NovelToon NovelToon
Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Fatin fatin

"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 23

Kabin First Class yang mewah dan sunyi itu mendadak berubah menjadi ruang simulasi bencana bagi Alkan. Suara erangan halus Sasya terdengar lebih mengerikan daripada bunyi ledakan mesin pesawat bagi telinganya. Di ketinggian ribuan kaki di atas Samudra Hindia, Alkan sadar bahwa variabel keamanan yang ia banggakan sedang diuji oleh alam.

"Tarik napas, Sya... Ikuti hitungan saya," suara Alkan berusaha tetap stabil, meski jemarinya yang memegang pergelangan tangan Sasya terasa dingin. Ia sedang menghitung denyut nadi istrinya—manual, cepat, dan penuh kecemasan.

"Mas... rasanya seperti... ditarik-tarik," rintih Sasya, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Pramugari senior datang dengan kotak medis darurat. "Tuan, kami sudah mengumumkan melalui interkom. Kebetulan ada seorang dokter spesialis di kelas bisnis. Beliau sedang menuju ke sini."

Seorang pria paruh baya datang dengan tergesa. Setelah pemeriksaan singkat yang menegangkan, dokter itu menatap Alkan. "Ini kontraksi akibat stres perjalanan dan perubahan tekanan udara. Kita harus menstabilkan kondisinya segera agar tidak memicu pembukaan."

Selama satu jam berikutnya, kabin itu berubah menjadi ruang perawatan intensif. Alkan tidak beranjak satu inci pun dari sisi Sasya. Ia memegang botol oksigen, membisikkan ayat-ayat suci, dan sesekali mengusap perut Sasya dengan minyak esensial yang diberikan pramugari.

"Jangan tinggalkan aku, Mas..." suara Sasya nyaris hilang.

"Saya di sini, Sasya. Saya tidak akan ke mana-mana. Kamu kuat, bayi kita kuat," Alkan mencium tangan Sasya berkali-kali.

Perlahan, setelah pemberian obat pereda kontraksi melalui bantuan dokter tersebut, napas Sasya mulai teratur. Wajah yang tadinya pucat pasi mulai kembali merona. Ketegangan di kabin mulai melandai seiring dengan pesawat yang berhasil melewati area turbulensi cuaca.

Setelah dokter kembali ke kursinya dan Sasya dinyatakan stabil, suasana menjadi sangat emosional. Sasya masih harus berbaring total. Alkan ikut berbaring di sampingnya—kursi First Class yang lebar itu memungkinkan mereka untuk saling berdekatan.

Dalam keremangan lampu kabin yang disetel redup untuk waktu istirahat, Alkan memeluk Sasya dari samping. Rasa takut kehilangan yang baru saja menghantamnya membuat gairah perlindungan Alkan meledak dalam bentuk kelembutan yang intens.

"Mas... maafkan aku ya, selalu merepotkan," bisik Sasya, kepalanya bersandar di dada Alkan.

Alkan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mencondongkan tubuhnya, mencium bibir Sasya dengan sangat dalam dan lama. Ciuman itu terasa seperti penyaluran energi—sebuah cara Alkan mengatakan bahwa ia sanggup menanggung beban apa pun asal Sasya tetap di sampingnya.

Di bawah selimut tebal dan dinginnya AC pesawat, tangan Alkan merayap masuk ke dalam jemari Sasya, menggenggamnya kuat. Ia menciumi leher Sasya, memberikan sentuhan-sentuhan panas yang menenangkan saraf-saraf Sasya yang tadi menegang.

Meski dalam keterbatasan ruang, intensitas yang mereka bangun malam itu di atas awan terasa begitu magis. Alkan membisikkan kata-kata manis tentang masa depan mereka di London, tentang betapa ia tidak sabar melihat Sasya sehat kembali. Sentuhan Alkan yang penuh kasih sayang membuat Sasya merasa benar-benar aman, seolah-olah pesawat ini adalah benteng yang tak tertembus. Panas tubuh mereka menjadi satu-satunya kenyataan yang penting, mengalahkan ketakutan akan ketinggian dan risiko medis.

Pukul 06.00 waktu London. Roda pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Heathrow dengan mulus. Udara dingin 5 derajat Celsius menyambut mereka saat pintu pesawat terbuka.

Alkan sudah menyiapkan segalanya. Sebuah ambulans privat dari rumah sakit rekanan Imperial College sudah menunggu, Sasya tidak perlu melewati jalur imigrasi biasa; semuanya diurus secara diplomatik karena status Alkan sebagai Profesor Kehormatan.

Saat Sasya dipindahkan ke tandu ambulans, ia menatap langit London yang kelabu namun bersih.

"Kita sampai, Mas?"

Alkan memakai jaket tebalnya, lalu menggenggam tangan Sasya sebelum pintu ambulans ditutup. "Iya, Sayang. Selamat datang di tempat baru. Di sini, tidak ada yang bisa menyentuhmu. Hanya ada kita, dan musim dingin yang akan kita lewati bersama."

Namun, saat ambulans mulai bergerak, Alkan menerima sebuah notifikasi di tabletnya. Sebuah email dari alamat anonim yang berbasis di London:

"Welcome to London, Professor Alkan. We've been waiting for your algorithm. Don't think a change of scenery changes the rules of the game."

Alkan menutup tabletnya dengan kasar. Rahangnya mengeras. Ternyata, musuh yang ia kira tertinggal di Jakarta, memiliki jaringan yang lebih luas dari yang ia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!