Kehidupan rumah tangga Yuda dan Afifah mendapat gangguan dari mantan pacar Yuda, sehingga Yuda terpaksa harus keluar dari pekerjaannya.
Dulu sang mantan meninggalkan Yuda karena harta. Saat mengetahui Yuda sudah mapan, dia kembali dengan segala drama untuk menghancurkan rumah tangga Yuda.
Setelah mendapatkan pekerjaan baru, kesetiaan Yuda kembali di uji, Yuda dihadapkan pada dua pilihan sulit, harus menikah lagi atau menolak menikah dan beresiko kehilangan pekerjaan barunya.
Apakah Nindi berhasil menghancurkan rumah tangga Yuda dan Afifah? Siapa yang akhirnya harus dinikahi Yuda? Apakah Yuda akan menolak atau menerima pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7
Nindi berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari rumah Yuda. Perasaan marah dan malu bercampur menjadi satu. Marah dengan sikap Yuda yang tetap tidak mengacuhkan kehadirannya, dan lebih memilih, Afifah yang dimata Nindi hanya wanita biasa.
Malu, karena kesal melihat kemesraannya terhadap Afifah, yang dengan sengaja Yuda pertontonkan kepada dirinya, sehingga membuatnya tak sengaja menyenggol gelas yang berada di samping Afifah. Malu karena sikapnya sangat kekanak-kanakan.
Jika tak sedang berada diluar, ingin rasanya, Nindi berteriak sekencang-kencangnya, untuk meluapkan kemarahannya.
"Kenapa rencananya selalu gagal? Apa lagi yang harus dilakukan untuk menarik perhatian Yuda kembali? Apakah tak tersisa perasaan cinta Yuda terhadap nya."
Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Nindi. Dulu, Yuda sangat mencintai dan memuja, Nindi. Apapun akan Yuda lakukan untuk menyenangkan Nindi.
Kembali perasaan menyesal karena dulu telah menyia-nyiakan Yuda datang. Sekarang Nindi hanya bisa berandai-andai. Seandainya dulu, dia mau bersabar menunggu Yuda sukses, pastilah kini dia menjadi wanita paling bahagia. Mempunyai suami yang sukses dan sangat mencintainya.
Mata Nindi sudah berkabut, dipenuhi kaca-kaca air mata. Sekuat tenaga, Nindi menahan agar tak menangis.
Dengan masih menjingjing bubur ayam, Nindi memberhentikan taksi yang kebetulan melintas. Tujuannya langsung berangkat ke tempat kerja, dia harus tetap bekerja, meskipun dengan hati yang tak menentu.
Nindi sadar biaya hidupnya sangat tinggi, untuk biaya makan dan gaya hidupnya yang hedonis. Sekarang tak ada lagi yang menopang kehidupannya.
Semenjak proses perceraian, mantan suaminya menghentikan semua fasilitas untuk Nindi. Bahkan setelah hakim mengetuk palu tanda resmi bercerai, nafkah iddahpun tak dipenuhi mantan suaminya. Harta gono-gini juga tak bisa Nindi menangkan. Kekuatan uang tentu saja yang digunakan mantan suaminya untuk memenangkannya.
Air mata sudah tak terbendung, di dalam taksi, Nindi menangisi kebodohannya dulu, dan kegagalannya sekarang meraih cinta Yuda.
Seketika Nindi menghentikan tangisannya, dengan kasar dihapus air mata yang mengalir di pipinya. Dia tak boleh menyerah, ini baru awal dari perjuangannya. Berbagai cara akan Nindi lakukan, untuk mendapatkan hati, Yuda kembali.
¤¤FH¤¤
Yuda sangat geram melihat kelakuan Nindi, datang ke rumahnya seenaknya, sekarang menyenggol gelas, sehingga airnya tumpah mengenai baju, Afifah dan gelasnya pecah.
Yuda berniat mengejar Nindi untuk memakinya, tapi tangannya ditahan oleh Afifah, dan menggelengkan kepalanya pertanda untuk tidak mempermasalahkan yang sudah terjadi.
Afifah menyodorkan gelas air minum, Yuda langsung menerimanya dan meminumnya sampai habis. Setelahnya menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Cara tersebut cukup ampuh untuk meredam emosi, Yuda yang sedang bergejolak. Setelah Yuda tenang, Afifah berniat untuk membereskan pecahan gelas yang berserakan di bawahnya, akan tetapi Yuda mencegahnya, dan meminta, Afifah untuk duduk saja, karena pecahan gelas berserakan dibawah kursi yang, Afifah duduki. Yuda khawatir, Afifah nanti tak sengaja menginjak pecahannya.
"Duduk saja, sayang, biar mas yang bereskan!"
Afifah menuruti permintaan suaminya. Sebenarnya, Afifah masih merasa kaget dengan kejadian barusan. Kemunculan Nindi yang tiba-tiba dan usaha Nindi terang-terangan mendekati suaminya.
Afifah yang tumbuh dengan penuh didikan dan aturan dari orang tuanya, heran ada perempuan seperti, Nindi. Seperti tak punya malu.
Yuda datang membawa pengki, sapu dan lap pel. Kemudian mulai mengumpulkan pecahan kaca yang berserakan, mendorongnya dengan sapu ke arah sekop.
setelah dirasa pecahan gelas sudah tak terlihat di atas lantai, Yuda mulai melapnya, takutnya masih tersisa, pecahan-pecahan kecil yang tak tersapukan.
Afifah beberapa kali mengatakan ingin membantu, Yuda, tapi selalu dicegah oleh Yuda.
Yuda mulai mengemas pecahan gelas tersebut, memasukannya ke dalam dus bekas, tak lupa membuang juga lap yang tadi dipakai mengelap serpihan gelas yang tertinggal.
¤¤FH¤¤
Saat Yuda kembali, Afifah telah selesai membereskan meja makan. menyimpan makanan yang masih tersisa dan membawa peralatan makan yang kotor ke bak cuci piring, yang langsung, Afifah cuci.
"Maaf ya, Yang. Untuk semua kekacauan ini." Yuda meminta maaf kepada Afifah, saat kedua duduk di sofa depan televisi.
"Kenapa, Mas meminta maaf? bukan kita yang salah."
"Mas tak enak hati sama kamu. Mas tak menyangka, Nindi bisa senekat itu."
"Apa kita ikuti saran ibu, bapak dan mamah saja, Mas?"
"Mas pun berfikir demikian. Sayang mau langsung ikut, mas ke sana atau tinggal sementara di rumah mamah?"
"Kalau tetap tinggal di sini, Mas mengijinkan?"
"Kalau kaya gitu, kamu langsung ikut aja, Yang. Malah tambah khawatir, kamu sendirian di rumah."
"Iya di rumah mamah aja dulu sementara, dekat sama ibu dan bapa juga."
"Sekarang, Mas siap-siap dulu ya, Mas mau ke rumah, tuan Andi, Menemui bu Lina, Mas akan bilang menerima kerjaannya."
¤¤FH¤¤
Dua dari tiga bungkus bubur yang dibawa Nindi diberikan pada supir taxi yang mengantarnya ke kantor. Ketika, Nindi sampai suasana kantor masih sepi. Nindi tak langsung memasuki gedung, karena pasti di dalam pun sangat sepi. Nindi melipir ke samping gedung, di sana ada bangku dari beton yang dibentuk kursi.
Nindi memakan buburnya, sambil melihat bunga-bunga di depannya. Nindi makan dengan tak bersemangat, hanya menyuapkan makanan, tanpa menikmatinya.
Kenapa hidupnya jadi seperti ini? Kenapa kebahagiaan seolah enggan menghampirinya?
Nindi mulai memikirkan rencana apa lagi yang harus dilakukannya untuk mendapatkan, yuda.
Bahkan menjadi yang kedua pun tak masalah, asalkan bisa bersama Yuda.
Mungkin, Nindi harus menemui Afifah, dan berbicara dari hati ke hati dengannya. Jika Afifah wanita baik-baik dan shalihah seperti yang sering, Yuda dibanggakan, pasti Afifah tidak keberatan jika meminta suaminya menikahinya.
Bukankah dalam islam boleh beristrikan lebih dari satu.
BERSAMBUNG
Terima kasih sudah mampir baca, jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan subscribe cerita ini.
Selamat membaca.
Garut, 27 okt 2020
asaran, eeeh kok jd tertarik bc trus💪💪💪 mantul abizzz
apa kamu fikir Luna itu barang yg bs kamu atur kepemilikannya?? stelah kamu sakiti begitu dalam dtg minta rujuk, nunjuk org yg hrus di nikahi walau harus menyakiti hati istri dan anaknya skrg stelah ada laki2 yg jelas2 berstatus bukan suami siapa2 kamu menolak hanya krn kamu tdk suka Mario akrab dgn keluarga Luna.. bener2 sinting kamu sakti, kalau aku Luna walau u/ anak ga bakalan ikhlas aku di gilir jadi istri macam piala.
bagaimanapun kalau sakti mau rujuk tetap dengan syarat yuda menjalankan kewajibannya lahir dan bathin walau akan diceraikan kembali bukan hanya sekedar akad gimana skitnya Afifah kalau tau suaminya mendua. ga ikhlas thor kalau bnr2 yuda nikah ma Luna mending mario setidaknya mario blm berstatus suami wanita lain.