NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Ketika Obsesi Berubah Menjadi Tindakan Ekstrem

Malam sudah larut. Lampu toko mulai dimatikan satu per satu.

Yura sedang menyapu lantai dengan pelan, sementara Adrian membersihkan meja-meja terakhir sambil sesekali melirik ke arah jendela waspada seperti biasa.

"Udah selesai?" tanya Adrian sambil melipat lap ke tempatnya.

Yura mengangguk sambil meletakkan sapu. "Iya. Tinggal kunci pintu."

Adrian berjalan mendekat, lalu meraih tangan Yura dengan lembut menggenggamnya.

"Kamu capek?" tanyanya lembut.

Yura tersenyum kecil. "Lumayan. Tapi… aku baik-baik aja kok."

Adrian tersenyum balik lalu mengecup punggung tangan Yura dengan lembut.

Yura tersenyum malu pipinya sedikit memerah.

"Udah, yuk pulang. Kamu perlu istirahat," ucap Adrian sambil menarik Yura pelan.

Yura mengangguk, lalu mengambil tasnya dan mengunci pintu toko dengan hati-hati.

Mereka berjalan ke parkiran ke mobil kecil Yura yang terparkir di samping toko.

Keadaan tenang. Sepi. Tidak ada Arkan.

Adrian membukakan pintu untuk Yura seperti biasa lalu masuk ke kursi pengemudi.

Mesin mobil dinyalakan. Lampu menyala.

Adrian menatap Yura sekilas tersenyum. "Siap?"

Yura mengangguk. "Iya."

Mobil mulai melaju pelan keluar dari parkiran, memasuki jalan raya yang sepi.

Tapi beberapa menit kemudian…

Adrian melirik kaca spion dan dahi nya berkerut.

Ada mobil di belakang mereka.

Mobil hitam. Besar.

Adrian mengerutkan dahi lalu mempercepat sedikit.

Mobil hitam itu… ikut mempercepat.

"Yura," panggil Adrian pelan nadanya serius.

Yura menoleh. "Kenapa?"

"Ada mobil ngikutin kita."

Yura langsung menoleh ke belakang dan jantungnya berhenti.

Tidak hanya satu mobil.

Ada tiga. Lima. Tujuh.

Hampir sepuluh mobil hitam besar semua mengikuti mereka dengan formasi rapi.

Yura menatap Adrian dengan mata melebar ketakutan. "Adi… itu… itu "

"Arkan," ucap Adrian dengan nada rendah penuh kemarahan.

Ia menginjak gas lebih dalam mobil melaju lebih cepat.

Tapi mobil-mobil hitam itu… tetap mengikuti.

Tidak tertinggal. Bahkan semakin dekat.

Yura mulai gemetar napasnya pendek-pendek. "Adi… aku takut… mereka… mereka mau apa…"

Adrian menggenggam tangan Yura dengan erat meski tangannya sendiri gemetar.

"Tenang. Aku di sini. Aku nggak akan biarkan mereka "

Tiba-tiba...

SATU MOBIL MENYALIP DARI SAMPING LALU BERHENTI MENDADAK TEPAT DI DEPAN MEREKA.

"SHIT!" teriak Adrian sambil menginjak rem keras.

CKIIIIIT!

Mobil Yura berhenti mendadak ban berbunyi nyaring lalu...

BRAKK!

Mobil mereka menabrak bumper mobil hitam di depan. Benturan keras. Kaca depan retak. Airbag mengembang. Yura berteriak tubuhnya terdorong ke depan, tertahan oleh sabuk pengaman.

Adrian langsung meraih Yura menariknya ke pelukannya. "Yura! Kamu oke?!"

Yura mengangguk cepat meski gemetar hebat. "I-iya… aku… aku oke…"

Adrian langsung menekan tombol kunci pintu mengunci semua pintu mobil dari dalam.

Ia meraih tangan Yura dengan erat sangat erat.

"Apapun yang terjadi," ucapnya dengan nada serius tatapannya penuh tekad. "Jangan buka pintu. Jangan keluar. Kamu tetap di sini."

Yura mengangguk cepat air matanya mulai mengalir.

Di salah satu mobil hitam yang mengikuti mobil paling besar di belakang Arkan duduk santai di kursi belakang dengan laptop di pangkuannya.

Di layar laptop, ada meeting online dengan klien dari China tiga orang eksekutif duduk di ruang meeting yang mewah.

Arkan berbicara dengan tenang bahasa Mandarin yang fasih, nada profesional, tatapan tajam.

"Jadi seperti yang saya jelaskan, proyeksi keuntungan untuk kuartal ketiga akan meningkat 15% jika kita.."

Suara rem mendadak dan benturan keras terdengar dari luar.

BRAKK!

Arkan tidak terpengaruh. Ia bahkan tidak menoleh.

Klien di layar sedikit terkejut. "Pak Arkan… ada apa? Apa Anda baik-baik saja?"

Arkan tersenyum tipis tenang. "Tidak masalah. Hanya… sedikit gangguan kecil. Silakan lanjutkan."

Klien itu mengangguk ragu lalu melanjutkan presentasi.

Arkan mendengarkan dengan serius sesekali mencatat, sesekali bertanya seolah tidak ada yang terjadi di luar.

Padahal di luar… Sepuluh mobil hitam sudah mengepung mobil Yura dan Adrian.

Puluhan pria berbaju hitam turun dari mobil berdiri dengan formasi rapi.

Tapi Arkan… tetap tenang.

Karena baginya pekerjaan adalah prioritas.

Tapi Yura… juga prioritas.

Dan ia bisa melakukan keduanya sekaligus.

Ia melirik ke jendela mobil melihat mobil Yura yang sudah terhimpit di tengah. Lalu ia tersenyum tipis puas. "Permisi sebentar," ucapnya pada klien di layar lalu mematikan mic dan kamera untuk sejenak.

Ia membuka jendela mobil sedikit lalu bicara pada Bagas yang berdiri di luar. "Bawa Yura ke mobil ini. Hati-hati. Jangan sampai dia terluka."

Bagas mengangguk lalu memberi instruksi pada anak buahnya.

Arkan menutup jendela lalu kembali ke meeting online dengan ekspresi tenang. Ia menyalakan mic dan kamera lagi tersenyum profesional.

"Maaf atas gangguan tadi. Silakan lanjutkan."

Di Mobil Yura dan Adrian....

Adrian menatap keluar jendela melihat puluhan pria berbaju hitam mengepung mobil mereka.

Ia menggenggam tangan Yura dengan sangat erat napasnya memburu.

"Yura… dengar aku baik-baik," ucapnya dengan nada serius tapi bergetar. "Apapun yang terjadi… jangan keluar. Aku akan..."

TOK TOK TOK

Seseorang mengetuk kaca jendela keras.

Bagas berdiri di luar menatap mereka dengan ekspresi serius tapi tidak mengancam. "Nona Yura," ucapnya dengan nada formal suaranya terdengar meski tertutup kaca. "Pak Arkan ingin bertemu. Mohon… buka pintunya."

Adrian menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. "TIDAK! PERGI! KALIAN TIDAK PUNYA HAK.."

"Inspektur Adrian," potong Bagas dengan nada lebih tegas. "Kami tidak ingin menyakiti Anda. Kami hanya… ingin membawa Nona Yura. Jangan persulit keadaan."

Adrian tertawa pahit tidak percaya. "Kalian pikir aku akan biarkan kalian bawa dia?! TIDAK AKAN PERNAH!"

Bagas menghela napas lalu memberi isyarat pada anak buahnya.

DUA PRIA BESAR MENDEKAT MEMBAWA ALAT PEMECAH KACA MOBIL.

Yura melihat itu dan panik total.

"ADI! MEREKA MAU PECAHIN KACA!" teriaknya sambil gemetar hebat.

Adrian langsung meraih ponselnya mencoba menelepon polisi

Tapi tiba-tiba..

BRAKK!

Kaca jendela samping pecah serpihan kaca beterbangan.

Yura berteriak menutup wajahnya dengan tangan.

Adrian langsung melindungi Yura dengan tubuhnya memeluknya erat.

"JANGAN SENTUH DIA!" teriaknya keras.

Tapi dua pria besar itu sudah membuka pintu dari luar lalu menarik Adrian keluar dengan paksa.

"LEPASKAN AKU! YURA! YURA!" teriak Adrian sambil meronta.

Yura menangis mencoba meraih Adrian tapi tangannya ditarik oleh Bagas dengan hati-hati tapi tegas.

"Nona Yura… mohon ikut dengan kami," ucap Bagas dengan nada serius.

"TIDAK! LEPASKAN AKU! ADRIAN! ADRIAN!" teriak Yura sambil meronta air matanya mengalir deras.

Adrian masih meronta mencoba melepaskan diri tapi dua pria besar itu terlalu kuat. "YURA! JANGAN TAKUT! AKU AKAN CARI KAMU! AKU JANJI!" teriaknya keras suaranya bergetar.

Yura ditarik keluar dari mobil tubuhnya gemetar hebat, menangis tanpa henti.

Bagas membawanya dengan hati-hati tidak kasar, tapi tegas menuju mobil Arkan.

Di Mobil Arkan Yura Dibawa Masuk

Pintu mobil Arkan terbuka.

Bagas membawa Yura masuk dengan hati-hati lalu menutup pintu. Yura langsung mundur ke sudut kursi tubuhnya gemetar, matanya memerah, napasnya tersengal-sengal.

Ia menatap Arkan dengan tatapan penuh ketakutan dan kebencian.

Arkan masih duduk dengan laptop di pangkuannya masih dalam meeting online.

Ia melirik Yura sekilas lalu tersenyum tipis.

Lalu ia kembali fokus ke layar laptop bicara dengan klien dengan nada profesional.

"Baik, jadi kesimpulannya… kita sepakat dengan proposal ini. Kontrak akan saya kirim besok pagi. Terima kasih atas waktunya."

Klien di layar mengangguk. "Terima kasih, Pak Arkan. Kami tunggu."

Arkan menutup laptop dengan pelan lalu meletakkannya di samping.

Ia menatap Yura yang masih gemetar di sudut kursi, menangis tanpa henti.

"Yura," panggilnya pelan suaranya lembut, tapi ada sesuatu yang gelap di baliknya.

Yura tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.

Arkan tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya.

"Ayo pulang," ucapnya pelan. "Kita… pulang."

Yura menggelengkan kepala keras suaranya bergetar. "Aku… aku tidak akan kemana-mana sama kamu…"

Arkan menarik tangannya kembali lalu menghela napas. "Baiklah," ucapnya tenang. "Kalau kamu belum mau… aku bisa menunggu."

Ia mengetuk jendela memberi isyarat pada sopir. Mobil mulai melaju meninggalkan tempat kejadian.

Meninggalkan Adrian yang masih meronta berteriak nama Yura dengan putus asa.

Yura menatap keluar jendela melihat Adrian yang semakin jauh. Air matanya terus mengalir. Dia benar. Dia harus pergi jauh. Sejauh-jauhnya. Tapi sekarang… sudah terlambat.

1
Nur Halida
sebenarnya aku kasian sama arkan tapi kasihan juga sama yura ..
seandainya gsk ada adrian mungkin yura akan sedikit luluh pada arkan ..
arkan itu menurutku cuma kesepian tapi caranya ngejar yura yg membuat yura takut...
berjuanglah arkan aku mendukungmu karena aku tahu kamu bukan hanya obsesi tapi kamu tulus mencintai yura
Nur Halida
ngeri ngeri sedep nih si arkan🙀
Bunga
suka
NR: Makasih banyak ya sudah baca dan suka sama ceritanya 🥺✨
Seneng banget tau kalian menikmati perjalanan Yura & Arkan.
Doain aku bisa konsisten update dan kasih cerita yang makin berasa 🤍
total 1 replies
Bunga
cerita yang menàrik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!