Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.
Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.
Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.
Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.
Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Jalan Pintas Neraka
"Mobil jemputan dari Orion Group bannya pecah di jalan, Angel. Mereka minta maaf. Jadi, biar aku saja yang antar kamu ke Sky Tower."
Jay berbohong dengan wajah datar sambil membukakan pintu sedan bututnya. Tentu saja tidak ada mobil jemputan yang pecah ban; Jay sengaja membatalkannya diam-diam. Ia tahu Victor Han sudah bergerak, dan ia tidak akan membiarkan istrinya berada di mobil orang lain, meskipun itu mobil sewaan Leon.
"Tidak apa-apa, Jay. Asal kita tidak terlambat. Jam dua kurang lima belas menit!" Angeline masuk dengan terburu-buru, mengecek tumpukan berkas di pangkuannya. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara gugup menghadapi kontrak besar dan sisa adrenalin kejadian di bank tadi.
"Tenang saja. Aku tahu jalan tikus," jawab Jay santai.
Mesin tua itu menderu. Jay memutar setir, membawa mobil keluar dari area parkir kedai mi menuju jalan raya utama yang padat.
Jalan Layang Arvanta.
Lau lintas cukup padat siang itu. Truk-truk kontainer besar mendominasi jalur lambat.
Jay menyetir dengan satu tangan santai di kemudi, sementara mata tajamnya terus memantau spion tengah dan samping.
Dua menit masuk jalan layang, insting perangnya menyala.
Dua buah SUV hitam model yang sama dengan yang menghadangnya semalam muncul dari belakang. Mereka melaju zig-zag agresif, membelah kemacetan untuk mengejar sedan tua Jay.
"Pegangan, Angel," kata Jay pelan.
"Kenapa? Macet ya?" Angeline masih sibuk merapikan lipstick nya di cermin.
"Bukan. Ada orang gila yang mau menyalip."
Tepat saat Jay bicara, salah satu SUV hitam itu tancap gas di sisi kiri, mencoba membanting setir ke kanan untuk menabrak sisi penumpang tempat Angeline duduk.
Jika tabrakan itu terjadi dalam kecepatan 80 km/jam, pintu mobil tua yang tipis itu akan remuk, dan Angeline bisa celaka fatal.
ZING!
Tepat sepersekian detik sebelum benturan, Jay menginjak rem dalam-dalam sambil membanting setir ke kiri.
Sedan tua itu melakukan manuver braking drift yang presisi. SUV musuh yang sudah terlanjur membanting setir ke kanan akhirnya menghantam angin kosong, kehilangan keseimbangan, dan hampir menabrak pembatas jalan beton.
"KYAAA!" Angeline menjerit, berkas-berkasnya berhamburan. "Jay! Kau gila?! Apa yang kau lakukan?!"
"Maaf, Sayang! Remnya agak blong, tadi ada kucing lewat!" alibi Jay cepat, padahal matanya dingin menatap musuh.
SUV kedua tidak memberi jeda. Mobil itu kini berada tepat di belakang bumper mobil Jay, siap mendorong mereka ke kolong truk kontainer di depan.
"Mereka mengejar kita!" teriak Angeline saat melihat wajah-wajah beringas di dalam SUV belakang. "Itu orang-orang yang sama dengan semalam!"
"Jangan lihat belakang. Fokus ke depan," perintah Jay, suaranya berubah tegas, dominan.
Jay melihat celah sempit di antara dua truk kontainer yang sedang melaju berdampingan. Celah itu sangat sempit, mungkin hanya cukup untuk satu mobil kecil jika spionnya dilipat.
"Jay... jangan bilang kau mau..." mata Angeline terbelalak ngeri melihat arah mobil mereka.
"Tarik napas."
Jay menginjak pedal gas sampai habis. Mesin sedan tua itu menjerit, memaksakan setiap tenaga kuda yang tersisa.
VROOOM!
Mobil mereka melesat masuk ke celah sempit di antara roda-roda raksasa dua truk kontainer itu. Bunyi gesekan logam terdengar memilukan saat spion kiri dan kanan mobil Jay patah beradu dengan bodi truk.
Angeline memejamkan mata, menjerit histeris.
SUV pengejar di belakang tidak bisa ikut masuk. Mereka terlalu lebar. Pengemudi SUV itu panik, menginjak rem mendadak.
BRAAAAK!
SUV kedua itu ditabrak beruntun oleh mobil-mobil di belakangnya yang tidak siap mengerem, menciptakan kemacetan total dan kekacauan di jalan layang.
Sedan Jay meluncur mulus keluar dari celah maut itu, bebas dari kejaran.
"Sudah aman," kata Jay, kembali memelankan laju mobil ke kecepatan normal. Napasnya teratur, seolah ia baru saja parkir di garasi rumah, bukan melakukan aksi yang hanya ada di film laga.
Angeline membuka matanya perlahan. Wajahnya pucat pasi, tangannya mencengkeram sabuk pengaman begitu erat hingga bukunya memutih.
"Kau... kau..." Angeline menatap suaminya tak percaya. "Sejak kapan kau bisa menyetir seperti itu?"
Jay tersenyum polos, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Yah, namanya juga tiga tahun jadi sopir taksi online, Angel. Penumpang kalau buru-buru ke bandara suka minta ngebut. Aku jadi terbiasa nyelip-nyelip."
"Nyelip?! Itu tadi bukan nyelip, itu bunuh diri!" omel Angeline, meski dalam hati ia merasa takjub. Suaminya baru saja menyelamatkan nyawa mereka.
"Yang penting kita sampai. Lihat," Jay menunjuk ke depan.
Gedung Sky Tower menjulang tinggi di hadapan mereka, berkilauan ditimpa matahari.
Jay menghentikan mobilnya yang kini tanpa spion dan baret-baret di lobi utama gedung mewah itu. Valet parking yang hendak mendekat tampak ragu melihat kondisi mobil yang mengenaskan itu.
"Sana masuk. Kau punya waktu 5 menit," kata Jay. "Rapikan rambutmu. Jangan biarkan mereka melihatmu berantakan. Tunjukkan kau Angeline Severe yang tangguh."
Angeline menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. Ia menatap Jay. "Kau tidak ikut naik?"
"Aku di sini saja, jaga mobil. Penampilanku tidak cocok untuk masuk ke sana," Jay menunjuk pakaiannya yang lusuh. "Pergilah. Rebut kontrak itu."
Angeline mengangguk mantap. Ia keluar dari mobil, melangkah masuk ke lobi Sky Tower dengan dagu terangkat, meninggalkan suaminya di belakang.
Begitu pintu kaca otomatis tertutup dan Angeline menghilang di balik lift, senyum ramah Jay lenyap seketika.
Ia mengambil ponselnya, menekan nomor Leon.
"Leon," suara Jay dingin, kontras dengan terik matahari siang itu.
"Siap, Jenderal. Saya memantau CCTV jalan layang. Manuver yang indah."
"Bersihkan kekacauan di jalan layang. Pastikan tidak ada rekaman CCTV yang bocor ke media. Dan satu lagi..."
Jay menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang retak.
"...kirim 'hadiah' ke kantor Victor Han. Aku ingin dia tahu bahwa serangan mainannya gagal total."
"Dimengerti. Oh ya, Jenderal. Mengenai pertemuan istri Anda di atas..."
"Pastikan CEO Orion memperlakukannya dengan hormat. Kalau dia berani merendahkan Angeline sedikit saja, ganti CEO-nya besok pagi."
"Siap laksanakan."
Jay menutup telepon, menyandarkan punggungnya di kursi jok yang sudah sobek. Ia memejamkan mata sejenak, menunggu. Perang di jalanan sudah selesai, sekarang giliran istrinya berperang di meja negosiasi.