NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pacaran Kontrak 06.

Kantin SMA Wahidin pada jam istirahat pertama selalu terasa seperti pasar malam yang dipindahkan ke dalam ruangan.

Riuh, pengap, dan penuh dengan aroma campur aduk antara minyak gorengan, kuah bakso, dan soto ayam.

Namun, siang ini ada satu meja di pojok kanan dekat stan minuman yang mendadak memiliki radius atmosfernya sendiri.

Sepi secara magis, meski dikelilingi oleh bisik-bisik yang sengaja disamarkan dari meja-meja tetangga.

Di meja itu, Lilis duduk dengan punggung tegak, melipat kedua tangannya di atas meja formika yang agak lengket.

Di hadapannya, sebuah mangkuk plastik berwarna hijau berisi es teler dengan serutan es yang mulai mencair setengahnya tergeletak pasrah.

Sementara di seberangnya, Daffa duduk dengan gaya santai yang luar biasa menyebalkan.

Cowok itu menopang dagu dengan satu tangan, sementara tangan kirinya sibuk memainkan sedotan di dalam gelas es teh manisnya sendiri.

"Makan dong, Tuan Putri. Keburu jadi kuah sup manis itu," ujar Daffa, nadanya santai tanpa beban.

Lilis menarik napas panjang, menatap es teler itu, lalu beralih menatap Daffa dengan mata menyipit. "Gue gak butuh makanan manis, Daffa. Gue butuh jaminan kalau otak lu masih berfungsi normal setelah apa yang lu lakuin di ruang BK dua jam lalu."

Daffa terkekeh kecil. Suara tawanya rendah, tipe tawa yang biasanya membuat anak-anak perempuan di koridor menoleh.

Tapi bagi Lilis, suara itu terdengar seperti alarm bahaya. "Otak gue berfungsi sangat baik, Lis. Buktinya, kita gak lagi nulis surat perjanjian di atas kertas segel di ruang kepala sekolah sekarang."

"Tapi kita sekarang jadi tontonan satu kantin!" desis Lilis setengah berbisik, memajukan badannya agar suaranya tidak bocor ke mana-mana.

Dia benar. Sejak mereka berjalan beriringan dari arah gedung BK menuju kantin, mata puluhan siswa seolah terkunci pada mereka.

Rumor di SMA bergerak lebih cepat daripada jaringan 5G. Pengakuan Daffa di depan Bu Retno tentang "pertengkaran domestik" tampaknya sudah bocor, entah lewat dinding BK yang tipis atau lewat Niko yang bermulut ember.

Daffa melirik sekelilingnya sekilas, lalu kembali menatap Lilis.

Ada kilat geli di matanya, tapi juga ada sisa rasa bersalah yang dia sembunyikan dengan rapi. Daffa tahu dia yang memulai kekacauan ini dengan video puisi konyol semalam.

Menyelamatkan Lilis dari BK adalah tanggung jawabnya, tapi terseret dalam skenario pacaran ini? Itu juga di luar prediksi terbaiknya.

"Gini ya, Lilis Nurmala," Daffa menaruh gelasnya, nadanya berubah sedikit lebih serius walau tetap santai. "Orang-orang itu cuma butuh narasi baru. Video semalam bikin lu kelihatan kayak korban yang dikasih harapan palsu. Tapi dengan kita kelihatan 'berantem biasa' kayak gini, lu berubah jadi pacar yang lagi ngambek. Power dynamic-nya beda. Lu gak kelihatan menyedihkan lagi di depan kapten futsal itu— siapa namanya? Azril?"

Mendengar nama Azril disebut, dada Lilis terasa seperti diremas. Dia teringat bagaimana Azril tadi pagi sempat menatapnya dengan pandangan kasihan saat berpapasan di koridor.

Pandangan kasihan adalah hal terakhir yang ingin Lilis terima dari cowok yang dia taksir selama satu semester ini.

Sialnya, analisis Daffa benar. Daffa yang egois itu entah bagaimana bekerja dengan tepat di ekosistem remaja yang kejam ini.

"Oke," Lilis akhirnya menyendok es telernya, menyuap sepotong nangka ke dalam mulutnya dengan kasar.

Rasa manis dan dingin yang menjalar di tenggorokannya sedikit meredakan gemuruh di dadanya. "Anggap gue terima opsi gila lu. Tapi kita butuh aturan main. Gue gak mau sandiwara ini malah bikin hidup gue makin berantakan."

Daffa tersenyum puas, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Lu yang bikin aturan, gue yang dengerin. Silakan."

Lilis mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari tasnya beserta sebuah pulpen. Dia tidak bercanda. Ini masalah reputasi.

"Pertama," Lilis mengetukkan ujung pulpen ke meja. "Gak ada kontak fisik yang gak perlu. Gak ada pegangan tangan, gak ada rangkul-rangkul di koridor, dan jangan pernah lu berani nungguin gue di depan kelas."

Daffa mengangkat kedua tangannya di udara, tanda menyerah. "Sepakat. Lagian gue juga masih sayang nyawa. Tangan lu ringan banget kalau masalah nampar atau ngelempar barang."

"Kedua," Lilis mengabaikan sindiran itu, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Daffa. "Status palsu ini selesai begitu ujian nasional berakhir, atau begitu Bu Retno lupa sama kasus kita. Dan selama status ini jalan, lu harus bayar ganti rugi atas rusaknya ketenangan hidup gue."

"Ganti rugi? Bentuknya?" Daffa menaikkan sebelah alisnya, mulai tertarik.

Lilis menunjuk mangkuk di hadapannya dengan pulpen. "Setiap hari. Istirahat pertama. Lu harus beliin gue es teler di stan Bi Ati. Tanpa absen. Anggap aja ini pajak karena lu udah narik gue ke dalam sirkus buatan lu."

Daffa sempat tertegun. Dia mengira Lilis akan meminta hal yang rumit seperti membersihkan tugas piketnya atau membayar uang kas kelas selama satu semester.

Ternyata hanya semangkuk es teler seharga sepuluh ribu rupiah.

Sesaat, Daffa melihat sisi lain dari Lilis yang selama ini tertutup oleh label "macan pom-pom". Cewek di depannya ini sebenarnya sederhana, hanya saja dinding pertahanannya terlalu tinggi karena telanjur terluka oleh rumor semalam.

Rasa bersalah yang sempat mencair kini kembali mengetuk hati Daffa. Dia ingat betapa pucatnya wajah Lilis saat pertama kali video itu viral.

"Cuma es teler?" tanya Daffa, suaranya melembut, kehilangan nada mengejeknya yang biasa.

Lilis agak salah tingkah mendengari perubahan nada suara Daffa. Dia berdeham, mencoba mengembalikan ketegasannya. "Kenapa? Keberatan? Kalau lu gak mampu, kita batalin aja dan gue bakal jujur ke Bu Retno kalau lu cuma—"

"Deal," potong Daffa cepat. Dia memajukan tubuhnya, menatap Lilis dengan senyum tipis yang terasa berbeda dari biasanya.

Bukan senyum meremehkan, melainkan senyum yang entah kenapa membuat detak jantung Lilis melewatkan satu ketukan. "Setiap hari. Sampai sandiwara ini selesai. Es teler original pakai ekstra nangka, kan?"

Lilis membeku sesaat.

Bagaimana cowok ini bisa tahu dia suka ekstra nangka?

Sebelum Lilis sempat bertanya, sebuah bayangan tinggi tiba-tiba berhenti di samping meja mereka. Atmosfer di sekitar mereka yang tadinya mulai melunak mendadak kembali tegang.

Lilis mendongak, dan jantungnya serasa merosot ke lantai kantin yang kotor.

Azril berdiri di sana. Kapten futsal dengan jersey bernomor punggung sebelas itu memegang sebotol minuman isotonik, menatap bergantian antara Lilis dan Daffa dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Ada rasa canggung, tapi juga ada rasa ingin tahu yang besar di matanya.

"Sorry, ganggu," kata Azril, suaranya agak serak khas anak olahraga setelah latihan fisik. Matanya tertuju pada Lilis. "Lis, gue cuma mau mastiin... video yang semalam itu, beneran cuma salah paham? Lu... beneran pacaran sama Daffa?"

Lilis merasa lidahnya mendadak kelu. Seluruh skenario dan argumen logis yang dia susun bersama Daffa di kepalanya mendadak menguap begitu berhadapan dengan realitas.

Di dalam hatinya yang terdalam, ada bagian kecil yang ingin berteriak,

Gak, Az! Gue sukanya sama lu! Video itu cuma kebodohan Daffa!

Namun, sebelum Lilis sempat membuka mulut dan menghancurkan semua rencana penyelamatan harga dirinya, sebuah tangan tiba-tiba bergerak di atas meja.

Daffa menggeser mangkuk es teler Lilis sedikit lebih dekat ke arah cewek itu, lalu menoleh ke arah Azril. Gerakannya begitu natural, seolah dia sudah melakukan hal ini ratusan kali.

"Iya, Ril. Salah paham biasa," kata Daffa, suaranya tenang, terdengar sangat protektif tanpa terkesan memusuhi. "Gue yang teledor semalam, bikin cowok-cowok lain jadi salah fokus ke cewek gue. Tapi sekarang udah aman, kok. Ya kan, Lis?"

Daffa kembali menatap Lilis, dan kali ini tidak ada kedipan mata kode yang konyol.

Matanya menatap Lilis dengan keyakinan penuh, seolah meyakinkan cewek itu bahwa dia aman di balik punggungnya.

Lilis menelan ludah. Dia melihat ke arah Azril yang perlahan mengangguk-angguk, gurat kasihan di wajah kapten futsal itu kini benar-benar hilang, digantikan oleh ekspresi 'oh, oke, gue paham'. Harga diri Lilis terselamatkan secara instan, persis seperti yang Daffa janjikan.

Namun, di dalam dadanya, ada rasa sesak baru yang mulai tumbuh. Lilis menyadari satu hal yang mengerikan saat dia mengangguk pelan ke arah Azril untuk mengonfirmasi kebohongan Daffa.

Dia baru saja menutup pintunya sendiri untuk Azril. Dan sebagai gantinya, dia baru saja membuka pintu sebuah labirin baru bersama Daffa Mahendra—labirin yang dia sendiri tidak tahu di mana jalan keluarnya, dan seberapa mahal harga es teler yang harus dia bayar setiap harinya.

......................

...****************...

Tbc,

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!