NovelToon NovelToon
Pelacur Metropolitan

Pelacur Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arindarast

Pelacur mahal milik Wali Kota. Kisah Rhaelle Lussya, pelacur metropolitan yang menjual jiwa dan raganya dengan harga tertinggi kepada Arlo Pieter William, pengusaha kaya raya dan calon pejabat kota yang penuh ambisi.

Permainan berbahaya dimulai. Asmara yang menari di atas bara api.
Siapakah yang akan terbakar habis lebih dulu? Rahasia tersembunyi, dan taruhannya adalah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arindarast, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tahanan dalam sangkar emas

“Cia, kok belom siap?” Suara Edgar terdengar cemas dari balik pintu.

Suasana pagi yang tenang, berubah gaduh seketika, diwarnai oleh debaran jantung Rhaell dan kekhawatiran Edgar. Keterlambatan mereka untuk pertemuan wali murid semakin terasa menegang.

“Sabar. Gar. Aku masih bingung.” Balas Rhaell diiringi suara lemari yang diketuk-ketuk. Berbagai pilihan pakaian beradu untuk memperebutkan tempat di tubuhnya. Ia harus mengenakan pakaian yang pantas saat bertemu dengan para guru.

Setelah beberapa saat bergumul dengan pilihannya, Rhaell akhirnya muncul dengan kemeja putih longgar berlengan panjang yang hanya dikancingkan tiga perempat, memperlihatkan sedikit kulit di pergelangan tangannya. Di bawahnya, jeans biru muda longgar yang nyaman menutupi kaki indahnya. Ia berputar pelan di depan Edgar, menunggu penilaian adiknya.

“Ini aja deh, Gar. Coba kamu liat, sopan kan?”

Edgar mengamati dengan seksama, seulas senyum mengembang di bibirnya. “Wah, udah cocok jadi ibu pejabat, nih.” Pujinya, nada suaranya penuh kekaguman.

Mendengar pujian itu, alis Rhaell bertaut “Maksudnya Cia tua gitu?!” tanyanya, suaranya sedikit meninggi. Ia merasa tersinggung, menganggap pujian Edgar sebagai sindiran.

Edgar terkekeh, melihat kakaknya yang mudah terpancing emosi. “Bukan. Maksudnya keren,” jelasnya, mencoba meredakan ketegangan. Ia memang takjub dengan penampilan Rhaell; simpel, tetapi tetap memukau.

Mereka berdua pun bergegas turun ke lobi apartemen, siap untuk berangkat ke sekolah Edgar. Namun, sesuatu yang tak terduga menunggu mereka di sana.

Sebuah mobil hitam mewah terparkir di depan pintu apartemen, sesuatu yang sangat tidak biasa. Mobil itu tampak begitu elegan dan mahal, melambangkan kekuasaan dan kemewahan.

Sebelum Rhaell dan Edgar sempat memproses apa yang mereka lihat, pintu mobil terbuka. Seorang pria tinggi, berpakaian rapi, dengan postur tubuh yang tegap keluar dari mobil tersebut. Pria itu adalah Atlas, sekretaris pribadi Arlo.

Atlas tersenyum ramah, mendekati Rhaell dan Edgar dengan langkah yang mantap “Selamat pagi, Ibu Rhaell, Mas Edgar, sapanya, suaranya lembut dan sopan. Ia membukakan pintu mobil bagi mereka dengan gerakan yang terlatih.

Rhaell yang mengingat kejadian semalam, langsung menolak dengan halus. “Terima kasih, Pak Atlas. Tapi kami sudah memesan taksi. Tidak perlu repot-repot.” Ujarnya mencoba bersikap ramah namun tegas.

Namun, Atlas menggeleng pelan, senyumnya masih ramah namun tatapannya menunjukkan penolakan yang halus. “Maaf, Ibu Rhaell, ini sudah bagian dari perjanjian.” Nada suaranya menunjukkan bahwa ini bukan sekadar permintaan, melainkan sebuah perintah.

Edgar, yang tidak mengetahui situasi sebenarnya, tampak bingung. Ia menatap kakaknya dengan tatapan penuh pertanyaan. Apa yang terjadi? Siapa Atlas? Dan kenapa mereka dijemput dengan mobil mewah? Segala pertanyaan bercampur aduk dalam benaknya.

"Maaf, Pak," kata Edgar, tegas. "Kami tidak mengenal Bapak. Dan kami tidak perlu diantar. Silahkan pergi dari sini." Edgar mencoba menarik tangan Rhaell, namun Rhaell, menghentikannya. "Tenang, Gar," bisik Rhaell, matanya menatap Atlas, "Cia kenal dia."

...****************...

Keheningan menyelimuti perjalanan mereka. Udara di dalam mobil mewah itu terasa kental, dipenuhi oleh keasingan yang tak terucap. Rhaell duduk dengan tenang, sesekali melirik ke luar jendela, menghindari tatapan mata Atlas yang terkadang terasa menusuk.

“Ini ada beberapa barang yang mungkin Ibu Rhaell perlukan.” Dari kursi depan, Atlas memberikan sebuah tas kain berwarna hitam kepada Rhaell. Gerakannya terlatih dan efisien, tanpa ada sedikit pun keraguan.

Rhaell menerimanya, jari-jarinya sedikit gemetar saat menyentuh permukaan tas yang halus dan dingin. Ia membuka tas itu dengan hati-hati. Di dalamnya, tersimpan sebuah ponsel keluaran terbaru dan kotak besar berisi masker yang tampak elegan dan mahal.

Edgar mengamati dari samping, mengerutkan kening. “Ponsel dan masker? Untuk apa, Cia?” bisiknya, suaranya bercampur rasa penasaran dan kekhawatiran. Baginya, kehadiran barang-barang itu semakin menambah misteri di balik kedatangan Atlas.

“Untuk apa masker ini?” Tanya Rhaell ketus.

Atlas melirik sekilas melalui kaca spion, sebelum menjawab dengan tenang. “Untuk menutup wajah Ibu Rhaell, agar tidak dikenali wartawan.” Nada suaranya datar, tanpa emosi, namun kata-kata itu seperti sebuah bom kecil yang meledak di dalam mobil.

Edgar terdiam, matanya terpaku pada kakaknya, membaca ekspresi wajah Rhaell yang berusaha tetap tenang, namun terlihat jelas kekalutan tersirat di baliknya.

Singkat perjalanan, mobil berhenti di depan sekolah Edgar. Rhaell memakai masker itu dan Edgar menatap Atlas dengan pandangan curiga. Atlas hanya mengangguk kecil sebagai salam perpisahan, lalu mobil mewah itu melaju pergi, meninggalkan mereka berdua di tengah hiruk pikuk aktivitas sekolah.

Mereka berjalan menuju gedung sekolah, namun Rhaell merasakan ada yang aneh. Sebuah firasat buruk menjalari tubuhnya. Emor matanya beberapa kali menangkap bayangan seseorang yang mengikutinya dari kejauhan, bayangan itu selalu muncul dan menghilang. Ia merasa diawasi.

“Gar,” bisik Rhaell, suaranya tenang dan penuh keyakinan, “Cia mau ke kamar mandi dulu ya. Tunggu Cia di sini.” Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh arti.

Rhaell menggiring jejak bayangan itu untuk mengikuti langkah yang sama dan di sebuah toilet yang sepi, ia sudah siap mengungkap siapa pemilik bayangan itu.

“Hai, Rhaell.” Seorang wanita manis sedikit terkejut, mendapati Rhaell berdiri di balik pintu saat ia membukanya perlahan.

Dengan gerakan yang cepat, Rhaell langsung menarik wanita itu dan mengunci pintu utama kamar mandi. “Aku sudah lama menunggumu, Dayana.” Ucap Rhaell dengan napas yang memburu.

"Aku sedang menjalankan tugas dari Pak Arlo untuk menjagamu, Rhaell," ucap Dayana, suaranya lembut dan penuh pengertian, nada bicaranya berusaha meredakan ketegangan.

Ia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Rhaell, “Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu takut. Aku tahu ini mungkin mengejutkan, tapi percayalah, kami semua hanya ingin memastikan keselamatanmu.” Dayana menatap mata Rhaell dengan tatapan yang tulus dan penuh empati.

Wanita dengan lesung pipinya yang manis itu mengeluarkan kartu identitasnya dari dompet dan menunjukkannya kepada Rhaell, “kamu bisa lihat ini, aku ajudan yang diutus Pak Arlo untuk mengawalmu.”

Rhaell terpaku, kata-kata Dayana menusuk seperti belati. Kebebasannya benar-benar sirna.

Dayana melihat ekspresi Rhaell yang hancur, mencoba mendekat, namun Rhaell mundur, menjauhkan diri dari Dayana.

“Pak Arlo orang yang baik, Haell. Dia akan memastikan hidupmu aman.”

“Baik? Aman?” Rhaell tertawa getir. “Ini bukan aman, Dayana. Ini penjara!” Ia merasa terkekang. Terkurung dalam sangkar emas kemewahan, bersama sebuah tali tak terlihat yang mengikatnya erat pada Arlo. Ia merasa tercekik tanpa kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri.

“Kebebasan bukan sekadar ruang gerak, Dayana," gumamnya lirih, suaranya bergetar menahan emosi, "itu adalah hak untuk memilih jalan hidupku sendiri, untuk menentukan takdirku sendiri, tanpa ada yang mengendalikan.”

Rhaell menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan gejolak emosi yang mengguncang jiwanya. Ia tidak ingin Edgar melihat kelemahannya, tidak ingin adiknya khawatir. Dengan senyum yang dipaksakan, ia kembali bertopeng, menciptakan persona Cia yang ceria.

Mereka berdua, atau mungkin bertiga? berjalan menuju ruang auditorium, Rhaell berusaha bersikap seperti biasanya, menyapa setiap teman Edgar yang menyapanya.

Ia berdecak, melihat betapa populernya Edgar di sekolah. “Dari banyaknya cewe di sini, ada yang kamu suka nggak, Gar?” Adiknya, yang tampan dan cerdas itu, rupanya sangat terkenal di kalangan para siswa.

“Belom nemu yang secantik Cia.” Candanya tersipu.

Melihat Edgar yang begitu dicintai dan dihormati, Rhaell merasa sedikit lega. Setidaknya, ada satu hal yang masih baik-baik saja dalam hidupnya.

Di ruang pertemuan yang besar itu, Rhaell berbaur dengan para ibu murid lainnya. Ia dengan mudah beradaptasi, menempatkan dirinya sebagai salah satu orang tua yang hadir dalam pertemuan tersebut.

Tidak ada kecanggungan, bahkan ia terlihat begitu nyaman dan natural. Sifatnya yang mudah bergaul dan beradaptasi memang sangat menguntungkan dalam situasi seperti ini.

Ia dengan lancar terlibat dalam percakapan ringan, menanyakan kabar anak-anak, berbagi cerita tentang pengalaman mereka sebagai orang tua, dan memberikan masukan-masukan yang bijaksana. Ia bahkan terlihat begitu menikmati momen tersebut, menghilangkan sejenak identitasnya sebagai pelacur metropolitan.

“Selamat pagi, Bapak Ibu dan para siswa yang kami cintai,” sapa kepala sekolah, di atas panggung, dengan suara yang lantang dan jelas. “Hari ini, kita berkumpul untuk merayakan pencapaian luar biasa dari sekolah kita dan untuk mengumumkan penerima beasiswa tahunan yang telah kita tunggu-tunggu.”

Ia kemudian menjelaskan bahwa beasiswa tahunan ini diberikan kepada siswa-siswa berprestasi yang menunjukkan dedikasi tinggi dalam belajar dan memiliki potensi besar di bidang akademis.

“Tahun ini, kami memiliki banyak calon penerima beasiswa yang luar biasa,” ujarnya, “setelah melalui proses seleksi yang ketat, kami akhirnya menetapkan dua nama yang layak menerima beasiswa untuk program studi kedokteran.”

Saat nama Edgar disebut sebagai penerima beasiswa, sebuah senyuman langsung merekah di wajah Rhaell. Kebanggaan, kelegaan, dan haru. Ia menatap Edgar dengan pandangan penuh kekaguman, matanya berkaca-kaca tetapi terpancar sinar kebahagiaan yang nyata.

Edgar berdiri dan berjalan menuju panggung, untuk menerima piagam penghargaan. Tepuk tangan meriah menggema, namun suasana berubah saat kepala sekolah mengumumkan, “Bapak Arlo, selaku Ketua Yayasan, akan menyerahkan piagam beasiswa kepada anak didik terbaik kami.”

Semua mata tertuju pada Arlo yang melangkah dengan tenang dan penuh wibawa. Jantung Rhaell terhenti sesaat.

Bersambung…

1
Grace
aku baca ini sambil makan 2 bungkus indomie, /Smile/
auralintang___-
marco, lu bisa minggir dlu gx? INI AREA ARLO DAN CIA OMEJII ngapa elu ngikut" sih ah elah ah elaaaah🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️
Galih
seru batt gilak
Mrlyn
jgn2 Cia udh diincer mau dijadiin ibunya Sienna 😅🤌🏻
Mrlyn
lanjutannya jgn lama2 ya thoorrr
Mrlyn
kira2 kenapa ya Arlo sedih 🤔
Mrlyn
Wangi manis 🌼🌼🌼🌼🌼 bayi mongmong bayi😌🫶🏻
Mrlyn
Tuh kan kepincut juga 🤣🤣🤣
Mrlyn
❤️❤️❤️❤️❤️
Mrlyn
Kasian Cia🤧 tp gpp nanti juga ada hikmahnya. sabar ya nduk
Mrlyn
wkwkwk makanya jgn macem2 sama Miss Lily🤣🔥
Mrlyn
makin menarik alurnya 😍🔥
Mrlyn
waduh udh mulai main apa🙈 awas loh kebakaran😌
Mrlyn
Nah ngejob begini aja Cia, kali ketemu jodoh 🙈
Mrlyn
Panjangin lagi babnya thorrrrrr, lagi asik baca tau2 abis🤧
Mrlyn
nungguin Arlo sama Cia interaksi lagi😍🔥
Mrlyn
Awas Lo Arlo ditandain Cia tr kepincut lagi🤣
Elok Senja
up dunk thorr....pliiisss 🤗🙏🥰
Elok Senja
ada typo kecil,
tu kan mo arah ke ❤❤ gituu 😅🤗
Elok Senja
jadi tertarik dg merek parfum nya Thor 🤣🤣😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!