"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 15
BAB 15 — Hujan & Halte
Langit Jakarta runtuh sore itu.
Bukan sekadar gerimis romantis, tapi hujan badai tropis yang datang tanpa peringatan. Angin kencang menekuk pohon-pohon palem di halaman sekolah hingga nyaris patah. Kilat menyambar, diikuti guntur yang menggetarkan kaca jendela kelas.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi lima belas menit yang lalu.
Lobi utama SMA Pelita Bangsa penuh sesak. Ratusan siswa tertahan, menunggu jemputan sopir yang terjebak macet, atau menunggu hujan reda yang tampaknya mustahil.
Mayang berdiri di pinggiran lobi, memeluk tas ranselnya erat-erat. Di dalam tas itu ada laptop inventaris OSIS yang dia pinjam untuk merevisi laporan. Laptop itu nyawanya sekarang. Kalau basah, tamat riwayatnya.
Dia melirik ke arah kelompok anak basket di dekat pilar. Naufal ada di sana.
Naufal sedang tertawa—tawa yang agak dipaksakan—bersama Jerry dan Tasya. Dia memegang kunci mobil Honda Jazz-nya. Biasanya, saat hujan begini, Naufal akan langsung menghampiri Mayang, menawarkan tumpangan sampai depan rumah, bahkan memayungi Mayang sampai pintu mobil.
Tapi hari ini berbeda.
Mata mereka sempat bertemu sekilas. Naufal melihat Mayang yang berdiri kedinginan di pinggir.
Ada keraguan di mata Naufal. Kakinya bergerak sedikit, ingin melangkah maju.
Tapi kemudian Jerry merangkul bahu Naufal. “Bro, nebeng ya! Mobil gue di bengkel. Keujanan nih kalau nunggu Grab.”
Naufal terdiam. Dia menatap Mayang lagi. Lalu, dia membuang muka.
“Yuk. Buruan lari ke parkiran,” kata Naufal pada Jerry.
Naufal dan teman-temannya menerobos hujan, berlari menuju parkiran mobil, meninggalkan Mayang sendirian.
Mayang menghela napas. Uap putih keluar dari mulutnya. Dingin.
Konsekuensi, batin Mayang. Ini harga yang harus dibayar karena memilih jalan sendiri.
Mayang tidak bisa menunggu di lobi selamanya. Dia harus pulang. Budhe sendirian di rumah, atap dapur bocor kalau hujan deras. Dia harus bantu menadah air.
Mayang mengeluarkan payung lipatnya. Payung biru hadiah toko sabun.
Dia menekan tombolnya. Klik.
Payung itu terbuka setengah, lalu macet. Rangkanya yang sudah karatan bengkok. Kainnya sobek di satu sisi.
“Sial,” desis Mayang.
Dia mencoba membetulkan rangkanya, tapi besinya patah di tangan. Payung itu tamat.
Mayang melihat ke langit kelabu. Dia tidak punya pilihan.
Dia melepas jaket almamaternya, membungkus tas ranselnya (untuk melindungi laptop). Dia hanya memakai kemeja putih tipis.
Satu, dua, tiga.
Mayang berlari.
Dia menerobos hujan deras, keluar dari gerbang sekolah, menuju halte bis di seberang jalan raya. Jaraknya sekitar 200 meter.
Hujan menghantam tubuhnya seperti kerikil es. Dalam hitungan detik, kemejanya basah kuyup, menempel di kulit. Roknya berat oleh air. Sepatu kanvasnya—yang baru dicuci—langsung penuh lumpur.
Mayang sampai di halte. Napasnya tersengal.
Sialnya, halte itu penuh sesak. Orang-orang kantoran yang berteduh, pedagang asongan, anak sekolah lain. Atap halte itu juga bocor di beberapa titik.
Mayang tidak kebagian tempat duduk. Dia berdiri di pinggir trotoar, tepat di bawah tempias air.
Dia menggigil. Giginya gemeretak. Dingin AC sekolah tadi siang belum hilang, sekarang ditambah guyuran hujan es.
Sebuah mobil BMW putih lewat. Mayang mengenalnya. Mobil Vivie. Kaca mobil itu tertutup rapat, tapi Mayang bisa melihat siluet Vivie di dalam yang sedang tertawa dengan Sarah. Mobil itu melindas genangan air di depan halte.
Byuur!
Cipratan air keruh menyembur ke arah orang-orang di halte. Mayang yang berdiri paling depan terkena telak di bagian kaki.
“Woi! Hati-hati dong!” teriak seorang bapak-bapak.
Mobil Vivie melaju kencang, tidak peduli.
Mayang menatap kakinya yang berlumpur. Dia tidak marah. Dia terlalu lelah untuk marah. Dia hanya merapatkan pelukannya pada tas ransel. Asal laptop aman. Asal laptop aman.
Lima menit berlalu. Angkot tidak kunjung datang.
Mayang mulai pusing. Pandangannya sedikit kabur. Mungkin efek belum makan siang dan kehujanan.
Tiba-tiba, sebuah mobil SUV hitam besar melambat di jalur kiri.
Land Rover Defender.
Mobil itu gagah, tinggi, membelah banjir semata kaki dengan mudah seolah tank baja. Cat hitamnya mengkilap, menolak air hujan.
Jantung Mayang berhenti sejenak. Vino?
Mobil itu berhenti tepat di depan Mayang.
Orang-orang di halte berbisik kagum melihat mobil monster seharga miliaran itu.
Mayang menunggu. Apakah pintu akan terbuka? Apakah Vino akan menyuruhnya masuk seperti di film-film?
Tidak. Pintu tidak terbuka.
Kaca jendela belakang turun perlahan. Hanya setengah.
Di dalam sana, gelap. Kaca filmnya terlalu tebal. Tapi Mayang bisa melihat sepasang mata cokelat gelap menatapnya dari balik kegelapan kabin yang nyaman dan kering.
Vino.
Dia duduk bersandar, memakai jas rapi. Di sebelahnya, samar-samar, Mayang melihat sosok pria tua yang sedang tertidur dengan mulut sedikit terbuka. Ayah Vino.
Pantas saja Vino tidak membuka pintu. Ada "Raja" di sebelahnya.
Vino menatap Mayang dari atas ke bawah. Melihat rambut lepek, kemeja basah yang transparan, dan tubuh yang menggigil.
Tidak ada ekspresi kasihan di wajah Vino. Wajahnya datar, dingin, seolah sedang melihat data statistik cuaca.
Tangan Vino bergerak.
Dia mengambil sesuatu dari samping joknya. Sebuah payung panjang berwarna hitam. Gagangnya dari kayu mahoni yang dipoles mengkilap, dengan ujung logam emas.
Vino melemparkan payung itu keluar jendela.
Gerakannya cepat dan kasar.
Bruk.
Payung itu jatuh di aspal basah, tepat di depan sepatu berlumpur Mayang.
Orang-orang di halte ternganga. Siapa yang membuang payung mahal begitu saja?
Mayang menatap payung itu, lalu menatap Vino.
Vino mendekatkan wajahnya sedikit ke celah jendela.
“Pake,” kata Vino. Suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan, tapi Mayang bisa membaca gerak bibirnya.
“Besok balikin,” lanjut Vino.
Matanya menatap tajam.
“Tanpa setetes air pun. Kalau lembab, lo ganti baru. Harganya lima juta.”
Setelah mengucapkan kalimat sadis itu, kaca jendela naik kembali dengan cepat. Menutup rapat. Memisahkan dunia Vino yang hangat dengan dunia Mayang yang basah.
Mobil itu menderu pelan, lalu melaju pergi, membelah hujan.
Mayang berdiri terpaku.
Dia menatap payung di aspal.
Seorang pengamen di sebelahnya bersiul. “Neng, kalau nggak mau, buat Abang aja. Itu payung Rolls-Royce kayaknya. Dijual laku sejuta.”
Mayang buru-buru membungkuk. Mengambil payung itu.
Berat. Gagangnya terasa kokoh dan solid di tangan. Kainnya tebal, jenis waterproof kualitas militer. Ada logo kecil di gagangnya: Brigg. Payung buatan tangan dari Inggris.
Mayang menekan tombol di gagangnya. Whush.
Payung itu terbuka dengan suara halus yang memuaskan. Lebar, hitam pekat, elegan.
Mayang mengangkatnya di atas kepala.
Seketika, suara bising hujan meredam. Tidak ada lagi tetesan air yang menembus. Di bawah naungan payung itu, Mayang merasa seperti berada di dalam kubah pelindung pribadi.
“Lima juta,” gumam Mayang, mengingat harga yang disebut Vino.
Itu bukan sekadar payung. Itu aset. Dan Vino memercayakan aset itu padanya di tengah badai.
Mayang melihat ke arah mobil Vino menghilang.
Dia mengerti. Vino tidak bisa mengajaknya masuk karena ada ayahnya. Mengajak gadis miskin basah kuyup masuk ke mobil mewah di depan konglomerat akan memicu pertanyaan, interogasi, dan mungkin masalah bagi Mayang sendiri.
Vino memilih solusi taktis: Beri alat perlindungan, tapi jaga jarak.
Mayang tersenyum tipis di balik payung hitam itu.
“Tanpa setetes air pun,” tiru Mayang. “Oke, Tuan Jenius. Tantangan diterima.”
Angkot biru akhirnya datang. Mayang naik, menutup payung itu dengan sangat hati-hati, lalu memeluknya seperti memeluk bayi, memastikan tidak terinjak penumpang lain.
Malam harinya.
Hujan belum berhenti. Kontrakan Mayang terasa lembab.
Mayang tidak langsung istirahat. Dia sibuk di ruang tamu sempitnya.
Payung hitam Vino terbuka lebar di tengah ruangan, mendominasi tempat itu. Mayang mengelap setiap jengkal kain payung itu dengan kain mikrofiber bersih (kain lap kacamata yang dia punya).
Dia mengeringkan gagang kayunya. Dia membersihkan ujung logamnya dari noda aspal. Dia bahkan menggunakan hairdryer tua milik Budhe—dengan setelan angin dingin—untuk memastikan tidak ada molekul air yang terperangkap di sela-sela rangka payung.
“Nduk, ngapain sih ngeringin payung sampe segitunya?” tanya Budhe heran sambil membawa teh hangat. “Payung kan emang buat basah-basahan.”
“Ini bukan payung biasa, Budhe. Ini ujian,” jawab Mayang serius.
“Ujian? Ujian praktek sekolah?”
“Ujian kepercayaan.”
Mayang memeriksa kain hitam itu sekali lagi di bawah lampu. Bersih. Kering sempurna. Tidak ada noda.
Vino memberinya tugas yang mustahil: Menggunakan payung saat hujan, tapi mengembalikannya dalam keadaan kering total.
Itu paradoks. Tapi Mayang tahu cara kerjanya. Itu artinya dia harus merawat barang itu lebih dari dia merawat dirinya sendiri.
Mayang menutup payung itu dengan rapi. Melipat setiap lipatannya dengan presisi origami, lalu mengikatnya dengan kancingnya.
Dia meletakkannya di atas meja, jauh dari jangkauan tikus atau kecoa.
Mayang duduk di lantai, memeluk lutut. Dia masih kedinginan. Hidungnya mulai mampet, tanda-tanda flu.
Tapi dia merasa menang.
Dia mengambil ponselnya—ponsel android layar retak. Dia membuka aplikasi chat.
Kontak Vino tidak ada fotonya. Hanya inisial V.
Mayang mengetik pesan.
Mayang: Payung diamankan. Status: Kering 100%. Terima kasih tumpangannya (walau cuma payungnya).
Satu menit. Dua menit.
Ponsel bergetar.
Vino: Good. Minum vitamin C. Jangan mati besok. Gue butuh data Bab 5.
Mayang tertawa kecil. Khas Vino. Peduli, tapi dibungkus kalimat perintah kerja.
Mayang membalas: Siap, Bos.
Dia meletakkan ponselnya, lalu bersin keras. Hatchim!
Besok akan jadi hari yang panjang.
Keesokan Harinya. Sekolah.
Mayang datang dengan hidung merah. Dia memakai masker medis untuk menutupi flu-nya.
Di tangannya, payung hitam itu terbungkus rapi dalam sarung kain yang dia jahit sendiri semalam dari kain perca (karena Vino melemparnya tanpa sarung).
Dia berjalan menuju loker Vino di koridor utama. Dia tahu Vino tidak suka ditemui di kelas pagi-pagi.
Mayang menunggu di dekat loker.
Tak lama, Vino datang. Dia berjalan sendirian, memakai headphone di leher. Wajahnya segar, rambutnya rapi. Kontras dengan Mayang yang terlihat seperti zombie flu.
Vino berhenti di depan loker. Dia melihat Mayang. Lalu melihat bungkusan kain di tangan Mayang.
“Apa itu? Lo bungkus pake kain lap?” tanya Vino, menunjuk sarung kain perca bermotif bunga-bunga norak itu.
“Saya jahit sendiri semalam. Biar nggak kotor kena debu di angkot,” suara Mayang sengau.
Mayang menyerahkan payung itu.
Vino menerimanya. Dia membuka sarung bunga-bunga itu dengan dua jari, seolah jijik tapi penasaran. Dia mengeluarkan payungnya.
Dia meraba kain payung itu. Kering. Dia memeriksa gagangnya. Mengkilap. Dia memeriksa ujungnya. Bersih.
Vino menaikkan alisnya.
“Impressive,” komentar Vino. “Lo ngeringin pake apa? Laser?”
“Pake hairdryer dan doa, Vino,” jawab Mayang.
Vino tersenyum tipis. Dia memasukkan payung itu ke dalam lokernya, lalu menyimpan sarung bunga-bunga buatan Mayang ke dalam tasnya (bukan dibuang).
“Gimana Bab 5?” tanya Vino, mengalihkan topik.
“Udah selesai. Ada di flashdisk.” Mayang merogoh saku, menyerahkan flashdisk.
Saat tangan mereka bersentuhan, Vino merasakan kulit Mayang panas.
Vino langsung memegang dahi Mayang dengan punggung tangannya. Cepat. Refleks.
Mayang kaget, mundur selangkah. “Vino, malu dilihat orang.”
“Lo demam,” kata Vino, mengabaikan protes Mayang. “Badan lo panas banget.”
“Cuma flu dikit. Efek hujan kemarin.”
“Ck. Aset gue rusak,” decak Vino kesal.
Dia melepas headphone-nya, mengalungkannya ke leher Mayang.
“Pake ini.”
“Buat apa?”
“Ini ada fitur Noise Cancelling. Pas istirahat nanti, lo ke UKS. Tidur. Pake ini biar nggak denger suara berisik anak-anak lain. Gue nggak mau laporan gue dikerjain sama orang yang otaknya setengah sadar karena demam.”
“Tapi...”
“Ke UKS. Sekarang. Atau gue seret.”
Ancaman Vino tidak main-main.
Mayang menurut. Dia memang pusing sekali.
“Makasih, Vino.”
Mayang berjalan menuju UKS dengan headphone mahal seharga lima juta melingkar di lehernya.
Dari kejauhan, Naufal melihat interaksi itu. Dia melihat Vino memegang dahi Mayang. Dia melihat Mayang memakai headphone Vino.
Naufal bersandar di tembok, lemas.
“Gue kalah,” bisik Naufal. “Gue bener-bener kalah.”
Bukan karena Vino lebih kaya. Tapi karena Vino mengerti apa yang Mayang butuhkan: Bukan sekadar payung saat hujan, tapi tantangan untuk menjaga payung itu tetap kering. Vino memberikan kepercayaan, bukan sekadar perlindungan.
Dan itulah yang membuat Mayang jatuh cinta. Pelan-pelan. Seperti air hujan yang merembes ke tanah, tanpa sadar sudah membasahi akarnya
Bersambung......