Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Sidang Rektorat dan Mulut Ember Sarah
Pagi itu, atmosfer kampus benar-benar berat. Zea berjalan di samping Antares menuju gedung Rektorat. Antares tampak sangat formal dengan setelan jas abu-abu gelap, wajahnya datar tanpa ekspresi seolah-olah ia siap menghadapi perang dunia ketiga. Sementara Zea? Ia merasa ingin memakai kantong kresek di kepalanya.
Begitu masuk ke ruang Dekan, ternyata tidak hanya ada Pak Dekan, tapi juga dua perwakilan dari Rektorat.
"Silakan duduk, Dr. Antares. Dan... mahasiswi Zea," ucap Pak Dekan dengan nada serius.
Di atas meja, sebuah tablet menampilkan video Rio yang sudah di-take down tapi ternyata sudah di-screen record oleh banyak orang.
"Video ini sudah mencoreng etika akademik kita, Antares," buka salah satu pihak Rektorat. "Narasi yang beredar adalah Anda melakukan tindakan posesif yang tidak pantas terhadap mahasiswi bimbingan Anda. Ada desas-desus tentang 'hubungan istimewa' yang tidak sehat."
Zea meremas tangannya di bawah meja. Ia ingin bicara, tapi tatapan Antares memberinya kode untuk diam.
"Hubungan istimewa?" Antares angkat bicara, suaranya tenang tapi tajam. "Saya hanya menjalankan fungsi pengawasan. Mahasiswi Zea sedang dalam ancaman pelecehan oleh mahasiswa lain dari fakultas hukum saat itu. Tindakan saya adalah proteksi agar tidak terjadi keributan di area studio. Jika Rektorat menganggap melindungi mahasiswi dari paksaan fisik adalah skandal, maka saya pertanyakan standar moral universitas ini."
"Tapi bisikan mahasiswi lain di video itu menyebut Anda 'Mas Antar', Pak," sela Pak Dekan.
Antares tidak bergeming. "Mahasiswa zaman sekarang suka membuat julukan konyol. Jika saya dipanggil 'Mas', 'Sayang', atau 'Lurah' sekalipun oleh mahasiswa, apakah itu kesalahan saya? Yang jelas, Zea Anora adalah mahasiswi berprestasi di bawah bimbingan saya, dan saya menjamin tidak ada aturan akademik yang dilanggar."
Debat kusir berlangsung selama satu jam. Berkat kecerdasan Antares dalam memutar balik logika hukum dan statusnya sebagai aset penting universitas, mereka akhirnya dilepaskan dengan "peringatan keras" agar menjaga jarak sosial di depan umum.
Geger di Kantin: Mulut Ember Sarah
Sementara itu, di kantin fakultas, Sarah sedang duduk bersama geng Arsiteknya. Suasana kantin lagi panas-panasnya bahas video viral itu.
"Eh, serius deh, Pak Antares tuh kayaknya emang ada apa-apa sama Zea. Liat aja tatapannya," celetuk salah satu mahasiswa.
Sarah yang baru saja menyeruput es tehnya langsung tersedak. "Aduh, kalian tuh nggak tahu apa-apa! Jangan asal gosip!"
"Loh, lu kan temen deketnya, Sar. Cerita dong, Zea itu beneran simpenannya atau gimana?"
Sarah yang emang dasarnya nggak bisa ngerem kalau lagi emosi membela temannya, malah keceplosan. "Heh! Jaga ya mulut lu! Zea itu bukan simpenan! Dia itu statusnya terhormat banget, bahkan lebih dari yang kalian kira! Mas Antar itu... eh, maksud gue Pak Antares itu jagain dia karena emang udah kewajibannya sebagai—"
"Sebagai apa, Sar?" tanya Raka, ketua geng cowok populer kampus yang juga atlet basket. Raka ini sudah lama mengincar Zea tapi selalu ditolak.
Sarah tersadar, mukanya pucat. "Ya... ya sebagai dosen pembimbing lah! Pokoknya Zea itu udah ada yang punya, dan yang punya itu levelnya dewa! Kalian nggak bakal level!"
Raka menyeringai, matanya berkilat penasaran. "Oh gitu? Level dewa ya? Gue jadi makin penasaran sama Zea. Kalau cuma dosen doang, gue masih berani saingan. Kita liat seberapa hebat 'level dewa' itu kalau Zea gue ajak jalan."
Geng Raka tertawa-tawa, sementara Sarah cuma bisa memukul mulutnya sendiri. "Aduh, mampus gue... Zea bisa digantung Mas Antar kalau tahu gue mancing-mancing Raka."
Di dalam kamar yang temaram, suara gemuruh AC kalah telak oleh napas yang memburu. Antares benar-benar kehilangan kesabarannya. Berita tentang Sarah yang bermulut ember dan tantangan terbuka dari Raka di kantin adalah sumbu pendek yang meledakkan sisi gelap sang profesor astronomi ini.
Zea sudah terpojok di antara kasur empuk dan tubuh kokoh Antares yang menjulang seperti gunung.
"Mas... ampun... Mas Antar, dengerin dulu!" Zea meracau, kedua tangannya berusaha menahan dada bidang Antares yang terasa panas meski terhalang kemeja. "Itu Sarah yang ngomong, bukan aku! Aku udah berusaha diem, Mas!"
Antares tidak menjawab. Dia justru melepaskan jam tangan peraknya dengan gerakan pelan yang sangat mengintimidasi, lalu melemparnya ke nakas. Matanya yang biasanya menatap bintang-bintang, kini hanya terkunci pada satu objek: bibir Zea yang gemetar.
"Kamu pikir saya peduli siapa yang mulai, Zea?" suara Antares berat, serak, dan penuh otoritas. "Faktanya, nama kamu jadi bahan taruhan cowok-cowok di kantin. Dan itu karena kamu tidak bisa menjaga jarak dengan lingkunganmu."
Antares merenggut syal Zea, membuangnya ke lantai. Dia langsung menyerang ceruk leher Zea dengan ciuman-ciuman yang menuntut, menghisap kulit pualam itu tanpa ampun sampai meninggalkan jejak kemerahan yang mencolok.
"Aakh! Mas... sakit... jangan di situ, besok aku kuliah gimana?" Zea merintih, kepalanya mendongak, matanya mulai berair. "Mas Antar, plis... ampun..."
Antares mengabaikan permohonan itu. Dia justru makin gencar. "Biar saja semua orang lihat. Biar Raka tahu siapa yang menyentuh kamu semalaman ini."
"Mas... capek... aku belum ngerjain maket..." racau Zea lagi, suaranya mulai serak karena lelah.
Antares menarik kedua tangan Zea, menguncinya di atas kepala dengan satu tangan besarnya. Dia berbisik tepat di depan bibir Zea yang bengkak, "Maket bisa menunggu, Zea. Tapi hukuman saya tidak bisa. Kamu harus belajar bahwa setiap kali kamu membiarkan orbitmu terganggu pria lain, saya akan menarikmu kembali dengan cara seperti ini."
"Mas Antar... hiks... udah..." Zea memohon lagi, tubuhnya lemas, tidak sanggup lagi melawan kekuatan Antares yang dominan.
Tapi Antares seolah tuli. Rasa posesif yang mengalir di darah Bagaskara-nya membuat dia tidak pernah merasa puas. Setiap desahan dan tangisan kecil Zea justru menjadi bahan bakar bagi obsesinya. Dia terus "menghukum" Zea, menanamkan sensasi yang membuat Zea lupa pada Raka, lupa pada Sarah, dan hanya mengingat satu nama: Antares.
Malam itu, Zea baru menyadari bahwa Mas Antar-nya bukan sekadar dosen jenius yang dingin. Dia adalah pria yang memiliki sisi gelap yang sangat posesif, yang tidak akan berhenti sampai Zea benar-benar menyerah total di bawah kuasanya.