Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian di garis air
Gedoran di pintu itu bukan lagi sekadar peringatan; itu adalah bunyi kehancuran yang memaksa kami untuk memilih antara menyerah atau lenyap. Biru mendorongku ke arah jendela kecil di belakang kamar kos yang menghadap langsung ke gang sempit yang berbau busuk.
"Pergi, Aruna! Jangan pikirkan aku!" bisik Biru, suaranya parau namun penuh tekad. Ia menyerahkan tas ransel berisi draf naskah asli dan hard disk kepadaku. "Tas ini adalah nyawa kita. Jika mereka mendapatkan ini, fajar tidak akan pernah terbit."
"Biru, aku tidak bisa meninggalkanmu!" Air mataku mulai tumpah, namun Biru memegang bahuku dengan kuat, tatapannya mengunci mataku.
"Kamu bukan meninggalkanku, kamu sedang menyelamatkan masa depan kita. Temui aku di dermaga tiga. Kapal 'Rembulan'. Pergi sekarang!"
Aku memanjat jendela itu tepat saat pintu depan hancur didobrak. Aku mendengar suara perkelahian, teriakan Biru, dan bunyi barang-barang yang pecah berantakan. Aku ingin berpaling, ingin kembali untuk menariknya keluar, tetapi amanah di dalam tas ini terasa terlalu berat. Aku berlari menembus kegelapan gang, kakiku berkali-kali tergelincir di atas lantai yang licin oleh tumpahan minyak dan air selokan.
Napas aku terasa sesak, paru-paruku seolah terbakar oleh udara malam yang asin. Di belakangku, aku mendengar bunyi langkah kaki yang berat dan kilatan lampu senter yang meliar.
"Itu dia! Kejar!"
Suara itu milik orang-orang suruhan Abhinara. Mereka bukan polisi sungguhan; mereka adalah preman berseragam yang disewa untuk menakut-nakuti penghuni kos. Aku membelok ke arah deretan gudang kontainer yang tinggi menjulang, mencari perlindungan di sebalik bayang-bayang besi yang dingin.
Aku sampai di dermaga tiga. Suasana di situ sunyi, hanya terdengar bunyi air yang menghantam tiang-tiang kayu dermaga. Di ujung dermaga, sebuah kapal nelayan tua dengan cat merah yang sudah mengelupas tampak terombang-ambing. Di lambungnya, tertulis nama dengan huruf condong yang sudah pudar: Rembulan.
Aku melompat ke atas dek kapal dengan jantung yang berdegup kencang. "Tolong! Ada orang di sini?" bisikku cemas.
Seorang pria tua dengan topi nelayan lusuh muncul dari kabin yang gelap. Ia memandangku dari ujung kepala hingga ujung kaki, matanya yang kecil tampak tajam namun tenang. "Aruna?"
"Ya, saya Aruna. Biru yang mengirim saya."
Pria tua itu mengangguk cepat. "Masuk ke bawah dek. Cepat! Mereka sudah sampai di gerbang dermaga."
Aku menyembunyikan diri di dalam ruang penyimpanan ikan yang sempit dan berbau amis. Di situ, dalam kegelapan mutlak, aku memeluk tas itu erat-erat. Aku mendengar bunyi sepatu bot di atas dek kayu, suara-suara kasar yang bertanya kepada nelayan tua itu tentang keberadaan seorang wanita.
"Tidak ada siapa-siapa di sini selain ikan-ikan busuk," suara nelayan tua itu terdengar sangat tenang, tidak gentar sedikit pun. "Cari saja di dermaga sebelah kalau kalian mau."
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, kapal itu mulai bergerak. Getaran mesin terasa di bawah tubuhku. Kami mulai meninggalkan pelabuhan, menuju ke tengah laut yang hitam dan luas.
Aku keluar dari ruang penyimpanan setelah keadaan dirasa aman. Nelayan tua itu, yang memperkenalkan dirinya sebagai Pak Jaka, sedang mengemudi kapal dengan santai sambil menghisap rokok kreteknya.
"Biru selamat?" tanyaku dengan suara yang masih bergetar.
Pak Jaka menarik napas panjang, mengembuskan asapnya ke udara malam. "Anak itu keras kepala. Dia akan baik-baik saja. Dia tahu cara menghilang di celah-celah pelabuhan ini lebih baik daripada siapa pun."
"Kita mau ke mana, Pak Jaka? Saya butuh bantuan. Saya tidak bisa membiarkan Abhinara menang."
Pak Jaka menoleh ke arahku, senyumnya tampak penuh rahasia di bawah cahaya lampu kabin yang temaram. "Kita akan menemui seseorang yang sudah lama menunggu saat ini. Seseorang yang sangat membenci nama Laksmana, sama seperti kamu."
"Siapa?"
"Pesaing lama Tuan Laksmana yang pernah dikhianati secara licik dulu. Dia adalah satu-satunya orang yang punya jaringan percetakan dan distribusi yang cukup besar untuk menantang Abhinara secara terbuka. Di dunia bawah, kami memanggilnya... Sang Naga Laut."
Kapal Rembulan terus membelah ombak, membawa aku dan draf naskah yang penuh luka ini menuju sekutu yang tidak pernah kubayangkan. Di tengah laut ini, aku sadar satu hal: pelarian ini bukan lagi tentang bersembunyi, melainkan tentang mengumpulkan kekuatan untuk serangan balik yang terakhir.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...