"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kondisi Kanaya
"Bagaimana kondisi anak saya dokter?" Tanya Raditya ketika dokter sudah keluar dari IGD.
"Pasien sepertinya banyak menghirup asap, jadi pernafasannya mengalami infeksi, luka bakar di kakinya tidak terlalu serius tapi kondisi detak jantung sempat lemah, jadi pasien masih harus berada dalam pengawasan selama beberapa jam ini, nanti setelah pasien di pastikan kondisinya stabil, baru bisa di pindahkan" jawab sang dokter membuat Raditya terduduk lemas
"Berdo'a Om, do'akan Kanaya dan semoga saja iblis itu tidak membiarkan masalah lain" bujuk Gerhana yang menemani Raditya di rumah sakit.
Gerhana bertemu dengan Raditya yang memang masih menginap di rumah sakit karena Hilda masih belum pulih, tapi ketika melihat Kanaya di bawa Gerhana, Raditya tiba tiba saja berteriak meminta semua perawat untuk menolong Kanaya yang dia panggil putrinya.
"Andai aku tidak membiarkan Kanaya tinggal di pesantren itu, ini mungkin tidak akan terjadi, aku tidak akan melihat putriku terluka" ungkap Raditya
"Kanaya melakukan itu karena dia tahu teman temannya dalam bahaya jika orang itu tidak di hentikan Om" ucap Gerhana
"Tapi sekarang Kanaya yang terluka, putriku terluka!" gumam Raditya frustasi
Dua jam menunggu, Kanaya sudah di pindahkan ke kamar rawat karena kondisinya berangsur membaik, Kanaya juga masih terus di pantau dokter setiap satu jam sekali untuk memastikan kondisinya baik baik saja.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam.. Irsyad, bagaimana keadaan disana?" Tanya Gerhana saat Irsyad masuk.
"Masih kacau, Kanaya bagimana?" Tanya Irsyad mendekati ranjang rawat Kanaya. Raditya berada di sampingnya masih dengan wajah yang sembab dan juga mata yang sudah bengkak akibat terus menangis sambil tak berhenti berdo'a agar Kanaya bisa lekas sembuh, Irsyad heran tapi Gerhana mengatakan kalau Raditya sedang menjadi Raditya asli.
"Infeksi saluran pernafasan kata dokter, dan kondisinya masih dalam pantauan setiap satu jam sekali" jawab Gerhana
"Kanaya akan baik baik saja Om, Kanaya anak yang kuat dan pasti Kanaya akan cepat pulih" ucap Irsyad mengusap punggung Raditya.
"Aamiin, semoga saja" jawab Raditya dan setiap kali Raditya mengucapkan kalimat tasbih atau Istighfar, ada butiran keringat hitam yang keluar dari tengkuk Raditya dan langsung di bersihkan oleh Gerhana dengan bantuan Hala.
"Aku kesini mau menanyakan apa Kanaya memegang sesuatu milik Gita? Kak Sultan terlihat linglung dan Shaquilla juga masih terus ingin melompat dari atap meski Abah yai sudah merukiyah mereka" ungkap Irsyad
"Bukannya tadi Sultan sudah baik baik saja?" Tanya Gerhana heran.
"Iya, dia kadang sadar, kadang kambuh lagi karena boneka itu masih terhubung dengan nya, boneka Shaquilla juga tapi milik Shaquilla sudah mulai terurai dan terlepas rambutnya dan Shaquilla sudah mulai mengingat kita semua" jawab Irsyad
"Kanaya terus menggenggam sesuatu di tangannya tadi, dokter juga tidak bisa membukanya, mungkin itu adalah milik Gita" ucap Gerhana
Gerhana menghampiri Kanaya dan melihat memang tangan Kanaya terkepal erat seperti sedang memegang sesuatu, Gerhana mencoba mengambilnya tapi sedikit sulit karena Kanaya menggenggam benda itu dengan begitu kencang.
"Kanaya sayang, ini papa nak, buka tangan kamu agar semua masalah ini segera selesai" bisik Raditya dan tangan Kanaya langsung terbuka.
"Tangannya terbuka kak, Om" ucap Irsyad terkejut.
Terlihat segumpal rambut menyembul dari genggaman tangan Kanaya yang mereka yakini adalah rambut Gita.
"Segera bawa kesana Irsyad, tolong Sultan dan Shaquilla" ucap Gerhana
"Kalau begitu aku pergi dulu, tolong jaga Kanaya, secepatnya aku akan kembali kesini setelah semua masalah ini selesai" jawab Irsyad.
••••••••••••
Di ruangan Sultan.
"Sultan, ingat Allah nak, kamu pasti bisa lawan guna guna itu, ingat kami semua mengkhawatirkan kamu" bisik Mirza ketika Sultan kembali linglung.
Mirza dan Aryasatya membawa Sultan kembali ke rumah tempat mereka menginap atas perintah Adrian, agar mereka bisa menolong mereka disana bersamaan karena di sanalah tempat awal Sultan menjadi terkena guna-guna.
Gita sudah di masukkan ke dalam peti mati dan di amankan oleh para santri di kamar tempat dia pertama terbakar dengan energi Adrian dan Samen melingkar di peti mati itu, karena ular yang ada dalam tubuh Gita masih terus berusaha keluar.
"Allahu... Allahu... Allahu"
"Terus baca itu nak, lawan dia dan jangan ikut dengannya" bisik Mirza terus menerus atas permintaan Adrian, agar Sultan terbiasa dengan suara Mirza yang merupakan sahabat dari ayah Sultan, bukan dengan bisik bisik Gita yang terus ada di telinganya.
"Shaquilla sudah mulai sadar Abah yai" ucap Mirza
"Buka boneka yang bertuliskan nama Shaquilla, kita akan bakar boneka itu bersama boneka milik Sultan, selanjutnya boneka lain setelah barang milik Gita yang di bawa Kanaya tiba" ucap Adrian
"Lalu jasad Gita bagaimana Opa?" Tanya Abidzar
"Kita akan kuburkan jasad itu di tempat paling aman di sini" jawab Adrian
"Dimana?"
"Air terjun mayat" jawab Adrian membuat Abidzar dan Aryasatya saling tatap.
"Itu jauh sekali Om" ucap Aryasatya
"Ini agar semuanya aman, Om lihat ular itu masih ingin mencari korban lain" ungkap Adrian
"Apa kita minta bantuan yang lain juga? Dia juga kan bisa masuk ke area gaib itu" tanya Abidzar
"Iya kita butuh Gerhana untuk membantu, karena tidak mungkin orang biasa yang mengangkat peti itu kesana" jawab Adrian
Mereka kembali terdiam, kejadian ini benar benar menguras energi mereka, hanya karena satu orang tapi dia berhasil merusak banyak orang bahkan hampir membunuh Shaquilla dan Kanaya.
"Kak Sultan..."
"Alhamdulillah... Kamu sudah ingat semuanya?" Tanya Mirza ketika Shaquilla memanggil nama Sultan setelah di rukyah ulang oleh Adrian.
"Iya.. Shaquilla ingat labrak Gita dan setelah itu Shaquilla nggak ingat apa apa lagi" jawab Shaquilla
"Alhamdulillah.. kamu terus baca tiga kul dan ayat kursi sebanyak tujuh kali ya, agar kamu selalu fokus dan tidak di bayang bayangi bisikan Gita lagi" ucap Adrian
"Iya Abah yai" jawab Chantal
Mirza membantu Shaquilla berdiri, dia juga menemani Shaquilla di kamar Sultan karena diminta untuk mandi dan berwudhu supaya semua pengaruh Gita benar benar hilang.
"Kak Sultan?"
"Insya Allah Sultan juga akan baik baik saja" jawab Mirza ketika Shaquilla sudah selesai bersih bersih dan memakai pakaiannya.
"Ayo kita kembali ke bawah, dan mendo'akan Sultan disana agar semua masalah ini berakhir" ajak Mirza merangkul Shaquilla karena Shaquilla masih terlihat sedikit lemah.