"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."
Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.
Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.
Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawa Yang Tak Pernah Didapat 16.
Setiap langkah yang diambil Firdaus menuju gedung tengah terasa seperti diseret oleh rantai besi.
Koridor sekolah yang biasanya bising karena jam istirahat mendadak terdengar seperti dengung statis di telinganya.
Pikiran cowok itu kacau. Bayangan pelipis Elsa yang berdarah dan bagaimana ringkihnya gadis itu di pelukan Aris terus berputar seperti kaset rusak.
'Gue cuma mau memastikan dia gak pingsan. Cuma itu,' bisik Firdaus pada egonya sendiri.
Dia meyakinkan diri bahwa ini adalah bentuk tanggung jawab sebagai ketua OSIS.
Langkah Firdaus melambat saat papan nama kayu bertuliskan ‘Unit Kesehatan Sekolah’ sudah berada beberapa meter di depannya.
Pintu ruangan itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah sekitar sepuluh sentimeter.
Firdaus merapatkan tubuhnya ke dinding koridor yang sepi.
Jantungnya bertalu tidak keruan. Dengan gerakan pelan yang sengaja disamarkan, dia mengintip melalui celah kaca dan tirai putih yang sedikit tersingkap.
Aroma minyak kayu putih dan alkohol langsung tercium samar.
Di atas salah satu brankar, Elsa sedang duduk bersandar. Pelipis kanannya sudah ditutupi plester putih steril.
Wajahnya masih agak pucat, tetapi matanya tidak lagi berair seperti di lapangan tadi.
Di samping brankar, Aris duduk di atas kursi plastik tanpa melepas seragamnya yang berantakan. Cowok itu sedang mengupas sebuah jeruk dengan jemari tangannya yang besar.
"Gue bilang juga apa, El. Makanya kalau di lapangan itu mata liat depan, jangan meratapi papan klip. Untung yang kena bola basket, coba kalau yang kena lemparan palu sejauh ini? Bisa pindah alam lo," omel Aris. Nada suaranya ketus, tapi tangannya dengan sangat teliti membersihkan serat-serat putih dari daging jeruk sebelum menyodorkannya ke depan mulut Elsa.
Elsa mendengus, mencoba menepis tangan Aris namun ringisannya langsung keluar karena gerakan itu menarik otot wajahnya yang memar. "Aduh... Ris, lo kalau mau nengokin orang sakit tuh minimal bawa simpati, bukan bawa ejekan. Lagian gue gak meratapi papan klip!"
"Terus meratapi apa? Meratapi cowok tiang jemuran yang berdiri di sebelah lo itu?"
Pertanyaan spontan Aris membuat gerakan Elsa membeku. Firdaus yang berada di balik pintu pun menahan napasnya seketika.
Elsa mengalihkan pandangannya ke arah jendela UKS, ekspresinya mendadak mendung. "Bukan urusan lo."
Aris menghela napas panjang. Dia tidak memaksa Elsa menjawab. Sebagai gantinya, Aris tiba-tiba meletakkan potongan jeruk itu di telapak tangan Elsa, lalu dengan nekat mengacak rambut kuncir kuda gadis itu hingga makin berantakan.
"Ih, Aris! Berantakan!" protes Elsa setengah berteriak, wajahnya merengut kesal sambil memukul lengan Aris.
"Lagian muka lo jelek banget kalau lagi mikir keras begitu," ejek Aris, lalu tiba-tiba cowok itu bangkit berdiri dan memperagakan gerakan Reno saat slip di lapangan tadi dengan sangat hiperbola.
Tubuh jangkung Aris meliuk-liuk aneh, matanya didepicingkan, dan dia mendarat di lantai UKS dengan pose menungging yang sangat konyol. "Nih, lo harusnya liat muka Reno pas bolanya lepas. Matanya melotot kayak mau copot, terus bibirnya monyong begini: 'Aduuh mampus denda ganti rugi kepala orang!'"
Elsa tertegun selama satu detik melihat tingkah ajaib cowok berandal sekolah itu. Detik berikutnya, pertahanan Elsa runtuh.
“Bwahaha! Aris, stop! Sakit perut gue, demi apa konyol banget!”
Elsa tertawa lepas. Suara tawa yang renyah, bersih, dan tanpa beban.
Tawa yang membuat matanya menyipit membentuk bulan sabit, memperlihatkan deretan giginya yang rapi, dan memunculkan lesung pipit kecil di pipi kirinya. Guncangan tawanya bahkan membuat dia harus memegangi perutnya sendiri.
Aris yang melihat itu langsung menghentikan aksi konyolnya. Cowok itu berdiri tegak, melipat tangan di dada, dan menyunggingkan senyum puas yang teramat tulus. "Nah, gitu dong. Minimal kalau pelipis lo geser, otak lo jangan ikutan geser jadi sedih terus."
Di balik celah tirai, Firdaus merasakan seluruh pasokan udara di paru-parunya lenyap seketika.
Tangannya yang bertumpu pada kosen pintu perlahan merosot. Dadanya mendadak terasa kosong, lalu sedetik kemudian dihantam rasa perih yang begitu pekat hingga membuatnya harus menggigit bibir bagian dalam demi menahan sesak.
Tawa itu.
Firdaus mengingatnya dengan sangat baik. Itu adalah tawa yang sama yang dulu selalu Elsa berikan padanya ketika Elsa memberikan bekal yang satu-satunya Daus terima karena mager ke kantin.
Namun, sudah delapan bulan ini, sejak malam terkutuk di mana Firdaus mengucapkan kata sadis di hari kelahirannya, Firdaus tidak pernah lagi mendengar tawa itu.
Setiap kali berpapasan dengannya, Elsa hanya akan menunjukkan tatapan formal atau dingin, serta keheningan yang canggung seperti di lapangan basket tadi.
Firdaus mengira Elsa telah kehilangan kemampuan untuk tertawa sebahagia itu setelah dia hancurkan hatinya.
Ternyata dia salah. Elsa tidak kehilangan tawanya. Gadis itu hanya kehilangan alasan untuk tertawa bersamanya.
Dan sekarang, Aris—cowok serampangan yang baru masuk ke kehidupan Elsa dalam hitungan minggu—dengan begitu mudahnya mengembalikan binar yang sempat padam itu.
Dari dalam ruangan, suara Aris kembali terdengar, kini melembut. "El, kalau lo butuh tempat buat cerita... atau sekadar butuh orang buat bikin lo ketawa biar gak usah mikirin si Firdaus itu, gue selalu luang. Lo gak harus selalu kelihatan kuat sendirian."
Elsa terdiam, tawa ringannya perlahan mereda menjadi senyuman tipis yang tulus. "Makasih ya, Ris. Lo... ternyata gak seburuk yang anak-anak omongin."
"Gue emang aslinya malaikat, lo aja yang telat sadar," sahut Aris narsis sambil menyugar rambut nya ke belakang hingga ia hampir terjatuh dari kursi, yang kembali memancing tawa kecil dari Elsa.
Firdaus tidak sanggup lagi mendengarnya. Setiap patah kata dan setiap gema tawa dari dalam sana terasa seperti ribuan jarum yang menusuk tepat di ulu hatinya. Menyakitkan, meremukkan ego, dan menghancurkan sisa-sisa keyakinannya.
Dia berjalan mundur perlahan, menjauh dari pintu UKS sebelum ada yang menyadari keberadaannya. Berbalik arah, Firdaus melangkah cepat meninggalkan koridor itu dengan kepalan tangan yang begitu erat hingga kuku-kukunya memutih.
Rasa sesak dan cemburu yang membakar dadanya kini bercampur dengan satu penyesalan yang teramat besar.
......................
...****************...
To be continue,