NovelToon NovelToon
Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
​Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
​Dan malam itu, doa Arga terkabul.
​Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

"Iya, Sayang. Malam ini aku memang harus pulang, tapi pikiranku seratus persen ada di kamu. Tidur yang nyenyak, ya, Cinta. Jangan lupa mimpikan aku."

Tawa renyah Arga menggema, sengaja dilepaskan sedikit lebih keras agar menabrak dinding-dinding ruang tamu yang sunyi. Pria itu melangkah masuk dengan ponsel menempel di telinga kanan, sementara mata elangnya melirik tajam ke arah ruang makan.

Di sana, di bawah pendar lampu gantung kuning yang muram, Nisa duduk diam.

Arga menaikkan sebelah alisnya. Biasanya, jika ia sudah memainkan kartu ini—menelepon Adelia dengan suara mesra di dalam rumah—naskah yang terjadi selanjutnya sangat bisa ditebak. Nisa akan membanting apa pun yang sedang dipegangnya.

Nisa akan menghampirinya dengan mata memerah, berteriak frustrasi, atau menangis histeris memohon agar Arga mengingat janji pernikahan mereka. Arga menyukai reaksi itu. Tangisan Nisa adalah validasi bahwa pria itu berkuasa, bahwa egonya di atas angin, dan bahwa Nisa hanyalah wanita lemah yang bergantung sepenuhnya padanya.

Namun malam ini, naskah itu hancur berantakan.

"Sudah dulu, ya. Nanti aku telepon lagi," ucap Arga akhirnya, mematikan sambungan dengan sedikit rasa tak puas yang mulai menggerogoti dadanya.

Hening.

Hanya ada suara detak jarum jam dari dinding dan deru pelan pendingin ruangan. Arga melepas jas kerjanya, melemparnya sembarangan ke atas sofa, lalu melonggarkan dasi dengan kasar.

Matanya tak lepas dari sosok Nisa yang masih bergeming di kursinya. Wanita itu tidak menangis. Tidak ada pundak yang bergetar menahan isak. Tidak ada kilat kemarahan di matanya yang cokelat gelap. Nisa hanya duduk menatap cangkir teh porselen yang asapnya sudah lama menghilang, seolah Arga sama sekali tidak ada di ruangan itu.

"Kamu tidak mau menyambut suamimu pulang?" sindir Arga, suaranya memecah udara dingin di antara mereka, membawa nada arogansi yang kental. "Atau telingamu mendadak tuli setelah mendengar percakapanku dengan Adel tadi?"

Nisa akhirnya bergerak. Wanita itu mengangkat wajahnya perlahan. Di bawah cahaya lampu yang temaram, wajah Nisa terlihat memucat, namun matanya memancarkan ketenangan yang tak wajar. Ketenangan sebuah samudra gelap sebelum menelan seluruh kapal yang berlayar di atasnya.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Nisa berdiri. Gaun tidur sutra panjang berwarna biru gelap yang membungkus tubuh rampingnya berdesir halus menyapu lantai marmer. Ia meraih sebuah map berwarna cokelat dari sisi meja, lalu melangkah mendekati Arga.

Tidak ada ketergesaan dalam langkahnya. Setiap tapak kakinya memancarkan ketegasan yang tak pernah Arga lihat selama satu tahun usia pernikahan mereka.

Jantung Arga tiba-tiba berdetak satu ritme lebih cepat. Map cokelat itu. Ia sangat mengenali benda tersebut. Itu adalah map yang sama, draf perceraian yang telah ia lemparkan ke wajah Nisa sebanyak lima belas kali selama berbulan-bulan terakhir. Map yang selalu berujung di tempat sampah, atau terkoyak bersama linangan air mata Nisa.

Nisa berhenti tepat satu meter di depan Arga. Wangi vanila dari tubuh Nisa tercium samar, wangi lembut yang biasanya membuat Arga merasa muak karena mengingatkannya pada ikatan perjodohan ini, namun entah mengapa malam ini terasa begitu menyesakkan dada.

"Aku sudah menandatanganinya."

Tiga kata itu meluncur dari bibir Nisa, seringan embusan angin malam, namun menghantam telinga Arga seperti godam besi.

Nisa menyodorkan map itu ke dada Arga. Karena pria itu tak kunjung mengangkat tangan saking terkejutnya, map itu nyaris merosot sebelum ditangkap Arga dengan refleks yang kaku.

"Apa maksudmu?" Nada suara Arga merendah, menutupi kebingungan yang merayap cepat mencekik tenggorokannya.

"Maksudku sudah sangat jelas, Mas Arga," jawab Nisa, suaranya begitu stabil dan bening. "Aku setuju. Kita bercerai."

Arga membeku. Matanya menatap map di tangannya, ibu jarinya mengusap tepian kertas tebal itu, lalu kembali menatap wajah istrinya.

Ia mencari kebohongan di sana. Ia mencari keputusasaan, mencari sisa-sisa isak tangis yang mungkin sedang susah payah ditahan wanita itu. Tapi nihil. Mata Nisa begitu jernih, sedingin es, dan sama sekali tidak memancarkan luka setitik pun.

"Kamu... sedang bermain-main denganku?" dengkus Arga, memaksakan seulas senyum sinis di sudut bibirnya meski rahangnya mengeras. "Berapa kali kamu merobek kertas ini, Nisa? Lima belas kali. Kamu menangis meraung-raung seolah hidupmu akan kiamat jika aku tinggalkan. Lalu sekarang kamu bilang kamu setuju? Trik macam apa yang sedang kamu siapkan kali ini?"

"Tidak ada trik, Mas." Nisa menatap lurus, tepat menusuk ke dalam manik mata Arga. "Semua poin yang kamu tulis di sana, aku menyetujuinya tanpa terkecuali. Kamu ingin perpisahan ini dilakukan tanpa ada tuntutan harta gono-gini? Aku setuju. Kamu ingin rumah ini mutlak menjadi milikmu agar kamu bisa membawa Adelia kemari dengan bebas? Aku setuju. Kamu ingin alasan perceraian kita di pengadilan nanti murni karena ketidakcocokan, bukan karena perselingkuhanmu? Aku juga setuju. Semuanya sudah kutandatangani di atas materai."

Tangan Arga yang memegang map itu tiba-tiba terasa kebas. Otaknya menolak mencerna realitas yang tersaji di depan matanya. "Kenapa tiba-tiba?" tanyanya, suaranya terdengar lebih serak dan parau dari yang ia harapkan. "Baru delapan hari yang lalu kamu menangis memohon di kakiku. Kenapa malam ini kamu berubah pikiran?"

Nisa tersenyum tipis. Sebuah senyum lelah yang sama sekali tidak menyentuh sorot matanya.

"Karena aku sudah menyerah, Mas."

"Menyerah?"

"Aku lelah menumbuhkan bunga di tanah yang sengaja kamu siram dengan racun," bisik Nisa, suaranya mengalun pahit namun tak bergetar sedikit pun. "Selama satu tahun aku berusaha. Aku menutup telinga setiap kali kamu menelepon wanita itu di depanku. Aku menelan semua makianmu. Aku membuang harga diriku ke dasar jurang, menginjak-injak perasaanku sendiri hanya untuk membuatmu menoleh padaku. Hanya untuk membuktikan bahwa aku pantas menjadi istrimu."

Nisa mengambil satu langkah mundur, seolah sedang menciptakan batas teritorial yang tak boleh lagi dilewati oleh pria di hadapannya.

"Tapi malam ini, saat mendengar tawamu untuknya... aku akhirnya tersadar." Nisa menarik napas panjang, mengembuskannya dengan rasa lega yang aneh. "Aku tidak sedang memperjuangkan cinta. Aku sedang menyia-nyiakan waktuku yang berharga untuk mengemis pada pria yang hatinya jelas-jelas tidak ada di sini."

"Jaga bicaramu, Nisa!" bentak Arga, egonya kembali tersulut hebat. "Kamu pikir kamu siapa bisa bicara begitu merendahkanku? Bukankah ini yang kamu mau dari awal? Menikah dengan pria mapan sepertiku demi keluargamu?"

"Itu obsesi orang tuamu dan orang tuaku. Bukan aku," sahut Nisa tajam, memotong kalimat Arga tanpa ampun. "Dan sekarang, aku melepaskanmu, Mas. Bukankah ini mimpimu setiap malam? Bebas dari istri yang hanya kau anggap sebagai kontrak sepihak? Sekarang kuncinya sudah kuberikan. Kamu bisa berlari pada Adelia tanpa harus repot-repot menyakiti perasaanku lagi. Karena mulai detik ini..." Nisa menatap draf di tangan Arga, lalu mengunci tatapannya pada mata suaminya, "...aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi padamu. Nol."

Dada Arga naik turun dengan cepat. Ada kemarahan yang membakar urat nadinya, namun di balik kemarahan itu, ada rasa asing yang sangat menakutkan menyelinap masuk ke dalam relung hatinya.

Ketenangan Nisa mencekiknya hidup-hidup. Sorot mata Nisa yang tak lagi memujanya, tak lagi menatapnya dengan penuh cinta, terasa seperti sebuah tamparan telak yang menghancurkan seluruh pilar keangkuhannya.

Istri yang selama ini selalu melayaninya dengan sabar, selalu mencintainya tanpa syarat, kini menatapnya seolah ia hanyalah seonggok masa lalu yang tak berguna.

"Kamu pikir aku akan menahanmu?" desis Arga, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang tak bisa ia jabarkan. "Bagus kalau kamu akhirnya sadar diri. Besok pagi, aku akan minta pengacaraku menyerahkan berkas ini ke pengadilan. Semakin cepat kamu angkat kaki dari rumah ini, semakin baik!"

"Tidak perlu menunggu besok pagi," sela Nisa.

Arga tertegun. Mulutnya sedikit terbuka. "Apa maksudmu?"

Nisa memutar tubuhnya perlahan, berjalan menuju ruang tengah. Arga baru menyadari bahwa di sudut ruangan yang tertutup bayangan itu, tepat di sebelah rak buku kayu jati, sudah berdiri sebuah koper berukuran sedang dan satu tas tangan.

"Barang-barangku sudah kukemas sejak sore tadi. Kunci rumah, kartu kredit tambahan darimu, dan cincin kawin kita... semuanya sudah kutinggalkan di atas nakas di sebelah tempat tidurmu." Nisa menarik gagang kopernya. Bunyi klik dari besi koper itu terdengar nyaring, seolah memutus benang merah tak kasatmata di antara mereka.

"Kamu... mau pergi malam ini?" Arga melangkah maju tanpa sadar, jarak di antara mereka kembali terkikis. "Kamu gila? Ini sudah hampir tengah malam! Mau ke mana kamu?!"

"Itu bukan lagi urusanmu."

"Nisa!" Arga meninggikan suaranya, memosisikan tubuhnya yang tinggi besar menghalangi jalan Nisa menuju pintu utama. Otaknya bekerja dengan sangat kacau. Kenapa Nisa harus pergi sekarang?

Ini salah. Naskahnya tidak berjalan seperti ini. Nisa harusnya tetap di sini sampai surat cerai resmi keluar. Nisa harusnya menderita sedikit lebih lama. Setidaknya, wanita itu harus menangis sekali lagi sebelum pergi.

"Minggir, Mas."

"Kamu tidak bisa pergi begitu saja dengan membawa koper malam-malam begini!" rahang Arga mengeras, matanya menatap liar ke arah koper Nisa. "Bagaimana kalau tetangga melihat? Apa yang akan mereka katakan? Kamu tetap di sini, di kamar tamu, sampai pengacaraku mengurus semuanya! Jangan membuat drama murahan!"

Nisa mendongak. Untuk pertama kalinya di malam yang panjang itu, tatapannya menyiratkan rasa kasihan yang tulus. Dan sorot kasihan itu justru membuat harga diri Arga remuk redam hingga tak bersisa.

"Drama?" Nisa tertawa pelan, sebuah tawa lirih yang terdengar sangat hampa. "Satu-satunya orang yang membuat drama di sini adalah kamu, Mas. Kamu marah karena pertunjukan yang kamu harapkan tidak terjadi. Kamu marah karena aku pergi dengan caraku sendiri, bukan dengan cara yang kamu atur. Kamu kehilangan kendali atas diriku, dan itu membuatmu ketakutan."

Arga tercekat. Lidahnya kelu. Kalimat Nisa menelanjanginya tepat di titik paling rapuh yang selalu ia sembunyikan.

Nisa menggeser posisinya, menghindari tubuh tegap Arga dengan gerakan gemulai yang acuh tak acuh. Ia meraih gagang pintu depan, menekan kenopnya, dan menariknya terbuka. Udara malam yang menggigit langsung menerobos masuk, menyapu wajah Arga yang memucat.

"Selamat tinggal, Mas Arga," ucap Nisa lembut, suaranya ditelan embusan angin malam. "Semoga kamu menemukan kebahagiaan bersama wanita yang selalu kamu agungkan itu. Karena jujur saja, setelah melihat kekalutan di wajahmu malam ini, aku menyadari satu hal yang sangat melegakan."

Nisa menoleh untuk terakhir kalinya. Rambut hitamnya tergerai acak tertiup angin, membuat siluetnya terlihat begitu rapuh namun tak terkalahkan.

"Meninggalkanmu... adalah keputusan paling membahagiakan yang pernah kubuat seumur hidupku."

Nisa melangkah keluar menembus kegelapan. Ia menarik pintu dari luar, dan pintu kayu jati itu tertutup pelan dengan bunyi klik pelan yang mematikan. Tidak ada bantingan emosional. Tidak ada teriakan histeris. Namun suara pintu yang menutup rapat itu berdengung di telinga Arga menyerupai ledakan bom yang meruntuhkan seisi rumah.

Pria itu berdiri mematung di ambang batas ruang tamu. Angin dingin yang sempat masuk masih terasa merayapi kulit tengkuknya, sementara keheningan rumah kini berubah wujud menjadi monster raksasa yang perlahan meremas paru-parunya. Arga menunduk perlahan, menatap map cokelat di tangannya yang mulai bergetar hebat.

Ia mendapatkan apa yang selalu ia teriakkan. Nisa pergi. Nisa menyerah. Nisa merelakannya untuk Adelia.

Lalu, di tengah kebebasan yang memabukkan ini, mengapa rasanya ia baru saja mencabut nyawanya sendiri?

Di luar sana, suara deru ban mobil bergesekan dengan aspal memecah keheningan malam, membawa pergi satu-satunya wanita yang diam-diam telah menjadi detak jantung rumah ini.

Arga masih mematung, menatap kosong pada map di tangannya, hingga setetes air hangat yang tak pernah ia duga jatuh dari pelupuk matanya, menodai materai di atas tanda tangan Nisa yang terlihat begitu rapi dan sempurna.

1
Bella. pr1ncess
males thor kalau nisa mau kembali sama arga padahal kan arga udah berzina sama adel kenapa tidak ada tokoh wanita yg trgas disetiap cerita sih. yg ada hanya wanita yg mengalah menye menye bosan
Bella. pr1ncess
tolong jangan k mbalikan nisa sama arga thor kalau nnti nisa balek sama arag aku udah gak minat baca
Bella. pr1ncess
bangkitlah nisa kamu masih muda jemputlah takdirmu sendiri lepaskan bebanmu semoga kamu sudah tidak mau kembali pada laki2 durjana seperti arga
Bella. pr1ncess
heh laki2 bulshit dia yg minta cerai setelah nisa mengabulkan malah marah memang laki2 hanya kamu semoga nisa vertemu laki2 baik setelah berpisah dari arga
Bella. pr1ncess
bagus nisa jadilah wanita yg tegar jangan menye2 raihlah bahagiamu sendiri jangan terus mau diinjak lelaki durjana
Turi77 Turi77
Next selanjutnya thor 🥰
merry
jgn mau rujuk nisa laki murahan kyk segala gk pnts di perjuangkan,,
Adinda
bongkar aja lngsung sama keluarganya arga jangn mau dimanfaatin
Turi77 Turi77
skrng Arga bkn,suami km lg Nisa dri pda menutupi lbh baik jujur apapun kondisi Kakek Arga,
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
Mundri Astuti
ancem aja nis....kamu beberin selingkuhan Arga klo ga ngomong sama keluarganya
ryuka
baguussss.. dijamin seruu..
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
ryuka
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥 semangat nisaa 👍👍👍👍👍
Aidil Kenzie Zie
bagus Nis harus tegas👍🏻👍🏻👍🏻
Adinda
buat keluarga arga tau biar arga dimiskinkan biar belang pelakor ketahuan
Turi77 Turi77
Alhamdulillah akhirnya cerai jga, semoga setelah ini hari mu selalu bahagia lahirdan batin Nisa 🫰🥰....janda rasa perawan mkn kedepan 🥰🥰🥰💪💪💪
MamDeyh
Nahhhhh mantaap ortu sama kakek nya dtg
ryuka
kamu ga akan pernah menang batu kali/Puke//Puke//Puke//Puke//Puke/
Sri Widiyarti
Alhamdulillah ketahuan....
Enz99
Bagus
Heni Fitoria
nah lho ketahuan....
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!