NovelToon NovelToon
Dua Pewaris Rahasia Keluarga Vasillo

Dua Pewaris Rahasia Keluarga Vasillo

Status: tamat
Genre:Mafia / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:4.9M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

🏆🥇 Juara 1, Yaww 2026 Periode 1, Kategori 2 💞 dan Juara Tema Kreatif.



Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.

Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.

Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.

Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.

“Daddy!”

"Hah?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Lampu-lampu kota memantul di kaca gedung tinggi, menciptakan kilau yang indah, ironis bagi seorang gadis yang hidupnya baru saja dilelang.

Tasya berdiri di depan pintu suite hotel mewah lantai tiga puluh. Gaun tipis yang dikenakannya terasa seperti ejekan. Transparan hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang gemetar.

Di belakangnya, pamannya menggenggam lengannya kuat.

“Paman, tolong…” suara Tasya bergetar. “Jangan lakukan ini. Aku akan kerja apa saja. Aku bisa bantu perusahaan—”

“Diam!” bentak sang paman.

Bibinya menyilangkan tangan, wajahnya tanpa rasa bersalah.

“Perusahaan ini hampir bangkrut karena orang tuamu dulu. Sekarang kamu gantinya.” Bentak, Milan.

Merlin, anak mereka tersenyum sinis.

“Lagian kamu cuma anak pungut. Harusnya bersyukur bisa laku seratus miliar.”

Di dalam kamar itu, seorang pria tua duduk di kursi empuk dekat meja kaca. Rambutnya memutih. Senyumnya menjijikkan. Kontrak sudah tergeletak rapi di atas meja.

“Masukkan dia,” katanya santai.

Tasya meronta. “Aku mohon! Jangan!”

Namun, jarum suntik menembus lengannya. Cairan dingin mengalir ke tubuhnya. Pandangan Tasya mulai kabur saat pintu didorong terbuka dan tubuhnya dilempar masuk.

Pintu tertutup terkunci dari luar, langkah kaki menjauh tanpa ragu.

“Paman! Bibi! Tolong buka!” Tasya memukul-mukul pintu, tangannya lemah karena obat.

Tak ada jawaban, dan ketika dia berbalik perlahan. Pria tua itu berdiri, matanya menjalar rakus di balik gaun transparan yang kini terasa seperti hukuman.

“Aku sudah membayar seratus miliar untukmu,” katanya, suaranya berat dan serak. “Dan kontrak kerja sama itu akan menyelamatkan perusahaan keluarga pamanmu. Kau harus merasa terhormat.”

Tasya mundur.

“Jangan mendekat…”

Pria itu tertawa pelan dan melangkah maju.

Tasya berlari mengitari ruangan. Jantungnya berpacu. Obat bius membuat tubuhnya limbung, tapi ketakutan memberinya tenaga. Pria tua itu mencoba menangkapnya. Tangannya hampir menyentuh bahu Tasya namun,

Prang!

Tanpa sengaja, Tasya meraih vas bunga kristal di atas meja dan mengayunkannya sekuat tenaga. Vas itu menghantam kepala pria tua itu.

Suara pecahan menggema, tubuh pria itu roboh. Darah mengalir dari pelipisnya, Tasya terdiam dan tangannya gemetar.

“A-aku tidak…” napasnya memburu. Namun, ia tak punya waktu untuk menyesal. Dengan tangan gemetar, ia mencari tas pria itu. Sebuah kartu akses hotel dan kartu hitam tanpa nama jatuh ke lantai.

Tasya meraihnya, dia membuka pintu dan berlari. Namun, di ujung sana Paman dan bibinya masih berdiri. Seolah memastikan transaksi selesai.

Tasya membeku, tak mungkin ia lewat dari sana. Dengan panik, ia melihat sebuah pintu kamar terbuka sedikit. Seorang pria berjas hitam baru saja keluar dari sana dan berjalan cepat ke arah lift.

Berarti kini kamar itu kosong, pikir Tasya. Tanpa berpikir panjang, ia masuk dan menutup pintu perlahan.

Lampu kamar redup, dia bersandar pada pintu, mencoba menenangkan napasnya. Namun, aroma alkohol kuat menyeruak di udara. Perlahan, Tasya menoleh ke arah ranjang dan seketika darahnya seolah berhenti mengalir. Ada seorang pria yang terbaring di sana dan tak sadarkan diri.

Di luar kamar, pengawal yang tadi keluar sebenarnya hanya memastikan lorong aman. Tak ada yang tahu bahwa seorang gadis panik telah masuk ke dalam kamar tuannya.

Di atas tempat tidur king size itu, pria yang tadi ia kira tak sadarkan diri mulai bergerak. Tangannya yang besar dan berurat menarik dasinya kasar, seolah benda itu mencekiknya. Hawa panas menyelimuti ruangan, bukan karena suhu, melainkan karena sesuatu yang tidak beres.

Tasya perlahan menoleh, dan dunia seolah berhenti. Pria itu telah duduk setengah bangun. Tubuhnya kekar dan tegap. Kemeja putihnya terbuka di bagian dada, memperlihatkan bidang dada yang tegas. Lengan-lengannya dipenuhi tato gelap yang menjalar hingga pergelangan tangan.

Namun, bagi Tasya, semuanya terlihat kabur. Pandangannya berbayang akibat obat bius yang masih mengalir di dalam darahnya, obat yang disuntikkan Merlin ke lengannya beberapa menit lalu.

Kepalanya terasa berat dan dunia berputar. Ia memegang pelipisnya.

“Aku harus … pergi…” gumamnya pelan.

Di sisi lain, pria itu menyadari kehadiran orang asing di kamarnya. Tatapannya liar, namun ia berusaha keras untuk tetap sadar dan otot rahangnya menegang.

Seseorang telah membiusnya setelah pertemuan penting malam ini, pertemuan yang memaksanya muncul di depan publik untuk kedua kalinya sepanjang hidupnya yang tiga puluh dua tahun.

Ia jarang terlihat dan jarang memberi wajah pada namanya. Dan malam ini, ia juga menjadi korban.

“Siapa … kamu…” suaranya rendah dan berat, tertahan oleh kesadaran yang setengah hilang.

Tasya tersentak.

“A-aku minta maaf … aku salah kamar,” jawabnya cepat. “Aku akan pergi.”

Ia berbalik, berniat membuka pintu. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang, sebuah genggaman kuat menangkap pergelangan tangannya.

Tubuh Tasya tersentak. Pria itu bergerak cepat meski kesadarannya terancam hilang. Ia menarik Tasya dan dalam satu gerakan, mendorongnya ke atas kasur.

Tasya terkejut, napasnya tercekat.

“Lepaskan aku!” serunya lemah, mencoba melepaskan diri.

Namun, tenaga mereka sama-sama tidak stabil. Obat di tubuh Tasya membuat gerakannya lambat, sementara obat dalam tubuh pria itu mengacaukan kewarasannya.

Tatapan pria itu menelusuri wajah Tasya yang samar dalam pandangannya.

“Siapa yang mengirimmu…” gumamnya, suaranya serak.

Tasya menggeleng cepat.

“Tidak ada … aku hanya—”

Kata-katanya terpotong saat kepalanya semakin berat. Penglihatannya semakin buram. Ia tidak lagi yakin mana kenyataan dan mana bayangan.

Pria itu menutup mata sesaat, mencoba melawan efek racun dalam darahnya. Namun, tubuhnya terasa panas, pikirannya kacau, nalurinya tak terkendali.

Tatapan mereka bertemu, keduanya sama-sama tidak sepenuhnya sadar. Sama-sama terjebak dalam racun yang mengalir di tubuh mereka.

Tasya mencoba bangkit.

“Aku harus pergi…” bisiknya, suaranya pecah.

Namun, genggaman pria itu terlalu kuat. Tenaganya jauh lebih besar dibanding tubuh Tasya yang melemah karena obat bius. Setiap gerakan Tasya terasa lambat, berat, seolah tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri.

Pria itu mengangkat tangan, menyentuh wajah Tasya.

Sentuhan itu membuat Tasya tersentak.

“Jangan…” lirihnya.

Pandangan Tasya kabur. Wajah pria di atasnya hanya bayangan samar, rahang tegas, napas berat, kulit hangat yang terasa membakar. Ia tak bisa melihat dengan jelas siapa dia.

Pria itu menunduk, napasnya menyentuh kulit Tasya. Ada sesuatu yang tidak wajar dalam gerakannya. Ada dorongan liar yang bukan lahir dari kesadaran utuh.

Tasya memberontak, air mata mulai mengalir.

“Lepaskan aku … tolong…”

Namun, setiap tangisnya seperti tak mampu menembus kesadaran pria itu. Racun yang menguasai pikirannya mengaburkan batas benar dan salah. Naluri yang terdistorsi membuatnya bertindak bukan sebagai dirinya.

Pria bukan sedang sadar, dia bukan sedang menjadi dirinya sendiri. Namun, bagi Tasya, alasan itu tak mengurangi rasa takut.

Rasa sakit menjalar. Tubuhnya menegang, dia menangis, memohon, mencoba mendorong, tetapi tenaganya habis sedikit demi sedikit.

Tangis Tasya teredam di antara dinding tebal kamar hotel mewah itu. Di luar, Berlin tetap membeku, tak peduli pada dua manusia yang sama-sama dikhianati oleh orang-orang di sekitar mereka.

"Tolong berhenti ... itu sakit, kamu menyakitiku," mohon Tasya, tetapi tak digubris oleh pria itu.

Sementara pria itu, dalam kesadaran yang retak, seolah terjebak dalam kegelapan yang membisikkan kekuasaan dan kemenangan, seakan melihat musuh yang harus ditundukkan, bukan seorang gadis yang tak berdaya.

'Mama ... Papa, Tata telah gagal...' bisik Tasya dalam hati, memohon dan memberontak pun kini tak ada gunanya lagi, pria itu telah berhasil merengut sesuatu yang berharga darinya. Sesuatu yang sangat dijaga olehnya.

1
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
mars
dalangnya kakek tasya kah
Rani Kania
jd perbedaan umur Tasya sm Alex 10 thn gitu?
Ayu
Bagus banget 😍
Dian Paramita Dewi
Kak, salken aku Dian Mita author MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR! (38 Bab, 2,58K Popularitas, 52 Like) Baru update Bab 38: Rendy Pilih Clarissa! Mampir yuk saling Like Bab 1 nya? 🙏
Nunik Pw
garis besar ceritanya dh bagus. tp detail nya kurang
Mr T
👍
Ika Yanti Unyil
ceritanya seru abis dengan alur naik turun yang bikin baper.setiap bab panjang dengan bahasa yg enak dibaca.meaki ada beberapa typo tapi tidak begitu mempengaruhi bacaan novelnya.
berkat si kembar jenius akhirnya mereka bisa bertemu dengan ayah kandung yang ibunya sendiri tidak tahu siapa.serta bisa mempersatukan lagi 2 sahabat lama yang saling bermusuhan dengan persatuan keluarga berkat kecerdikan si kembar.
terus semangat berkarya thor ❤️🥰❤️🥰
Aisyah Alfatih: terima kasih banyak kakak ulasannya 💞 jangan lupa lanjut baca sambungannya Kakak
total 1 replies
lili Permatasari
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Yanrina Savitri
Alex cm ga impoten kl hanya dengan Tasya. Dengan wanita lain dia baru impoten. 🤣
Iya Tasya hamil lg keknya.
REY ASMODEUS
makan tuh roma kelapa
Ari Sawitri
Alex nih ga ada sayang dg anak kandungnya. yg dia pikirkan hanya ambisi dan harga diri nya saja ..
Yani Suryani
yah begitulah kalau mafia ketemu mafia saling bunuh seperti nyawa kek semut 🐜 tinggal di pijak siapa yg kuat, mengerikan
sweet candy
dari awal bab smpe skrng konflik trus,kapan bahagia,
Ari Sawitri
sebenarnya si Alex ini orang bule Jerman atau orang Indonesia sih? aku kok masih bingung🤔
sweet candy
masak sdah sejauh ini episod masih stuck di konflik tak ad ujungnya,jdi kapan mereka bahgianya
sweet candy
wanita trlalau keras kpala,katanya pintar tpi bego
sweet candy
pasti kakek tua bau tanah itu yng merencanakan smua y
sweet candy
pasti ada rencana di Roki garung
sweet candy
ini kenapa pada bodoh bngt sih,si Tasya bukannya pintar it knapa ga coba la ak,trus kata y mafia kok ga ad kekuatan ap pun,hanya kejam dengan kata2 tanpa aksi,mafi terbodoh sepanjang baca novel mafia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!