Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dituduh jadi penculik
"Selamat siang, apakah benar ini kediaman Saudari Rania?" tanya seorang petugas kepolisian yang mendatangi rumah Rania siang itu.
"Iya, betul." jawab Rania pelan, tampak bingung sejenak. "Ada keperluan apa ya, Pak?" tanyanya kemudian.
"Kami mendapatkan laporan adanya tindak pidana penculikan anak di bawah umur yang melibatkan Anda." jawab polisi tersebut, membuat Rania mengerjap kaget.
"Hah? Apa? Maksudnya apa, Pak?" seru Rania, nyaris tak percaya.
"Silakan ikut kami ke kantor. Anda bisa menjelaskan semuanya di sana." ujar petugas dengan nada tegas.
Dua polisi lainnya segera menggiring Rania keluar.
"Tunggu, Pak! Nggak bisa gini, dong!" protes Rania, berusaha memberontak. "Ini ilegal namanya! Apalagi nggak ada surat penangkapan yang jelas. Buktinya apa kalau saya terlibat penculikan anak? Memangnya saya nggak bisa apa bikin anak sendiri sampai harus culik-culik anak orang?" sentaknya dengan nada tinggi, mencoba melepaskan diri.
"Ibu bisa menjelaskan di kantor." ulang polisi tersebut, tetap tenang tetapi tak memberi celah bagi Rania untuk kabur.
Rania tidak membawa apa-apa, bahkan ponselnya pun tertinggal. Dia panik karena polisi yang membawanya tak memberi kesempatan untuk bersiap. Semuanya terasa begitu mendadak dan dipaksakan.
*Gimana ini? Kenzie masih tidur. Kalau dia kebangunan dan gue nggak ada, dia pasti panik...* batin Rania cemas.
"Iya, benar! Dia orangnya, Pak Arkan!" ujar Wati sambil menunjuk ke arah Rania yang baru saja tiba di kantor polisi.
"Saya dapat kiriman foto dari kenalan saya. Dia yang bawa Den Kenzie hari ini." lanjutnya dengan penuh keyakinan. "Dia culik Den Kenzie!" tuduhnya percaya diri.
Arkan, yang juga baru tiba di kantor polisi, menyipitkan mata ke arah Rania menatapnya dengan serius.
"Kamu yakin, Wati?" tanya Arkan. Awalnya, pria itu hendak pergi ke kantor setelah dari sekolah Zidan, tetapi Wati menghubunginya dan mengatakan Kenzie diculik jika bukan bersama Zidan.
"Iya, Pak! Den Zidan pasti jual Den Kenzie ke penculik itu!" cetus Wati penuh semangat.
"Saya sering lihat Den Zidan jahatin Den Kenzie. Pasti dia kesal karena Pak Arkan lebih sayang sama Den Kenzie. Jadi Den Zidan manfaatin waktu pas Pak Arkan ada di luar negeri buat jahatin Den Kenzie. Saya selama ini diam karena takut sama Den Zidan, tapi sekarang dia udah keterlaluan! Masa iya adiknya sendiri dijual?" cerocosnya penuh drama.
Arkan terdiam, tak langsung menanggapi, sementara Rania semakin kebingungan.
"Kita coba dengerin dari sisi si penculiknya dulu, Arkan." saran Nathan dengan nada bijak.
"Nggak usah, Pak! Penculik mana mau ngaku? Pasti berkilah!" sahut Wati cepat, tak ingin rencananya berantakan.
"Tapi kita nggak bisa main hakim sendiri hanya karena mendengar pernyataan sepihak dari kamu, Wati. Kita tetap perlu konfirmasi dari pihak yang bersangkutan." balas Nathan dengan tenang.
Wati langsung gugup. Dia ingin membantah, tetapi tak berani terutama saat melihat tatapan Arkan yang mulai menakutkan.
"Ini apaan sih? Kenapa gue jadi keseret drama alay begini?" celetuk Rania, jengah.
"Drama alay?" ulang Arkan dengan nada dingin, menatap Rania tajam.
Rania, yang ditatap seperti itu, jelas merasa tak nyaman. Namun, dia tetap berani bertanya, "Who are you? Kita kenalkah?"
"Beliau ini ayah dari anak yang kamu culik." sela Wati sebelum Arkan sempat menjawab.
"Tunggu deh... Emang siapa yang gue culik?" tanya Rania bingung. Ia terdiam sejenak, lalu menatap mereka satu per satu. "Bentar... Kalian bahas Zidan, Kenzie... Jangan bilang kalian nuduh gue culik Kenzie?"
"Memang kamu penculiknya! Kenapa bisa Den Kenzie ada sama kamu?" kata Wati sinis.
Arkan dan Nathan tetap diam, mengamati situasi, sementara pihak kepolisian berperan sebagai mediator.
"Ngomong apa sih, lu? Ngarang banget, deh." balas Rania tenang.
"Ada buktinya!" kata Wati percaya diri.
"Mana?" tantang Rania.
"Ini!" Wati menunjukkan foto di layar ponselnya, memperlihatkan Rania yang tengah mengendong Kenzie yang terlelap bersandar pada dadanya di rumah sakit. Arkan dan Nathan yang penasaran ikut melihat foto tersebut.
"Ini doang?" tanya Rania, menaikkan alis.
"Cuma segini? Mana bisa dijadiin bukti penculikan. Lagian, lu tahu dari mana? Lu nguntit gue?" tanyanya dengan nada menyelidik.
"Nggak!" bantah Wati cepat. "Sumber terpercaya yang kasih tahu saya."
"Oh." Rania mengangguk santai. "Terus, lu siapa?" tanyanya lagi.
"Saya pengasuhnya!" jawab Wati lantang.
"Pengasuh Kenzie?" Rania mengerutkan dahi, lalu tiba-tiba teringat luka-luka lebam di tubuh Kenzie.
"IYA!"
"Terus, dia?" Rania menunjuk ke arah Arkan dan Nathan.
"Udah dibilang beliau ini Pak Arkan, Daddy-nya Kenzie. Dan ini Pak Nathan." jawab Wati lagi.
Rania mengangguk paham. "Terus, sekarang kalian mau apa?" tanyanya, tetap tenang.
Wati mendelik kesal. Kenapa Rania bisa sesantai itu? Bahkan, sepertinya Arkan dan Nathan pun berpikiran sama.
"Saya akan serahkan penyelidikan ke pihak kepolisian." ujar Arkan tegas. "Kalau benar kamu menculik putra saya, saya pastikan kamu mendapat hukuman yang setimpal."
Rania mengangguk kecil, lalu menoleh ke arah polisi yang berjaga.
"Pak, saya juga mau buat laporan." katannya lantang. "Saya mau menuntut dia atas tuduhan penganiayaan anak di bawah umur!" serunya, sambil menunjuk ke arah Wati.
Wati langsung mengerjap kaget saat Rania menunjuknya. "Siapa yang menganiaya anak di bawah umur?" tanyanya dengan raut wajah gugup.
"Kok nanya ke gue? Lu yang paling tahu siapa orangnya, kan?" sindir Rania.
Arkan akhirnya kehilangan kesabaran. "Di mana kamu sembunyikan putra saya, Kenzie?" tanyanya tajam.
"Sembunyikan?" Rania mengulang kata itu sambil menatapnya balik. "Gak salah tuh? Zidan bawa Kenzie ke rumah saya tadi malam dalam kondisi habis demam. Terus, pagi ini dia nitipin Kenzie ke saya karena dia harus sekolah dan gak bisa urus adiknya sendiri." Rania menatap Arkan dalam-dalam. "Kenapa Zidan nitipin Kenzie ke saya, sementara ada pengasuhnya di rumah?"
Arkan terdiam.
"Mungkin karena pengasuhnya gak becus jagain adiknya, makanya Zidan lebih percaya nitipin Kenzie ke saya." lanjut Rania, kini dengan nada yang lebih kalem dan formal.
"Bohong, Pak! Saya nggak tahu kalau Den Zidan bawa Den Kenzie—"
"Kok gak tahu?" potong Rania cepat. "Situ pengasuhnya, kan? Memangnya semalam ke mana? Gak tidur sama Kenzie?"
Wati semakin gugup, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Saya... saya tidur lebih awal, Pak. Mungkin Den Zidan bawa Den Kenzie saat saya sudah terlelap." kilahnya dengan suara gemetar.
Rania mendengus. "Oh, jadi pengasuh yang seharusnya jaga anak majikannya malah tidur nyenyak tanpa tahu anak itu dibawa pergi?" Ia menyilangkan tangan di dada. "Lucu banget."
Arkan semakin mempersempit tatapannya ke arah Wati. "Kamu benar-benar tidak tahu kalau Zidan membawa Kenzie?"
"Sumpah, Pak! Saya beneran gak tahu!" Wati buru-buru menjawab, suaranya meninggi.
Rania mencibir. "Berarti kamu juga gak tahu kalau Kenzie penuh lebam pas Zidan bawa ke rumah gue?"
Wati langsung terdiam, wajahnya pucat seketika.
Arkan menegang. "Apa maksudnya ini?" tanyanya dengan suara rendah tapi penuh ancaman.
Bantu share yah gaes