Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Cantik itu Leluhurku
Kakek Lubis berdiri kaku saat melangkah memasuki ruang utama galeri. Matanya mendadak terpana, hanya tertuju pada satu sosok wanita cantik yang berdiri di sebelah Chandra.
"Leluhur!!" teriak Kakek Lubis histeris, lalu seketika berlutut dan bersimpuh penuh hormat di hadapan Yueji.
Yueji menatap Kakek Lubis sejenak. "Kamu... keturunan Katara?"
"Benar, Leluhur! Maafkan kebodohan Lubis yang melupakan keberadaan Leluhur hingga terbengkalai penuh debu di kamar galeri!" ratap Kakek Lubis penyesalan.
Yueji mengibaskan tangannya santai. "Sudahlah. Lagipula berkat kamu, aku bisa bertemu dengan suamiku. Anggap saja kita impas."
"Terima kasih banyak atas kebijaksanaan Leluhur!"
Chandra yang bingung segera menghampiri dan menarik bahu Kakek Lubis. "Paman, kenapa malah bersujud pada istriku? Ayo bangun!"
Yueji menoleh dingin pada Kakek Lubis. "Bocah, bangkitlah dan patuh kepada suamiku!"
"Sayang, kamu tidak boleh tidak sopan seperti itu kepada Paman!" tegur Chandra lembut.
Menerima teguran itu, Yueji seketika memasang raut menggemaskan. Pipinya mengembung, bibirnya memanyun manis, lalu jemari lentiknya menyentuh dagu. "Maafkan aku, Suamiku..."
"Hah... kamu ini. Ayo Paman, bangun," ajak Chandra seraya menarik tubuh Kakek Lubis.
"Terima kasih, Leluhur," ucap Kakek Lubis berulang kali. Dia lalu berbisik pelan pada Chandra, "Chandra, kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau kamu ini suami dari Leluhurku?"
"Paman ini gila, ya? Istriku semuda dan secantik ini dibilang leluhur Paman..."
"Tapi Chandra... beliau itu bukan manusia!"
Kwak! Kwak! Kwak! (Seakan bayangan burung gagak melintas di atas kepala Chandra.)
"Ah... betul juga. Dia kan Siluman Rubah. Huft," ucap Chandra keceplosan, lalu buru-buru membungkam mulutnya sendiri.
Kakek Lubis terkekeh. "Hahaha, sudahlah. Aku sudah tahu semuanya, Chandra. Aku tidak akan memaksamu menikahi Sabrina lagi, karena sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga besar leluhur kami."
"APA?! Kamu mau menjodohkan suamiku?!" bentak Yueji mendadak dengan menyeringai tipis. Jemari lentiknya seketika mengeluarkan cakar-cakar tajam bermandikan aura ghaib.
"Ayoyoy! Aku tidak tahu kalau Leluhur seprosesif ini!" bisik Kakek Lubis gemetar pada Chandra.
Chandra menghela napas panjang. "Badanku saja sudah penuh bekas cakarnya..."
Merasa dibicarakan, Yueji langsung berganti gaya. Dia berpose ala model papan atas seraya memamerkan lekuk tubuhnya yang indah. "Tapi Suamiku... aku imut, kan?"
"Hah?!" Kakek Lubis terperanjat kaget melihat tingkah leluhurnya.
Cepat-cepat tangan Chandra melayang menutup mata Kakek Lubis. "Paman! Dia istriku, jangan dilihat!"
Kakek Lubis tertawa canggung seraya memberi hormat. "Hahaha! Aish, kamu ini! Mana berani aku berpikir macam-macam pada Leluhurku sendiri!"
Kakek Lubis merapikan pakaiannya. "Bagaimana Chandra hari ini? Apa kamu menikmati harimu sebagai pengelola galeri?"
"Tentu, Paman. Bahkan hari ini ada Marsel, sang kolektor seni terkenal itu, datang berkunjung."
"Wah, dia datang ke sini?! Kenapa tidak memberitahuku?"
"Dia sepertinya terburu-buru, Paman. Dan tingkahnya tadi... agak aneh, seperti ketakutan setengah mati."
Kakek Lubis termenung heran.
"Habisnya dia tidak sopan!" celetuk Sisi tiba-tiba.
"Benar! Aku benci dia!" timpal Yueji mengangguk setuju.
Kakek Lubis terperanjat mendengar suara wanita lain. Dia mengelus janggutnya seraya menatap Sisi. "Chandra... apa kamu merekrut karyawan baru?"
"Lah? Justru aku pikir Paman yang sengaja mengirimnya untuk membantuku di sini."
Kakek Lubis menatap Sisi dan Yueji bergantian dengan bingung.
"Bocah! Jangan buat semuanya jadi runyam! Bilang saja dayang itu memang kamu yang membawanya!" mendadak gema suara ghaib Naga Qing Long terdengar khusus di telinga Kakek Lubis.
"Ayoyoy! I-Iya, Chandra! Aku lupa memberitahumu. Iya, dia memang karyawan baru yang kusiapkan untukmu!" sahut Kakek Lubis buru-buru merubah keterangannya.
Di belakang Chandra, Sisi dan Yueji tertawa cekikikan menutup mulut.
"Ah, sudah kuduga," senyum Chandra polos. "Terus Paman, tadi Marsel membeli lukisanku seharga 1 Miliar Rupiah. Aku jadi agak tidak enak. Meskipun itu hasil karyaku sendiri, posisiku sekarang kan cuma pengelola galeri milik Paman."
"APA?! SATU MILIAR?! Lukisan mana yang kamu jual?!" Kakek Lubis melotot tak percaya.
"Yang kujual lukisan Harimau Putih, Bai Hu," jawab Chandra santai sambil tersenyum.
"APA?!" Kakek Lubis semakin syok.
"Bocah, sudahlah. Lagipula itu tidak akan berpengaruh buruk bagi kita. Adikku Bai Hu tidak seseram diriku," sela suara ghaib Qing Long lagi.
Mendengar penjelasan Naga Suci, Kakek Lubis bernapas lega. "Untung saja aku menemukan Tuan Naga duluan," batin Kakek Lubis bersyukur.
Namun, sifat serakah manusia perlahan membayang di benaknya. "Coba saja kalau aku bisa menahan semua lukisan Hewan Suci Kuno itu... pasti pengaruh dan kekuasaanku di kota ini akan jadi luar biasa mematikan!"
"BOCAH! JANGAN TAMAK!" bentak suara Qing Long menggema di batinnya. "Kamu berada di sisi Tuanku saja itu sudah jauh lebih mengerikan daripada seseorang yang memiliki keempat Hewan Suci secara utuh!"
Kakek Lubis seketika tertunduk pucat, tubuhnya gemetar ketakutan. "M-Maafkan atas ketamakan hamba, Tuan Naga... Hamba tidak tahu kalau suara batin hamba bisa terdengar..."
"Cih! Makhluk fana seperti kalian tidak ada yang bisa disembunyikan dariku! Kecuali batin Tuanku... aku bahkan tidak akan pernah berani menyelaminya!" tegas Qing Long.
Kakek Lubis tersenyum canggung menutupi ketakutannya, lalu menatap Chandra. "Chandra, uang satu miliar itu sepenuhnya milikmu! Untuk transaksi selanjutnya, kamu cukup memberiku 10 persen saja dari hasil penjualan. Anggap saja itu uang sewa galeri."
"Benarkah, Paman?! Dermawan sekali Anda!" seru Chandra dengan mata berbinar-binar.
Kakek Lubis tertawa pelan. "Haha... untung Dewa Agung ini belum menyadari identitas aslinya," gumam Kakek Lubis dalam batin.
"Sayang! Sisi! Ayo kita belanja!" teriak Chandra bersemangat.
"GOOOO!" seru Yueji dan Sisi serempak seraya mengacungkan tangan ke udara.
"Chandra, kamu mau ke mana?"
"Mau mengajak istri dan karyawan baru beli pakaian dan makanan di mall seberang, Paman."
"Aihh! Pakai saja mobilku! Hmm... ambil saja mobil itu untukmu, aku masih punya beberapa di rumah."
KLINK! Kakek Lubis melempar kunci mobil mewah ke tangan Chandra.
"Woah! Seriusan, Paman?! Ini kan Audi seri terbaru!" decak kagum Chandra menatap kunci berlogo empat cincin itu.
"Tidak perlu sungkan. Kamu kan sekarang sudah jadi bagian dari keluarga kami."
"Terima kasih banyak, Paman!"
Saking bahagianya, Chandra reflek hendak bersujud untuk mengucapkan terima kasih pada Kakek Lubis.
Namun tiba-tiba...
BOM!
Sebuah tekanan tak kasat mata yang sangat dahsyat menghantam pundak Kakek Lubis! Aura ilahi Chandra terpancar otomatis, memaksa tubuh Kakek Lubis tersungkur menempel ke lantai jauh lebih rendah dari posisi sujud Chandra!
"Aih, Paman! Aku yang berterima kasih, kenapa Paman yang malah sujud balik?" tanya Chandra bingung melihat Kakek Lubis yang mendadak tiarap di lantai.
"Sialan! Bocah Dewa ini tidak sadar bisa membunuhku secara tidak sengaja!" jerit Kakek Lubis dalam batin dengan napas terengah-engah menahan beban aura ilahi.
"Sudah... sudah! Tidak perlu sujud-sujudan, Chandra! Sekarang kalian boleh pergi!" ucap Kakek Lubis susah payah.
Chandra membantu memapah Kakek Lubis berdiri. "Baik, Paman! Sayang, come on!"
"Yuhuuuu!" Yueji dan Sisi bersorak kegirangan seraya berlari menuju pintu luar.
Kakek Lubis berdiri sambil memegangi pinggangnya yang hampir encok. "Aku harus bahagia atau ketakutan, ya? Bingung aku harus bersikap bagaimana di depan Dewa ini..." batin Kakek Lubis pasrah.
Di parkiran, Chandra berjalan memutari mobil Audi barunya dengan mata berbinar.
"Woah, interiornya mewah sekali! Sayang, lihat deh!"
Yueji mengintip ke dalam kaca mobil. "Hemm... biasa saja. Aku bisa memberimu yang jauh lebih mewah dari ini, Suamiku."
"Ah... tidak seru! Kamu tidak ada excited-nya sama sekali," desah Chandra lesu.
Melihat suaminya cemberut, Yueji merasa bersalah dan buru-buru berakting heboh. "Wah! Sayang! Luar biasa sekali mobil ini! Wah, cantiknya!"
Chandra menyipitkan mata menatap akting palsu istrinya, lalu membukakan pintu. "Sudah, masuk sana!"
"Hihihi... maaf ya, Suamiku~" ucap Yueji dengan senyuman canggung.
"Sisi, kamu duduk di belakang, ya!" teriak Chandra.
"Siap Tuan! Sisi patuh!"
"Kamu ini... aku kan bukan kaisar. Santai saja."
"Baik, Tuan!" Sisi membuka pintu penumpang belakang dan duduk manis di sana.
Chandra masuk ke kursi pengemudi. "Sayang, kamu sudah mencatat apa saja yang harus kita beli?"
"Memangnya harus dicatat dulu ya, Sayang?"
"Sayangku... meskipun sekarang kita punya banyak uang, kita tetap harus hemat. Jangan asal beli barang," nasihat Chandra seraya menghidupkan mesin.
"Emm... kalau begitu terserah Suamiku saja," jawab Yueji tersenyum manis.
"Kamu ini... sepertinya aku harus mengajarimu banyak hal tentang dunia ini nanti," gumam Chandra menggelengkan kepala.
Yueji mendadak mengepalkan tangannya bersemangat. "Iya, Sayang! Ayo kita mengobrol panjang lebar di ranjang nanti!"
"Aiiih...!" Chandra terkejut sampai memegang dadanya.
"Hihihi!" Sisi di belakang tertawa kecil seraya menutup mulut.
"Dasar... Ya sudah, kita berangkat sekarang. Sudah siap semuanya?"
"GOOOOO!"
VROOOOM!!!
Mobil Audi hitam itu melesat mulus meninggalkan area galeri menuju Mall megah di pusat kota.