"Jangaaaaan, jangan bunuh aku! "
Ardian berlari kencang di tengah Desa ketika dia melihat sesuatu yang sangat mengerikan mengejar dirinya malam ini, tidak ada yang mendengar suara jeritan pria itu sehingga sosok yang menyerang dia dengan leluasa memberikan serangan.
Kematian secara misterius datang di Desa ini karena mereka semua telah melakukan perbuatan yang sangat buruk di Malam Satu Suro, dendam yang sangat membara karena ketidakadilan yang telah dia terima sehingga membuat para pelaku harus menebus dengan derita yang begitu besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Bola mata
Ibnu termenung di depan pintu kamar Yayuk ketika dia melihat lantai yang bertapak kaki dengan tetesan air itu, seperti orang yang habis dari kamar mandi dan belum melakukan keset sehingga telapak kaki yang penuh dengan air terlihat dengan jelas di depan pintu kamar tersebut sehingga membuat Ibnu bertanya-tanya saat ini.
Mak Anjar jelas ada di kamar dia sendiri dan tadi sedang melakukan salat sehingga tidak mungkin bila sampai ke depan pintu kamar Yayuk juga, Entah mengapa perasaan Ibnu sangat tidak enak dan tubuh ini terasa begitu merinding serta punggung pun sangat dingin seperti ada es batu yang di tempel.
Ibnu menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa tidak ada orang di dalam rumah ini lagi kecuali dia, dan memang benar tidak ada orang namun sambaran angin yang berasal dari pintu depan terasa begitu dingin sekali, hati Ibnu sangat penasaran dan ingin melihat masuk ke dalam kamar milik Yayuk karena dia penasaran apa yang ada di sana.
Perlahan namun pasti tangan Ibnu mengungkap gorden yang ada di depan pintu itu, tapi baru saja tangan terulur namun mendadak dia melihat sesuatu yang ada di dalam kelambu seperti orang yang sedang duduk menghadap dinding, Ibnu terdiam sesaat karena jantung Dia seolah akan lepas akibat rasa kaget yang mendadak saja datang itu.
''Hiks, Hiks.''
''Itu orang?!'' Ibnu tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan kali ini malah mengeluarkan suara seperti sedang menangis.
"Sakit sekali, mereka mengambil mata ku." Gadis itu menangis kesakitan.
"Mengambil mata?" Ibnu mengulang ucapan itu karena dia agak tidak percaya.
"Mereka harus mati, aku tidak mau mati sendirian." Yayuk menangis semakin perih sehingga Ibnu terdiam di depan pintu dengan pandangan lurus.
Tes.
Tes.
Mata Ibnu melirik di bawah kasur ketika ada air menetes yang semakin banyak saja, dia penasaran apa yang telah terjadi namun tidak berani untuk mendekat karena bayangan yang ada di dalam kelambu itu sangat mengerikan sekali, takut bila mendadak saja Yayuk membalikkan tubuh dan dia melihat wajah yang sangat menyeramkan itu, tapi berdiam diri seperti itu saja tidak membuat Ibnu merasa tenang.
"Kenapaaaaaa....
"Huaaaaaahhh!" Ibnu yang kaget jatuh terjengkang karena hanya dalam hitungan detik Yayuk mendekat dan menampakkan muka mengerikan itu.
"Mata kuuuuu... bola mata ku mana?" Yayuk mengambang di udara dan tepat di atas tubuh Ibnu.
"Ak.....
"Hihihiiiii..... semua akan mendapatkan balasan atas apa yang telah mereka lakukan." Yayuk menyeringai menampakkan mulut dia yang robek mencapai telinga.
Tes.
Tes.
"Mbak Yayuk!" lidah Ibnu terasa begitu keluh untuk mengeluarkan suara.
Blaaaaaap.
Detik kemudian Yayuk menghilang dari pandangan mata dan meninggalkan Ibnu yang masih terdiam dengan perasaan berdebar itu, sungguh tidak pernah dia sangka bahwa dirinya akan melihat secara langsung seperti ini dan itu adalah arwah saudara dia sendiri sehingga sudah pasti ada rasa takut yang begitu besar di dalam hati ini.
"Ya allah!" Ibnu duduk bersandar sembari memegang jantung yang berdebar kencang.
"Ono opo, Nu?" Mak Anjar menghampiri Putra dia yang terlihat begitu pucat sekali.
"Ak.. aku..
"Kenapa?" Mak Anjar juga penasaran karena Ibnu terlihat sangat ketakutan.
Tapi Ibnu ragu untuk memberitahu karena dia tahu kalau nanti Mak Anjar sampai tahu atas apa yang telah terjadi kepada Yayuk maka sudah pasti orang tua itu akan semakin ketakutan, bukan hanya ketakutan saja tapi dia akan menjadi beban pikiran yang begitu berat, jadi Ibnu masih berulang kali berpikir ketika akan mengatakan kepada Mak Anjar atas apa yang telah dia lihat barusan.
"Aku hanya kaget melihat tikus besar tadi." dusta Ibnu.
"Aduuh kau ini, Mak kira ada apa kok sampai pucat begini." kesal Mak Anjar.
"Enggak kok, Mak." Ibnu berusaha untuk tetap tersenyum.
"Ya sudah sana sholat dulu, Mak mau lepas kelambu kamar Mbak mu ini." ujar Mak Anjar.
"Aku bantu lah." Ibnu segera bangkit berdiri.
"Sholat!" suruh Mak Anjar.
"Iya iya." Ibnu segera berlari menuju kamar dia sendiri yang ada di belakang.
Ibnu segera menuju kamar dia sendiri untuk melaksanakan panggilan Allah, Mak Anjar sendiri sibuk membersihkan kelambu itu karena dia memang berniat untuk merapikan kamar milik Yayuk itu, bila terus seperti itu maka nanti akan menambah kenangan antara dia dan anak gadisnya sehingga lebih baik untuk segera dibereskan saja.
"Siapa sebenarnya yang sudah membunuh kamu ini Nduk?" Mak Anjar berkata sendirian dan mulai menangis.
"Kenapa ada manusia yang begitu tega dan tidak memiliki hati nurani." Isak orang tua ini semakin perih saja.
Tetes air mata menetes dan membasahi pipi keriput itu, membayangkan apa saja penderitaan yang telah Yayuk alami sebelum ajal datang menjemput dia, andai saja orang tua ini juga mengetahui bahwa Yayuk begitu menderita karena di perkosa oleh orang sebanyak itu maka sudah pasti hati Mak Anjar semakin hancur saja.
Yang nama nya sedih sudah pasti dia rasakan karena ini adalah kehilangan anak yang sangat dia, mau bagaimana juga dia menepis perasaan itu maka tetap akan terus bersarang di dalam hati ini, terlebih bisa dikatakan bahwa Yayuk meninggal dunia baru beberapa saat yang lalu sehingga pasti kesedihan itu belum bisa hilang dari dalam hati.
''Nanti Emak jualan sendiri ya karena kamu sudah tidak ada lagi.'' Mak Anjar Berkata sambil mengelus bantal milik Yayuk.
''Mau bagaimana lagi karena Allah tidak memberi kamu nyawa panjang, tapi setidaknya Tolong datang dan beri petunjuk Siapa yang sudah melakukan itu kepada dirimu.'' pinta Mak Anjar dengan tangis tersedu-sedu.
Ini adalah titik hancur sebagai orang tua karena harus kehilangan anak dan dia tentu saja masih belum siap untuk menerima kenyataan itu, meski berulang kali mak Anjar berusaha meminta keikhlasan kepada yang maha kuasa Namun ternyata tidak semudah itu karena dia terus saja terbayang dengan senyum di wajah sang anak.
''Kau tentu tahu apa yang Emak pikirkan saat ini, Emak Ingin sekali kau bangkit namun Emak takut kau nanti justru akan menyakiti orang yang tidak bersalah.'' keluh Mak Anjar.
''Jadi Tenang saja di alam sana dan semoga apa yang telah mereka lakukan akan mendapat balasan.'' sambung Mak Anjar kembali.
Sebab rasanya memang lebih baik seperti ini saja daripada harus menanggung semua derita yang tak ada Ujung, rasa pilu dan juga kesedihan itu pasti akan segera berlalu bila dia semakin mendekatkan diri kepada yang maha kuasa dan Mencoba untuk ikhlas demi sang Buah Hati.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita autor Novita Jungkook ya.
semangat💪👍
tapi apa iya Yayuk sudah ga perawan ya...
apakah saat ini giliran si Jamal yg mau di bunuh oleh Yayuk ❓🤔
hmm...duo Kun Kun edan mana ya,ga nongol lg nih,padahal Yayuk lg beraksi tuuhh..👻