Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...
Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?
Baca ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jalan gelap menuju lereng gunung
Pagi itu, langit Jakarta seolah enggan menampakkan birunya. Mendung menggantung rendah, sewarna dengan hati Ratih yang kini telah berubah menjadi jelaga. Dengan tas ransel usang yang hanya berisi beberapa potong baju dan dendam yang membara, Ratih melangkah menuju rumah Bu Sofia untuk terakhir kalinya.
Sesampainya di sana, suasana rumah megah itu terasa sunyi. Bu Sofia dan Mbak Lastri sudah menunggu di teras belakang. Begitu melihat wajah Ratih yang sembab dengan tatapan mata yang kosong namun tajam, Lastri langsung menghambur memeluknya.
"Sabar, Ratih... sabar, Nduk," bisik Lastri sambil terisak. Ia sudah tahu hasil konfrontasi semalam dari pesan singkat yang dikirim Ratih subuh tadi.
Ratih hanya diam, tubuhnya kaku seperti kayu. Ia menghadap Bu Sofia dengan kepala tertunduk. "Bu, saya datang untuk pamit. Saya mau pulang kampung sekarang juga. Saya tidak kuat lagi tinggal di kota ini."
Bu Sofia mendekat, matanya berkaca-kaca. Ia meraih tangan Ratih yang kasar, lalu meletakkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal di telapak tangannya. "Ini gajimu bulan ini, dan ada sedikit bonus lebihan dariku. Pakai ini untuk mengobati ibumu di desa, atau untuk modal usahamu di sana. Jangan kembali ke Bimo lagi, Ratih. Kamu terlalu berharga untuk dihancurkan pria seperti itu."
Ratih menerima uang itu dengan tangan gemetar. Di dalam hatinya, ia merasa bersalah karena membohongi orang-orang baik ini. Uang ini tidak akan dipakai untuk mengobati ibunya, juga bukan untuk modal usaha. Uang ini adalah "mahar" untuk membeli rasa sakit bagi Bimo.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih, Mbak Lastri. Kalau ada umur, saya pasti kembali bekerja di sini," ucap Ratih datar. Ia berbalik tanpa menoleh lagi, takut jika kebaikan mereka akan melunakkan tekadnya yang sudah membatu.
Perjalanan dimulai. Ratih naik bus antarkota menuju sebuah daerah terpencil di Jawa Tengah. Sepanjang perjalanan sepuluh jam itu, ia hanya menatap keluar jendela. Setiap kali ia melihat bayangan wajahnya di kaca bus, ia melihat seorang wanita asing wanita yang jiwanya telah mati dan digantikan oleh api dendam.
Turun di terminal kecil yang becek, Ratih melanjutkan perjalanan dengan naik ojek selama dua jam menuju kaki gunung. Jalanan semakin menanjak, berkelok-kelok di antara jurang dan hutan jati yang rapat. Udara mulai terasa dingin dan lembap, membawa aroma tanah basah dan bunga kemenyan yang samar.
"Mbak, yakin mau turun di sini? Ini sudah masuk area hutan, rumah penduduk jarang," tanya tukang ojek dengan nada khawatir saat mereka sampai di sebuah pertigaan jalan setapak yang ditumbuhi semak belukar.
"Iya, Pak. Saya mau ke arah lereng utara, mencari rumah Mbah Suro," jawab Ratih dingin.
Mendengar nama 'Mbah Suro', tukang ojek itu mendadak diam. Wajahnya pucat. Ia segera menurunkan tas Ratih, menerima uang ongkos tanpa berani menatap mata Ratih, lalu memacu motornya pergi secepat mungkin.
Ratih kini sendirian. Di depannya membentang jalan setapak yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Kabut mulai turun, menyelimuti pepohonan besar yang akarnya menjuntai seperti tangan-tangan raksasa. Ratih terus berjalan, mengikuti petunjuk yang dulu pernah didengarnya dari seorang pedagang tua di pasar.
Setiap langkahnya adalah napas dendam. "Satu langkah untuk tiap cucian yang kuhasilkan. Satu langkah untuk tiap tetes peluhku di warung lele. Satu langkah untuk tiap tetes air mataku," bisiknya dalam hati.
Matahari mulai tenggelam, menciptakan bayangan-bayangan aneh di antara pepohonan. Suara burung gagak bersahut-sahutan, seolah menyambut kedatangan jiwa yang tersesat. Ratih tidak merasa takut sedikit pun. Rasa takutnya sudah habis dibakar oleh pengkhianatan Bimo. Bagi Ratih, setan di hutan ini tidak ada apa-apanya dibanding iblis berwajah tampan yang bernama Bimo.
Setelah berjalan hampir tiga jam, di sebuah lembah tersembunyi yang selalu diselimuti kabut hitam, Ratih melihat sebuah gubuk tua. Atapnya terbuat dari ijuk yang sudah menghitam, dan di depannya terdapat banyak pohon kamboja yang bunganya berserakan di tanah.
Bau kemenyan dan anyir darah menyerbak dari dalam gubuk itu. Di teras depan, duduk seorang pria tua dengan rambut putih panjang yang dibiarkan terurai. Ia mengenakan kain hitam lusuh dan banyak kalung dari tulang hewan di lehernya. Matanya yang buta sebelah tampak berkilat tertimpa cahaya obor.
"Sudah lama aku mencium aroma amarahmu, Nduk..." suara pria itu parau, seperti gesekan kayu tua. "Dendam yang sangat pekat. Dendam dari seorang wanita yang dikhianati."
Ratih langsung bersimpuh di depan pria itu. "Mbah Suro... saya datang membawa nyawa yang hancur. Saya ingin pria yang menghancurkan saya merasakan sakit yang melebihi kematian."
Mbah Suro tertawa kecil, suara tawa yang membuat bulu kuduk berdiri. "Nafsu... pria itu memakan hidupmu demi nafsunya, bukan? Maka hukumannya harus berasal dari nafsunya sendiri."
Pria tua itu menyuruh Ratih masuk ke dalam gubuk yang gelap. Di dalamnya, terdapat meja kayu yang penuh dengan sesaji: kepala ayam hitam, bunga tujuh rupa yang sudah layu, dan sebuah boneka dari kain kafan.
"Apa yang kamu bawa sebagai perantara?" tanya Mbah Suro.
Ratih merogoh sakunya. Ia mengeluarkan sebuah celana dalam Bimo yang belum dicuci benda yang menyimpan keringat dan bau tubuh pria itu.Ratih sebelum berangkat ke rumah Mbah suro dia diam diam mengambil celana dalam Bimo.
Mbah Suro menerima benda itu dengan tangan yang kuku-kukunya hitam panjang. Ia meletakkannya di atas nampan kuningan, lalu mulai merapal mantra dalam bahasa yang tidak dimengerti Ratih. Suaranya rendah, bergetar, memenuhi ruangan sempit itu dengan energi yang sangat berat dan dingin.
"Apa yang kamu inginkan Nduk?"
"Aku ingin setiap dia merasakan nafsu, saat itu juga kemaluannya membusuk Mbah,di makan belatung atau binatang apapun itu yang menyiksa nya"
"Kamu yakin, Ratih? Santet ulat grayak ini tidak ada obatnya secara medis. Dia akan membusuk hidup-hidup setiap kali syahwatnya bangkit. Dia akan hidup dengan belatung yang memakan dagingnya dari dalam. Ini tidak ada obatnya kecuali aku sendiri yang memutusnya.Dan harga yang harus kau bayar adalah separuh umurmu atau rahimmu yang akan menjadi kering selamanya," Mbah Suro menatap Ratih dengan mata butanya.
Ratih terdiam sejenak. Menjadi mandul atau berumur pendek? Untuk sesaat bayangan ibunya melintas. Namun, bayangan Bimo yang sedang bercumbu dengan wanita di hotel melati jauh lebih kuat menghantam kepalanya.
"Lakukan, Mbah. Saya tidak butuh rahim jika hanya untuk melahirkan kekecewaan lagi. Saya tidak butuh umur panjang jika hanya untuk mengingat luka ini. Biarlah saya hancur, asal dia membusuk di depan mata saya," jawab Ratih dengan suara yang sangat mantap.
Mbah Suro mengangguk. Ia mengambil sebuah toples tanah liat berisi ulat-ulat kecil berwarna kelabu yang menggeliat lincah. Ia menuangkan darah ayam hitam ke dalam toples itu, lalu memasukkan silet dan pakaian Bimo ke dalamnya.
"Ulat-ulat ini akan menyeberang melalui angin, mencari bau keringat pria ini. Mereka akan menetap di tempat di mana dia paling merasa bangga kemaluannya. Setiap kali dia bernafsu, ulat-ulat ini akan bangun dan berpesta," Mbah Suro menyerahkan segenggam tanah merah pada Ratih.
"Taburkan tanah ini di depan kontrakannya. Saat dia melangkahinya, kutukan ini akan menyatu dengan jiwanya."
Ritual pun dimulai. Di tengah pekatnya malam lereng gunung, Ratih ikut merapal doa-doa kegelapan. Ia merasakan sebuah kekuatan dingin merayap masuk ke dalam tubuhnya, menghisap sisa-sisa kemanusiaannya.
Selama tiga malam,Ratih berdiam di rumah Mbah suro, setiap malam dia melakukan ritual,siangnya dia belajar ilmu kebatinan atau kontak batin dengan Mbah suro.Saat ritual selesai, Ratih merasa tubuhnya sangat ringan namun hatinya seberat batu.
Esoknya Ia keluar dari gubuk Mbah Suro saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Wajahnya kini tidak lagi pucat karena sedih, melainkan pucat karena kegelapan yang telah ia peluk.
"Pergilah, Ratih. Nikmati tontonanmu. Tapi ingat, saat lonceng bayaran berbunyi nanti, jangan memohon ampun padaku," suara Mbah Suro menggema di balik kabut.
Ratih berjalan turun gunung dengan langkah yang teguh. Ia membawa tanah merah itu di dalam dekapan bajunya. Di kepalanya, ia sudah bisa membayangkan Bimo yang menjerit kesakitan, memohon ampun di bawah kakinya. Perjalanan pulangnya ke kota bukan lagi perjalanan seorang korban, melainkan perjalanan seorang algojo yang siap mencabut sisa-sisa kenikmatan dari hidup pengkhianatnya.
Bimo tidak tahu, bahwa setiap napas yang ia hirup saat ini adalah napas pinjaman sebelum ulat-ulat kelaparan itu mulai bekerja.