Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Akar yang Membusuk
Rumah aman di perbukitan pinus itu kini tidak lagi terasa seperti benteng perlindungan, melainkan sebuah ruang pengakuan yang sunyi. Hujan sisa badai semalam masih menetes dari atap, menciptakan irama monoton yang mengiringi ketegangan di dalam ruang medis rahasia.
Hadi Kirana duduk di atas tempat tidur putih. Tubuhnya yang kurus kering tampak rapuh di balik pakaian pasien yang diberikan tim medis Dante. Wajahnya yang penuh keriput dan bekas luka menunjukkan betapa kejamnya sepuluh tahun yang ia habiskan di ruang bawah tanah Marco. Di hadapannya, Aruna berdiri mematung. Ia menatap pria itu—pria yang selama ini ia tangisi di nisan kosong, pria yang ia anggap sebagai pahlawan masa kecilnya yang jujur.
Dante berdiri di sudut ruangan, tangannya bersedekap, matanya mengawasi Hadi dengan insting seorang predator yang masih meragukan mangsanya.
"Ayah... kenapa?" suara Aruna pecah. "Kenapa Ayah membiarkan kami mengira Ayah sudah mati? Kenapa Ayah membiarkan Satria terjebak dalam dunia ini sendirian?"
Hadi menundukkan kepalanya, tangannya yang gemetar meremas sprei. "Karena kematian adalah satu-satunya cara agar kalian tidak dicari, Aruna. Atau begitulah pikirku saat itu. Tapi aku salah. Darah Kirana bukan darah biasa di mata mereka."
Aruna mengernyit. "Apa maksud Ayah? Kita hanya keluarga penjahit dari pinggiran kota."
Hadi tertawa pahit, sebuah suara kering yang terdengar menyakitkan. Ia menatap Dante, lalu kembali ke Aruna. "Keluarga kita tidak pernah menjadi penjahit karena pilihan, Aruna. Kita menjadi penjahit untuk bersembunyi. Kakekmu... dia adalah bendahara utama bagi sindikat lama sebelum Valerius atau Marco berkuasa. Dia yang menciptakan sistem pencucian uang pertama di negara ini."
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin. Aruna menoleh ke arah Dante, namun Dante tampak sama terkejutnya. Rahasia ini terkubur terlalu dalam bahkan untuk intelijen Valerius.
"Kakekmu membawa lari kode akses menuju 'Dana Abadi'—sebuah simpanan emas dan berlian yang dikumpulkan dari hasil perang puluhan tahun lalu," lanjut Hadi dengan suara bergetar. "Dia menyembunyikannya dalam bentuk data digital yang saat itu belum ada yang mengerti. Dia mewariskan kode itu padaku, lalu aku mewariskannya pada Satria. Kami tidak pernah ingin menggunakan uang itu, Aruna. Kami hanya ingin menguburnya."
"Jadi itu alasan Satria diculik?" tanya Aruna, napasnya tersengal. "Bukan karena dia mata-mata?"
"Dia menjadi mata-mata untuk mencari tahu siapa yang masih memburu kode itu. Tapi dia jatuh cinta padamu, Aruna. Dia ingin memutus rantai itu. Dia menyimpan kode itu di dalam flashdisk yang kau bawa sekarang. Itu bukan hanya berisi daftar pengkhianat Marco, tapi itu adalah kunci menuju kekayaan yang bisa membeli seluruh kota ini."
Aruna merogoh sakunya, menyentuh benda perak kecil itu. Ia tidak pernah tahu bahwa ia sedang memegang kunci menuju neraka yang lebih besar.
Dante melangkah maju, kehadirannya memenuhi ruangan. "Jika Julian Thorne tahu tentang Dana Abadi itu, maka dia tidak akan pernah berhenti. Pelabuhan Lama hanyalah pemanasan. Dia akan meratakan seluruh kota ini untuk mendapatkan kode itu."
"Dia sudah tahu," ucap Hadi lirih. "Itulah sebabnya dia mengambil Elena. Dia pikir Elena bisa membujukku, atau berpura-pura menjadi Aruna untuk mendapatkan disket itu darimu. Dia tahu darah Kirana adalah kunci biometrik kedua setelah kode itu dimasukkan."
Aruna menatap ayahnya dengan rasa ngeri. "Jadi, Elena benar-benar saudaraku?"
Hadi mengangguk lemah. "Dia lahir satu jam setelahmu. Saat itu, kakekmu masih hidup dan dikejar-kejar. Dia memaksa kami memberikan satu anak sebagai 'jaminan' kepada sindikat agar kami bisa hidup tenang di Jalan Kenanga bersama anak yang lain. Aku lemah, Aruna. Aku membiarkan mereka mengambil Elena agar kau bisa hidup normal. Itu adalah dosa terbesarku."
Aruna mundur selangkah, merasa mual. Segala sesuatu dalam hidupnya ternyata adalah hasil dari transaksi. Kelahirannya, pernikahannya dengan Satria, bahkan keselamatannya, semuanya dibayar dengan penderitaan Elena dan kematian suaminya.
"Jangan sentuh aku," ucap Aruna saat Dante mencoba mendekat untuk menenangkannya.
Aruna berlari keluar dari ruang medis, melewati Enzo yang tampak bingung, dan terus berlari menuju balkon atas. Ia butuh udara. Ia butuh ruang untuk berteriak, namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan.
Dante mengikutinya, namun ia tetap menjaga jarak. Ia berdiri di belakang Aruna, membiarkan angin malam meniup mantel hitamnya. "Aruna, aku tidak tahu tentang sejarah kakekmu. Aku bersumpah."
"Itu tidak penting lagi, Dante!" Aruna berbalik, wajahnya basah oleh air mata. "Tidakkah kau lihat? Aku adalah pusat dari semua kehancuran ini. Karena aku, Satria mati. Karena aku, Elena menjadi pembunuh. Karena aku, ayahku disiksa sepuluh tahun. Aku bukan penyelamatmu, Dante. Aku adalah kutukan bagi siapa pun yang mendekatiku."
"Kau bukan kutukan," Dante membantah dengan suara keras, mengalahkan suara angin. "Kau adalah korban dari keserakahan pria-pria tua yang sudah mati! Kau tidak memilih untuk lahir di keluarga ini, sama seperti aku tidak memilih lahir di keluarga Valerius!"
Dante melangkah maju, mengunci tatapan Aruna. "Julian Thorne menginginkan Dana Abadi itu? Biarkan dia mencoba mengambilnya. Tapi dia harus melewati mayatku dulu. Dan kali ini, aku tidak akan melakukannya demi organisasi. Aku melakukannya demi kau. Karena kau adalah satu-satunya hal yang membuat hidupku terasa nyata setelah bertahun-tahun penuh kepura-puraan."
Aruna menatap Dante. Di tengah kemarahannya, ia melihat ketulusan yang sama yang ia lihat di restoran semalam. Dante adalah monster, tapi dia adalah monsternya.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Aruna, suaranya kini lebih tenang namun dipenuhi tekad yang dingin.
"Kita akan menggunakan Dana Abadi itu sebagai umpan," jawab Dante. "Kita tidak akan memberikannya pada Julian. Kita akan menggunakannya untuk menghancurkan sistem perbankannya. Jika uang itu benar-benar ada, kita akan mendonasikannya secara anonim ke badan hukum internasional untuk memicu investigasi besar-besaran terhadap seluruh aset Thorne. Kita akan membuatnya bangkrut sebelum dia sempat menarik pelatuk."
Aruna mengangguk pelan. "Dan Elena? Dia masih di luar sana."
"Jika dia cukup pintar, dia akan menghilang. Tapi jika dia kembali... aku akan memastikan dia tidak akan bisa menyentuhmu lagi."
Malam itu, Aruna duduk di meja kerja Dante. Di depannya bukan lagi laporan kain atau jahitan, melainkan skema enkripsi tingkat tinggi yang dijelaskan ayahnya tadi. Dengan bantuan tim IT Enzo, Aruna mulai memasukkan kode biometriknya ke dalam flashdisk tersebut.
Saat layar monitor menunjukkan progres 99%, sebuah pesan pop-up muncul di layar. Itu bukan dari sistem mereka.
“Kau membuka kotaknya, Aruna. Sekarang, mari kita lihat apakah kau cukup kuat untuk memegang isinya. – Elena.”
Aruna segera menutup laptopnya. Ia tahu Elena sedang mengawasi, mungkin melalui satelit atau penyadap yang belum mereka temukan. Namun Aruna tidak lagi takut. Ia memiliki ayahnya kembali, ia memiliki Dante di sampingnya, dan ia memiliki Bumi yang harus ia lindungi.
Ia menoleh ke arah jendela, melihat bayangan dirinya sendiri di kaca. Ia melihat Aruna yang lama—yang lembut dan rapuh—perlahan memudar, digantikan oleh sosok yang lebih tajam, lebih fokus.
"Ayah bilang darah Kirana adalah kunci," bisik Aruna pada dirinya sendiri. "Maka aku akan menggunakan darah ini untuk mengakhiri sejarah kelam ini. Tidak akan ada lagi hutang yang harus dibayar oleh generasi berikutnya."
Bab 25 ditutup dengan Aruna yang akhirnya menerima takdirnya. Ia tidak lagi melarikan diri dari masa lalu keluarganya; ia merangkulnya untuk menjadikannya senjata. Dan di kegelapan malam, di sebuah hotel murah di perbatasan kota, Elena menatap luka di bahunya yang mulai mengering. Ia memegang foto kecil Aruna dan Bumi.
"Permainan baru dimulai, Saudari," gumam Elena. "Kau punya ayahnya, kau punya cintanya, tapi aku punya kuncinya."
Elena membuka sebuah kotak kecil yang ia curi dari saku Hadi saat di pelabuhan. Di dalamnya terdapat sebuah cincin tua dengan simbol yang sama dengan yang ada di flashdisk tersebut. Ternyata, biometrik Aruna hanyalah separuh dari kuncinya. Separuh lainnya ada di tangan Elena.
Dua saudari, satu warisan, dan satu dunia yang akan terbakar untuk memperebutkannya.