Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #27: Vegetarian
Dua Minggu telah berlalu.
Gerbang kayu setinggi lima meter itu perlahan terbuka dengan suara engsel berat yang bergemuruh.
Di baliknya, terhampar kompleks bangunan yang megah dan simetris. Jalan setapak dari batu pualam putih membelah halaman latihan yang sangat luas, dikelilingi oleh paviliun-paviliun bertingkat dengan atap melengkung khas arsitektur Taois. Di kejauhan, terlihat murid-murid berseragam putih-biru sedang berlatih formasi pedang dengan gerakan serempak yang menghipnotis.
Tempat ini adalah Balai Penjaga Jalur Tengah.
Bukan sekadar cabang, tapi benteng pertahanan utama Sekte Wudang di Provinsi Jiangnan. Tempat di mana hukum dan ketertiban Murim ditegakkan dengan besi dan doa.
Bagi Baek Mu-jin dan murid-murid Wudang yang baru pulang dari misi maut, pemandangan ini adalah rumah.
Tapi bagi Geun yang sedang digendong di punggung Mu-jin, tempat ini terlihat seperti... penjara mewah.
"Murid Wudang!" seru penjaga gerbang hormat saat melihat Mu-jin.
Tapi senyum penjaga itu luntur saat melihat kondisi rombongan.
Pakaian mereka robek dan bernoda darah kering. Jumlah mereka berkurang. Dan di punggung Tuan Muda Mu-jin, murid elit kebanggaan cabang, bergantung seorang pemuda kurus yang terlihat seperti mayat hidup yang belum dikubur.
"Senior Baek! Apa yang terjadi?" seru seorang murid penyambut, berlari mendekat.
"Kami disergap. Banyak yang gugur," jawab Mu-jin singkat, wajahnya lelah. "Siapkan ruang medis untuk murid yang terluka. Dan siapkan kamar tamu untuk Saudara Geun."
Murid penyambut itu menatap Geun dengan tatapan menyelidik. Dia melihat pakaian sutra Geun yang kotor, rambutnya yang acak-acakan, dan wajahnya yang pucat pasi tanpa aura pendekar sedikitpun.
"Tamu ini... siapa?" tanyanya ragu. "Apakah dia pedagang yang kita selamatkan?"
"Dia rekan seperjuangan," tegas Mu-jin. "Perlakukan dia dengan hormat."
Geun, yang masih memeluk leher Mu-jin, berbisik pelan, "Bilang aku pahlawan. Biar dapat kamar bagus."
......................
Satu jam kemudian.
Geun berdiri di tengah kamar barunya.
Atau lebih tepatnya, gudang yang dikasih tempat tidur.
Kamarnya sempit, terletak di bagian belakang kompleks, dekat dengan dapur umum dan kandang kuda. Dindingnya polos tanpa hiasan, hanya ada satu jendela kecil yang menghadap tembok pagar. Perabotannya cuma dipan kayu keras, meja kecil, dan satu teko air.
"Ini kamar tamu?" protes Geun pada murid pengantar yang berdiri di pintu. "Di kota Jeokha, aku tidur di kasur bulu angsa! Ini mah papan cucian!"
Murid pengantar itu mendengus.
"Ini adalah Balai Penjaga, bukan rumah bordil. Kami hidup dalam kesederhanaan untuk melatih jiwa. Syukurilah kami memberimu atap, Tuan... siapa namamu tadi?"
"Geun. Pahlawan Geun."
"Ya, ya. Tuan Geun," murid itu memutar bola matanya. "Aturan di sini ketat. Satu, Dilarang keluar dari area tamu tanpa izin. Dua, Dilarang mengganggu latihan murid resmi. Tiga, Dilarang membuat keributan."
"Makanannya mana?" potong Geun. "Perutku mau meledak karena kosong."
"Sebentar lagi diantar."
Murid itu pergi, menutup pintu dengan bunyi bam yang tidak ramah.
Geun duduk di dipan keras itu. Tulang ekornya protes.
"Sialan..." umpat Geun. "Ternyata Wudang itu pelit. Tau gitu aku minta nginep di penginapan luar aja."
Tak lama kemudian, seorang pelayan bisu masuk membawa nampan makanan.
Mata Geun berbinar. Dia membayangkan bebek panggang, atau minimal ayam rebus sebagai "pemulihan energi".
Pelayan itu meletakkan mangkuk di meja, lalu pergi.
Geun melihat isinya.
Bubur.
Putih, polos, dan encer.
Di sampingnya ada piring kecil berisi asinan sawi dan tahu rebus.
Dan air putih hangat.
"..."
Geun mengaduk bubur itu dengan sendok kayu. Tidak ada potongan daging, tidak ada minyak, dan bahkan tidak ada bawang goreng.
"Ini makanan orang sakit atau makanan kuda?" gerutu Geun.
Dia mencicipinya. Hambar. Rasanya seperti makan air beras.
"Pahlawan makan bubur air?!" teriak Geun pada tembok. "Aku menyelamatkan senior kalian pakai uang pribadiku! Satu tael perakku meleleh demi kalian, dan kalian kasih aku air beras?! Sial, kupikir hidupku sudah lebih baik, namun sekarang tidak ada bedanya dengan menggembel."
Geun melempar sendoknya. Dia tidak nafsu makan karena kesal.
Tapi perutnya berbunyi keras sekali. Tubuhnya yang sedang dalam masa pemulihan pasca-trauma Qi menuntut kalori tinggi. Dia butuh lemak. Dia butuh protein.
"Tenang, Geun. Tenang," Geun memijat pelipisnya. "Jangan marah. Marah bikin lapar."
Dia memakan bubur itu dengan paksa, sambil membayangkan rasanya adalah sup buntut sapi.
Tapi rasa lapar di perutnya tidak hilang. Malah makin menjadi-jadi.
......................
Sore harinya, Geun mencoba berjalan-jalan sedikit di sekitar area tamu karena bosan.
Kakinya masih agak pincang, tapi sudah bisa dipakai jalan pelan.
Dia melewati sekelompok murid muda Wudang yang sedang istirahat latihan.
Saat melihat Geun lewat, mereka mulai berbisik-bisik.
"Itu orangnya?"
"Yang katanya membunuh Jiangshi dengan tangan kosong?"
"Cih. Lihat jalannya. Pincang begitu. Mana mungkin dia membunuh Jiangshi? Paling Senior Baek cuma melebih-lebihkan laporan biar tidak malu karena dibantu orang luar."
"Kudengar dia cuma orang gila yang kebetulan ada di sana. Beruntung saja masih hidup."
Telinga Geun yang cukup tajam mendengar semuanya.
Dia berhenti, tangannya mengepal di dalam lengan baju.
"Orang gila yang beruntung?" batin Geun panas. "Kalian yang latihan pedang tiap hari cuma bisa jadi mayat kalau nggak aku tolongin! Sekte kalian dibantu sama orang yang tidak pernah belajar bela diri, bangsat!"
Ingin rasanya Geun mendatangi mereka dan melempar koin ke jidat mereka kalau saja dia tidak sayang uang.
Tapi dia sadar posisinya.
Di sini, dia bukan siapa-siapa. Dia tidak punya seragam. Dia tidak punya lencana. Dia cuma tamu numpang makan yang lusuh.
Geun tidak tahu kalau jasa di Murim itu cepat basi. Begitu bahaya lewat, hormat pun hilang.
"Lihat saja nanti," gumam Geun, berbalik arah kembali ke kamarnya yang sempit. "Kalian meremehkan gembel? Gembel punya cara sendiri buat hidup enak."
Malam turun.
Balai Penjaga menjadi sunyi. Lampu-lampu dipadamkan sesuai jam malam yang ketat.
Di kamar sempitnya, Geun membuka mata.
Perutnya melilit minta diisi daging.
"Bubur sialan," desis Geun.
Dia bangun. Dia tidak menyalakan lilin.
Matanya yang bisa melihat energi, membuat kegelapan malam terlihat seperti sketsa garis-garis energi baginya.
Dia melihat aura para penjaga yang berpatroli.
Dia melihat aura murid-murid yang tidur.
Dan yang paling penting...
Dia mencium bau yang sangat menggoda dari arah bangunan besar di seberang halaman.
Bau lemak babi asap.
"Dapur Utama," Geun menyeringai lebar dalam kegelapan.
Dia menyelinap keluar jendela.
Gerakannya bukan gerakan pendekar yang menggunakan Qinggong.
Itu adalah gerakan tikus got. Bungkuk, tanpa suara, memanfaatkan bayangan pilar dan semak-semak.
Dia melihat dua murid penjaga sedang mengobrol di dekat koridor dapur.
Geun mengambil batu kerikil.
Tuk.
Dia melempar ke arah genteng yang berlawanan.
"Apa itu?" Penjaga menoleh. "Tikus?"
Mereka berdua pergi memeriksa.
Celah terbuka.
Geun melesat masuk ke dalam dapur.
"Surga..."
Di sana, tergantung berderet-deret paha ham, sosis kering, dan keranjang telur. Sekte Wudang adalah sekte ajaran Taoisme yang vegetarian, karena itu daging adalah makanan khusus untuk para tamu kehormatan, dan bukan untuk tamu kelas bawah seperti dia.
Geun tidak serakah kali ini. Dia hanya mengambil dua paha ayam rebus sisa makan malam tetua, sepotong besar keju keras, dan sebotol arak masak.
Dia menyembunyikannya di balik jubahnya.
Saat dia hendak keluar, dia melihat sebuah toples keramik di rak paling atas.
Baunya aneh. Harum, tapi terasa tajam.
Dia membukanya sedikit.
Isinya cairan kental berwarna emas kecoklatan.
Madu Hutan Murni.
"Vitamin," pikir Geun, langsung menenggak satu tegukan besar, lalu menutupnya lagi.
Dia kembali ke kamarnya dengan sukses tanpa terdeteksi.
Malam itu, di atas dipan keras, Geun berpesta pora sendirian dalam gelap.
Dia menggigit paha ayam dengan air mata bahagia.
"Makan tuh aturan sekte," gumam Geun dengan mulut penuh daging. "Selama ada celah, di situ ada jalan."
Dia tidak tahu, bahwa madu hutan yang baru saja dia minum sebenarnya adalah "Ramuan Herbal Peningkat Yang" milik Ketua Cabang yang sedang direndam untuk persiapan latihan tertutup.
Malam itu, tubuh Geun terasa panas bukan main.
Bukan karena demam. Tapi karena overdosis suplemen stamina.
"Kenapa... kenapa badanku panas banget?!" Geun berguling-guling gelisah. "Sialan, ayamnya basi ya?!"