NovelToon NovelToon
Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

Prajurit Api itu mulai mengayunkan tombak mereka, membakar tanaman-tanaman di sekelilingku. Namun, sebelum lidah api itu menyentuh teras, pintu rumah terbanting terbuka.

"Cukup!" teriak sebuah suara yang belum pernah kudengar sekeras itu.

Itu Ayah. Tapi ia tidak lagi tampak seperti petani biasa. Ia menggenggam sebuah tongkat kayu tua yang di ujungnya terikat sebuah kristal bening yang berpendar biru terang. Saat Ayah menghantamkan tongkat itu ke lantai kayu, gelombang energi dingin menyapu seluruh area, memadamkan api para prajurit itu dalam sekejap.

"Kazumi, kemari!" perintah Ayah. Ia menatap Kaelen dengan tatapan tajam yang penuh kewaspadaan. "Dan kau, makhluk dari Dunia Seberang, jangan pikir aku tidak tahu siapa kau!"

Para Prajurit Api terhuyung mundur, zirah mereka mendingin dan retak. Pemimpin mereka menggeram, "Penjaga tua ini masih punya taring... Mundur! Kita akan kembali dengan pasukan lebih besar!"

Begitu mereka menghilang menjadi abu hitam yang tertiup angin, Ayah segera menghampiriku. Wajahnya pucat pasi. "Lembah ini tidak lagi aman untukmu, Kazumi. Mereka sudah tahu siapa kamu."

Ayah menatap Kaelen, lalu kembali menatapku. "Kaelen, aku tahu kau terikat sumpah lamamu, meskipun kau berasal dari kegelapan. Jika kau benar-benar ingin melindunginya, bawa dia ke Gua Kristal Biru di bawah danau sekarang! Hanya di sana kekuatan api tidak bisa menjangkaunya."

Kaelen menatap Ayah sejenak, lalu beralih padaku. Ia mengulurkan tangannya yang pucat. "Ikutlah denganku, Kazumi. Ini satu-satunya cara."

Walaupun hatiku menjerit karena takut dan sedih harus meninggalkan orang tuaku, aku melihat kesungguhan di mata biru Kaelen. Aku meraih tangannya. Seketika, ia menarikku berlari menuju tepian danau. Begitu sampai di bibir air, Kaelen tidak berhenti. Ia justru melompat, membawaku ikut terjun ke dalam air danau yang dingin.

Anehnya, aku tidak merasa sesak. Sebuah gelembung udara tipis menyelimuti kami berdua. Kami menyelam semakin dalam, melewati akar-akar teratai raksasa yang bersinar, hingga kami sampai di sebuah celah sempit di dasar danau yang memancarkan cahaya biru yang sangat indah namun misterius.

Itu adalah jalan masuk ke Gua Kristal Biru. Di dalam sana, air perlahan surut, menyisakan ruangan gua yang penuh dengan kristal bercahaya yang memantulkan bayangan kami.

Kaelen melepaskan genggamannya, namun ia tetap berdiri sangat dekat denganku. Di dalam keheningan gua yang sakral ini, suasana berubah menjadi sangat intim dan menegangkan.

"Di sini," bisik Kaelen, suaranya menggema lembut di dinding gua. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa lapar akan kekuatan dan kekaguman yang tulus pada kecantikanku. "Kamu aman sekarang, Penjaga Kecil. Tapi kau harus tahu... harga yang harus dibayar karena telah masuk ke duniaku."

Aku menelan ludah, menatap wajahnya yang tampak begitu sempurna sekaligus mengerikan di bawah cahaya kristal. "Apa harganya, Kaelen?"

Ia melangkah lebih dekat, hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya yang dingin di keningku. "Hatimu," bisiknya pelan. "Karena mulai saat ini, kanu bukan lagi milik dunia manusia sepenuhnya."

Kaelen terdiam sejenak, membiarkan keheningan gua menyerap kata-katanya. Ia melangkah perlahan mengelilingiku, seperti seekor serigala yang sedang mengagumi mangsa yang paling berharga. Cahaya biru dari kristal di dinding gua memantul di matanya, membuatnya tampak semakin tidak nyata.

"Kamu pikir pertemuan kita di depan rumahmu tadi adalah sebuah kebetulan, Kazumi?" tanyanya lembut, namun nada suaranya membuat bulu kudukku berdiri

.

Aku menggeleng pelan, punggungku kini menyentuh dinding kristal yang dingin. "Apa maksudmu?"

Kaelen berhenti tepat di depanku. Ia jauh lebih tinggi dariku, sehingga aku harus mendongak untuk menatap matanya.

"Aku telah memperhatikanmu sejak lama. Sejak kau masih kecil, saat kau pertama kali belajar berbicara dengan bunga-bunga liar di pinggir danau. Aku adalah bayangan yang mengikutimu saat kau merasa ada seseorang yang mengawasi di balik pohon ek tua."

Napas kurasai tercekat. "Jadi... bisikan yang sering kudengar saat sore hari itu...?"

"Itu adalah suaraku," potongnya. Ia mengulurkan tangan, kali ini benar-benar menyentuh helai rambut hitamku dengan sangat lembut. "Aku melihatmu tumbuh. Aku melihat bagaimana kau memperlakukan setiap bunga dengan cinta, meskipun dunia di luar sana begitu kasar. Aku terjebak di antara tugas untuk menghancurkan segel ini dan keinginan gila untuk terus melihatmu mekar."

Tatapan matanya yang tadi dingin kini berubah menjadi sangat intens, penuh dengan kerinduan yang dalam dan gelap.

"Duniaku dingin, Kazumi. Tidak ada bunga, tidak ada warna. Hanya ada keabadian yang membosankan dan kekuasaan yang hampa," bisiknya, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. "Lalu aku melihatmu. Gadis kecil yang hanya setinggi pundakku, namun memiliki keberanian untuk mencintai kehidupan yang begitu rapuh. Aku... aku jatuh hati pada cahaya yang kau miliki, sesuatu yang tidak akan pernah bisa kumiliki di Dunia Seberang."

Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang—bukan hanya karena takut, tapi karena ada getaran aneh yang menjalar di dadaku. Pria di depanku ini adalah makhluk dari alam lain, sosok yang seharusnya kuhindari, namun pengakuannya terasa begitu jujur dan menyakitkan.

"Tapi kamu dikirim untuk membuka gerbang itu," bisikku parau. "Kau dikirim untuk menghancurkan rumahku."

Kaelen tersenyum tipis, sebuah senyum yang tampak sedih. "Itulah masalahnya. Bagaimana aku bisa menghancurkan dunia yang memiliki kau di dalamnya? Tapi ingatlah, Kazumi... rasa cintaku bukanlah sesuatu yang lembut seperti bunga-bungamu. Ini adalah obsesi yang gelap. Jika aku tidak bisa memilikimu di duniamu, maka aku akan memastikan kau tetap bersamaku di duniaku."

Tiba-tiba, permukaan air di pintu masuk gua bergejolak hebat. Sesuatu yang lain sedang berusaha masuk ke dalam gua kristal ini. Suara teriakan parau dan tawa melengking yang mengerikan bergema dari lorong air.

"Mereka menemukan kita," geram Kaelen, matanya kembali berubah menjadi biru elektrik yang tajam. Ia menarikku ke belakang tubuhnya, dan kali ini, sebuah pedang dari bayangan hitam muncul di tangannya. "Penjaga gua yang terkutuk... mereka tidak suka ada manusia di sini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!