NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

🔥CRAZY UP🔥

Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.

Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.

Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Senin, 10 November, sedikit sebelum siang, Dimas membuka arsip vendor di meja ruangannya dan segera menyesal karena layar itu terlalu besar untuk dilihat dari pintu kaca. Ia memindahkan pekerjaan ke ruang baca lantai tiga puluh, yang jam itu kosong. Alina ada di lantai lain, mengejar lampiran yang tidak hitam. Adrian ada di telepon yang Sari sudah kunci sejak pagi. Kesempatan itu sempit, dan Dimas memakainya untuk hal yang tidak ia laporkan ke siapa pun.

Yang ia buka bukan folder berisi cerita. Yang ia buka adalah indeks arsip vendor lama, periode sebelum 2023, yang status resminya sudah ditutup. Ia mencari apakah pola dua hari yang Alina tulis Kamis masih muncul di baris lain, atau hanya sekali dan karena itu belum layak dinaikkan. Tiga folder. Empat. Ia tidak mengunduh. Ia hanya membuka, membandingkan tanggal, lalu membiarkan log mencatat bahwa seseorang dengan aksesnya masuk ke arsip yang seharusnya tidur.

Pukul dua belas lewat sepuluh, ponselnya bergetar. Nama di layar: Hendra Salim. Kepala Audit Internal tidak biasa menelepon Dimas untuk mengingatkan makan siang.

Dimas tidak mengangkat di ruang baca. Pintu kaca membuat suara menjadi bahan. Ia berjalan ke ujung koridor timur, ke balkon sempit lantai tiga puluh yang biasanya hanya dipakai orang yang kehabisan ruang hening. Pintu balkon berat. Di luar, udara Sudirman lebih panas dari AC, dan suara jalan naik tanpa membawa kata-kata yang bisa dikutip. Ia menutup pintu di belakangnya sebelum menekan terima.

“Pak Hendra.”

“Dimas.” Suara Hendra rendah, rata, seperti orang membaca disposisi. “Saya lihat aktivitas arsip pagi ini. Jangan menghidupkan arsip vendor lama terlalu dalam. Terutama yang terkait periode sebelum 2023. Itu sudah ditutup. Kalau Anda buka lagi, orang akan bertanya kenapa sekarang.”

Dimas menatap pagar balkon, bukan jalan. “Saya hanya mencocokkan data untuk draf.”

“Cocokkan yang perlu saja. Jangan lebih.” Hendra tidak menaikkan suara untuk kalimat berikutnya. Justru karena itu kalimatnya tidak bisa disangka sebagai marah yang sebentar lagi reda. “Saya bilang ini untuk kebaikan semua pihak, termasuk adikmu.”

Kata terakhir tidak dijelaskan. Hendra tidak menyebut sekolah, tidak menyebut nilai, tidak menyebut apa yang bisa ditinjau atau dicabut. Ia meletakkan kata itu di ujung prosedur, seperti lampiran yang tidak perlu dibacakan supaya orang yang dituju tetap mengerti ada lampiran.

Dimas merasakan darah di wajahnya mundur. Pagar di bawah telapak tangan terasa lebih kasar. Ia tidak bertanya kebaikan yang mana. Bertanya akan membuat Hendra mengucapkan lebih banyak, dan lebih banyak tidak selalu lebih aman.

“Arsip yang saya buka sudah saya hentikan,” katanya.

“Bagus. Tutup yang masih terbuka. Kalau draf butuh angka yang memang masuk lingkup sekarang, minta lewat jalur biasa. Jangan lewat pintu belakang yang lalu Anda kaget kenapa ada yang mengetuk. Audit tidak suka kejutan. Dewan juga tidak. Saya tidak ingin mengulang percakapan ini.”

“Saya mengerti.”

“Pastikan mengerti Anda terlihat di log, bukan hanya di telepon.” Hendra berhenti sejenak, cukup untuk tanda tangan yang tidak kelihatan. “Selamat siang.”

Panggilan terputus dari sisi sana. Dimas tetap memegang ponsel di telinga dua detik, sampai layar kembali ke jam. Angin balkon tidak membuat wajahnya hangat lagi. Ia masuk, mengunci pintu balkon, dan berjalan melewati ruang baca tanpa menoleh ke meja tempat buku Alina biasa berada. Meja itu kosong. Lebih mudah daripada kalau ada orang di situ.

Di ruangannya sendiri, jaket masih di kursi yang sama sejak pagi. Dua mug belum dicuci. Ia duduk dan membuka kembali indeks yang tadi ditinggal. Jari di atas tetikus tidak langsung memilih folder. Kata adikmu masih menempel di telinga, lebih panjang dari seluruh peringatan tentang periode sebelum 2023. Ia tidak menelepon ke rumah. Tidak ada nama yang ia ucapkan. Tidak ada penjelasan yang ia tulis untuk dirinya sendiri. Menulis penjelasan berarti membuat barang yang nanti bisa ditemukan, dan Hendra baru saja mengingatkan bahwa log pun sudah cukup untuk memulai telepon.

Dimas menutup folder pertama. Lalu yang kedua. Lalu dua folder arsip yang sempat ia buka hanya untuk membandingkan tanggal, termasuk satu yang jarak pembayarannya ia curigai tiga hari, bukan dua, dan karena itu belum ia putuskan. Setiap jendela ia keluarkan dari layar. Penjepit map kertas yang sempat ia tarik ia kembalikan rata, supaya laci tidak terlihat baru dibongkar. Yang tersisa di monitor hanya draf minggu ini: timeline Pesisir, catatan untuk Helena, jawaban latihan media yang Yusuf minta tidak diperbaiki lewat pesan.

Salinan tulisan Alina, yang Kamis ia janjikan tidak dibuang, tidak ia buka di antara penutupan itu. Janji untuk tidak menghilangkan tidak sama dengan izin untuk terus menggali di tempat yang sekarang sudah ada yang mengetuk. Ia membiarkan salinan itu tetap di laci yang tidak terkunci lebar, di bawah draf yang biasa, dan tidak menambah satu kata ke dalamnya.

Ia membuka pesan baru kepada Adrian. Jari sempat mengetik: audit menelepon soal arsip lama. Empat kata. Ia membaca empat kata itu dan menghapusnya sebelum terkirim. Pesan kepada Alina juga ia buka, kosong, lalu ia tutup. Tidak ada draf yang disimpan. Menyimpan draf yang tidak dikirim tetap berarti ada barang untuk ditemukan, dan Hendra baru saja mengukur lewat log.

Ponsel bergetar lagi. Bukan Hendra. Sari, mengingatkan rapat internal jam dua yang tidak membutuhkan arsip lama. Dimas membalas: hadir. Satu kata. Lalu ia mematikan layar indeks sampai benar-benar hilang.

Siangnya Adrian lewat di koridor dan mengetuk pintunya hanya untuk menanyakan apakah jawaban latihan sudah ia kirim ke Yusuf.

“Sudah,” kata Dimas. Suaranya biasa. “Tidak ada perubahan.”

“Bagus.” Adrian tidak masuk. “Kalau ada yang aneh di draf, kirim sebelum jam empat.”

“Tidak ada yang aneh.”

Adrian pergi. Dimas menatap pintu yang tertutup dan tidak memanggilnya kembali. Tidak ada kalimat tentang telepon. Tidak ada kalimat tentang balkon. Tidak ada kalimat tentang arsip yang baru saja ia tutup.

Setelah Adrian pergi, Dimas mencuci satu mug yang tidak kotor hanya supaya tangannya bergerak. Wajah di pantulan ketel tetap lebih pucat daripada pagi. Ia duduk lagi dan membuka laci setengah jengkal, cukup untuk melihat sampul buku yang berisi salinan pola tanggal, tidak cukup untuk membaca ulang. Buku itu tidak ia bawa ke rapat jam dua. Di rapat ia berbicara tentang minggu Pesisir, menjawab ketika ditanya, dan tidak menyebut audit. Tidak ada orang di meja itu yang bertanya kenapa suaranya lebih pendek. Mungkin memang tidak pendek bagi mereka. Bagi Dimas, setiap kalimat yang tidak ia ucapkan terasa memakan tempat.

Alina mengirim pesan satu baris pada pukul tiga, bukan tentang Lazuardi. “Lampiran yang boleh dilihat sudah saya tandai. Besok saya masuk jam delapan.” Dimas membalas, “Diterima.” Ia tidak menambahkan jangan buka yang lama. Menambahkan itu berarti bercerita. Ia memilih tidak cerita sama sekali.

Menjelang sore wajahnya di cermin lift masih lebih pucat daripada pagi. Staf yang satu kabin dengannya tidak bertanya. Di lantai dasar ia tidak keluar untuk menelepon siapa pun di tempat yang lebih sunyi. Ia naik lagi, karena pergi lebih awal juga akan terlihat seperti reaksi, dan Hendra mengukur reaksi.

Di meja, folder-folder itu tetap tertutup. Buku catatan yang berisi salinan pola tanggal tetap di laci, tidak disobek dan tidak dibawa ke Adrian. Dimas meletakkan kedua tangan di atas tutup laptop yang sudah dingin. Telepon siang itu tidak ia teruskan kepada Adrian maupun Alina. Ia memilih diam, dan diam itu, untuk hari ini, adalah satu-satunya bentuk kepatuhan yang bisa ia lakukan tanpa mengucapkan lebih dari yang sudah terlanjur ia dengar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!