Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Itu Papa Tahu
Ayara mengangguk kecil, menggigit bibir bawahnya. "Iya, Mas... aku nggak enak sama Mas Althaf."
Althaf menghela napas pelan, lalu tersenyum hangat. Senyuman yang membuat wajah tegasnya tampak begitu memesona. Pria itu mengambil amplop cokelat tersebut, lalu menyerahkannya kembali ke tangan Ayara.
"Simpan kembali uang ini, Ayara," ucap Althaf lembut namun tegas.
Ayara membelalak kaget, "Loh! Kenapa, Mas? Kurang ya?" tanya Ayara panik.
"Dengarkan aku! Dari awal aku membantu Arlan, aku tidak pernah memikirkan uang atau bayaran sepeser pun dari kalian. Aku membantu karena aku ingin melihat keadilan untuk Arlan, dan... karena aku ingin melindungi orang-orang yang berharga di hidupmu," potong Althaf tenang.
Pipi Ayara langsung merona merah padam mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Althaf dengan penuh penekanan itu.
"Tapi, Mas...," cicit Ayara.
"Kalau kamu benar-benar ingin membayarku..." Althaf melangkah selangkah lagi mendekati Ayara, hingga jarak di antara mereka kini begitu dekat. Suara baritonnya merendah, menjadi bisikan hangat yang menghanyutkan.
"Cukup berikan aku satu jawaban atas lamaranku kemarin malam. Apa kamu mau menerimaku dan membiarkanku menjadi pendamping hidupmu selamanya?"
Ayara terperanjat, napasnya seolah tertahan di tenggorokan dan tidak menyangka Althaf akan menagih jawaban sepenting itu.
Suasana di dalam ruang kerja Althaf mendadak sunyi senyap. Detik demi detik berlalu, Ayara hanya bisa menunduk dalam-dalam dan meremas jemarinya sendiri di dalam genggaman tas kainnya. Debar di dadanya bergemuruh hebat, bertarung melawan rasa tidak percaya diri dan ketulusan yang terpancar dari sorot mata pria di hadapannya.
Althaf tidak mendesak, pria itu membiarkan Ayara mengambil waktu untuk berpikir dan sabar menanti sambil menatap wanita itu dengan penuh cinta.
"Mas Althaf...," cicit Ayara akhirnya, suaranya terdengar begitu rapuh namun tulus.
"Iya?" tanya Althaf.
"Ayara," panggil Althaf dengan nada suara yang begitu lembut, mencoba menenangkan gemuruh di dada wanita yang dicintainya itu.
Namun, belum sempat Ayara memberikan respons, pintu ruangan itu sudah bergeser terbuka dari luar.
Seorang pria paruh baya berpenampilan kharismatik dengan garis wajah yang begitu mirip dengan Althaf melangkah masuk ke dalam ruangan, Papa Aditya berdiri tegak dengan tatapan mata tajam namun memancarkan kehangatan seorang ayah. Di usianya yang matang, pesona dan wibawa Papa Aditya masih terlihat sangat nyata.
Althaf sontak menegakkan tubuhnya, sedikit terkejut dengan kehadiran sang ayah yang datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
"Papa?" sapa Althaf, lalu melangkah cepat menghampiri ayahnya.
Papa Aditya tidak langsung menjawab panggilan putranya. Netra pria paruh baya itu justru beralih menatap lurus ke arah sudut ruangan, tempat di mana Ayara berdiri kaku bagaikan patung dengan amplop cokelat masih tergenggam di tangannya.
Pandangan Papa Aditya mengamati penampilan Ayara dari ujung rambut hingga kaki, mulai dari kemeja biru muda yang sederhana dan tas kain yang tampak biasa, hingga raut wajah pucat yang menyiratkan rasa gugup luar biasa.
Suasana di dalam ruangan ber-AC dingin itu mendadak berubah hening, Ayara merasa detak jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia tidak tahu siapa pria paruh baya di hadapannya ini, namun mendengar Althaf memanggilnya Papa, ia tahu pria itu adalah ayah dari Althaf.
"Siapa dia?" tanya Papa Aditya, begitu dingin.
"Ini Ayara, dia perempuan yang pernah Althaf bilang," jawab Althaf tanpa ragu.
"Apa kalian masih ada urusan?" tanya Papa Aditya.
"Ti-tidak ada, Om," jawab Ayara gugup.
"Kalau begitu... kau bisa keluar dari ruangan ini," ucap Papa Aditya.
"I-iya," jawab Ayara.
"Nanti aku kabarin lagi ya," ucap Althaf menahan tangan Ayara.
"Iya," jawab Ayara.
"Rendy!" panggil Althaf.
"Iya, Pak?" tanya Rendy.
"Minta sopir antar Ayara pulang," ucap Althaf.
"Baik, Pak," jawab Rendy.
"Eh, nggak usah, aku bisa pulang sendiri," sahut Ayara.
"Motormu masih mogok, kan? Sudah, biar sopir yang antar," balas Althaf.
"Terima kasih," jawab Ayara, lalu meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah kepergian Ayara, Althaf menatap Papa Aditya dengan bertanya-tanya. "Ada apa Papa kesini?" tanyanya.
"Papa kurang suka sama perempuan tadi," ucap Papa Aditya.
"Terus?" tanya Althaf.
"Huh, Papa rasa percuma juga Papa melarangmu. Kamu pasti akan tetap mengejar perempuan itu," ucap Papa Aditya.
"Itu Papa tahu. Jadi, kenapa Papa kesini?" tanya Althaf.
"Papa dengar kamu berhasil menang di persidangan wanprestasi antara Atmaja sama Dinar," ujar Papa Aditya.
"Iya, Pihak Dinar menang. Apa Pak Atmaja menghubungi Papa?" tanya Althaf.
"Kalau dari awal kamu mau membela Atmaja, pasti dia yang menang! Kenapa kamu malah memilih Dinar?" bentak Papa Aditya.
"Dalam masalah ini, Pak Atmaja jelas-jelas melakukan wanprestasi. Papa tahu bukan kalau Althaf menjadi pengacara yang pilih-pilih, Althaf hanya realistis, Pa. Pak Atmaja sudah tidak tertolong lagi," balas Althaf tetap tenang.
Papa Aditya menghela napas panjang, mendengkus frustrasi melihat keputusasaan dan ketegasan putranya yang tak bisa dibantah. Di matanya, Althaf selalu menjadi anak yang paling sulit dikendalikan jika sudah menyangkut prinsip hidup dan keadilan.
Jika dulu Papa Aditya tidak pensiun, mungkin Althaf tidak akan mau menjadi pengacara di firma hukum yang ia dirikan dan akan menjadi pengacara independen yang memegang teguh idealismenya. Althaf juga tidak pernah bisa dipengaruhi oleh koneksi bisnis Ayahnya. Dan kini, hal yang sama kembali terulang dalam urusan asmara.
"Kamu itu selalu saja begini, Althaf. Klien sekelas Atmaja itu memegang banyak saham di anak perusahaan kita, tapi kamu dengan mudahnya menumbangkan dia di persidangan hanya karena idealisme kamu itu. Papa heran, tidak di kantor, tidak di urusan pribadi... kamu selalu berjalan melawan arus," ucap Papa Aditya dengan nada penuh kekecewaan bercampur kelelahan.
Althaf hanya menatap sang ayah dengan sorot mata tenang, tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Althaf bekerja sesuai fakta dan hukum yang berlaku, Pa. Kalau Pak Atmaja melanggar kontrak dan merugikan pihak lain, Althaf tidak akan pernah berdiri di sisinya hanya demi menjaga hubungan bisnis Papa."
Papa Aditya menggeleng-gelengkan kepala, memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing. Watak Althaf yang keras kepala memang mewarisi sifatnya sendiri, sehingga perdebatan seperti ini selalu berakhir dengan Papa Aditya yang harus mengalah pada keteguhan anak laki-lakinya itu.
Dengan sisa kejengkelannya, Papa Aditya berbalik dan merapikan jas mewahnya, bersiap untuk melangkah pergi meninggalkan ruangan kerja Althaf.
Namun, baru saja Papa Aditya memegang gagang pintu, suara bariton Althaf kembali menggema dan menghentikan langkah kaki sang ayah.
"Pa," panggil Althaf tenang.
Papa Aditya menoleh sekilas tanpa mengubah posisinya, alisnya bertaut. "Ada apa lagi?"
"Minggu ini, kapan Papa dan Mama ada waktu luang?" tanya Althaf tanpa ragu.
Papa Aditya mengernyitkan dahi, menatap putranya dengan rasa heran yang membuncah. "Waktu luang? Untuk apa? Papa sibuk membenahi kekacauan sengketa Atmaja."
Althaf melipat kedua tangannya di dada dan menatap sang Ayah dengan sorot mata yang dipenuhi keseriusan seorang pria dewasa, "Althaf mau ajak Papa dan Mama datang ke rumah Ayara, Althaf mau melamar dia secara resmi."
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita