NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Akat Nikah.

Pagi itu udara Malang terasa dingin, menusuk hingga ke tulang. Sebuah bila sederhana milik keluarga Ibu Nyai berdiri sunyi di lereng yang jauh dari keramaian.

Tak ada janur kuning, tak ada tenda mewah, tak ada musik. Bahkan senyum pun terasa asing di tempat itu.

Mobil berhenti satu persatu.

Anisa turun terakhir, dengan mengenakan gamis abu tua. Wajahnya pucat, matanya sembab, jejak tangis bekas semalam tak dapat ia sembunyikan.

Langkahnya ringan tetapi jiwanya terasa berat, seakan setiap pijakan adalah perpisahan dengan hidup yang ia kenal kemarin.

Di ruang tengah Villa, terlihat semua keluarga inti sudah berkumpul.

Romo Yai.

Umi Laila.

Kedua orang tua Anisa yang semalam langsung dari Jakarta, dan beberapa saksi.

Gus Hafiz duduk tenang dengan mengenakan kemeja kemeja dipadu kain sarung gambar wayang. Wajannya tetap teduh, namun mata itu menyimpan lelah yang tak terucap. Bukan karena ragu pada syariat, melainkan karena beratnya amanah yang datang tanpa diminta.

Anisa duduk di ruang terpisah, tangannya dingin, doa-doa berhamburan di kepalanya. Ia terus berdoa agar pernikahan ini batal. Namun tak satu pun do'anya terkabulkan.

Anisa menegang saat Penghulu yang dibawa dari pondok mulai meminta pengantin pria saling berjabat tangan dengan wali nikah dari Anisa.

Suara itu terdengar lantang dan jelas. Membuat bulu kuduk Anisa merinding mendadak. Sungguh ia tak ingin semua ini terjadi.

"Ankaḫtuka wa zawwajtuka makhthûbataka bintî Anisa Fadillah bi mahri isyriina jiraaman minadz-dzahabi haalan." Ucap Fadil ayah Anisa.

Gus Hafiz menarik napas. Dengan satu tarikan satu helaan. Lantang tanpa terputus oleh Gus Hafiz.

"Qabiltu nikaahaha wa tazwiijaha bil mahril madzkuuri haalan."

Detik itu, waktu seolah berhenti.

"Sah.."

Sambut penghulu dan para saksi.

Satu kata yang biasanya membawa bahagia, kini justru menyesakkan dada Anisa.

Air matanya jatuh tanpa suara, ketika lafaz itu sampai ke telinganya. Tak ada pelukan tak ada ucapan selamat, hanya ada kegetiran di dada Anisa.

Umi Laila mendekat menatap Anisa dengan teduh.

"Nak Anisa..." panggilnya pelan.

"Kemari...duduk di sebelah suamimu."

Anisa mengangkat wajahnya, matanya sekilas menatap ke arah Gus Hafiz.

"Ayo.." bisik Umi Laila.

Anisa mengangguk, dan berjalan menggunakan lutut kearah Gus Hafiz.

Tubuhnya terasa gemetar, telapak kaki dan tangannya terasa dingin, jemarinya terasa kaku. Ia duduk berhadapan dengan Gus Hafiz, hanya berjarak satu bentangan sajadah.

Untuk pertama kalinya, mereka duduk saling me atap, bukan sebagai Ustadz dan santri, bukan lagi sebagai orang asing, melainkan sebagai suami istri.

Namun keduanya sama-sama canggung.

Bahkan keringat telihat mengalir di kening Gus Hafiz. Tanda bahwa ia sangat gugup.

"Cium tangan suamimu, Nduk" ujar Umi Laila.

Anisa memucat menatap Gus Hafiz dengan pipi memerah. Sontak Anisa menelan ludah saat Gus Hafiz mengulurkan tangannya, perlahan tangannya menyentuh tangan Gus Hafiz, ternyata bukan hanya tanga Anisa yang sedingin es, tangan Gus Hafiz bahkan basah oleh keringat dingin.

Perlahan Anisa merundukkan kepalanya, mengecup punggung tangan Gus Hafiz. Lalu dengan gugup yang terkontrol, Gus Hafiz mengangkat tangannya dan meletakkan tepat di atas kepala Anisa, gerakannya pelan, tapi terasa kaku.

"Bismillah..." ucapnya lirih.

Anisa menutup mata, napasnya tertahan di tenggorokan, saat napas Gus Hafiz menabrak wajahnya.

"Allahumma inni as'aluka min khairina..."

suaranya terdengar rendah, namun jelas.

"...wa syarri ma jabaltaha ‘alaihi wa khairi ma jabaltaha 'alaihi wa a’udzu bika min syarriha…”

Ketika doa itu selesai ia bacakan, dengan lembut Gus Hafiz meniup ubun-ubun Anisa.

Anisa yang gugup tak sadar menarik kepalanya dengan cepat.

Gus Hafiz terkejut, ia pun buru-buru menarik tangannya dari atas kepala Anisa. Namun gerakannya tetap sopan.

Seketika ruangan akad sunyi, tak ada senyum manis dari kedua pengantin. Umi Laila yang mengerti akan situasi canggung itu, mengangguk seakan memberi isyarat cukup.

***

Acara akad nikah telah usai. Doa pun sudah dipanjatkan. Tak ada acara setelahnya. Tepat pukul dia siang mereka kembali ke Ponorogo, sedangkan keluarga Anisa langsung bertolak ke Jakarta, perpisahan itu menyisakan kesedihan di hati Anisa, namun ia tak ingin memperlihatkannya.

Mobil melaju meninggalkan Vila, dengan kecepatan sedang. Jalanan Malang yang berkabut menyambut sunyi yang panjang. Tak ada suara radio dinyalakan, dan tak ada suara percakapan dibuka.

Anies duduk di kursi belakang, tepat di belakang sopir. Pandangannya lurus ke jendela, mengikuti pepohonan yang berlaku, tanpa benar-benar ia lihat. Tangannya terlipat di pangkuan, jemarinya saling meremas, menahan sesuatu di dadanya.

Sementara Gus Hafiz yang duduk di depan sesekali melirik kaca sepion yang ada di atas kepalanya, menangkap pantulan wajah Anisa. Mata itu sembab, dan tiap kali tatapan mata itu tak sengaja bertemu, Gus Hafiz segera memalingkan pandangannya kembali ke jalan.

Mobil terus melaju.

Di persimpangan kecil, mobil yang ditumpanginya melambat. Gus Hafiz akhirnya membuka suara, ia menatap Anisa dari sepion.

"Kalau capek... istirahat aja."

Anisa tersentak kaget.

"Nggih, Gus..." jawabannya pelan.

Itu saja. Tak ada lanjutan. Tak ada jawaban lain.

Anisa kembali menatap ke luar jendela.

Matanya berkaca-kaca. Hatinya dipenuhi perasaan yang saling bertabrakan, rasa takut, rasa bersalah, rasa asing pada peran yang ia sandang.

Ketika gerbang pondok pesantren terlihat dari kejauhan, napas Anisa justru semakin terasa berat, tempat itu bukan lagi sekedar asrama.

Itu rumah suaminya.

Namun belum terasa seperti rumahnya sendiri.

Mobil mulai melambat, dan berhenti di halaman ndalem yang mulai menggelap, Gus Hafiz turun lebih dulu, ia berdiri sejenak memberi ruang, Anisa turun setelahnya, tetap menjaga jarak, tak ada tangan yang terulur. Tak ada tatapan yang ditahan. Dan Anisa melangkah masuk meninggalkan Gus Hafiz yang mematung.

***

Pagi di pondok pesantren Darul Huda terasa sejuk menusuk tulang. Di dapur ndalem, sudah mulai sibuk, andi ndalem mulai sibuk meracik bumbu.

Anisa yang baru keluar kamar seusai subuhan dari masjid langsung ikut ke dapur. Ia belajar membuat teh dari Ibu Nyai langsung.

"Nduk, Masmu ndak suka teh celup, biasa Umi buatkan teh tubruk melati." jelas Umi Laila.

"Nggih, Umi." Anisa pun dengan cepat mengganti tehnya. Baru mau menyendok gula, suara Umi Laila kembali memutus geraknya.

"Gulanya satu pucuk saja, Masmu ndak suka manis-manis." Anisa mengangguk.

"Nggih, Umi."

Umi Laila tersenyum, sambil menyimpan bubuk kopi kedalam rak.

Setelah tehnya selesai. Anisa berjalan menuju meja makan.

Gus Hafiz sudah duduk rapi, sarungnya jatuh sempurna, kemeja putih bersih, ia gulung sepertiga lengan, wajahnya teduh, terlalu tenang untuk situasi yang sebenarnya tak sederhana.

Anisa meletakkan cangkir teh tepat di hadapan Gus Hafiz, wajahnya tertunduk dalam-dalam. Matanya menatap lantai, seolah lantai lebih pantas ia pandang daripada suaminya sendiri.

"Tehnya Gus..."

Gus Hafiz mengangguk. lalu menarik cangkir berisi teh melati lebih dekat.

Anisa buru-buru membalik badan, ingin kembali ke dapur, ia tak ingin berlama-lama di dekat Gus Hafiz. Tapi tiba-tiba terdengar suara datar itu.

"Temani saya sarapan." pintanya.

Sontak langkahnya terhenti seketika. Tubuhnya membeku.

"Tapi Gus..."

"Duduk..." suaranya tak keras, tapi justru itu yang membuatnya tak bisa membantah.

Anisa menelan ludah, lalu mengangguk kecil.

"Nggih Gus..."

Anisa terpaksa duduk di seberang, punggungnya tegak, tangannya terlipat di pangkuan.

Tanpa berkata apa pun, Gus Hafiz menyendok nasi dan mengarahkan ke piring Anisa.

Anisa terkejut. Reflek ia berdiri.

"Mboten, Gus. Saya ambil sendiri, ini ndak sopan" ucapnya gugup.

Tangannya hendak merebut centong nasi dari tangan Gus Hafiz.

Namun belum sempat tersentuh, Gus Hafiz menatapnya tanpa berbicara. Anisa seketika menarik kembali tangannya.

Sendok nasi di tangan Gus Hafiz berhenti di udara. Namun detik berikutnya, ia tetap menuangkan nasi ke piring Anisa. Tenang, seolah itu hal wajar di dunia.

"Cepat sarapan, sebentar lagi lonceng,"

Ujarnya tanpa ekspresi.

Anisa kembali duduk, kali ini lebih kaku dari sebelumnya.

1
Elen Gunarti
huh mlai dilema
Pa Dadan
karyanya bagus
Simkuring, Prabu
mana kelanjutannya
Alim
akhirnya
Elen Gunarti
jujur lah Anisa biar semua jelas
Alim
😭😭😭
Listio Wati
mewek baca y
Elen Gunarti
huh nyesek bingot ceritay, double up Thor
Listio Wati
kasihan bener si anisa
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
Elen Gunarti
ceritanya bgus tp up-nya lama Thor
Zizi Pedi: makasi kk🥰
total 1 replies
Elen Gunarti
kuintip bolak balik blm up🤭
Elen Gunarti
double up Thor 👍👍👍👍
Elen Gunarti
lanjut
Elen Gunarti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!