Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 26
Mobil hitam Galang membelah jalanan dengan serampangan. Pikirannya kalut. Sepanjang perjalanan, ponselnya tidak berhenti bergetar, baik dari Belinda yang terus menuntut penjelasan, maupun dari grup koordinasi kantor. Namun, Galang mengabaikan semuanya. Fokusnya kini hancur, dan satu-satunya tempat yang terlintas di kepalanya untuk berlindung adalah rumah orang tuanya.
Setengah jam kemudian, mobil Galang berhenti di depan sebuah rumah berpagar tinggi di kawasan perumahan. Dengan kasar, dia menarik koper besarnya dari bagasi dan melangkah masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Braaakkkk
Galang mendorong pintu jati rumah orang tuanya dengan napas memburu. Koper di tangannya terlepas dan tergeletak begitu saja di lantai ruang tamu, menimbulkan suara benturan yang cukup keras.
Ibu Ratna yang sedang bersantai di ruang tengah seketika tersentak. Wanita paruh baya itu bergegas menghampiri sumber suara dan terbelalak melihat putra kebanggaannya berdiri dengan penampilan berantakan, wajah pias, dan sebuah koper besar di sampingnya.
"Galang? Kamu kenapa, Nak? Kok bawa koper segala?" tanya Bu Ratna panik, langsung menghampiri putranya dan menyentuh lengan Galang yang gemetar.
"Ada apa? Kamu bertengkar lagi sama si Aulia itu? Apa wanita itu membuat ulah lagi dan menuduh kamu ini dan itu seperti kemarin? Atau apa lagi?"
Galang tidak langsung menjawab. Dia menjatuhkan dirinya ke sofa ruang tamu, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya naik turun menahan luapan emosi yang bercampur aduk antara malu, marah, dan takut.
"Ada apa Galang? Kenapa kamu ada di sini dan membawa koper?" kali ini yang bertanya adalah Pak Hendra, di belakangnya kedua saudara Fahri datang. Rika dan Rena.
"Berani sekali dia mengusir kamu dari rumahmu sendiri, Galang!" ujar Rika sambil bersedekap dada.
"Aulia... Aulia mengusirku, Bu., Pak. Dia minta cerai...," cicit Galang dengan suara serak, kehilangan semua keangkuhan yang biasanya dia pamerkan.
"Apa?!" Bu Ratna memekik, matanya melebar tidak percaya. Rasa terkejutnya seketika berubah menjadi kilatan amarah.
"Kurang ajar sekali perempuan itu! Berani-beraninya dia mengusir anak laki-laki Ibu! Dia pikir dia siapa, hah?! Cuma numpang hidup dari uang kamu, punya anak cacat saja belagu!"
Bu Ratna langsung berkacak pinggang, napasnya memburu membela sang putra tanpa tahu duduk perkara yang sebenarnya.
"Kamu itu suaminya, Galang! Kepala keluarga! Nggak bisa dia semena-mena begitu. Besok Ibu antar kamu ke sana, kita labrak dia! Biar dia tahu rasa!"
"Betul, Bu! Jangan mau mengalah dari perempuan seperti itu!" sahut Rika berapi-api, ikut memanaskan suasana.
"Dia itu harusnya sadar diri. Sudah untung dinikahi Mas Galang, dinafkahi, dicarikan rumah. Sekarang malah berani mengusir suaminya sendiri. Benar-benar tidak tahu diuntung!"
"Lagipula, memangnya dia mau hidup pakai apa kalau cerai dari Mas Galang?" Rena menimpali dengan senyum sinis yang menghias bibirnya.
"Paling juga beberapa hari lagi dia bakal menangis di depan pintu ini, memohon-mohon supaya Mas Galang mau menerimanya kembali. Anak cacatnya itu kan butuh biaya terapi yang mahal."
Mendengar cercaan dari ibu dan kedua saudaranya, Galang justru tidak merasa tenang. Sebaliknya, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Dadanya terasa semakin sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak menipis.
Mereka semua tidak tahu atau lebih tepatnya, mereka terlalu meremehkan Aulia.
"Diam! Bisa diam tidak?!" teriak Galang tiba-tiba, membuat Bu Ratna, Rika, dan Rena tersentak kaget.
Suasana ruang tamu seketika hening. Pak Hendra yang sejak tadi mengamati dengan kening berkerut, akhirnya melangkah maju dan menepuk bahu putranya dengan tegas.
"Galang, tenangkan dirimu. Jelaskan pelan-pelan kepada kami. Apa yang sebenarnya terjadi sampai Aulia nekat meminta cerai? Apa ini masalah uang bulanan?" tanya Pak Hendra dengan nada berat yang menuntut jawaban jujur.
Galang menatap ayahnya dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca. Ketakutan yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat akhirnya tumpah.
"Bukan masalah uang bulanan, Ayah. Aulia... Aulia menangkap basah aku bersama Belinda di restoran tadi siang, Pak," aku Galang dengan suara bergetar, nyaris berbisik.
Seketika itu juga, Bu Ratna dan kedua saudara perempuannya terdiam. Keberanian yang tadi membubung tinggi mendadak surut, digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa. Siapa Belinda, nama wanita yang baru saja di ucapkan oleh Galang.
"Dan bukan cuma itu..." lanjut Galang, suaranya semakin serak.
"Dia punya saksi mata. Dia juga tahu semua tentang bagaimana aku memotong uang belanjanya demi Belinda. Dia mengancam akan memasukkan pasal perselingkuhan ke dalam gugatan cerainya, Pak, Bu!"
"Mas Galang selingkuh dengan wanita bernama Belinda? Astaga aku nggak nyangka Mas Galang bisa melakukan hal menjijikan seperti itu! Apa Mas nggak pikirin Aulia? Aku nggak terima kalau memang alasannya adalah selingkuh!" ujar Rena.
"Diam kamu Rena!" Kesal Bu Ratna kepada anak bungsunya. Walau dia juga masih kaget dengan pengakuan Galang. Namun dia tak terima saat melihat anaknya di usir seperti ini oleh Aulia.
"Lalu... apa hubungannya dengan kariermu? Kamu kan bisa membantah di depan HRD atau atasan kamu di kantor kan?" tanya Rika, mulai cemas karena sebagian gaya hidup mewahnya selama ini juga kecipratan dari dompet sang kakak.
"Tidak bisa, Mbak Rika! Manajemen kantor baru saja memperketat aturan tentang kode etik dan moral karyawan!" pekik Galang frustrasi.
"Jika skandal ini sampai ke telinga direksi dan Aulia punya semua bukti fisik serta digitalnya. Aku bukan cuma akan dipecat secara tidak hormat, tapi namaku juga akan di blacklist dari seluruh jaringan industri ini! Aku akan hancur! Padahal bulan ini aku mengincar promosi jabatan baru di kantor!"
Bu Ratna terduduk lemas di samping putranya. Wajahnya yang tadi memerah karena amarah kini berubah pucat pasi. Pikiran tentang kehilangan menantu yang selalu mengalah kini berganti dengan ketakutan akan hilangnya sumber keuangan utama keluarga mereka. Begitupun dengan Pak Hendra yang tak menyangka jika anaknya sampai berselingkuh. Dia mengira masalah rumah tangga Galang hanya sebatas anak yang belum bisa bicara dan juga masalah uang bulanan yang selalu di sunat oleh Galang.
"Tapi... tapi dia kan cuma ibu rumah tangga, Galang? Dari mana dia punya nyali dan uang untuk menyewa pengacara?" tanya Bu Ratna dengan suara yang mulai goyah.
Galang tertawa hambar, sebuah tawa getir yang sangat mirip dengan tawa Aulia beberapa saat lalu.
"Jadi ini alasan selama beberapa bulan kamu selalu mengurangi jatah uang bulanan kepada kami? Kamu menghabiskan uangmu untuk seling-ku-han kamu itu benar? Seperti yang di katakan oleh Aulia dua minggu lalu? Apa kamu gila? Kamu selingkuh tapi malah menghabiskan uang? Kamu benar-benar bo-oh Galang!" Kesal Bu Ratna.