Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Pertama Bahaya
Arga terbangun dengan kepala yang terasa seperti dipukul batu. Berat. Pusing berputar-putar. Matanya susah sekali dibuka, kelopaknya terasa seperti ditimpa besi.
"Sial..." gumamnya pelan sambil mencoba bangkit dari ranjang.
Tapi tubuhnya tidak mau diajak kompromi. Tangannya gemetar saat menopang berat badannya sendiri. Kaki terasa lemas seperti jeli. Napasnya tersengal padahal dia baru saja bangun tidur.
"Arga?" suara Safira terdengar dari pintu kamar. Istrinya berdiri di sana dengan wajah khawatir, membawa segelas air. "Kamu tidak apa-apa? Dari tadi kamu terlihat gelisah saat tidur."
"Aku... aku baik-baik aja," jawab Arga sambil berusaha tersenyum meski kepalanya terasa mau pecah. "Cuma kurang tidur mungkin."
Bohong. Dia tidur cukup. Bahkan lebih dari cukup. Tapi kenapa tubuhnya terasa seperti habis lari maraton semalaman?
Safira mendekat, meletakkan gelas di meja samping tempat tidur. Tangannya yang dingin menyentuh kening Arga. "Kamu tidak demam. Tapi... kamu terlihat pucat sekali, Arga. Pucat tidak wajar."
"Mungkin kurang makan," Arga berusaha bercanda sambil memaksa dirinya berdiri. Tapi kakinya langsung limbung. Safira refleks menangkapnya sebelum jatuh.
"Arga!" suara Safira panik. Tangannya yang dingin menopang tubuh Arga yang gemetar. "Kamu... kamu kenapa sih?! Ini sudah tiga hari kamu seperti ini! Semakin hari semakin parah!"
Arga baru sadar. Benar juga. Tiga hari terakhir dia memang sering merasa lemas. Awalnya dia pikir cuma kecapekan biasa. Tapi sekarang... sekarang tubuhnya bahkan tidak kuat untuk berdiri.
"Aku... aku tidak tahu," Arga menjawab jujur sambil duduk kembali di tepi ranjang. Kepalanya dia sandarkan di bahu Safira yang dingin tapi menenangkan. "Rasanya seperti... seperti ada yang menguras tenaga aku dari dalam."
Safira membeku mendengar itu. Wajahnya berubah pucat. Lebih pucat dari biasanya. Matanya melebar dengan ketakutan yang jelas terlihat.
"Tidak... tidak mungkin..." bisiknya dengan suara gemetar.
"Apa?" Arga mengangkat kepalanya, menatap Safira dengan bingung.
Tapi Safira tidak menjawab. Ia hanya menatap Arga dengan tatapan yang penuh rasa bersalah. Penuh ketakutan. Penuh penyesalan.
***
Siang itu, tanpa pemberitahuan, Ustadz Hasyim datang.
Arga sedang berbaring di sofa dengan selimut menutupi tubuhnya yang menggigil padahal cuaca tidak dingin. Safira duduk di lantai di samping sofa, tangannya menggenggam tangan Arga yang dingin dan berkeringat.
Ketukan pintu membuat mereka berdua terlonjak.
"Assalamualaikum," suara Ustadz Hasyim terdengar dari luar. Tegas tapi lembut.
Safira bangkit dengan wajah yang langsung berubah ketakutan. "Ustadz Hasyim..." bisiknya.
Arga berusaha bangkit tapi tubuhnya terlalu lemas. "Buka pintunya, Safira. Biarkan dia masuk."
Safira ragu. Tangannya gemetar saat membuka pintu. Dan saat pintu terbuka, Ustadz Hasyim berdiri di sana dengan wajah yang sangat serius. Matanya langsung tertuju pada Arga yang terbaring lemah di sofa.
"Seperti yang saya duga," ujar Ustadz Hasyim sambil masuk tanpa dipersilakan. Ia langsung menghampiri Arga, duduk di kursi di dekat sofa. "Ini sudah dimulai."
"Apa... apa yang sudah dimulai, Ustadz?" tanya Arga dengan suara serak.
Ustadz Hasyim menatap Arga dengan tatapan yang penuh kesedihan. "Pengurasan energi hidup mas Arga. Ini yang saya takutkan sejak awal. Ikatan mas dengan jin itu mulai menguras energi hidup mas. Semakin lama, mas akan semakin lemah. Sampai akhirnya..."
Ustadz Hasyim tidak melanjutkan. Tapi Arga sudah mengerti.
Sampai akhirnya dia mati.
"Tidak..." Safira bergumam dari sudut ruangan. Suaranya gemetar hebat. "Tidak, tidak mungkin. Aku... aku tidak mau ini terjadi."
Ustadz Hasyim menatap Safira dengan tatapan yang tajam. "Kamu tahu ini akan terjadi sejak awal, kan? Kamu tahu ikatan antara jin dan manusia itu terlarang karena alasan ini. Tapi kamu tetap memaksakan. Dan sekarang, mas Arga yang menanggung akibatnya."
"Jangan salahkan dia!" Arga langsung membentak meski suaranya lemah. "Ini pilihan aku! Aku yang memaksa menikahi dia! Bukan dia yang memaksa aku!"
"Tapi hasilnya sama saja, mas," Ustadz Hasyim menjawab dengan nada lelah. "Sekarang nyawa mas terancam. Dan kalau ini terus berlanjut, mas bisa mati dalam hitungan bulan. Bahkan minggu."
Hening.
Hening yang mencekik.
Safira jatuh terduduk di lantai. Tangannya menutupi wajahnya, tubuhnya gemetar hebat. Tidak ada suara tangisan. Tapi Arga tahu dia menangis. Menangis dalam diam yang menyakitkan.
"Ada... ada cara untuk menghentikan ini?" tanya Arga dengan suara yang hampir putus asa.
Ustadz Hasyim menghela napas panjang. Tangannya mengeluarkan tasbih dari kantong, memainkannya pelan sambil berpikir. "Ada. Tapi... tapi caranya sangat berat."
"Apa?"
"Salah satu dari kalian harus melepaskan ikatan ini," jawab Ustadz Hasyim dengan tatapan yang sangat serius. "Ikatan pernikahan kalian harus diputus. Safira harus kembali ke alam jin sepenuhnya. Dan mas Arga harus melupakan dia. Sepenuhnya. Tanpa tersisa."
"TIDAK!" Arga dan Safira berteriak bersamaan.
"Aku tidak akan melepas dia!" Arga bersikeras sambil berusaha bangkit dari sofa meski tubuhnya gemetar. "Aku sudah bilang dari awal! Aku rela mati asalkan bisa bersama Safira!"
"Mas..." Ustadz Hasyim menatap Arga dengan tatapan yang penuh belas kasihan. "Ini bukan lagi soal kerelaan. Ini soal nyawa. Nyawa yang Allah titipkan pada mas. Nyawa yang seharusnya mas jaga, bukan sia-siakan untuk cinta yang... yang tidak seharusnya ada."
"Cintaku sama Safira bukan cinta yang tidak seharusnya ada!" Arga membentak dengan amarah yang tiba-tiba meledak. "Kami menikah secara sah! Di hadapan penghulu! Dengan ijab kabul yang benar! Allah menyaksikan pernikahan kami! Jadi jangan bilang cinta kami tidak seharusnya ada!"
Ustadz Hasyim terdiam. Wajahnya terlihat terkejut dengan ledakan emosi Arga. Tapi kemudian ia menghela napas, wajahnya melembut.
"Mas benar," kata Ustadz Hasyim pelan. "Pernikahan kalian sah di mata syariat. Tapi... tapi alam semesta tidak selalu sejalan dengan syariat manusia, mas. Ada hukum yang lebih tinggi. Hukum yang mengatur keseimbangan antara dua alam. Dan kalian... kalian melanggar hukum itu."
"Lalu apa yang harus kami lakukan?!" Arga berteriak dengan frustasi. Air matanya mulai mengalir. "Berpisah?! Hidup sendiri-sendiri seolah kami tidak pernah saling mencintai?! Itu... itu mustahil!"
Ustadz Hasyim tidak menjawab. Ia hanya menatap Arga dengan tatapan sedih yang dalam.
Lalu ia berpaling pada Safira yang masih terduduk di lantai dengan tubuh gemetar. "Safira... kamu jin muslimah, kan?"
Safira mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Matanya merah, wajahnya hancur. "Ya... ya, Ustadz."
"Kalau begitu kamu tahu konsekuensinya," Ustadz Hasyim berkata dengan nada yang lembut tapi tegas. "Kamu tahu bahwa mencintai manusia itu terlarang bagi jinmu. Kamu tahu bahwa pernikahan kalian akan membawa malapetaka. Tapi kamu tetap melakukannya. Kenapa?"
Safira menangis lebih keras. Tubuhnya membungkuk sampai dahinya menyentuh lantai. "Karena... karena aku mencintainya, Ustadz. Aku sangat mencintai Arga. Dan aku... aku egois. Aku ingin merasakan bahagia walau hanya sebentar. Walau aku tahu ini salah. Walau aku tahu ini akan menyakiti dia. Tapi aku... aku tidak kuat, Ustadz. Aku tidak kuat menolak cinta ini."
Suaranya pecah di akhir kalimat. Tangisannya meledak, memenuhi ruangan dengan kepedihan yang sangat dalam.
Ustadz Hasyim menutup matanya, bibirnya bergerak pelan membaca doa. Lalu ia membuka matanya, menatap Safira dengan tatapan yang penuh belas kasihan.
"Nak," katanya dengan suara yang sangat lembut. Sangat berbeda dari nada tegas tadi. "Cinta itu anugerah. Tapi cinta yang salah tempatnya bisa jadi bencana. Dan sayangnya... cinta kalian masuk kategori itu."
"Lalu... lalu apa yang harus kami lakukan?" Safira bertanya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Ustadz Hasyim terdiam lama. Sangat lama. Lalu ia menarik napas dalam.
"Berdoa," jawabnya pelan. "Berdoa pada Allah agar Dia memberikan jalan. Jalan yang tidak harus berakhir dengan kematian atau perpisahan. Aku... aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Tapi Allah Maha Kuasa. Kalau Dia menghendaki, pasti ada jalan."
"Tapi Ustadz bilang tidak ada cara lain selain berpisah," Arga menyela dengan suara putus asa.
"Itu menurut ilmu yang aku punya," Ustadz Hasyim menjawab sambil menatap Arga dengan tatapan yang dalam. "Tapi ilmu manusia terbatas, mas. Allah yang Maha Tahu. Mungkin ada jalan yang aku tidak tahu. Jalan yang hanya Allah bisa buka."
Ustadz Hasyim bangkit dari kursi, menghampiri Arga yang masih berbaring lemah. Tangannya yang hangat menyentuh kening Arga, membacakan ayat Kursi dengan suara yang khusyuk.
Saat ayat Kursi dibacakan, Arga merasakan sesuatu yang aneh. Hangat. Seperti ada energi yang mengalir ke tubuhnya. Rasa pusing di kepalanya sedikit berkurang. Tubuhnya yang lemas mulai terasa sedikit lebih kuat.
"Subhanallah..." gumam Arga dengan takjub.
"Ini hanya sementara," Ustadz Hasyim menjelaskan sambil melepaskan tangannya. "Aku tidak bisa menyembuhkan mas sepenuhnya. Tapi setidaknya ini bisa mengurangi rasa sakitnya untuk sementara."
"Terima kasih, Ustadz," Arga berkata dengan tulus.
Ustadz Hasyim tersenyum tipis. Lalu ia berpaling pada Safira. "Nak, boleh aku bicara dengan kamu sebentar? Di luar?"
Safira tersentak. Wajahnya pucat. Tapi ia mengangguk pelan dan mengikuti Ustadz Hasyim keluar ke teras.
***
Di teras, angin malam bertiup pelan. Dingin. Ustadz Hasyim berdiri membelakangi Safira, menatap langit malam yang gelap tanpa bintang.
"Safira," panggilnya tanpa menoleh.
"Ya, Ustadz?"
"Kamu benar-benar mencintai Arga, kan?"
Safira terdiam. Lalu ia menjawab dengan suara yang sangat pelan. "Lebih dari apapun, Ustadz. Dia... dia satu-satunya alasan aku masih ingin ada di dunia ini."
Ustadz Hasyim mengangguk pelan. "Kalau begitu... kamu harus siap kehilangan dia."
Safira membeku. Tubuhnya kaku. "Apa... apa maksud Ustadz?"
Ustadz Hasyim akhirnya berbalik, menatap Safira dengan tatapan yang sangat serius. "Kalau kamu benar-benar mencintai dia, kamu harus rela melepasnya. Biarkan dia hidup. Biarkan dia sehat. Biarkan dia bahagia. Walau tanpa kamu."
"Tapi... tapi dia bilang dia tidak bahagia tanpa aku..."
"Dia bilang begitu karena dia belum tahu rasanya hidup tanpa kamu sepenuhnya," Ustadz Hasyim memotong dengan lembut. "Manusia itu mudah beradaptasi, nak. Dia akan sedih. Dia akan menangis. Tapi pada akhirnya, dia akan baik-baik saja. Dia akan menemukan kebahagiaan yang lain. Kebahagiaan yang tidak membunuhnya perlahan."
Air mata Safira jatuh lagi. Kali ini lebih deras. "Ustadz... Ustadz tidak mengerti. Aku sudah menunggu lima puluh tahun untuk menemukan cinta lagi. Lima puluh tahun sendiri, Ustadz. Lima puluh tahun dalam kegelapan. Dan saat aku akhirnya menemukan cahaya itu di Arga, Ustadz minta aku untuk melepaskannya? Aku... aku tidak sanggup, Ustadz. Aku benar-benar tidak sanggup."
Safira jatuh berlutut di teras itu, menangis sejadi-jadinya. Tangannya mencengkram dadanya sendiri, seperti mencoba menahan sakit yang luar biasa di hatinya.
Ustadz Hasyim berjongkok di hadapan Safira. Tangannya yang hangat menyentuh bahu Safira yang dingin. "Nak... cinta sejati itu bukan soal memiliki. Tapi soal memberikan yang terbaik untuk orang yang kita cintai. Walau yang terbaik itu berarti melepaskan mereka."
"Tapi aku... aku egois, Ustadz," Safira mengangkat wajahnya yang basah, menatap Ustadz Hasyim dengan tatapan hancur. "Aku sangat egois. Aku ingin Arga. Aku ingin bersamanya. Aku... aku tidak peduli kalau itu salah. Aku tidak peduli kalau itu menyakiti dia. Yang aku pedulikan cuma... cuma aku tidak ingin sendiri lagi."
Ustadz Hasyim merasakan dadanya sesak mendengar pengakuan jujur Safira. Wanita ini... jin ini... dia benar-benar sedang menderita. Terjebak antara cinta dan rasa bersalah yang menghancurkan.
"Safira," Ustadz Hasyim berkata dengan suara yang sangat lembut. "Kalau kamu benar-benar sayang sama Arga, kamu harus kuat. Kamu harus berani melepasnya sebelum terlambat. Sebelum dia benar-benar mati."
"Tapi... tapi bagaimana caranya, Ustadz? Bagaimana caranya aku melepas orang yang aku cintai lebih dari nyawaku sendiri?"
Ustadz Hasyim tidak bisa menjawab. Karena dia tahu, tidak ada jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan itu.
***
Malam itu, setelah Ustadz Hasyim pulang dengan pesan untuk terus berdoa dan berdzikir, Arga dan Safira berbaring di ranjang dengan jarak yang lebih jauh dari biasanya.
Tidak ada yang bicara.
Hanya keheningan yang mencekik.
Safira menatap langit-langit kamar dengan mata yang kosong. Air matanya mengalir pelan, membasahi bantal. Tangannya terkepal erat di samping tubuhnya.
Sementara Arga, meski tubuhnya sudah sedikit lebih baik setelah dibacakan ayat Kursi tadi, tapi hatinya hancur. Dia tahu Safira sedang menderita. Dia tahu istrinya sedang bergulat dengan rasa bersalah yang luar biasa.
"Safira," panggil Arga pelan.
Safira tidak menjawab. Tapi air matanya mengalir lebih deras.
"Lihat aku, Safira. Kumohon."
Perlahan, Safira menoleh. Dan saat mata mereka bertemu, Arga melihat kepedihan yang sangat dalam di sana. Kepedihan yang membuat dadanya terasa ditusuk ribuan jarum.
"Aku tidak akan melepasmu," Arga berbisik dengan suara yang bergetar. "Apapun yang terjadi. Aku tidak akan pernah melepasmu."
"Tapi kamu akan mati..." Safira membalas dengan suara yang pecah. "Kamu akan mati karenaku, Arga. Dan aku... aku tidak sanggup melihat itu terjadi."
"Lalu apa yang kamu mau? Kita berpisah? Kamu pergi dan aku hidup sendiri lagi?" Arga bangkit duduk meski tubuhnya masih lemas. "Aku lebih baik mati bersamamu daripada hidup tanpa kamu, Safira. Dan itu keputusanku. Keputusan yang tidak akan pernah aku ubah."
"Kamu bodoh..." Safira menangis sambil ikut bangkit duduk. "Kamu sangat bodoh, Arga. Kenapa kamu selalu pilih jalan yang paling menyakitkan?"
"Karena jalan itu yang akan membuatku bersama kamu," Arga menjawab sambil meraih wajah Safira, memaksanya menatap matanya. "Dan aku... aku tidak butuh apapun selain kamu."
Safira memeluk Arga dengan sangat erat. Menangis di bahu suaminya dengan isak tangis yang memilukan. "Maafkan aku... maafkan aku, Arga. Ini semua salahku. Aku yang egois. Aku yang memaksamu mencintaiku. Dan sekarang... sekarang kamu yang menderita karenaku."
"Ini bukan salahmu," Arga membalas pelukan dengan erat meski tubuhnya gemetar karena kelelahan. "Ini pilihan kita berdua. Dan aku... aku tidak menyesal dengan pilihan ini."
Mereka berpelukan lama dalam kegelapan kamar itu. Menangis bersama. Menderita bersama.
Dan saat fajar mulai menyingsing, Safira membuat keputusan di dalam hatinya.
Keputusan yang sangat berat.
Keputusan yang akan menghancurkannya.
Tapi keputusan yang harus dia ambil untuk menyelamatkan orang yang dia cintai.
Dia harus pergi.
Sebelum terlambat.
Sebelum Arga benar-benar mati.
Walau itu berarti dia harus menghancurkan hatinya sendiri.
Walau itu berarti dia harus kembali ke kegelapan yang sudah lama dia tinggalkan.
Sendirian.
Selamanya.