Georgio Cassano adalah antagonis paling menyedihkan yang pernah Selin baca. Dimana sedari kecil dia tidak pernah mendapat perhatian keluarganya,cinta pertamanya malah menikah dengan rivalnya, dan istrinya berselingkuh. Sang Antagonis mendapat akhir trangis, Perusahaan yang dibangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri bangkrut, dan dia meninggal dibunuh protagonis pria.
"Andai saja aku yang menjadi istri antagonis. Pasti aku akan membuat dia bahagia." Kata-kata yang diucapkan Selin malah membuatnya memasuki tubuh Cassandra, istri antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hancurnya kaca ditangan sendiri
Sudah lima hari mereka berbahagia bersama, meruntuhkan semua masalah-masalah dalam hidup mereka, baik masalah kecil maupun masalah besar. Hari ini adalah hari kepulangan Edward dan Karina juga Bara. tapi mereka mengusulkan Cassandra dan Giorgino untuk tetap tinggal di Pulau itu, karena mereka belum pernah berbulan madu selama menikah, jadi Edward meminta Cassandra dan Georgio untuk tinggal lebih lama untuk berbulan madu.
Giorgio dan Cassandra hanya mengikuti karena bagi Cassandra ini juga kesempatan dia untuk berduaan dengan Georgio, menghabiskan waktu mereka berdua, hingga tiba saatnya Cassandra pergi, meninggalkan Georgio untuk selamanya.
Setelah Edward, Karina, dan Bara pergi meninggalkan mereka, suasana pulau seketika menjadi jauh lebih sunyi. Hanya ada suara deburan ombak yang tenang dan hembusan angin yang memainkan anak rambut Cassandra.
Bagi Georgio, ini adalah bulan madu yang sempurna untuk memulai lembaran baru. Namun bagi Cassandra, setiap detik yang berlalu terasa seperti hitung mundur yang menyakitkan. Ia seringkali tertangkap basah sedang menatap Georgio dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang merekam setiap lekuk wajah suaminya ke dalam memorinya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Georgio, mereka melangkah pelan menuju pantai yang tidak jauh dari sana.
Cassandra menggeleng pelan, lalu menggenggam tangan Georgio erat-erat. "Aku hanya ingin mengingat momen ini. Aku ingin memastikan kalau aku tidak akan pernah melupakan bagaimana rasanya berada di dekatmu seperti ini."
Georgio hanya tersenyum, tidak menyadari bahwa di balik senyum itu, Cassandra sedang mempersiapkan diri untuk sebuah perpisahan. Di pulau yang indah ini, di tengah kebahagiaan yang baru saja mereka raih, Cassandra mulai menyusun kata-kata pamit yang paling indah, meski ia tahu itu akan menghancurkan hati pria yang paling ia cintai.
"Main air mau?"tanya Cassandra menatap Georgio memohon. Georgio memandang hamparan pantai dihadapannya sekilas, lalu kembali menatap Cassandra dan mengangguk.
Mereka berdua akhirnya berlari menuju bibir pantai, bercanda, tertawa, Mereka menghabiskan waktu dengan sangat bahagia. Melupakan segala masalah yang sudah mereka lewatkan.
Sementara disisi lain, di kota yang berbeda, seorang wanita paruh baya tertawa duduk bersimpuh di pojok ranjang rumah sakit jiwa, jemarinya yang kurus mencakar sprei putih bersih itu hingga kusut. Rambutnya yang mulai beruban tampak berantakan, menutupi wajahnya yang kini hanya menyisakan tulang pipi menonjol.
"Kenapa dia tidak datang?" gumamnya, suaranya parau dan bergetar. "Jordan... anakku... kenapa pintunya tidak terbuka?"Lanjutnya dengan menatap pintu bercat putih disana.
Sonia tidak gila karena kehilangan hartanya. Dia menjadi gila karena kehilangan Jordan, putra semata wayangnya.
Harusnya Sonia berada di dalam jeruji besi penjara, karena semua kejahatan yang dilakukan, dia pantas berada disana. Namun, kasusnya sekarang berbeda. Karena kehilangan segalanya dia tidak bisa mengendalikan dirinya dan akhirnya mengganggu kesehatan mentalnya.
Setiap kali perawat masuk, Sonia akan menerjang, memegang tangan mereka dengan kekuatan yang mengejutkan.
"Kalian tidak mengerti!" racau Sonia, matanya melotot lebar. "Aku tidak hanya ingin kaya. Aku tidak hanya iri pada Clara, dia punya segalanya sejak lahir, sementara aku harus merangkak dari lumpur!"
Ia tertawa melengking, suara yang kemudian berubah menjadi isak tangis yang tertahan.
"Aku mengambil suaminya agar Jordan punya Ayah yang berkuasa! Aku mengambil hartanya agar Jordan tidak perlu merasakan lapar seperti yang pernah kurasakan. Aku melakukannya untuknya! Apakah memberikan dunia pada anak sendiri adalah sebuah kejahatan?"
Ingatannya kembali pada hari terakhir ia melihat Jordan. Hari di mana semua topengnya terkelupas. Saat semua vidio ilegalnya dan kenyataan Jordan bukan anak kandung Adrian terungkap di depan publik.
"Ma, aku harap kita tidak bertemu lagi."ucapan terkahir Jordan menghantam hati Sonia. Dia sangat menyayangi putranya, tidak menyangka putranya yang dulu menyayangi nya akan sebenci itu padanya, hingga tidak mau lagi bertemu dengannya.
Kini, di balik jeruji besi jendela rumah sakit, Sonia sering terlihat berbicara dengan bayangannya sendiri di kaca.
"Lihat, Jordan," bisiknya sambil mengelus kaca yang dingin. "Mama sudah menyiapkan baju baru untukmu. Kita akan makan malam dengan piring perak. Mama hanya ingin kamu jadi pangeran, Mama hanya ingin kamu tidak menderita."
Ia tidak lagi mengenali realita bahwa harta itu sudah tidak ada, semuanya sudah diambil alih oleh Georgio.
Bagi Sonia, dunia telah berhenti di hari Jordan membalikkan badan dan pergi. Ia terjebak dalam lingkaran pembenaran atas pemikiran nya sendiri, bahwa semua dosa yang ia lakukan adalah bentuk kasih sayang ibu kepada anaknya.
Namun dia tidak tahu, cara yang dia lakukan itu salah. Dibalik kebahagiaan nya, dia membiarkan ibu lain menderita, anak lain yang kehilangan segalanya.
★★★
Di gubuk reyot seorang pria paruh baya duduk menyender dinding dengan memeluk kedua lututnya. Tatapan matanya kosong, ada kehitaman dibawah mata, dan wajah lelah yang sudah terlihat keriput.
Dia Adrian, dia bukan menyesali kehancuran hidupnya, bukan menyesali kehilangan kekayaannya. Tapi dia menyesali dirinya yang dulu pernah menyia-nyiakan anak dan istrinya, membuatnya kehilangan istri yang sudah membantunya, yang sudah setia kepadanya, dia kehilangan istri sebaik itu untuk selama-lamanya.
Tidak cukup sampai disitu, dia juga menyakiti anak mereka, dia lebih percaya anak orang lain dari pada anaknya sendiri, hingga akhirnya anaknya pergi dari hadapannya. Dulu dia tidak peduli, dia berfikir anaknya pasti akan kembali, dia tidak akan bisa hidup seorang diri diluar sana. Tapi ternyata dugaannya salah, dia tidak pernah kembali, dia tidak pernah lagi menginjakkan kaki dirumah mereka.
Tapi walaupun begitu, Adrian, tetap mengganggu putranya itu, dia bahkan memaksa anaknya menikah dengan wanita pilihannya, meskipun dulu Georgio tidak menolak, tetap saja dulu dia menjadi ayah yang jahat kepada anak kandungnya sendiri, dan malah merawat anak orang lain.
Adrian menangis sesenggukan, mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia akan selalu seperti itu, tiba-tiba diam dan menangis.
"Maafin papa..."lirihnya.
"Clara... Aku sudah gagal, aku bukan cuma gagal jagain kamu, aku juga gagal jagain anak kita."Adrian meremas rambutnya kuat, air matanya mengalir deras.
"Maafin aku Clara... Aku mohon, jangan benci aku."Adrian bergumam lirih.
Tidak ada gunanya menyesal, nasi sudah menjadi bubur. Seharusnya dulu dia bisa berfikir panjang, seharusnya dia tidak sebodoh itu, sekarang untuk menyesal pun percuma. Kehidupannya tidak akan kembali seperti dulu.
Adrian yang awalnya menangis berubah diam, matanya menyiratkan kemarahan yang tak tertahankan. Adrian mengepalkan tangannya erat.
"Ini semua gara-gara Sonia!"geramnya.
Adrian berdiri dari duduknya. Nafasnya memburu, dia kehilangan akal, semua yang terjadi pada dirinya karena kasalahan Sonia. Kalau bukan karena Sonia, dia pasti akan hidup bahagia Dangan Clara dan Georgio.
"Sonia! Aku akan membuat mu, menyusul Clara ke alam baka!"