Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter²² — Rintihan Tengah Malam.
Begitu Malvin dan Kalvin sampai di rumah sewaan Malvin, suasana berubah. Kalvin berdiri di ruang tamu, bahkan masih memakai koko dan sarung yang tadi dipakainya.
Tatapan Malvin dingin.
“Kalvin.”
Kalvin menegakkan badan, matanya terlihat gentar.
Malvin melangkah mendekat.
“Sekarang jelasin,” ucap Malvin pelan, tapi tajam. “Kenapa kalian ada di sini?”
Kalvin menelan ludah.
Malvin melanjutkan, “Dan kenapa kamu nyamar jadi mahasiswa magang.”
Kalvin masih diam.
Malvin menghela napas, ia menatap sarung dan koko yang dipakai Kalvin. “Kamu bahkan nggak pernah pakai baju begini di rumah.”
Kalvin memejamkan mata sebentar, akhirnya ia mengangkat wajah. “Aku sama Alya lagi nyamar.”
Malvin menyilangkan tangan. “Dari mana kamu tahu alamat rumah Lastri?”
Kalvin menghela napas panjang. “Dari Denis.”
“Denis?” suara Malvin menurun.
Kalvin mengangguk. “Iya. Aku sama Alya nanya. Kita bilang… cuma mau lihat lokasi proyek dan mau tau penanggung jawab di desa ini. Terus, Denis kasih alamat rumah Teh Lastri.”
Malvin memejamkan mata, jelas menahan emosi.
Kalvin buru-buru melanjutkan, “Kami nggak berniat jahat kok, Bang.”
Malvin menatapnya tajam. “Terus niat kalian apa?”
Kalvin diam sebentar, lalu berkata jujur.
“Kami cuma mau memastikan... perempuan yang Abang pilih itu, bukan perempuan yang akan manfaatin Abang.”
Malvin tidak langsung menjawab.
Kalvin menambahkan, suaranya makin rendah. “Aku tahu Abang nggak pernah gampang jatuh cinta. Jadi pas Alya dengar Abang bilang cinta di telepon… kami kaget.”
Malvin menghela napas panjang, Ia berjalan ke sofa lalu duduk pelan.
“Terus?” tanyanya.
Kalvin menunduk. “Terus, kami ketemu Teh Lastri. Dan… sekarang aku yakin.”
Malvin menyipit. “Yakin?”
“Kalau dia... nggak seperti yang kami pikirkan. Dia orang baik, dan sangat tulus. Tadi saja, dia bahkan dengan sabar ngajarin kami sholat... sampai belajar ngaji juga.“
Malvin membeku.
“Ngajarin sholat?” ulang Malvin pelan.
Kalvin mengangguk.
Malvin menatap kosong beberapa detik, lalu ia tertawa kecil—bukan tawa mengejek. Tapi seperti seseorang yang baru sadar… bahwa wanita pilihannya memang tidak salah.
Malvin menghela napas lega.
“Kalvin,” ucapnya pelan, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. “Kalau kalian datang untuk menguji dia, nyatanya... kalian lah yang baru saja diuji balik sama dia.”
Kalvin tidak membantah, ia hanya mengangguk pelan. “Abang benar.”
Malvin menatap adiknya beberapa detik, lalu berdiri. “Besok, kamu pulang ke kota.”
Kalvin membelalak. “Bang—”
Malvin memotong. “Alya boleh beberapa hari di sini, tapi kamu nggak. Aku nggak mau ada masalah.”
Kalvin terdiam.
Malvin melanjutkan, suaranya lebih berat. “Dan satu lagi... jangan bilang apa-apa dulu ke Papa dan Mama. Belum waktunya, situasi Lastri masih rumit.“
Ia menarik napas, seolah menimbang kata-katanya sendiri. “Dia baru saja bercerai. Dan menurut ustadz yang aku tanya soal statusnya… dia masih dalam masa iddah. Aku sudah terlanjur menyatakan perasaan karena aku nggak bisa menahan diri, padahal seharusnya aku menunggu sampai masa iddah-nya selesai.”
Kalvin malah bengong. Wajahnya kosong beberapa detik—jelas tidak benar-benar paham apa yang baru saja kakaknya katakan.
Malvin menatapnya lama, ia menepuk bahu adik laki-lakinya pelan. “Besok kita ngobrol lagi.”
Kalvin mengangguk.
Dan malam itu… di rumah sewaannya, Malvin menatap langit-langit kamar. Dadanya hangat, bukan hanya karena Lastri menerima cintanya. Tapi juga karena ia yakin, keluarganya mungkin akan menerima perempuan yang ia pilih.
Dan di rumah kecil Lastri…
Alya memeluk bantal sambil tersenyum sendiri. “Fix, aku beneran bakal punya kakak ipar baru.”
Lastri yang sedang merapikan seprai kasur menoleh. “Alya... kamu ngomong apa barusan?”
Alya kaget. “Hah? Nggak, Teh! Aku ngomong… besok mau bangun pagi-pagi!”
Lastri mengernyit curiga, tapi ia hanya tersenyum. Karena malam itu… hati Lastri pun sama seperti Malvin—terasa hangat.
Tengah malam, Lastri tiba-tiba terbangun.
Suara itu pelan, tapi cukup membuat jantungnya langsung berdegup kencang.
Tok… tok… tok…
Ketukan pintu.
Bukan ketukan biasa.
Seperti ketukan seseorang yang sudah kehabisan tenaga.
Lalu terdengar rintihan lirih dari luar rumah.
“Tolooong….”
Alya ikut terbangun. Ia duduk setengah sadar, lalu mengucek matanya yang masih berat.
“Teh… mau ke mana?” suaranya serak, masih mengantuk. Ia melihat Lastri turun dari ranjang, lalu melangkah keluar kamar.
Lastri menoleh. Wajahnya tegang, tapi tetap berusaha tenang. “Teteh mau lihat ke depan, kayaknya ada orang merintih minta tolong.”
Alya langsung tersentak, rasa kantuknya hilang seketika.
“Kamu jangan keluar,” lanjut Lastri cepat. “Tetap di kamar, kunci pintunya.”
Wajah Alya pucat. “Teh… kalau mencurigakan jangan dibuka. Di rumah ini nggak ada laki-laki. Gimana kalau Teteh telepon pacar Teteh dulu… suruh dia ke sini.”
Lastri menggeleng pelan. “Sudah terlalu malam, Teteh nggak mau ganggu istirahatnya.”
“Teh, tapi—”
Belum sempat Alya melarang lagi, Lastri sudah melangkah keluar kamar menuju pintu depan.
Alya menelan ludah, tangannya gemetar. Dalam panik, ia meraih ponsel lalu cepat-cepat menelepon Kalvin.
Begitu panggilan tersambung, ia berbisik terburu-buru, “Bang… cepat ke sini sama Bang Malvin. Ada orang ketuk-ketuk pintu tengah malam, merintih minta tolong. Teh Lastri mau buka pintu!”
“HAH?!” suara Kalvin langsung meninggi di seberang.
Namun Alya terlambat.
Di ruang depan, Lastri sudah membuka pintu.
Dan…
“ARGHHTTTT…!”
mereka emang pantes di bui