NovelToon NovelToon
Ketika Pengorbanan Dipermainkan

Ketika Pengorbanan Dipermainkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:20.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.

Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.

Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.

Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.

Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 — Kekalahan yang Memalukan

.

Suara pembawa acara menggema di seluruh aula ketika proses lelang tender Danuarta Global Corporation resmi dimulai. Para peserta yang sebelumnya masih berbincang segera duduk di tempat masing-masing.

Di bagian depan, jajaran direksi telah menempati kursi mereka, termasuk Hendrik yang duduk dengan wajah tegang. Sesekali pria itu melirik ke arah Titan, kemudian mengalihkan pandangan seolah tidak ingin menarik perhatian atasannya.

Di sisi lain aula, Bara duduk berdampingan dengan Vanya. Pria itu berusaha terlihat tenang meskipun jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Baginya, tender ini bukan sekadar kesempatan mendapatkan proyek baru, melainkan juga harapan terakhir untuk menyelamatkan perusahaan yang sedang terpuruk. Ia sudah mempertaruhkan banyak hal, termasuk uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan operasional.

“Sebentar lagi semuanya akan jelas,” bisik Vanya sambil mendekatkan tubuhnya kepada Bara. Ia berusaha tersenyum meyakinkan meskipun kegelisahan mulai muncul di dalam hatinya. “Kamu tenang saja. Dengan dana seratus juta yang sudah kita keluarkan, kita sudah otomatis menang.”

Bara menoleh kepadanya dengan tatapan penuh harap. “Aku memercayaimu, Vanya. Jadi, aku harap kamu tidak mengecewakanku. Perusahaan kita sudah tidak punya banyak waktu untuk mencoba peluang lain.”

Vanya mengangguk cepat meskipun sebenarnya juga mulai khawatir setelah melihat bagaimana Hendrik berubah sikap ketika bertemu Titan. Namun, ia berusaha menyingkirkan pikiran buruk itu.

Pembawa acara kemudian menjelaskan tahapan penilaian, mulai dari kelengkapan dokumen, kemampuan finansial, hingga pengalaman peserta dalam menangani proyek berskala besar. Setelah itu, beberapa perusahaan yang mengikuti tender mulai dipanggil satu persatu untuk mempresentasikan proposal mereka.

Ketika tiba giliran perusahaan Bara pria itu mencoba mempresentasikan proposal perusahaannya dengan penuh percaya diri.

Hingga akhirnya semua peserta telah maju dan tinggal menunggu para petinggi yang sedang berdiskusi untuk memberikan penilaian.

*

*

*

Beberapa menit kemudian, pembawa acara kembali naik ke panggung. Setelah berbicara sepatah dua patah kata, pembawa acara itu mempersilakan perwakilan dari Danuarta Global untuk membacakan pengumuman hasil tender.

Suasana aula mendadak hening. Para peserta menunggu dengan wajah tegang, sedangkan Bara tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. Keringat tipis perlahan membasahi pelipisnya meskipun berkali-kali mendengar kalimat menenangkan dari Vanya.

“Setelah melalui proses evaluasi terhadap seluruh dokumen dan penawaran yang diajukan, dewan direksi Danuarta Global Corporation telah menetapkan perusahaan pemenang tender proyek pengembangan kawasan bisnis terpadu,” ujar perwakilan itu dengan suara lantang. Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan pengumuman, membuat suasana semakin menegangkan.

Bara menahan napas, sementara Vanya bahkan meremas jemarinya sendiri.

“Dengan ini, kami mengumumkan bahwa pemenang tender adalah… MAHESA KONSTRUKSI UTAMA. Selamat kepada perusahaan yang terpilih,” pungkasnya, disambut tepuk tangan dari sebagian besar peserta.

Senyum di wajah Vanya seketika lenyap. Begitu juga dengan Bara yang membeku di tempat duduknya. Mahesa Konstruksi Utama adalah rival yang selama ini selalu bersaing dengan perusahaannya dalam mendapatkan proyek-proyek besar.

“Apa?” seru Bara tidak percaya. “Bagaimana bisa?” pria itu menatap panggung berharap ada kesalahan dalam pengumuman tersebut. Namun, ketika perwakilan Mahesa Konstruksi Utama berdiri untuk menerima ucapan selamat, kenyataan itu tidak bisa lagi dibantah.

Bara langsung menoleh kepada Vanya. Wajahnya memerah menahan amarah. “Apa-apaan ini, Vanya? Bukankah kamu bilang kita pasti menang? Kenapa kita bisa kalah?” tanyanya dengan suara meninggi hingga beberapa orang di sekitar seketika menoleh ke arah mereka.

Vanya terkejut menghadapi kemarahan tersebut. “Bara, tenang dulu. Kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin ada kesalahan dalam penilaian atau—”

“Kesalahan apa?” potong Bara sambil menatapnya tidak percaya. “Kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu mengenal orang dalam. Kamu juga yang meyakinkanku untuk mengeluarkan uang demi memastikan kita mendapatkan tender ini!”

Vanya menoleh ke arah panggung di mana Hendrik berada di sana. Tanpa berpikir panjang, wanita itu bergegas berlari ke arah panggung untuk menuntut penjelasan. Namun, belum sempat Vanya membuka mulut, Hendrik berdiri dan mencekal lengannya.

“Jangan membuat keributan di sini,” bisik Hendrik sambil menarik Vanya sedikit menjauh dari orang-orang di sekitarnya. Senyum ramah yang sebelumnya ia tunjukkan kepada para peserta telah lenyap, digantikan tatapan dingin yang membuat Vanya terdiam.

“Tapi, Pak, Bapak sudah berjanji akan membantu perusahaan kami!” balas Vanya dengan suara tertahan. Ia berusaha melepaskan lengannya, tetapi cengkeraman Hendrik justru semakin kuat.

Hendrik mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat di telinga perempuan itu. “Kalau kamu berani mengungkit uang seratus juta itu, aku akan membuatmu viral.”

Vanya tersentak. Wajahnya seketika kehilangan warna ketika ia menatap Hendrik dengan mata membelalak. Ia baru hendak bertanya apa maksud perkataan pria itu, tetapi Hendrik kembali membungkuk dan menyampaikan ancaman yang jauh lebih mengerikan.

“Apa kamu mau video kita malam itu sampai ke tangan Bara?” bisiknya dengan seringai tipis. “Aku rasa dia akan sangat tertarik melihat aksimu yang begitu binal di atas ranjang.”

Darah Vanya seolah berhenti mengalir. Ia sama sekali tidak mengira pria itu merekam apa yang mereka lakukan malam itu kemudian menggunakan rekaman tersebut untuk mengancamnya.

“Pak Hendrik, Anda menipu saya?” ucap Vanya lirih dengan suara bergetar.

"Bukan aku yang menipu, tapi kamu yang bodoh!" Hendrik melepaskan lengan Vanya dan merapikan jasnya seolah tidak terjadi apa-apa. “Sebaiknya kamu kembali ke tempat dudukmu dan jangan mempermalukan dirimu sendiri,” katanya dingin sebelum berbalik meninggalkannya dengan seringai licik.

Vanya berdiri terpaku selama beberapa detik. Kedua kakinya terasa lemas. Ia takut membayangkan kemarahan Bara setelah ini, tetapi juga tidak lagi berani menuntut penjelasan tentang tender yang gagal mereka menangkan. Karena jika Hendrik benar-benar mengirimkan video itu kepada Bara, maka semua yang ia perjuangkan selama ini akan hancur.

Dengan langkah gontai, Vanya akhirnya kembali ke tempat Bara menunggu. Pria itu masih berdiri di samping kursinya dengan wajah penuh kemarahan.

“Apa kata Hendrik? tanya Bara tajam ketika Vanya tiba. “Kenapa dia tidak membantu kita seperti yang dijanjikannya?”

Vanya berusaha menyusun kata-kata, tetapi lidahnya terasa kelu. Ia tidak mungkin menceritakan ancaman Hendrik. Karena itu, ia hanya meraih tangan pria tersebut dan berusaha mengajaknya meninggalkan aula.

“Bara, lebih baik kita pergi sekarang,” katanya dengan suara tertahan. “Kita bisa membicarakan semuanya di kantor. Jangan membuat keributan di sini.”

Bara langsung menepis tangan yang berusaha menariknya. “Pergi begitu saja? Aku membutuhkan penjelasan. Kita sudah mengeluarkan banyak uang untuk tender ini, Vanya! Tetapi kenapa kita tetap kalah?”

Vanya semakin panik ketika melihat beberapa orang mulai memperhatikan mereka. Terlebih lagi Ia juga takut kalau Hendrik mendengar seratus juta yang diungkit. Ia segera meraih lengan Bara sebelum pria itu bicara lebih banyak lagi.

“Bara, tenanglah!” bisiknya dengan wajah tegang dan gelisah. “Kalau kamu terus berteriak seperti ini, semua orang akan mendengar masalah kita. Apa kamu ingin para peserta tender tahu kalau kita melakukan suap?”

Bara menepis tangan Vanya dengan kasar. “Jadi, sekarang kita harus diam? Kamu yang bilang bahwa kita pasti menang. Kamu yang mengatakan Hendrik bisa membantu kita. Tapi mana buktinya?”

.

Sementara itu, acara di atas panggung masih berlangsung.

Perwakilan Mahesa Konstruksi Utama telah berdiri di depan para peserta untuk menyampaikan sepatah kata setelah perusahaan mereka dinyatakan sebagai pemenang. Dengan senyum percaya diri, pria itu mengucapkan terima kasih kepada jajaran direksi Danuarta Global Corporation dan menyatakan kesiapan perusahaannya untuk menjalankan proyek sesuai kesepakatan.

Tepuk tangan kembali terdengar di seluruh aula. Namun, bagi Bara, suara itu justru terasa seperti ejekan yang semakin memperdalam rasa malunya.

Ia memandang tajam ke arah perwakilan Mahesa Konstruksi Utama yang berdiri di panggung. Tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dari sekian banyak perusahaan yang mengikuti tender, kenapa malah rivalnya yang menjadi pemenang?

1
Ayudya
malu kan kamu Vanya dan bara dllihat kenyataan yg ada bawa mentari dan Titan telah tunangan🥰🥰🥰🥰🥰
Ayudya
hey jalang Vanya ya jelas lah mentari bisa duduk dengan para petinggi Danuarta group lah Titan kan calon suaminya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ryuka
👍👍👍👍😍😍😍😍😍😍😍
Ayudya
siapa juga yg mau balikan ma kamu bara 🤣🤣🤣🤣😍😍
Ayudya
nah kaget kan kamu bara siapa mentari yg telah kau sakiti dan kau sia sia kan🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
jalan keluarnya ya kehancuran bara.CEO kok bego banget🤣🤣🤣🤣🤣
Siskasuryaningsih
lain kali semua barang ambel aja semua nya, jangan di tinggal kan, teros jual kan,, kan keren tu, 🤭🤭🤭🤭..
Ayudya
gercep banget babang Tristan langsung main tembak aja🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
panik panik dah kamu bara🤣🤣🤣🤣
Ayudya
nah bara kamu akan kembali jadi gembel🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
ayo mentari balaskan semua rasa sakit yg telah bara berikan.tunjukan pada bara dan Vanya kalau kamu kuat
Mundri Astuti
bener" y si Vanya ...ga kapok juga...
Lucy
moga para preman bayaran Vanya ketangkap dan dikasih pelajaran,dan kau Vanya tunggu senjata makan tuan😀😀😀
Ariany Sudjana
semoga anak buahnya Titan bisa menangkap si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
Titan Modus itu, supaya bisa dekat sama mentari 🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
segera*
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
tadi itu*
Muft Smoker
mau di bantu gx Titan ,, bntar aq ambil 🔨 🔨 🔨 dlu ,,

Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
Muft Smoker: ok klo bgtuuu ,, 👍🏻👍🏻👍🏻😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
jjiiiiaaaaah si ibu malah pesen cucu ,,
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣
Patrick Khan
gws ya anak emak🤲
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: terima kasih.
Alhamdulillah sudah baikan kok
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!