NovelToon NovelToon
Pesugihan Ratu Ular

Pesugihan Ratu Ular

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-

Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.

Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 29

****

Tiga bulan berputar cepat di perbukitan Lemah Wungu. Kehidupan di rumah joglo kian diliputi kedamaian yang melimpah. Usia kandungan Candra Kirana kini telah menginjak bulan kelima. Perut mulusnya yang dulu rata kini tampak membusung indah di balik balutan kain jarik dan kebaya katun yang agak longgar. Kehamilan fana itu memancarkan aura keibuan yang amat anggun, membuat paras jelitanya semakin merona hangat setiap harinya.

Pagi itu, sinar mentari menyiram hangat pelataran rumah. Di dalam ruang tengah yang teduh, Mbok Sumi dan Bagas sedang duduk menanti sarapan. Meski sedang mengandung lima bulan, Kirana tetap menolak dibantu pekerja lain dalam melayani suami dan ibu mertuanya. Dengan langkah pelan namun cekatan, Kirana membawa nampan kayu berisi piring-piring masakan hangat.

"Mas Bagas, ini sayur lodeh tewel kesukaan Mas... Dan ini tempe bacemnya," tutur Kirana lembut, berlutut pelan di samping kursi Bagas seraya menuangkan nasi dan lauk pauk ke piring suaminya dengan penuh kasih.

Bagas memegang lembut jemari Kirana, menatap istrinya dengan pendar mata yang amat protektif. "Dinda... kamu kan sedang hamil lima bulan. Jangan terlalu lelah membawa nampan berat seperti ini. Biar aku saja yang mengambilnya."

Kirana menyunggingkan senyuman manis nan manja, menyandarkan jemarinya di atas lengan tegap Bagas. "Tidak apa-apa, Mas Bagas... Melayani Mas Bagas dan Ibu adalah kebahagiaan terbesar bagi Kirana. Lagipula, Si Kecil di dalam perut Kirana sangat senang kalau Ibunya bergerak."

Mbok Sumi tertawa renyah bercampur haru, mengelus lembut bahu menantunya. "Aduh, Nduk... kamu ini betul-betul menantu penurut. Tapi kata Bagas ada benarnya, jangan sampai kamu kecapekan, ya."

"Nggih, Bu..." sahut Kirana halus.

Namun, sebelum piring sarapan sempat tersentuh, derap langkah kaki yang tergesa-gesa diiringi teriakan histeris warga mendadak memecahkan ketenangan pagi di pelataran rumah joglo!

"Pak Kades! Pak Kades Bagas! Tolong, Pak!"

"Gusti Pangeran! Gawat, Pak Kades!"

Bagas seketika meletakkan sendoknya, berdiri tegap dengan raut wajah terkejut. Langkah-langkah panik itu menaiki tangga selasar. Tampak Kang Saman dan beberapa warga tani berlari masuk dengan napas tersengal-sengal, wajah mereka pucat pasi dan diliputi ketakutan yang luar biasa. Di belakang mereka, dua warga tampak memapah seorang petani muda yang betisnya memar kebiruan seraya meringis kesakitan.

"Ada apa ini, Kang Saman?! Kenapa kalian panik sekali?!" tanya Bagas tegas, suaranya menggelegar tenang namun sarat wibawa.

Kang Saman jatuh terduduk di selasar, menunjuk-nunjuk ke arah perbatasan hutan dan saluran irigasi desa dengan tangan gemetar hebat.

"Ular, Pak Kades! Ada ratusan... bahkan ribuan ular bersisik hijau dan hitam menyerang warga secara serentak!" jerit Kang Saman dengan mata membelalak panik. "Bukan cuma di sawah, tapi di sungai dan jalan-jalan desa! Warga yang sedang memotong padi dan menimba air mendadak disergap dan digigit! Ini... ini bencana mistis, Pak Kades! Ularnya seperti kesetanan!"

"Apa?!" pekik Bagas terperanjat.

Mendengar kata 'ular' dan 'bencana mistis', langkah Kirana yang sedang memegang teko teh seketika terhenti kaku. Wajah jelitanya perlahan berubah menjadi pucat pasi. Jemari halusnya meremas kebaya di bagian dadanya, merasakan denyut gelisah yang teramat asing mendadak meledak di dalam batinnya. Indra gaib yang pernah dimilikinya sebagai mantan penguasa Sendang Manten membisikkan bahwa serangan ini bukanlah fenomena alam biasa, melainkan gejolak kemarahan dari bangsa taksaka yang tak lagi berurat berakar pada pimpinan gaib!

"Gusti Pangeran... Kenapa bisa begitu?!" racau Mbok Sumi ketakutan, menangkup kedua tangannya seraya memegangi dada tua yang berdebar kencang.

Bagas tak membuang waktu sedikit pun. Tanpa memikirkan risiko atau bahaya yang mengancam dirinya, naluri kepemimpinannya sebagai Kepala Desa Lemah Wungu bergolak hebat.

"Saman! Bawa korban yang digigit masuk ke pendopo! Ambilkan minyak penawar dan panggil tabib!" perintah Bagas berteriak nyaring. Pria tegap itu menyambar keris pusaka yang tergantung di dinding, menyisipkannya dengan cepat di belakang pinggangnya. "Aku akan langsung turun ke lapangan untuk menenangkan warga dan menyingkirkan ular-ular itu!"

"Mas Bagas!" panggil Kirana dengan suara bergetar panik, menggapai lengan baju beskap suaminya. "Mas... hati-hati! Kirana merasakan... ada hawa gaib yang sangat tidak wajar dari serangan ini!"

Bagas menggenggam erat kedua bahu Kirana, menatap lurus ke dalam iris mata bening istrinya penuh keteguhan. "Aku tahu, Dinda. Tapi aku ini Kepala Desa. Aku yang bertanggung jawab atas keselamatan seluruh rakyat Lemah Wungu! Kamu tetaplah di rumah bersama Ibu. Jangan keluar dari pelataran joglo!"

Sebelum melangkah pergi, Bagas mendaratkan kecupan cepat di dahi Kirana dan meremas lembut perut lima bulan istrinya. "Jaga dirimu dan calon anak kita, Kirana. Aku akan segera kembali."

"Mas Bagas...!" jerit Kirana tertahan saat melihat suaminya melompat turun dari selasar, memimpin rombongan warga berlari menuju pusat desa di bawah terik matahari yang mulai membakar.

Sepeninggal Bagas, suasana di rumah joglo berubah menjadi teramat tegang dan mencekam. Kang Saman dan para pemuda desa bertugas mengamankan pintu gerbang depan, sementara Mbok Sumi terduduk bersimpuh di atas kain sajadah di ruang tengah. Wanita tua itu menangkupkan kedua tangannya, menangis seraya memanjatkan doa-doa keselamatan tanpa henti.

"Gusti Pangeran... Lindungilah anakku Bagas... Lindungilah desa kami dari mara bahaya ini..." bisik Mbok Sumi dengan suara parau yang terus bergetar.

Sementara itu, Candra Kirana berdiri kaku di ambang pintu selasar. Sepanjang hari bergulir, hatinya sama sekali tidak bisa tenang. Rasa was-was yang amat pekat menghimpit dadanya hingga membuatnya sulit bernapas teratur. Angin sore yang bertiup dari arah Hutan Keramat membawa samar-samar aroma racun sangit dan bau amis ular yang teramat pekat—aroma yang sangat dihafal oleh sukmanya.

Kirana mengelus lembut perut lima bulannya yang berdenyut pelan, seolah sang bayi di dalam rahimnya pun ikut merasakan kegelisahan sang ibu.

"Ada apa di alam gaib sana...?" gumam Kirana parau, matanya menatap nanar ke arah kepulan asap tipis dan teriakan warga yang terdengar jauh dari batas perbukitan. "Apakah bangsa taksaka mengamuk karena aku telah menjadi manusia... ataukah ada ancaman baru yang sedang mengincar Mas Bagas...?"

Setiap menit terasa bagaikan siksaan yang membakar batin Kirana. Wanita yang kini menjadi istri fana seutuhnya itu memegangi perutnya erat-erat, berdiri di bawah temaram angin sore dengan kecemasan tiada tara, menantikan keselamatan suami tercintanya yang sedang bertaruh nyawa di tengah kepungan bencana ghaib Lemah Wungu.

Bersambung...

Ehemm, 🍂🍂✨🕊️⭐🐅🫂🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🪺🪺🪺🪺🪺🪺

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!