NovelToon NovelToon
Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

​“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”

Maizara​ merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.

​Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Di Atas Awan Menuju Seoul

Dini hari di Bandara Internasional Soekarno-Hatta menyajikan riuh yang syahdu. Udara dingin dari pendingin ruangan terminal tiga membelai lembut kulit wajahku saat Tim Garuda berkumpul lengkap di area keberangkatan VIP. Ada Sonya, Juno, dan Rudi yang tampak sangat bersemangat memanggul tas kamera dan dokumen kerja. Vino berdiri santai dengan jaket kulitnya, sementara Dimas tampak begitu tampan memesona dalam balutan turtleneck hitam dan mantel panjang berwarna abu-abu gelap.

Sebelum kami melangkah menuju pemeriksaan imigrasi, Mami yang mengantar kami hingga ke airport menahan lenganku pelan. Beliau menarikku sedikit menjauh dari kerumunan tim, mengusap bahuku dengan binar mata sarat kasih sayang.

"Mei, Nduk," bisik Mami lembut, menyelipkan sebotol minyak kayu putih dan kotak kecil berisi camilan tradisional ke dalam tas jinjingku. "Jakarta ke Seoul itu penerbangannya lumayan lama, sekitar tujuh jam. Kamu jaga kesehatan ya. Mami titip Dimas juga. Anak itu kalau sudah fokus kerja sering lupa makan dan minum air putih."

Aku tersenyum hangat, menangkupkan kedua tanganku di atas tangan Mami. "Iya, Mami. Mei pasti ingat pesan Mami. Matur nuwun sanget ya, Mami, sudah antar kami sampai sini."

Mami merengkuhku dalam pelukan hangat seorang ibu, menepuk punggungku pelan. "Hati-hati di jalan ya, calon mantu Mami. Bawa kabar baik dari Korea."

Dimas melangkah mendekat, merangkul bahu Mami sejenak sebelum menatapku dengan pendar kehangatan yang tak lagi tersembunyi. "Mih, kami masuk dulu ya. Jangan khawatir, Dimas bakal jaga Mei baik-baik di sana."

"Mami justru percaya sama Mei yang jaga kamu," goda Mami sambil terkekeh pelan, membuat pipiku merona seketika.

Proses imigrasi dan pemeriksaan paspor berjalan tanpa hambatan. Usai melewati lorong garbarata, kami melangkah masuk ke dalam kabin pesawat berbadan lebar milik maskapai internasional yang akan membawa kami membelah angkasa menuju Bandara Internasional Incheon.

Vino, Sonya, Juno, dan Rudi mengambil barisan kursi mereka, sementara Dimas menuntunku menuju dua kursi berdampingan di area Business Class. Suasana kabin begitu tenang dengan pencahayaan temaram bernuansa biru lembut yang menenangkan.

Aku meletakkan tas jinjingku di kompartemen atas sebelum mendudukkan diri di sebelah jendela. Dimas membantuku merapikan sabuk pengaman, jemarinya yang hangat sempat menyentuh punggung tanganku perlahan, memberikan desiran manis yang seketika menghangatkan dadaku.

"Sudah nyaman duduknya, Mei?" tanya Dimas pelan, suaranya berat dan lembut di dekat telingaku.

"Sudah, Mas Dimas," jawabku jujur, menyandarkan punggungku di kursi kulit yang empuk. "Terima kasih ya."

Pesawat mulai berguncang pelan, bergerak menyusuri landasan pacu sebelum akhirnya menderu kencang dan melesat mulus menembus kegelapan malam Jakarta. Lampu-lampu ibu kota di bawah sana perlahan mengecil, berganti dengan hamparan awan kelam yang membentang luas.

Setelah tanda mengenakan sabuk pengaman dipadamkan dan penerbangan mencapai ketinggian jelajah, suasana kabin makin hening. Sebagian besar penumpang mulai mematikan lampu baca untuk beristirahat.

Dimas menggeser tombol penyesuai kursi, meredupkan lampu kecil di atas meja kami. Dia meraih selimut tebal yang disediakan pihak maskapai, membukanya dengan telaten, lalu menyelimuti tubuhku hingga sebatas dada.

"Mas Dimas, aku bisa pakai sendiri," bisikku malu-malu, menatap jemarinya yang sibuk merapikan ujung selimut di dekat leherku.

"Biarkan saya yang melayani calon istri saya," balas Dimas santai dengan senyuman miringnya yang sangat menawan. Pria jangkung itu memiringkan posisi duduknya, menopang dagu dengan satu tangan sambil menatapku tanpa berkedip. "Dingin tidak?"

Aku menggeleng pelan, merapatkan selimut hangat itu. "Enggak kok, pas banget. Mas Dimas sendiri tidak pakai selimut?"

Dimas tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, dia meraih tangan kananku yang berada di dalam selimut, menautkan jari-jemarinya di antara jemariku, lalu menggenggamnya erat dan meletakkannya di atas pangkuannya. Sentuhan fisiknya yang posesif namun lembut selalu berhasil membuat jantungku berdegup liar.

"Begini saja sudah cukup hangat buat saya," bisik Dimas lembut.

Aku menahan senyum, membiarkan jemariku berada dalam genggaman hangatnya. Kami membisu sejenak, menikmati keheningan malam di atas ketinggian ribuan kaki di atas permukaan laut.

"Mas Dimas..." panggilku pelan, memecah kesunyian di antara kami.

"Ya, Mei?"

"Terima kasih untuk semuanya ya," tuturku tulus, menatap manik mata hitamnya yang memantulkan pendar cahaya remang kabin. "Untuk perlindungan Mas waktu ada Juan kemarin, untuk kebaikan Mami, dan untuk kepercayaan Mas memberi aku tanggung jawab memimpin riset di Seoul ini."

Dimas menatapku dalam-dalam. Ibu jarinya mengelus lembut punggung tanganku secara berulang.

"Saya yang harusnya berterima kasih, Mei," sahut Dimas dengan nada suara yang begitu dalam dan sarat makna. "Kamu sudah hadir di hidup saya, membawa kehangatan yang selama ini tidak pernah saya rasakan. Soal Juan... pria itu tidak akan pernah berani mengganggumu lagi. Saya tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan atau menyakitimu."

Kata-katanya yang tegas dan penuh kepastian menembus bagian terdalam hatiku. Rasa minder dan trauma dari masa lalu yang dulu sempat membelenggu jiwaku kini benar-benar sirna. Di hadapan lelaki ini, aku merasa begitu dihargai, dicintai, dan dilindungi secara utuh baik secara fisik maupun emosional.

Rasa kantuk perlahan-lahan mulai menyerang mataku akibat kelelahan dan kenyamanan yang melingkupiku. Kelopak mataku terasa makin berat.

Dimas yang menyadari perubahan raut wajahku tersenyum tipis. Dia menarik bahuku perlahan, membimbing kepalaku agar bersandar di bahu kokohnya.

"Tidurlah, Mei," bisik Dimas parau di dekat pelipisku. Kehangatan embusan napasnya menyapu kulit wajahku. "Perjalanan kita masih panjang. Istirahatlah, nanti kalau sudah sampai saya bangunkan."

Aku tidak menolak. Aku menyandarkan kepalaku dengan sangat nyaman di bahunya, menghirup aroma wangi woody-citrus dari kemeja dan mantelnya yang begitu memabukkan. Tanganku masih tergenggam erat di dalam jemarinya.

"Mas Dimas jangan lupa istirahat juga ya," gumamku lirih, memejamkan mata dengan senyuman tulus yang terkembang di bibir.

"Iya, calon istriku," balas Dimas pelan.

Sebelum aku benar-benar terlelap dalam lelap yang damai, aku merasakan sentuhan lembut bibir Dimas mendarat cukup lama di puncak kepalaku sebuah kecupan hangat yang sarat akan rasa cinta dan perlindungan mutlak.

Di atas awan yang membentang malam itu, di tengah perjalanan jauh menuju tanah Korea Selatan, aku makin menyadari bahwa takdir perjodohan ini bukan lagi sebuah kebetulan yang menakutkan, melainkan sebuah kisah cinta indah yang telah disiapkan Tuhan untuk menyatukan dua jiwa menuju ikatan suci yang abadi.

Goncangan halus saat roda pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Incheon perlahan menyadarkanku dari lelap. Sinar matahari pagi yang menembus celah jendela kabin membiaskan warna keemasan yang jernih. Begitu pintu garbarata dibuka dan kami melangkah keluar menuju terminal kedatangan, udara dingin khas musim gugur Korea Selatan langsung menyergap kulitku.

Suhu udara luar saat ini berkisar di angka sepuluh derajat Celsius jauh lebih dingin daripada malam terdingin di daerah perbukitan Yogyakarta.

"Brrr... dingin banget, Mbak Mei!" cetus Sonya sambil merapatkan mantel tebalnya, disusul Juno dan Rudi yang refleks memasukkan kedua tangan mereka ke dalam saku jaket.

Aku menghembuskan napas, dan uap putih tipis mendadak muncul dari bibirku. Aku mengusap kedua lengan blazer tebal yang kukenakan, merinding pelan oleh hembusan angin Incheon yang cukup menusuk.

Tiba-tiba, sebuah kehangatan tebal beraroma woody-citrus melingkupi leher dan dadaku.

Dimas berdiri di sampingku. Tanpa mengutarakan sepatah kata pun, jemarinya yang panjang dan telaten melingkarkan syal wol tebal berwarna krem miliknya ke leherku, lalu merapikan lipatannya hingga menutupi daguku dengan sangat lembut.

"Mas Dimas... nanti Mas Dimas kedinginan," protesku lirih, menatapnya dengan rasa kaget bercampur haru.

Dimas menggeleng pelan, lalu menarik ritsleting mantel panjangnya sendiri hingga ke atas. "Saya sudah biasa dengan udara dingin. Kamu yang tidak boleh sampai masuk angin sebelum riset dimulai."

Vino yang berjalan di belakang kami bersiul goda. "Aduh, indahnya dunia milik berdua. Kita yang di belakang cuma jadi kropok garing kedinginan ya, Son."

Sonya dan yang lainnya tertawa renyah, sementara aku hanya bisa menunduk menahan rona merah yang membakar kedua pipiku di tengah dinginnya udara Seoul.

Setelah menyelesaikan proses imigrasi dan mengumpulkan seluruh bagasi, tim kami dijemput oleh kendaraan komersial eksklusif yang diatur oleh agensi mitra lokal di Korea. Mobil melaju mulus membelah jalanan Seoul menuju area distrik perbelanjaan dan bisnis yang megah.

Agenda pertama kami siang itu adalah pertemuan singkat di kantor perwakilan agensi kreatif lokal yang berada di kawasan Myeongdong. Kantor berdesain scandinavian-industrial itu tampak begitu modern dan rapi.

Seorang wanita Korea berpenampilan sangat modis bernama Park Ji-min selaku manajer proyek dari agensi lokal menyambut kami di ruang rapat kaca mereka dengan bahasa Inggris yang sangat fasih.

"Selamat datang di Seoul, Pak Dimas, Pak Arvino, dan Tim Garuda," sapa Ji-min ramah seraya membungkuk sopan khas tradisi lokal.

Saat kami duduk mengelilingi meja rapat, Dimas menarikkan kursi untukku terlebih dahulu sebelum dia duduk di sebelahku. Selama diskusi berlangsung, setiap kali aku memaparkan poin materi riset atau menyerahkan dokumen sampel produk, Dimas selalu menatapku dengan binar kebanggaan yang sangat pekat. Bahkan sesekali, tangan tegapnya refleks mengelus pelan jemariku di bawah meja untuk memberiku dukungan emosional.

Ji-min yang memperhatikan interaksi tersebut tersenyum simpul, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.

"Maaf jika saya sedikit melenceng dari topik bisnis," ujar Ji-min dengan terkekeh halus. "Tapi chemistry dan keakraban antara Pak Dimas selaku CEO dengan Miss Mei selaku pimpinan tim kreatif sungguh luar biasa. Di Korea, sangat jarang melihat seorang CEO papan atas menunjukkan perhatian yang begitu hangat dan manis pada pimpinan timnya di depan publik."

Vino langsung terkekeh lepas. "Ah, Miss Ji-min... itu karena staf ahli pemasaran terbaik kami ini bukan sekadar pimpinan tim kreatif, tapi sebentar lagi akan resmi menjadi Nyonya Arjowibowo."

Ji-min membelalakkan matanya kaget, lalu bertepuk tangan kecil dengan wajah berbinar bahagia. "Omo! Benarkah? Selamat untuk Anda berdua! Pantas saja aura kalian berdua begitu serasi dan memancar!"

Pipiku kembali merona hebat mendengar celetukan Ji-min dan Vino. Dimas hanya tersenyum tipis, merangkul bahuku secara posesif di hadapan semua orang di ruangan itu tanpa ragu sedikit pun.

Malam harinya, setelah seluruh anggota Tim Garuda beristirahat dan membereskan barang-barang di hotel kawasan Hongdae, Dimas mengetuk pintu kamarku.

Pria itu mengenakan sweater rajut warna cokelat hangat dan mantel tebal, menyandarkan tubuhnya di ambang pintu saat aku membukanya.

"Yuk, keluar sebentar," ajak Dimas pelan dengan suara beratnya yang menenangkan.

"Keluar? Ke mana, Mas?" tanyaku penasaran.

"Menyusuri trotoar malam kota Seoul. Hanya kita berdua, sebelum agenda riset resmi besok pagi dimulai."

Aku menyambut ajakannya dengan senyuman hangat. Aku memakai mantel tebal, merapikan syal pemberian Dimas di leherku, lalu melangkah bersamanya keluar dari hotel.

Distrik Hongdae malam itu begitu hidup dan memukau. Lampu-lampu neon pertokoan membiaskan pendar warna-warni yang indah di atas trotoar yang bersih. Para pemusik jalanan (buskers) menyanyikan lagu-lagu akustik romantis di beberapa sudut jalan, dikelilingi oleh kerumunan anak muda lokal. Udara malam yang makin menusuk tidak mengesampingkan kehangatan yang mengalir di antara kami.

Dimas menggenggam tangan kananku yang terbalut sarung tangan kain, lalu secara sangat alami memasukkan genggaman tangan kami ke dalam saku mantel panjangnya yang hangat.

"Hangat?" bisik Dimas sambil melirikku, berjalan santai menyusuri trotoar.

"Sangat hangat, Mas," balasku tulus, menyandarkan kepalaku sejenak di lengan tegapnya saat kami melangkah.

Di salah satu kedai street food bertenda merah (Pojangmacha) yang mengeluarkan uap panas menggugah selera, Dimas membawaku singgah. Pria itu memesan dua porsi odeng (sate kue ikan) hangat dengan kuah kaldu yang gurih, serta dua cangkir kopi lokal hangat dari kafe terdekat.

Kami berdiri di dekat meja kayu kedai, menikmati tusukan odeng dan menyesap kuah hangat yang seketika meluluhkan rasa dingin di dalam tubuh kami.

"Gimana rasanya, Mei? Suka?" tanya Dimas, mengusap lembut sudut bibirku yang terkena sedikit kuah dengan ibu jarinya.

"Enak banget, Mas! Kaldunya gurih dan pas banget dimakan waktu udara dingin begini," jawabku antusias dengan mata berbinar gembira. "Rasa otentik seperti ini yang besok harus kita jadikan perbandingan dengan saus K-Sambal Fusion kita."

Dimas tertawa kecil suara tawa renyah yang selalu membuat dadaku berdesir manis. "Dasar pimpinan tim kreatif, sedang jalan-jalan romantis pun pikirannya masih sempat-sempatnya ke strategi produk."

"Ya kan sekalian riset mandiri, Mas," balasku sambil tertawa pelan.

Dimas menghentikan tawanya. Pria jangkung itu menatap wajahku dalam-dalam di bawah pendar redup lampu kedai dan hiasan lampu gantung trotoar Hongdae. Tangannya terangkat, merapikan beberapa helai rambutku yang terbebas dari syal.

"Terima kasih ya, Mei," bisik Dimas dengan nada suara yang begitu dalam dan sarat akan kasih sayang.

"Untuk apa lagi, Mas?"

"Untuk senyuman gembiramu malam ini," sahut Dimas lembut. "Melihatmu bahagia dan merasa aman di samping saya adalah pencapaian terbesar saya melebihi keberhasilan bisnis mana pun."

Airmata haru hampir saja menetes di sudut mataku mendengar tuturnya yang begitu tulus. Di tengah hiruk-pikuk dan indahnya malam kota Seoul, aku makin yakin bahwa lelaki di hadapanku ini adalah pelabuhan terakhir yang dihadirkan Tuhan untuk melengkapi seluruh perjalanan jiwaku.

Dimas mengikis jarak di antara kami, menundukkan kepalanya sedikit, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat yang sangat lembut di keningku. Di tengah embusan angin malam Hongdae yang dingin, rasa hangat cinta di antara kami kian membara, siap menyambut petualangan hari esok dengan penuh keyakinan dan kebahagiaan.

1
Adira🍓
Karena Hati Mei masih ragu 🤪🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Yah,,, gagal ngerasain lolipop nya Dimas lagi donk /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Adira🍓
Kan Dimas udah pernah bilang pas pertama kalian ketemuan Mei 🤪🤪🤪
Adira🍓
gara-gara Video oh no oh yes mu sama Kartika 🤪🤪🤣🤣🤣
Adira🍓
Gak bakal.... yang ada bakal ketagihan oh yes oh no 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Habis lolipop nya Dimas enak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Adira🍓: AQ masih setia nungguin gempurannya Dimas ini lho Thor 🤣🤣 kapan Dimas nggempur lagi ini ..... Waiting /Applaud/
total 2 replies
falea sezi
buat bapaknya dimas laki kayak dimas g cocok dpet cwek baik🤣 dia cocok sama kartika sama sama sampah😒
NinLugas: kasihan yg SDH cinta wkwk
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor😁
Adira🍓
Sedang menyalakan kembang api Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Belum apa^ mo jadi benalu si Kar ini 🤮🤮🤮
Adira🍓
Kartika bukan mantannya Dimas kan 🤔
NinLugas: mantan ena2😄
total 1 replies
Adira🍓
Tapi x ini aq tak setuju dengan keputusan kau Dim 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Pelajaran apa Romo??? menggugurkan janin???🤪🤪 nambah dosa iy 🤣🤣🤣
Adira🍓
Tapi janin itu tak punya dosa apa^ 😔 apa salahnya lahirkan sja nanti biar Mei dan keluarganya yg besarkan... dan Alya bisa fokus dengan masa depannya lagi 🤪🤪🤪
NinLugas: kita lihat aja nnti kk
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 adam lugu dpet alya pemain🤣 s kayaknya sering gugurin bayi si alya ini😒
NinLugas: hmm by pertama kak 😄✌️
total 1 replies
Adira🍓
Bisa y Adam yg diperkosa Alya yg hamil 🤣🤣🤣🤣🤣 cek dulu Dam, x aja itu bukan anakmu,,, Alya kan dah lihai, psti dah sering celap-celup 🤪🤪
NinLugas: 🤭🤭🤭 kasihan Adam
total 1 replies
Adira🍓
Es batunya udah meleleh Mi,,, udah dikasih jatah soalnya 🤣🤣🤣🤣
NinLugas: 😄😄😄😄 hahah ssttt
total 3 replies
Adira🍓
Sekarang kapanpun dimanapun bisa cap cip cup y Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Tumben bab ini agak rancu Thor tulisannya,,,, bagian atasnya banyak yg disekat^ gtu...
NinLugas: iy eh lupa KLO dari word bnyak Sekat KLO SDH d publish dsni
total 1 replies
Adira🍓
Masih formal aja si Dimas 😜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!