapi sekarang yang aku lihat cuma kamu."

Tatapan Arven tidak langsung melunak. Tapi genggaman di daguku sedikit mengendur, meski belum sepenuhnya dilepas.

"Jangan bandingin aku sama masa lalu kamu," katanya lirih. "Aku nggak mau kalah sama foto itu."

Senyumku melebar.

"Cemburu kamu parah banget sampe sama foto juga cemburu."

"Kalau sekarang, enggak parah. Tapi aku bisa nunjukin lebih parah lagi kalau kamu masih sentuh foto itu lagi."

Arven mendengus kecil. Dia benar-benar tidak menyembunyikan rasa cemburunya, jujur saja bagiku itu sangat lucu.

Ekspresi Arven belum juga berubah. Bibirnya sedikit manyun, tatapannya berat, jelas sekali dia masih terganggu.

Aku senyum sendiri.

"Oh," kataku santai, pura-pura polos. "Jadi ini masih belum parah?"

Arven menoleh cepat. "Belum."

Aku menahan tawa. Aku sengaja mendekat sedikit, lututku menyenggol lututnya. "Emang kalau parah tuh kayak gimana, sih?"

Ia menarik napas pendek, lalu tangannya bergerak. Ia meraih album dari pangkuanku dan meletakkannya di meja, lalu memiringkan badannya menghadapku penuh.

"Kayak gini," katanya rendah. "Aku nggak suka kamu merhatiin dia kelamaan. Nggak suka kamu senyum gara-gara orang lain. Aku cuman mau kamu liat ke aku bener-bener cuma liat aku."

Aku langsung ketawa kecil. "Ven, itu foto SMA."

"Justru itu," jawabnya cepat. "Aku nggak ada di situ."

Nada suaranya bukan marah, lebih ke kesal yang ditahan. Melihat itu malah bikin dadaku hangat.

Aku mendekat dan mengecup pipinya cepat, lembut.

"Udah," kataku sambil senyum. "Tenang."

Arven diam.

Aku menunggu dia balas apa, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Wajahnya makin manyun. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat, lalu tiba-tiba menunduk dan menenggelamkan wajahnya di leherku. Napasnya hangat, berat, seperti dia lagi berusaha menahan sesuatu.

Ia menghela napas panjang.

"Itu nggak cukup, Ren," gumamnya pelan.

Aku refleks tertawa kecil, tanganku naik menyentuh rambutnya. "Kok jadi manja?"

"Bukan manja," jawabnya dari sana, suaranya sedikit teredam. "Aku cemburu."

Aku berhenti tertawa.

"Terus kamu maunya apa?" tanyaku pelan, setengah menggoda.

Ia tidak langsung menjawab. Kepalanya masih di leherku, lengannya kini melingkar di pinggangku dengan erat.

"Kamu tahu," katanya lirih. "Aku maunya lebih dari ciuman pipi."

Panas merambat ke wajahku. Aku menghela napas pelan, jari-jariku menyusuri rambutnya, membiarkannya tetap di sana.

"Ven," bisikku. "Kamu ini."

"Aku cuma mau yakin," jawabnya jujur. "Kalau aku yang kamu lihat sekarang. Bukan dia."

Aku tersenyum kecil, lalu menunduk sedikit, mendekatkan wajahku ke kepalanya.

"Aku di sini sama kamu," kataku pelan. "Sekarang. Bukan di foto itu."

Ia diam, lalu pelukannya mengencang sedikit. Napasnya perlahan mulai lebih teratur.

Tapi aku tahu, cemburunya belum benar-benar pergi. Dan anehnya aku nggak keberatan sama sekali.

Arven mengangkat kepalanya pelan. Wajahnya masih dekat, terlalu dekat. Aku bisa merasakan napasnya kena kulit leherku barusan, hangat, dan berat. Matanya tidak lepas dari aku, tatapannya tajam tapi juga kayak takut.

"Kalau gitu," katanya pelan, suaranya lebih rendah dari biasanya, "aku boleh cium kamu nggak?"

Aku langsung kaku.

Otakku blank. Serius. Kayak semua pikiran barusan tentang Maya, album, foto-foto SMA, langsung terpental entah ke mana. Yang tersisa cuma Arven, duduk di sampingku di sofa.

Tanya hal sesederhana itu tapi efeknya bikin jantungku mau lompat keluar.

"Hah?" suaraku kecil, refleks. Panik, salting, bingung, semuanya campur jadi satu.

Ini pertama kalinya aku lihat Arven seperti ini.

Biasanya dia tenang. Selalu kelihatan bisa mengontrol diringa, bisa mengontrol situasi. Sekarang? Dia keliatan seperti bocah yang takut kalau mainannya direbut orang lain.

Tangannya gelisah di pangkuannya, rahangnya sedikit mengeras, matanya masih terkunci padaku

"Kamu kenapa sih?" aku berusaha bercanda biar rasa deg-deganku turun.

Jarak kami makin menyempit. Aku mundur setengah inci, dia maju setengah inci. Tida ada yang benar-benar mengalah. Ujung hidung kami hampir bersentuhan, napas kami menjadi satu ritme yang canggung.

"Ven," aku berbisik, panik kedengaran. "Kamu terlalu dekat."

"Ren," balasnya pelan, nyaris tidak ada jarak buat suara itu keluar. Matanya turun sebentar ke bibirku, lalu naik lagi. "Aku masih cemburu loh. Kamu nggak mau nenangin aku lagi?"

1
humei
coba cari tau seren , jgn terlalu percaya arven
humei
iya . kemana arven 🙃
SarSari_
Semoga Arven jadi alasan kamu sembuh, bukan cuma ingatan yang kembali tapi juga bahagianya.💪
Kim Umai
sebenarnya dia perhatian kali sih, tapi kek penasaran woy kejadian selama setahun lalu itu
❀ ⃟⃟ˢᵏkasychan
kebanyakan nanya🤭
Ria Irawati
Mulai mencurigakan nihh
Ria Irawati
waduhh kenapa di batasi?? gk bisa toktokan dong🤣
Ria Irawati
perhatian sekali🤭
Tulisan_nic
Jangan² dia punya 1000 lot di Astra🤣🤣🤣
Tulisan_nic
Apa di kamar ini, semuanya akan terungkap?
j_ryuka
nanya mulu bisa diem dulu gak sih 🤣
ininellya
nah kan bau" mencurigakan nih arven
Panda%Sya🐼
Mau curiga sama Arven. Tapi dia terlalu baik juga, jadi confuse
Suo: Hayolohhh
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Uhh apakah dulu Seren kabur kerana stress sama sikap Arven? Jangan-jangan mereka ini udah pisah cuma Arven belum rela /Yawn/
Suo: Liat aja nanti kelanjutannya kak/Chuckle/
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Kerana itu kasih tau semuanya aja. Masa harus kurung Seren di rumah terus. Kasian diaa 🤧
Panda%Sya🐼
Positive thinking aja. Mungkin Arven sebenarnya baik. 😌
only siskaa
ortunya kemanaa sii😤
Suo: Nanti dijelasin kok/Chuckle/
total 1 replies
Blueberry Solenne
Kok bisa kenapa tu?
Blueberry Solenne
Ada yang kelaparan malam-malam ceritanya?
Suo: btul bgt/Proud/
total 1 replies
Suo
dia di temenin kok nantinya 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!