Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan yang Tertunda
Nama grup itu Random karena sejak awal tidak ada yang merasa perlu memberi arah.
Ia dibuat di masa ketika hidup terasa longgar, ketika orang bisa berbicara panjang tanpa takut salah, ketika perbedaan pendapat masih dianggap latihan berpikir, bukan ancaman. Di bangku kuliah, Random adalah tempat segala hal yang tidak selesai: politik yang dipelajari setengah-setengah, agama yang diperdebatkan dengan nada bercanda, teori-teori besar yang hanya bertahan sampai kopi dingin.
Setelah lulus, grup itu tidak pernah benar-benar dibicarakan lagi, tapi juga tidak pernah ditinggalkan. Ia bertahan seperti kebiasaan lama yang terlalu akrab untuk dihapus. Kota berubah. Jadwal hidup tidak lagi sinkron. Tapi Random tetap menjadi ruang yang sama: tempat semua orang masuk tanpa harus menjadi siapa pun.
Pagi itu, Random bangun lebih dulu dari sebagian anggotanya.
Wawan:
Assalamu’alaikum.
Pagi, saudara-saudara. Jangan lupa bersyukur. Hidup ini titipan.
Pesan itu terkirim pukul enam lewat sedikit. Di Medan, Wawan sudah berdiri di dapur kafenya, mengecek bahan, menyalakan kompor. Ia mengetik sambil berdiri, dengan keyakinan sederhana bahwa hari yang baik dimulai dari niat baik. Ia selalu percaya pada itu, meski hidup belum memberinya bukti yang konsisten.
Yanto:
Waalaikumsalam.
Jam segini gue masih nyari alasan buat bangun, Wan.
Di Bali, Yanto membaca sambil duduk di teras rumah kontrakannya. Rambutnya masih berantakan, kacamata sedikit melorot. Ia menyalakan rokok, lalu mematikannya lagi, kebiasaan yang tidak pernah benar-benar konsisten. Baginya, pagi adalah waktu paling jujur untuk merasa tidak yakin pada apa pun.
Doli:
Bersyukur itu setelah kopi.
Sebelum kopi, manusia setengah hewan.
Di Jakarta, Doli tersenyum tipis membaca ulang kalimatnya sendiri. Ia menyeduh kopi hitam, rokok menyala di asbak. Meja kerjanya sudah penuh coretan merah. Hari belum benar-benar dimulai, tapi kepalanya sudah lelah.
Di Yogyakarta, Ari membaca semuanya tanpa membalas. Ia duduk di lantai kamar kosnya, punggung bersandar ke tembok. Jendela terbuka setengah, suara motor dan pedagang sarapan masuk seperti kebisingan yang tidak ia tolak. Piano kecil di pojok ruangan masih tertutup kain.
Ari selalu membaca lebih lama dari yang lain. Ia tidak mencari isi, tapi nada. Ia memperhatikan siapa yang bicara cepat, siapa yang menunda, siapa yang memilih kata aman. Ia tahu pagi ini ada satu ketidakhadiran yang mengganggu keseimbangan.
Nama Kusuma belum muncul.
Biasanya Kusuma selalu hadir, meski hanya dengan satu kalimat pendek. Ari menunggu tanpa sadar. Ada perasaan yang belum berbentuk pikiran, tapi cukup kuat untuk membuatnya menahan jempol.
Yanto:
Eh, Sum.
Gimana urusan barang lo?
Pesan itu terkirim. Dibaca. Tidak dibalas.
Percakapan tetap berjalan, tapi sedikit pincang. Wawan mengirim foto kopi susu dari kafenya, dengan busa yang tidak rata. Doli mengeluh soal penulis yang menolak direvisi. Yanto mengirim berita tentang aturan baru turis asing di Bali.
Ari membaca semuanya, tapi pikirannya terus kembali ke satu hal: jeda.
Lima belas menit berlalu. Lalu dua puluh.
Ponsel Ari bergetar.
Kusuma:
Masih ketahan.
Katanya nunggu pusat.
Kalimat itu pendek, terlalu bersih, tanpa emosi yang biasanya menyelip di antara kata-kata Kusuma. Ari merasakan sesuatu mengencang di dadanya.
Doli:
Pusat ekspedisi?
Atau pusat data nasional?
Yanto:
“Pusat” itu kata paling malas dalam birokrasi.
Wawan:
Biasanya kalau gitu lagi ada update sistem.
Demi keamanan, mungkin.
Kata keamanan muncul begitu saja, refleks, seperti kata amin di akhir doa. Ari menatap layar ponselnya lebih lama dari yang perlu. Ia pernah membaca terlalu banyak tentang bagaimana kata itu bekerja, tentang bagaimana ia bisa menenangkan, sekaligus menutup percakapan.
Yanto:
Keamanan siapa?
Wawan tidak langsung membalas. Di dapur kafenya, ia berhenti sejenak, menatap layar dengan alis berkerut. Ia tidak suka nada curiga yang terlalu cepat. Baginya, hidup sudah cukup rumit tanpa harus selalu mencari musuh.
Wawan:
Keamanan bersama lah.
Kalau sistem nggak rapi, semua kena dampaknya.
Yanto:
Masalahnya, “bersama” itu jarang benar-benar bersama.
Di titik itu, Ari ikut mengetik. Ia tidak berniat memancing konflik, tapi pagi itu, kalimatnya keluar tanpa ia saring terlalu lama.
Ari:
Dan biasanya,
yang pertama kena dampak
bukan yang bikin aturan.
Pesan itu terkirim. Ari meletakkan ponsel, menyesap kopi pahitnya. Ada getaran kecil di dadanya, seperti seseorang yang baru saja menyentuh senar terlalu keras.
Di Jakarta, Doli membaca sambil mengisap rokoknya dalam-dalam. Ia tidak suka ketika diskusi bergerak terlalu cepat ke wilayah ideologis. Ia lebih percaya pada detail.
Doli:
Gue ngerti maksud kalian.
Tapi ini bisa aja murni teknis.
Yanto:
Teknis sekarang nentuin hidup orang.
Doli:
Jangan lebay.
Yanto:
Coba lo yang datanya “nggak kebaca”.
Di Papua, Kusuma duduk di pinggir jalan berdebu, helm tergeletak di sampingnya. Ia membaca pesan-pesan itu dengan perasaan aneh: hidupnya sedang diperdebatkan oleh orang-orang yang ia kenal, tapi dari jarak yang aman. Ia menyalakan rokok, lalu mematikannya setengah.
Ia menekan tombol voice note.
Kusuma (VN):
“Gue nggak ngerti istilah-istilah kalian.
Yang gue tau, hari ini gue nggak bisa kerja.
Barang nggak jalan.
Dan mereka nyuruh gue ngisi sesuatu
yang bahkan mereka sendiri nggak bisa jelasin.”
Suaranya serak, bukan karena marah, tapi karena kelelahan yang tidak sempat ia keluhkan. Setelah voice note itu terkirim, grup Random sunyi lebih lama dari biasanya.
Sunyi itu berlangsung sampai siang.
Jam bergeser. Aktivitas masing-masing kembali menuntut perhatian. Wawan melayani pelanggan. Doli masuk rapat daring. Yanto mengantar turis. Ari mengedit suara di laptopnya, mencoba fokus tapi gagal.
Pukul satu siang, Wijaya akhirnya muncul.
Wijaya:
Dalam sejarah administrasi,
orang jarang dihapus secara langsung.
Mereka dibuat tidak relevan
melalui prosedur.
Pesan itu panjang untuk ukuran Wijaya. Ia menulisnya di sela-sela jam kerjanya di perpustakaan Surabaya, dikelilingi rak buku sejarah kolonial dan kebijakan negara.
Wawan:
Maksud lo, Sum ini “dihapus”?
Wijaya:
Belum.
Tapi sedang ditempatkan
di wilayah abu-abu.
Kata abu-abu terasa dingin. Ari teringat simbol kecil di layar gudang yang diceritakan Kusuma semalam. Ia merinding tanpa tahu kenapa.
Yanto:
Wilayah abu-abu itu bahaya.
Karena di sana nggak ada hak,
tapi juga nggak ada pelanggaran.
Doli:
Kalian kebanyakan baca.
Ari:
Atau mungkin kita kurang merasakan.
Kalimat itu membuat percakapan berhenti sejenak. Doli menatap layar tanpa membalas. Wawan mengetik lama, menghapus, lalu mengetik lagi.
Wawan:
Gue cuma nggak mau kita langsung curiga
sama semua kebijakan.
Yanto:
Dan gue nggak mau hidup
di dunia di mana gue nggak boleh nanya.
Nada mulai mengeras. Tidak ada yang berteriak, tapi garisnya jelas. Ari menyadari satu hal: percakapan ini tidak lagi soal Kusuma saja. Ia mulai menyentuh sesuatu yang lebih besar… cara mereka memandang dunia.
Sore menjelang.
Kusuma mengirim pesan lagi, kali ini lebih panjang.
Kusuma:
Gue bolak-balik ke kantor tadi.
Jawabannya sama.
Disuruh nunggu.
Kayak hidup gue lagi di-pause
sama orang yang bahkan nggak tau nama gue.
Kalimat itu membuat Ari meletakkan laptopnya. Ia membayangkan Kusuma berdiri di depan meja pelayanan, dengan wajah lelah dan mata merah, berhadapan dengan sistem yang tidak bisa ia ajak bicara.
Yanto:
Lo nggak salah apa-apa, Sum.
Doli:
Masalahnya sistem nggak peduli salah atau bener.
Wawan:
Mungkin ini cuma sementara.
Yanto:
“Sementara” buat sistem
bisa permanen buat manusia.
Wawan tersinggung. Ia mengetik lebih cepat dari biasanya.
Wawan:
Lo selalu ngeliat yang buruk.
Nggak semua kebijakan itu jahat.
Yanto:
Gue nggak bilang jahat.
Gue bilang berbahaya
kalau nggak bisa dipertanyakan.
Percakapan mulai melelahkan. Ari merasakan itu. Jari-jarinya dingin. Ia tahu, konflik seperti ini tidak akan selesai dengan argumen yang lebih baik.
Kusuma:
Jadi sekarang gue ini apa?
Nunggu?
Atau nyerah?
Pertanyaan itu terlalu telanjang. Tidak ada yang langsung menjawab.
Ari mengetik pelan.
Ari:
Mungkin sekarang lo cuma lagi…
nggak kebaca.
Kalimat itu sederhana, tapi setelah terkirim, Ari merasakan dadanya sesak. Ia tidak tahu kenapa ia menulis itu. Ia hanya tahu itu terasa benar.
Malam datang perlahan.
Satu per satu anggota Random menghilang. Pekerjaan selesai. Lelah datang. Percakapan tidak benar-benar ditutup… ia hanya meredup, seperti lampu yang dibiarkan menyala redup semalaman.
Di Yogyakarta, Ari menutup ponselnya. Ia berdiri, membuka kain penutup piano, lalu menekan satu tuts. Nada tunggal mengisi kamar, menggantung sebentar sebelum mati.
Di Papua, Kusuma berbaring di penginapan murah, menatap langit-langit dengan mata terbuka. Ponselnya di dada, layar gelap.
Di Medan, Wawan membersihkan kafe, masih yakin bahwa semua akan baik-baik saja.
Di Jakarta, Doli mematikan rokok terakhirnya.
Di Bali, Yanto menatap laut, bertanya-tanya siapa yang sebenarnya menentukan arah hidup manusia.
Dan di Surabaya, Wijaya menutup buku sejarahnya dengan perasaan tidak nyaman, karena ia tahu, apa yang sedang mereka bicarakan bukanlah hal baru.
Malam itu, Random tidak lagi terasa acak.
Ia menjadi catatan pertama tentang bagaimana dunia berubah tanpa meminta persetujuan, dan bagaimana manusia perlahan belajar hidup di dalamnya… entah siap atau tidak.