NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Romantis / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.

Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Warisan di Balik Karat

​“Lapar sekali... Apa dunia sudah lupa kalau aku masih bernapas?”

​Jian Yi, bocah sepuluh tahun dengan tulang pipi yang menonjol tajam, berbaring telentang di atas tanah yang dingin.

Perutnya tidak lagi berbunyi; rasa lapar itu telah berubah menjadi rasa perih yang mati rasa. Baginya, langit biru di atas sana tampak seperti piring kosong yang mengejek kemiskinannya.

Sudah tiga hari sejak suapan terakhirnya, dan sisa-sisa tenaga di tubuhnya seolah mulai menguap.

​Dia tidak punya siapa-siapa. Orang tuanya hanyalah bayangan kabur dalam ingatan—sosok yang membuangnya saat ia bahkan belum lancar bicara. Jalanan adalah ibu tirinya, dan debu adalah selimutnya.

​“Jian Yi! Bodoh, kenapa kau tiduran di sana seperti bangkai?” Sebuah teriakan memecah kesunyian.

​Jian Yi menggerakkan matanya yang cekung, menatap sosok yang mendekat.

“Coi Gi... Syukurlah kau datang. Mendekatlah, sepertinya aku harus menitipkan wasiat terakhirku padamu... dan yang lainnya.”

​Coi Gi menghentikan langkah, diikuti dua bocah lain di belakangnya. Mereka bertukar pandang, bingung sekaligus cemas.

​“Kau bicara apa, sih?” tanya Shi Tuzhu, dahi mengkerut heran.

​Sementara itu, Gi Jibo hanya bersedekap, matanya menyipit malas namun tersirat kekhawatiran yang ia sembunyikan dengan baik.

​“Dia cuma butuh asupan, bukan liang lahat,” gumam Coi Gi. Ia merogoh kantung lusuhnya dan melemparkan sekerat roti keras. “Nih! Makanlah. Setelah nyawamu kembali ke raga, ikut kami ke hutan. Kita akan memburu rusa.”

​Jian Yi menangkap roti itu dengan gerak refleks yang ajaib untuk orang yang hampir mati.

Ia mengunyahnya dengan rakus, air mata mulai mengalir di pipinya yang kotor. “Terima kasih, teman-teman. Sepertinya... ajal belum berani menjemputku hari ini.”

​“HAHAHA!” Tawa pecah di gang sempit itu.

​“Kau selalu dramatis, Jian Yi.” cetus Gi Jibo sambil menggelengkan kepala, meski sudut bibirnya sedikit terangkat.

​Setelah energi dari roti itu menyebar ke otot-ototnya, mereka berempat berjalan menuju hutan di pinggiran kota.

Harapan mereka sederhana: satu ekor rusa berarti makan besar dan beberapa koin perak untuk bertahan hidup seminggu ke depan.

​“Apa kau yakin kita bisa menjatuhkan rusa kali ini?” tanya Jian Yi ragu, melirik busur bambu mereka yang sudah melengkung tidak keruan.

​Coi Gi merangkul bahu Jian Yi, senyumnya lebar penuh percaya diri. “Kali ini pasti berhasil! Bayangkan, daging panggang yang berminyak dan segelas air manis. Kita akan makan sampai perut kita meledak!”

​Shi Tuzhu dan Gi Jibo berjalan di samping mereka, sesekali menyenggol Jian Yi untuk mencairkan suasana.

Mereka adalah kawanan yang terikat oleh luka yang sama: dibuang.

Karena mereka tahu betapa perihnya ditinggalkan, mereka berjanji tidak akan pernah membiarkan satu pun dari mereka berjalan sendirian.

​Sesampainya di perbatasan hutan, mereka mengambil persenjataan yang disembunyikan di balik semak berduri.

​“Ambil panah kalian! Hari ini, kita adalah pemburu paling ditakuti di hutan ini!” Coi Gi menarik sebuah busur dan berpose heroik layaknya jenderal perang.

​Shi Tuzhu menunjuk ke arah seekor burung yang hinggap di dahan tinggi. “Jangan banyak gaya, Coi Gi. Akurasimu lebih buruk dari orang buta. Coba panah burung itu kalau kau memang hebat.”

​“Tantangan diterima! Apa taruhannya?” Coi Gi menyeringai.

​“Yang kalah harus menggendong yang menang selama lima menit di jalur menanjak nanti. Bagaimana?”

​“Sepakat!” Coi Gi mulai membidik. Ia menarik tali busur dengan napas tertahan, matanya menyipit tajam.

​Jian Yi yang memperhatikan dari samping hanya bergumam kecil, “Dia pasti...”

​WHUSH!

​Anak panah melesat, namun bukannya mengenai sasaran, benda itu justru jatuh terkulai hanya beberapa meter dari kaki Coi Gi.

​“...Pasti gagal.” sambung Gi Jibo datar.

​Tawa kembali pecah, merobek keheningan hutan. “Hahaha! Jangankan rusa, semut pun tertawa melihat bidikanmu itu!”

​Setelah gurauan berakhir, mereka mulai bergerak lebih dalam ke jantung hutan. Keberuntungan tampaknya berpihak; seekor rusa jantan besar sedang merumput di dekat semak-semak.

​Mereka berpencar. Jian Yi merangkak tanpa suara, memosisikan dirinya di titik buta sang rusa. Ia menarik napas dalam, memantapkan busurnya.

​“Satu... dua... lepas!”

​Anak panah itu melesat lurus, membelah angin dengan akurasi yang mematikan.

Namun, tepat sebelum mata panah menyentuh kulit rusa, sebuah benda logam entah dari mana melayang di udara dan menghantam anak panah tersebut.

​KLANG!

​Rusa itu terperanjat dan langsung melesat masuk ke kegelapan hutan dalam hitungan detik.

​“Sial! Apa itu tadi?!” Jian Yi mengumpat, berlari ke arah sumber suara dengan wajah merah padam.

​Di atas tanah, ia menemukan sebuah pedang tua yang tampak biasa saja—berkarat, tumpul, dan terlihat seperti rongsokan. “Kenapa pedang sampah ini bisa ada di sini? Apa ada orang yang membuang barang rongsokan di tengah hutan?”

​“Jaga mulutmu, Bocah ingusan!” sebuah suara berat dan serak bergema.

​Jian Yi tersentak, ia menoleh ke kanan dan kiri dengan panik. “S-siapa itu? Coi Gi? Jibo? Jangan bercanda, ini tidak lucu! Apa... apa ini hantu?”

​“Aku di bawah sini, Bodoh! Berhenti melihat pohon!” teriak suara itu lagi.

​Jian Yi menatap pedang di tangannya dengan mata membelalak. “Kau... kau bisa bicara? Aneh sekali. Aku pernah dengar tentang Roh Pedang dari cerita orang-orang di pasar, tapi kau... kau bahkan tidak punya aura sama sekali. Kau benar-benar terlihat seperti besi tua.”

​“Aku memang tidak punya wujud fisik manusia, entah karena alasan apa,” gerutu sang pedang. “Tapi ketahuilah, aku telah menyaksikan kekaisaran bangkit dan runtuh selama ribuan tahun. Jika kau mau merawatku, aku bisa mengajarimu teknik pedang kuno dan kultivasi yang akan membuat dewa sekalipun gemetar.”

​Jian Yi menatap pedang itu dengan tatapan malas. “Kultivasi? Dewa? Untuk apa? Lebih baik kau kujual ke tukang besi. Setidaknya kau laku untuk beberapa potong roti.”

​“Jangan! Kumohon!” Pedang itu seketika kehilangan wibawanya. “Tolonglah pedang... maksudku, tolonglah pusaka agung ini, Tuan Muda yang baik hati, tampan, dan tidak sombong. Jangan jual aku ke tungku peleburan yang panas itu!”

​Mendengar pujian yang bertubi-tubi, ego Jian Yi sedikit terangkat. “Hmm, baiklah. Kau cukup pandai bicara. Aku akan membawamu pulang.”

​Malam itu, keempat sekawan itu kembali ke rumah kosong di gang sempit dengan tangan hampa.

Teman-temannya kecewa karena gagal mendapatkan rusa, namun Jian Yi tampak sibuk dengan "barang rongsokan" barunya.

​Di sudut ruangan yang remang-remang, Jian Yi menggosok karat dari permukaan pedang itu.

​“Kau yakin jika aku menjadi pendekar, aku akan kaya?” tanya Jian Yi penuh curiga.

​Pedang itu menjawab dengan nada yang sedikit ragu, “I-iya... Tentu saja. Pendekar hebat selalu punya banyak emas dan... eh, makanan enak.”

​Jian Yi menghela napas, lalu mulai mengikuti instruksi pertama dari sang pedang. Ia mulai belajar cara mengatur napas, merasakan energi Qi yang tipis di udara, dan menghafal gerakan dasar yang kaku namun terasa bertenaga.

​Waktu pun berlalu seperti air yang mengalir. Tanpa disadari oleh teman-temannya, setiap malam saat mereka terlelap, Jian Yi menempa dirinya.

Tujuh tahun berlalu dalam kerahasiaan, mengubah bocah pengemis yang kelaparan menjadi seorang pendekar yang kekuatannya tersembunyi di balik jubah kumalnya.

1
Dadan Purwandi
mantapppp 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
gaspolll thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap ceritanya 🔥🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
hancurkannnnn🔥🔥🔥🔥
angin kelana
dah 7 tahun lg yah...
Agen One: time skip aja/Pray/
total 1 replies
Adibhamad Alshunaybir
mantap author semangat up nya☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!