NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Konfrontasi yang Menghancurkan Topeng

Di Mobil Arkan. Setelah Melihat Pelukan Itu

Arkan duduk di kursi belakang mobilnya, menatap kosong ke depan. Tapi matanya… gelap. Penuh kemarahan yang tertahan.

Tangannya mengepal erat begitu erat sampai kuku-kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri.

Adrian memeluk Yura. Yura menangis di pelukan Adrian. Yura… merasa aman bersama pria itu.

Bagas duduk di depan, tidak berani bicara. Ia bisa merasakan aura gelap yang memancar dari bosnya.

Arkan menarik napas dalam tapi dadanya terasa sesak. "Bagas," ucapnya pelan tapi nadanya… berbahaya.

Bagas menegang. "Ya, Pak?"

Arkan menatap keluar jendela ke arah toko Yura yang masih terlihat dari jauh.

"Cari tahu… kemana pria itu pulang. Rutenya. Jam berapa dia biasa lewat."

Bagas terdiam. "Pak… maksud Anda…?"

Arkan menatapnya dengan tatapan dingin terlalu dingin. "Aku ingin bicara dengannya. Empat mata."

Bagas menelan ludah. Ia tahu "bicara" dalam bahasa Arkan… bukan sekadar ngobrol santai.

"Baik, Pak," jawabnya pelan.

Arkan kembali menatap keluar jendela.

Di kepalanya, ia bisa melihat wajah Adrian pria yang memeluk Yura, pria yang membuat Yura merasa aman. Pria yang mengambil tempat yang seharusnya untukku. "Aku tidak akan membiarkan ini," gumam Arkan pelan, hampir berbisik. "Aku tidak akan membiarkan dia… mengambilnya dariku."

Malam itu, Adrian baru selesai dari kantor polisi.

Ia berjalan menuju mobilnya yang diparkir di basement gedung sepi, hanya lampu redup yang menyala.

Pikirannya masih penuh dengan Yura.

Dengan air matanya. Dengan ketakutannya.

Aku harus melindunginya, tekad Adrian dalam hati. Aku tidak peduli siapa Arkan. Aku tidak akan membiarkan Yura terluka lagi.

Ia membuka pintu mobilnya, lalu memasukkan kunci...

Tapi Tiba-tiba..

Sebuah mobil hitam besar melaju cepat dan berhenti tepat di belakang mobilnya menghalangi jalan keluar.

Adrian menegang. Tangannya refleks menyentuh senjata di pinggangnya.

Pintu mobil hitam itu terbuka.

Dua pria besar keluar tidak memakai seragam, tapi berpakaian rapi seperti bodyguard profesional.

Dan kemudian… Arkan turun dari kursi belakang.

Pria itu berjalan dengan langkah tenang terlalu tenang menuju Adrian.

Adrian menegang, tangannya sudah siap mengambil senjata.

"Pak Arkan," ucap Adrian dengan nada waspada. "Ada apa?"

Arkan berhenti beberapa langkah di depan Adrian, menatapnya dengan tatapan dingin tapi tenang.

"Aku hanya ingin… bicara," kata Arkan pelan. "Empat mata."

Adrian menatapnya tajam. "Bicara? Di tempat seperti ini? Dengan dua orang bodyguard di belakangmu?"

Arkan tersenyum tipis dingin. "Aku hanya ingin memastikan… pembicaraan kita tidak terganggu."

Adrian tidak bergerak. "Kalau mau bicara, kita bisa bicara di kantor. Bukan di tempat sepi seperti ini."

Arkan memiringkan kepalanya sedikit. "Tapi aku lebih suka… privasi."

Ia melangkah lebih dekat terlalu dekat.

Adrian mundur satu langkah, tangannya sudah menyentuh senjata di pinggangnya.

"Jangan dekat-dekat," peringatnya.

Arkan berhenti tapi tatapannya… tidak berubah.

"Inspektur Adrian," ucapnya pelan, tapi penuh tekanan. "Aku tahu kau… peduli pada Yura."

Adrian menatapnya tajam. "Itu bukan urusanmu."

Arkan tersenyum tipis pahit. "Sayangnya… itu sangat urusanku."

Ia melangkah lebih dekat lagi kali ini Adrian tidak mundur, meski setiap insting dalam tubuhnya berteriak untuk waspada.

"Aku datang untuk memberi… peringatan," kata Arkan suaranya rendah, penuh ancaman tersembunyi. "Jauhi Yura."

Adrian tertawa kecil tidak percaya. "Kau serius?"

Arkan tidak tersenyum. "Sangat serius."

Adrian menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan. "Kau pikir kau bisa ancam aku? Aku polisi. Dan kau… hanya CEO yang terbiasa dapat semua yang dia mau."

Arkan memiringkan kepalanya tatapannya semakin gelap. "Kau benar," katanya pelan. "Aku terbiasa dapat semua yang aku mau. Dan kali ini… aku ingin Yura. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun termasuk kau menghalangi itu."

Adrian mengepalkan tangannya. "Yura bukan barang yang bisa kau miliki!"

Arkan tersenyum dingin, kosong. "Aku tahu. Tapi aku juga tahu… kalau aku tidak bisa memilikinya, aku akan memastikan tidak ada orang lain yang bisa."

Keheningan jatuh di antara mereka.

Adrian merasakan dingin menjalar di punggungnya.

Dia… gila.

Arkan melangkah mundur, lalu berbicara dengan nada yang lebih tenang tapi jauh lebih menakutkan. "Inspektur Adrian… kau punya karir yang bagus. Kau punya masa depan yang cerah. Jangan… sia-siakan itu hanya karena kau ingin jadi pahlawan untuk wanita yang… tidak akan pernah menjadi milikmu."

Adrian menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. "Kau… mengancam karirku?"

Arkan tidak menjawab langsung. Ia hanya tersenyum tipis senyum yang penuh arti.

"Aku tidak mengancam. Aku hanya… mengingatkan. Karena kalau kau terus ikut campur… aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi pada karirmu. Atau… pada Yura."

Adrian menegang. "Kau… berani ancam Yura?"

Arkan menatapnya lurus tatapannya dingin, tanpa emosi.

"Aku tidak akan menyakiti Yura. Tapi aku juga tidak akan membiarkan orang lain… menyentuhnya."

Ia berbalik, berjalan kembali ke mobilnya tapi sebelum masuk, ia berhenti dan menoleh.

"Jauhi Yura, Inspektur. Kalau kau peduli padanya… kalau kau benar-benar ingin dia aman… jauhi dia. Karena selama kau ada di dekatnya… aku tidak bisa mengendalikan diriku."

Lalu ia masuk ke mobil dan mobil itu melaju pergi, meninggalkan Adrian yang berdiri sendirian dengan napas memburu.

Adrian Menyadari Kebenaran yang Mengerikan

Adrian berdiri di sana tangan gemetar, pikiran kacau.

Ia baru saja bertemu dengan Arkan.

Dan sekarang… ia tahu.

Laporan itu tidak sepenuhnya palsu.

Mungkin detail teknisnya direkayasa.

Tapi karakternya obsesi, posesif, ancaman semua itu nyata.

Arkan Mahendradatta adalah pria yang berbahaya.

Bukan karena ia pernah melakukan kejahatan.

Tapi karena ia tidak peduli dengan apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Dan sekarang… yang ia inginkan adalah Yura.

Adrian mengepalkan tangannya, lalu meraih ponselnya.

Ia harus memberi tahu Yura.

Ia harus memperingatkannya.

Sebelum terlambat.

Di Mobil...

Arkan duduk di kursi belakang mobilnya, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.

Bagas duduk di depan, tidak berani bicara.

"Pak…" akhirnya Bagas bicara pelan. "Apa… itu perlu?"

Arkan tidak menjawab langsung.

Ia hanya tersenyum tipis dingin, hampa.

"Aku hanya… memberi peringatan, Bagas. Tidak lebih."

Bagas terdiam. Ia tahu itu bukan sekadar peringatan.

Arkan menatap tangannya sendiri tangan yang masih gemetar karena menahan amarah. "Aku tidak mau menyakiti Yura," gumamnya pelan. "Tapi aku juga… tidak bisa membiarkannya pergi."

Ia menutup matanya. "Aku tahu aku salah. Aku tahu aku… gila. Tapi aku tidak peduli."

Ia membuka matanya tatapannya penuh obsesi yang gelap. "Karena dunia tanpa Yura… tidak ada artinya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!