Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Suami Konyol Dan Sepotong Sandwich
Desas-desus tentang pernikahan ini sudah berembus sejak tiga bulan lalu. Pembicaraan bisik-bisik di kalangan pengusaha papan atas kota selalu menyebut nama Gabriel Alexius dengan nada gentar. Katanya, Gabriel adalah sosok pemuda berdarah dingin yang mengendalikan jaringan bisnis raksasa—dan di balik jas elegannya, ia adalah penguasa dunia bawah yang tak segan meratakan siapa saja yang menghalangi jalannya.
Namun, semua dongeng horor itu seketika runtuh di mata Aira pada pagi pertama pernikahan mereka.
Aira terbangun dengan sisa-sisa rasa canggung yang masih menggelayuti dadanya. Gaun pengantin mewah yang semalam membebaninya kini telah berganti dengan pakaian santai. Ia melangkah keluar dari kamar utama penthouse mewah seluas lapangan sepak bola itu, berniat mencari dapur untuk sekadar meneguk air putih.
Namun, begitu kakinya menyentuh area dapur berdesain marmer hitam yang sangat elegan, pemandangan di depannya membuat langkah Aira terhenti seketika.
Seorang pria tinggi berotot dengan kaos oblong hitam dan celana kain santai sedang berdiri membelakanginya. Bahunya yang lebar dan tegap tampak menegang. Di tangannya, pria itu memegang sebuah pisau dapur kecil dan selembar roti tawar.
"Aduh! Kenapa pemotongannya tidak simetris, sih? Kalau miring begini nanti Aira tidak suka..." gumam pria itu pelan dengan nada penuh kepanikan.
Aira berkedip beberapa kali. Apakah itu Gabriel? Gabriel Alexius yang katanya iblis berkulit manusia itu?
"Ekhem..." Aira mencoba memecah keheningan.
Pria itu terlonjak kaget. Ia refleks berbalik dengan cepat, pisau di tangannya terangkat sebentar sebelum mata elangnya menyadari siapa yang berdiri di sana. Dalam hitungan milidetik, raut wajah tegas dan berbahaya itu luntur sepenuhnya, digantikan oleh senyuman lebar yang terkesan sangat polos—bahkan sedikit konyol.
"Aira! Sayang! Sudah bangun?" panggil Gabriel dengan nada suara yang naik satu oktav. Ia buru-buru menyembunyikan pisau dapur di balik punggungnya dengan gerakan canggung. "A-aku sedang... um, menyiapkan sarapan untukmu!"
Aira berjalan mendekat dengan dahi berkerut. Ia menatap meja dapur yang berantakan. Ada tiga tangkup sandwic yang terpotong tidak rapi, dengan lelehan mayones di mana-mana, serta selada yang tampak merana.
"Kamu... memasak sendiri?" tanya Aira heran. "Bukannya di penthouse sebesar ini ada koki pribadi atau pelayan?"
Gabriel menyeringai, menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Ada, sih. Tapi kan ini pagi pertama kita sebagai suami istri! Menurut buku petunjuk—maksudku, menurut artikel yang kubaca di internet, suami yang baik harus menyiapkan sarapan untuk istrinya agar pernikahan bahagia!"
Aira menahan napas. Buku petunjuk? Artikel internet?
"Tapi maaf ya, potongannya tidak rapi," lanjut Gabriel seraya memasang wajah cemberut yang sangat kekanak-kanakan. Bibirnya agak dimajukan, dan mata tajamnya kini meredup seperti anak anjing yang takut dimarahi karena memecahkan vas bunga. "Aku tadi mencoba memotong bentuk segitiga sempurna, tapi rotinya malah peyot..."
Aira tertegun. Di mana letak sosok ketua mafia yang ditakuti seluruh pengusaha kota? Pria di depannya ini hanyalah seorang suami muda yang tampak frustrasi hanya karena selembar roti tawar yang peyot.
Rasa takut dan canggung yang sempat menghinggapi Aira sejak semalam perlahan menguap, berganti dengan rasa geli yang menggelitik dadanya.
"Tidak apa-apa, Gabriel. Ini sudah bagus kok," ucap Aira lembut sambil mengambil salah satu potongan sandwic yang bentuknya paling tidak beraturan. Ia menggigitnya pelan.
Mata Gabriel langsung berbinar tebal. Ia mendekat, mencondongkan tubuhnya yang tinggi ke arah Aira dengan penuh antisipasi. "Bagaimana? Enak tidak? Rasa cintanya terasa, kan?"
Aira hampir saja tersedak mayones. "R-rasa cinta?"
"Iya! Aku menuangkan seluruh rasa cintaku saat mengoleskan mentega tadi!" sahut Gabriel tanpa rasa malu sedikit pun, diiringi cengiran lebar yang memamerkan deretan giginya yang rapi.
Sebelum Aira sempat merespons perkataan absurd itu, terdengar suara langkah kaki yang sangat tergesa-gesa.
Seorang pria berjas hitam rapi dengan tubuh tegap dan wajah penuh tato di lehernya muncul di pintu dapur. Pria itu adalah Felix, tangan kanan terpercaya Gabriel yang terkenal kejam di jalanan.
"Tuan Besar!" panggil Felix tegas dengan napas sedikit terengah. "Kelompok wilayah timur mulai membuat masalah lagi di pelabuhan. Mereka menuntut—"
Perkataan Felix terhenti seketika saat mata tajam Gabriel tertuju padanya.
Dalam satu detik, atmosfer di dapur itu berubah drastis. Senyum konyol Gabriel hilang tanpa bekas. Mata cokelat gelapnya mendadak menjelma menjadi lubang hitam yang dingin dan mematikan. Aura menindas yang begitu berat langsung menyeruak di udara, membuat Felix yang berbadan besar sekalipun mendadak terdiam dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Felix," desis Gabriel dengan suara berat dan rendah yang membuat bulu kuduk Aira berdiri. "Kapan aku mengizinkanmu masuk tanpa mengetuk pintu saat aku sedang bersama istriku?"
Felix menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. "M-maafkan saya, Tuan. Saya... saya tidak bermaksud—"
"Bicarakan di luar," potong Gabriel dingin. "Atau bahasa meksikomu butuh diperbaiki di tempat lain?"
Aira menatap perubahan kilat itu dengan jantung berdebar keras. Sifat dingin itu... apakah itu sifat aslinya?
Namun, begitu Gabriel kembali memalingkan wajahnya menatap Aira, aura mematikan itu lenyap dalam sekejap mata. Raut wajahnya kembali menjadi lembut, bahkan tampak panik melihat Aira yang terdiam.
"Aira? Kenapa? Kaget ya karena pria bertato itu bicaranya keras-keras?" tanya Gabriel manis, mengabaikan Felix yang masih berdiri kaku di belakangnya. "Jangan takut ya, dia cuma asistenku yang kurang sopan. Nanti aku potong gajinya agar dia ingat tata krama!"
Felix di belakang hanya bisa mengelus dada dengan wajah merana, sementara Aira semakin bingung dengan kepribadian ganda suaminya ini.
Siapakah Gabriel Alexius yang sebenarnya?