NovelToon NovelToon
DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / CEO
Popularitas:852
Nilai: 5
Nama Author: BayouDarda Novelis

“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 — Dihina di Meja Makan

Tiga hari sebelum hari jadi pernikahan kami, aku mengetahui bahwa sebuah kursi bisa lebih jujur daripada manusia.

Sore itu, aku baru selesai menyapu ruang tengah ketika bel rumah berbunyi. Dari dapur, Ibu Retno langsung menyuruhku membukakan pintu.

“Arkan! Lihat siapa yang datang. Jangan cuma berdiri saja!”

Aku meletakkan sapu di sudut ruangan, lalu berjalan ke depan.

Reno berdiri di teras dengan kemeja rapi dan sebuah kotak makanan di tangannya. Senyumnya lebar. Rambutnya tertata, sepatunya bersih, dan jam tangan di pergelangan kirinya tampak mengilap terkena cahaya sore.

“Mas Arkan,” sapanya. “Ada Tante Retno?”

“Ada. Silakan masuk.”

“Terima kasih, Mas.”

Belum sempat aku mempersilakannya duduk, Ibu Retno sudah muncul dari arah dapur. Wajahnya berubah cerah begitu melihat tamunya.

“Reno! Aduh, kenapa repot-repot bawa makanan segala?”

“Tidak repot, Tante. Kebetulan lewat toko kue. Saya ingat Tante suka yang ini.”

Reno menyerahkan kotak itu.

Ibu Retno menerimanya dengan kedua tangan, seolah-olah sedang menerima hadiah mahal.

“Ya ampun, baik sekali kamu. Tidak seperti orang yang tinggal di rumah ini, kalau disuruh membeli sesuatu saja harus diingatkan berkali-kali.”

Aku tahu sindiran itu ditujukan kepadaku.

Aku memilih kembali ke ruang tengah untuk membereskan koran yang berserakan di meja.

“Duduk dulu, Reno,” kata Ibu Retno. “Laras masih di kamar. Sebentar lagi dia keluar.”

“Baik, Tante.”

Reno duduk di sofa. Ibu Retno segera mengambilkan minuman dingin, lalu mulai bertanya tentang pekerjaannya. Aku sebenarnya tidak berniat mendengarkan, tetapi suara mereka terdengar jelas sampai ke tempatku berdiri.

“Sekarang bagaimana pekerjaanmu, Reno?” tanya Ibu Retno.

“Alhamdulillah, lancar, Tante. Bulan lalu saya resmi menjadi manajer.”

“Manajer?” Suara Ibu Retno meninggi karena senang. “Wah, hebat sekali! Masih muda sudah jadi manajer.”

“Masih banyak yang harus saya pelajari, Tante.”

“Rendah hati pula. Begini seharusnya laki-laki. Rajin bekerja, punya jabatan, dan tahu bagaimana membahagiakan keluarga.”

Aku berhenti melipat koran.

Kalimat itu terdengar seperti pujian untuk Reno. Namun, cara Ibu Retno mengucapkannya membuatku merasa sedang dibandingkan tanpa perlu menyebut namaku.

Tak lama kemudian, Laras keluar dari kamar. Ia mengenakan blus sederhana dengan rambut tergerai di bahu.

“Reno? Sejak kapan datang?”

“Baru saja. Aku bawa makanan.”

Laras tersenyum kepadanya. “Kamu tidak bilang mau ke sini.”

“Cuma mampir sebentar.”

Ibu Retno langsung berdiri.

“Sudah, kalian ngobrol saja. Tante siapkan makan malam lebih awal. Reno pasti belum makan, kan?”

“Saya sudah makan sedikit, Tante.”

“Tidak apa-apa. Makan lagi saja. Di rumah ini ada banyak makanan.”

Aku melirik jam dinding. Biasanya kami makan menjelang malam. Namun, sore itu Ibu Retno bergerak cepat. Ia mengambil piring-piring bagus dari lemari, mengeluarkan sendok dan garpu yang jarang dipakai, lalu mengatur semuanya di meja makan.

Aku ikut membantu membawa lauk dari dapur.

“Yang itu taruh di sini,” katanya sambil menunjuk meja.

Aku meletakkan mangkuk sayur dan piring berisi ayam goreng. Setelah itu, aku hendak mengambil piring tambahan.

“Tidak usah,” potong Ibu Retno.

Aku menoleh. “Piringnya kurang, Bu.”

“Memangnya untuk siapa?”

“Untuk makan malam.”

Ibu Retno menghela napas seolah-olah aku baru saja menanyakan sesuatu yang tidak masuk akal.

“Sudah, jangan sibuk mengatur. Biar Ibu yang urus.”

Aku meletakkan piring yang kupegang di dekat lemari. Kupikir mungkin ia masih akan menyiapkan tempat untukku setelah semua hidangan tersusun.

Ternyata tidak.

Di atas meja makan, ada tiga piring bagus. Satu untuk Ibu Retno, satu untuk Laras, dan satu untuk Reno. Ketiganya diletakkan berhadapan dengan kursi empuk yang biasa kami gunakan.

Kursi yang selama ini menjadi tempatku duduk kini ditarik sedikit ke belakang agar Reno bisa menempatinya dengan leluasa.

Aku berdiri di dekat pintu dapur, memperhatikan semuanya tanpa berkata-kata.

“Reno, duduk di sini saja,” ujar Ibu Retno sambil menunjuk kursi itu. “Biar nyaman.”

“Wah, tidak perlu repot, Tante.”

“Tidak repot. Kamu tamu di rumah ini.”

Reno akhirnya duduk. Ia meletakkan ponsel di samping piring, lalu mengambil sendok yang sudah disiapkan.

Laras duduk di sebelah ibunya. Ia sempat menoleh ke arahku, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Aku menunggu.

Mungkin Ibu Retno lupa menyiapkan piringku. Mungkin ia akan menyuruhku mengambilnya sendiri. Aku masih mencoba mencari alasan yang masuk akal, meskipun tiga piring di atas meja itu sudah menjelaskan semuanya.

Ketika aku mendekat untuk mengambil nasi, suara Ibu Retno menghentikanku.

“Arkan, kamu mau apa?”

“Mengambil nasi, Bu.”

“Untuk makan?”

Aku memandangnya. “Iya.”

Ia meletakkan sendok sayur dengan bunyi kecil.

“Jangan duduk semeja sama tamu. Kamu di belakang saja.”

Ruangan mendadak terasa lebih sempit.

Tanganku masih memegang piring kosong. Aku melihat Reno, lalu Laras. Reno menghentikan gerakan tangannya sesaat. Laras menunduk, memperhatikan nasi di piringnya.

Tidak ada yang menyela.

“Di dapur masih ada makanan,” lanjut Ibu Retno. “Ambil saja sendiri. Tidak perlu semuanya dilayani.”

Aku mengangguk pelan.

“Baik, Bu.”

Hanya itu jawabanku.

Aku tidak membanting piring. Tidak pula bertanya mengapa aku harus diperlakukan seperti orang asing di rumah sendiri. Aku hanya berbalik, mengambil nasi secukupnya, lalu membawa piringku ke dapur.

Di pojok ruangan, ada bangku plastik kecil yang biasa kugunakan ketika memperbaiki barang atau membersihkan bagian bawah lemari. Salah satu kakinya sedikit lebih pendek daripada yang lain. Kalau diduduki, bangku itu akan bergoyang dan mengeluarkan bunyi berderit.

Aku menariknya mendekati dinding.

Krek.

Bangku itu bergeser di atas lantai.

Aku duduk perlahan. Tubuhku sedikit miring ketika salah satu kakinya kembali bergoyang. Kutahan sisi bangku dengan telapak kaki, kemudian mulai makan.

Dari meja makan, suara mereka terdengar jelas.

“Reno, ayamnya dicoba. Ibu masak sendiri,” kata Ibu Retno.

“Enak, Tante.”

“Kalau kamu sering mampir, rumah ini jadi ramai. Laras juga senang punya teman mengobrol.”

Laras menjawab singkat, “Iya, Bu.”

Aku mengambil sesendok sayur. Rasanya biasa saja. Namun, entah mengapa, makanan yang sama terasa berbeda ketika kumakan sendirian di pojok dapur.

Aku sudah terbiasa mengalah dalam hal-hal kecil. Jika lauk tinggal sedikit, aku mengambil bagian yang tersisa. Jika kursi kurang, aku berdiri sampai orang lain selesai. Jika ada barang rusak, aku memperbaikinya tanpa menunggu diminta.

Selama ini aku menganggap semua itu sebagai bagian dari hidup berumah tangga.

Aku tidak pernah menghitung berapa kali aku mengalah. Aku juga tidak pernah meminta Laras membalas semua yang kulakukan. Bagiku, pernikahan bukan soal siapa yang paling banyak berkorban.

Tetapi sore itu, aku mulai bertanya-tanya apakah kebiasaanku mengalah justru membuat mereka merasa bebas memperlakukanku sesuka hati.

“Mas Arkan memang lebih cocok urus rumah ya, Tante?”

Suara Reno membuat sendokku berhenti di udara.

Ibu Retno tertawa kecil.

“Nah, kamu saja bisa melihatnya. Dari dulu Ibu bilang begitu. Laki-laki itu harus punya pekerjaan yang jelas.”

Reno ikut tersenyum.

“Kalau urusan rumah, Mas Arkan pasti sudah ahli.”

“Setidaknya ada juga yang dia kerjakan,” sahut Ibu Retno. “Daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali.”

Tawa mereka kembali terdengar.

Aku menunduk, lalu melanjutkan makan.

Tidak ada gunanya menjawab. Apa pun yang kukatakan hanya akan menjadi bahan pembicaraan berikutnya. Kalau aku membela diri, mereka mungkin menyebutku tidak tahu diri. Kalau aku marah, mereka akan mengatakan aku tidak bisa menerima kenyataan.

Jadi, aku diam.

Sesekali terdengar bunyi sendok beradu dengan piring dari ruang makan. Mereka membicarakan pekerjaan Reno, rencana promosi berikutnya, dan kemungkinan Laras mendapat tanggung jawab baru di kantor.

Aku mendengar nama istriku disebut beberapa kali. Setiap kali itu pula, Ibu Retno terdengar bangga.

Aku ikut bangga pada Laras. Aku tahu ia bekerja keras untuk mencapai posisinya sekarang. Ia pulang dengan tubuh lelah, menghadapi tenggat, dan sering membawa pekerjaan ke rumah.

Aku tidak pernah menganggap pencapaiannya sebagai masalah.

Yang menyakitkan justru kenyataan bahwa orang-orang yang paling dekat denganku bisa begitu mudah menilai seseorang hanya dari apa yang mereka lihat.

Bagiku, pekerjaan rumah bukan hal yang memalukan. Mengurus kebutuhan keluarga bukan alasan untuk kehilangan harga diri. Namun, di mata Ibu Retno, semua itu seolah-olah menjadi bukti bahwa aku tidak pantas duduk di kursi yang sama dengan tamunya.

Aku menyelesaikan makan tanpa terburu-buru. Setelah menaruh sendok di atas piring, aku berdiri dan membawa piring itu ke wastafel.

Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat sebagian ruang makan melalui pintu dapur.

Reno duduk di kursiku. Ia bersandar santai sambil berbicara dengan Ibu Retno. Laras berada di sebelah mereka, sesekali tersenyum mendengar cerita Reno.

Aku menatap istriku sedikit lebih lama.

Seolah merasakan tatapanku, Laras mengangkat wajah. Mata kami bertemu selama beberapa detik.

Aku menunggu satu kalimat saja.

Tidak perlu pembelaan panjang. Tidak perlu pertengkaran dengan ibunya. Ia hanya perlu mengatakan bahwa aku juga anggota keluarga ini, bahwa aku tidak seharusnya makan sendirian di belakang ketika mereka menikmati hidangan di meja yang sama.

Namun, Laras segera mengalihkan pandangan.

Ia menunduk dan kembali mendengarkan Reno.

Aku memalingkan wajah.

Ada sesuatu dalam diriku yang terasa jatuh, tetapi tidak mengeluarkan suara. Barangkali karena aku sudah terlalu sering berharap bahwa suatu hari nanti Laras akan memahami apa yang tidak pernah kuucapkan.

Malam semakin dekat ketika Reno akhirnya berpamitan.

“Terima kasih makanannya, Tante. Lain kali saya mampir lagi.”

“Tentu, Nak. Kapan saja. Rumah ini selalu terbuka untukmu.”

Laras mengantarnya sampai ruang tengah. Aku tetap berada di dapur, membilas piring-piring yang menumpuk di dekat wastafel.

Pintu depan tertutup.

Beberapa saat kemudian, langkah kaki Ibu Retno terdengar mendekat.

“Piringnya sekalian dicuci semua, Arkan. Jangan ditinggalkan semalaman.”

“Iya, Bu.”

Ia tidak bertanya apakah aku sudah selesai makan. Tidak pula menyebut kejadian di meja makan tadi.

Setelah itu, ia pergi ke kamarnya.

Aku menyalakan keran dan mulai mencuci piring. Satu demi satu kubersihkan, termasuk tiga piring bagus yang tadi dipakai mereka. Piring Reno kubilas lebih dahulu karena masih ada sisa saus di tepinya.

Air mengalir di antara jari-jariku. Bunyi piring yang beradu terdengar pelan, bercampur dengan suara televisi dari ruang tengah.

Aku bekerja sampai wastafel bersih dan meja dapur kembali rapi.

Ponselku yang tergeletak di dekat tempat bumbu tiba-tiba bergetar.

Satu pesan WhatsApp masuk dari Pak Surya.

“Pak Arkan, berkas evaluasi proyek sudah saya terima. Ada satu perubahan yang perlu kita bahas sebelum rapat.”

Aku membaca pesan itu, lalu mengetik balasan singkat.

“Tahan dulu. Ikuti prosedur.”

Setelah memastikan pesan terkirim, aku meletakkan ponsel kembali. Tidak ada penjelasan panjang yang perlu kukirim malam itu. Jika ada perubahan dalam berkas, semuanya harus diperiksa sesuai tahapan yang berlaku.

Aku mengeringkan tangan dengan lap, kemudian berbalik menuju pojok dapur.

Bangku plastik kecil itu masih berada di sana.

Salah satu kakinya miring. Permukaannya kusam, dengan goresan tipis di bagian tepi. Aku menekan dudukannya perlahan. Bangku itu kembali bergoyang, persis seperti ketika kududuki beberapa jam lalu.

Aku terdiam.

Tadi sore, aku duduk di atasnya karena disuruh menjauh dari meja makan. Tidak ada yang merasa perlu mempertanyakan hal itu. Bahkan Laras, perempuan yang kunikahi dan yang selama ini kuusahakan agar hidupnya lebih ringan, memilih diam.

Aku memandangi bangku itu cukup lama.

Barangkali selama ini aku terlalu sibuk menjaga rumah agar tetap nyaman bagi semua orang sampai lupa memperhatikan tempatku sendiri di dalamnya.

Aku tidak membutuhkan kursi paling mahal. Aku juga tidak menuntut dilayani seperti tamu. Aku hanya ingin diperlakukan sebagai manusia yang pantas dihargai.

Namun, di rumah ini, bahkan sebuah kursi pun seolah-olah memiliki kedudukan yang lebih jelas daripada diriku.

Aku menarik napas, lalu mendorong bangku itu kembali ke sudut dapur.

Besok, mungkin semuanya akan berjalan seperti biasa. Aku akan bangun pagi, membereskan rumah, dan menjalani hari tanpa membicarakan penghinaan sore ini.

Tetapi aku tahu, ada sesuatu yang berubah.

Bukan karena aku kehilangan tempat duduk.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, aku benar-benar melihat tempat yang telah mereka sediakan untukku selama ini.

Di pojok dapur, di atas bangku plastik yang goyah, jauh dari meja tempat keluargaku tertawa bersama tamu.

1
BayouDarda Novelis
Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
Renjana
hadir kk
BayouDarda Novelis: Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!