NovelToon NovelToon
Dua Pewaris Rahasia Keluarga Vasillo

Dua Pewaris Rahasia Keluarga Vasillo

Status: tamat
Genre:Mafia / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:4.7M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.

Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.

Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.

Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.

“Daddy!”

"Hah?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Lampu-lampu kota memantul di kaca gedung tinggi, menciptakan kilau yang indah, ironis bagi seorang gadis yang hidupnya baru saja dilelang.

Tasya berdiri di depan pintu suite hotel mewah lantai tiga puluh. Gaun tipis yang dikenakannya terasa seperti ejekan. Transparan hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang gemetar.

Di belakangnya, pamannya menggenggam lengannya kuat.

“Paman, tolong…” suara Tasya bergetar. “Jangan lakukan ini. Aku akan kerja apa saja. Aku bisa bantu perusahaan—”

“Diam!” bentak sang paman.

Bibinya menyilangkan tangan, wajahnya tanpa rasa bersalah.

“Perusahaan ini hampir bangkrut karena orang tuamu dulu. Sekarang kamu gantinya.” Bentak, Milan.

Merlin, anak mereka tersenyum sinis.

“Lagian kamu cuma anak pungut. Harusnya bersyukur bisa laku seratus miliar.”

Di dalam kamar itu, seorang pria tua duduk di kursi empuk dekat meja kaca. Rambutnya memutih. Senyumnya menjijikkan. Kontrak sudah tergeletak rapi di atas meja.

“Masukkan dia,” katanya santai.

Tasya meronta. “Aku mohon! Jangan!”

Namun, jarum suntik menembus lengannya. Cairan dingin mengalir ke tubuhnya. Pandangan Tasya mulai kabur saat pintu didorong terbuka dan tubuhnya dilempar masuk.

Pintu tertutup terkunci dari luar, langkah kaki menjauh tanpa ragu.

“Paman! Bibi! Tolong buka!” Tasya memukul-mukul pintu, tangannya lemah karena obat.

Tak ada jawaban, dan ketika dia berbalik perlahan. Pria tua itu berdiri, matanya menjalar rakus di balik gaun transparan yang kini terasa seperti hukuman.

“Aku sudah membayar seratus miliar untukmu,” katanya, suaranya berat dan serak. “Dan kontrak kerja sama itu akan menyelamatkan perusahaan keluarga pamanmu. Kau harus merasa terhormat.”

Tasya mundur.

“Jangan mendekat…”

Pria itu tertawa pelan dan melangkah maju.

Tasya berlari mengitari ruangan. Jantungnya berpacu. Obat bius membuat tubuhnya limbung, tapi ketakutan memberinya tenaga. Pria tua itu mencoba menangkapnya. Tangannya hampir menyentuh bahu Tasya namun,

Prang!

Tanpa sengaja, Tasya meraih vas bunga kristal di atas meja dan mengayunkannya sekuat tenaga. Vas itu menghantam kepala pria tua itu.

Suara pecahan menggema, tubuh pria itu roboh. Darah mengalir dari pelipisnya, Tasya terdiam dan tangannya gemetar.

“A-aku tidak…” napasnya memburu. Namun, ia tak punya waktu untuk menyesal. Dengan tangan gemetar, ia mencari tas pria itu. Sebuah kartu akses hotel dan kartu hitam tanpa nama jatuh ke lantai.

Tasya meraihnya, dia membuka pintu dan berlari. Namun, di ujung sana Paman dan bibinya masih berdiri. Seolah memastikan transaksi selesai.

Tasya membeku, tak mungkin ia lewat dari sana. Dengan panik, ia melihat sebuah pintu kamar terbuka sedikit. Seorang pria berjas hitam baru saja keluar dari sana dan berjalan cepat ke arah lift.

Berarti kini kamar itu kosong, pikir Tasya. Tanpa berpikir panjang, ia masuk dan menutup pintu perlahan.

Lampu kamar redup, dia bersandar pada pintu, mencoba menenangkan napasnya. Namun, aroma alkohol kuat menyeruak di udara. Perlahan, Tasya menoleh ke arah ranjang dan seketika darahnya seolah berhenti mengalir. Ada seorang pria yang terbaring di sana dan tak sadarkan diri.

Di luar kamar, pengawal yang tadi keluar sebenarnya hanya memastikan lorong aman. Tak ada yang tahu bahwa seorang gadis panik telah masuk ke dalam kamar tuannya.

Di atas tempat tidur king size itu, pria yang tadi ia kira tak sadarkan diri mulai bergerak. Tangannya yang besar dan berurat menarik dasinya kasar, seolah benda itu mencekiknya. Hawa panas menyelimuti ruangan, bukan karena suhu, melainkan karena sesuatu yang tidak beres.

Tasya perlahan menoleh, dan dunia seolah berhenti. Pria itu telah duduk setengah bangun. Tubuhnya kekar dan tegap. Kemeja putihnya terbuka di bagian dada, memperlihatkan bidang dada yang tegas. Lengan-lengannya dipenuhi tato gelap yang menjalar hingga pergelangan tangan.

Namun, bagi Tasya, semuanya terlihat kabur. Pandangannya berbayang akibat obat bius yang masih mengalir di dalam darahnya, obat yang disuntikkan Merlin ke lengannya beberapa menit lalu.

Kepalanya terasa berat dan dunia berputar. Ia memegang pelipisnya.

“Aku harus … pergi…” gumamnya pelan.

Di sisi lain, pria itu menyadari kehadiran orang asing di kamarnya. Tatapannya liar, namun ia berusaha keras untuk tetap sadar dan otot rahangnya menegang.

Seseorang telah membiusnya setelah pertemuan penting malam ini, pertemuan yang memaksanya muncul di depan publik untuk kedua kalinya sepanjang hidupnya yang tiga puluh dua tahun.

Ia jarang terlihat dan jarang memberi wajah pada namanya. Dan malam ini, ia juga menjadi korban.

“Siapa … kamu…” suaranya rendah dan berat, tertahan oleh kesadaran yang setengah hilang.

Tasya tersentak.

“A-aku minta maaf … aku salah kamar,” jawabnya cepat. “Aku akan pergi.”

Ia berbalik, berniat membuka pintu. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang, sebuah genggaman kuat menangkap pergelangan tangannya.

Tubuh Tasya tersentak. Pria itu bergerak cepat meski kesadarannya terancam hilang. Ia menarik Tasya dan dalam satu gerakan, mendorongnya ke atas kasur.

Tasya terkejut, napasnya tercekat.

“Lepaskan aku!” serunya lemah, mencoba melepaskan diri.

Namun, tenaga mereka sama-sama tidak stabil. Obat di tubuh Tasya membuat gerakannya lambat, sementara obat dalam tubuh pria itu mengacaukan kewarasannya.

Tatapan pria itu menelusuri wajah Tasya yang samar dalam pandangannya.

“Siapa yang mengirimmu…” gumamnya, suaranya serak.

Tasya menggeleng cepat.

“Tidak ada … aku hanya—”

Kata-katanya terpotong saat kepalanya semakin berat. Penglihatannya semakin buram. Ia tidak lagi yakin mana kenyataan dan mana bayangan.

Pria itu menutup mata sesaat, mencoba melawan efek racun dalam darahnya. Namun, tubuhnya terasa panas, pikirannya kacau, nalurinya tak terkendali.

Tatapan mereka bertemu, keduanya sama-sama tidak sepenuhnya sadar. Sama-sama terjebak dalam racun yang mengalir di tubuh mereka.

Tasya mencoba bangkit.

“Aku harus pergi…” bisiknya, suaranya pecah.

Namun, genggaman pria itu terlalu kuat. Tenaganya jauh lebih besar dibanding tubuh Tasya yang melemah karena obat bius. Setiap gerakan Tasya terasa lambat, berat, seolah tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri.

Pria itu mengangkat tangan, menyentuh wajah Tasya.

Sentuhan itu membuat Tasya tersentak.

“Jangan…” lirihnya.

Pandangan Tasya kabur. Wajah pria di atasnya hanya bayangan samar, rahang tegas, napas berat, kulit hangat yang terasa membakar. Ia tak bisa melihat dengan jelas siapa dia.

Pria itu menunduk, napasnya menyentuh kulit Tasya. Ada sesuatu yang tidak wajar dalam gerakannya. Ada dorongan liar yang bukan lahir dari kesadaran utuh.

Tasya memberontak, air mata mulai mengalir.

“Lepaskan aku … tolong…”

Namun, setiap tangisnya seperti tak mampu menembus kesadaran pria itu. Racun yang menguasai pikirannya mengaburkan batas benar dan salah. Naluri yang terdistorsi membuatnya bertindak bukan sebagai dirinya.

Pria bukan sedang sadar, dia bukan sedang menjadi dirinya sendiri. Namun, bagi Tasya, alasan itu tak mengurangi rasa takut.

Rasa sakit menjalar. Tubuhnya menegang, dia menangis, memohon, mencoba mendorong, tetapi tenaganya habis sedikit demi sedikit.

Tangis Tasya teredam di antara dinding tebal kamar hotel mewah itu. Di luar, Berlin tetap membeku, tak peduli pada dua manusia yang sama-sama dikhianati oleh orang-orang di sekitar mereka.

"Tolong berhenti ... itu sakit, kamu menyakitiku," mohon Tasya, tetapi tak digubris oleh pria itu.

Sementara pria itu, dalam kesadaran yang retak, seolah terjebak dalam kegelapan yang membisikkan kekuasaan dan kemenangan, seakan melihat musuh yang harus ditundukkan, bukan seorang gadis yang tak berdaya.

'Mama ... Papa, Tata telah gagal...' bisik Tasya dalam hati, memohon dan memberontak pun kini tak ada gunanya lagi, pria itu telah berhasil merengut sesuatu yang berharga darinya. Sesuatu yang sangat dijaga olehnya.

1
Yani Suryani
Alex, kamu selalu mengancam orang, sekarang Kamu diancam anakmu sendiri 😀
lenny sukmasari
Luar biasa
Yani Suryani
dulu yg penasaran Kenzo dengan Alex dan Kenzi tidak mempercayai, tapi justru sekarang setelah mengetahui kalau Alex ayahnya justru Kenzi yg paling bersemangat
Iis Kurniasih
Walaupun baca novelnya sudah tamat dr pembuatan n tudak mengikuti pd saat membuat episode ² nya ...aq acungin jempol 2 is the best pokoknya karya Mba Aisyah Alfatih ... sukses selalu Mba ttp semangat n jaga kwalitas pembuatan novel nya
kookie
lah si tasya kok diam aja dion bilang sikembar bukan anak alex, lah kamu emang tidur sama siapa aja tasya dudul
e²n
suka sama Kenzi 😍
e²n
keluarga vasillo dan rockhi di adu domba
evana gusani
baru mampir
Yani Suryani
Alex kamu ingin menguasai,lah perusahaan mu aja dibajak anak kecil aja langsung keos sok berlagak dibuat bangkrut baru nyahok lo
Yani Suryani
Tasya kenapa gak cerita detailnya sama kakeknya , kalau dia dijual terus melarikan diri
Munas Tuti
akhirnya mereja semua bahagia....selamat mbak author 👍👍
Yani Suryani
menyebalkan sekali lagi baca iklan Shopee selalu nongol berulang ulang sangat menggangu sekali, kadang sampai maki" karena geregetan,baca satu bab tapi iklan Shopee nya datang berulang ulang 😤😡
Aisyah Alfatih: 😭😭😭😭 iyakah? jadikan VIP akunnya kak, biar bebas iklan...
total 1 replies
Yani Suryani
aneh kalau tanya hal pribadi langsung didepan banyak orang itu seperti tidak proporsional dan terlalu gegabah, sedikit songong sih😁
Yani Suryani
kalau kerja dirumah sakit ya mentingin pasien tapi aneh menejernya 😁, dokter lagi menangani pasien darurat kok suruh keluar untuk penyambutan 🤦, sebenarnya bukan cerita komedi tapi menggelikan
Kenzo keberanian mu luar biasa 👍
Kenzi muka datar tapi nyalinya sedikit menciut karena perhitungan dan menyelamatkan saudaranya biar tidak kena masalah
bocil kembar yg saling melengkapi dan melindungi 😁👍
Yani Suryani
keceriaan Kenzo seperti mamanya tapi instingnya seperti Daddy nya, Kenzi muka datar dan misterius seperti Daddy nya tapi kecerdasannya seperti mamanya, bahkan membobol keamanan Daddy nya sendiri 🤭😀 biar tau rasa karena sombong beraninya meremehkan mamanya
Yani Suryani
Kenzo ini memiliki kemirip Daddy nya kalau kenzi seperti ibunya yg memiliki kemampuan yg sama juga, jadi keduanya saling melengkapi
Iis Kurniasih
is the best
Iis Kurniasih
Jalan cerita tidak bertele² ...msh enak bt dibaca n lebih mudah dimengertinya......
Munas Tuti
benernya culik balik Jessi...buang jauh2
Munas Tuti
daaah Alex jangan curiga ke mana2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!