"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Menari di Atas Luka
Ribuan orang di alun-alun utara berhenti bernapas pada saat yang sama, dan Dyah Ayu bisa mendengar bunyinya.
Bukan sorak. Bukan bisikan. Bunyi ribuan tarikan napas yang tertahan sekaligus, seperti angin yang tiba-tiba berhenti di tengah ladang padi.
Ia menaiki tiga anak tangga batu menuju pendapa. Kakinya telanjang. Papan jati di bawah telapak kakinya hangat oleh bara dari keempat tungku dupa, dan ia bisa merasakan abu sekam tipis di bawah tikar pandan, kasar dan kering, tempat Ki Bongkok menaburkannya sore tadi.
Sutra merah sumba itu membalut tubuhnya rapat dari dada sampai mata kaki. Tetapi lilitan yang ia buat dengan tergesa-gesa tidak serapi busana pusaka. Setiap kali ia melangkah, lipatan wiru di depan tersibak sedikit, memperlihatkan betisnya. Dan telapak kakinya.
Bekas-bekas luka dari batu-batu tebing Hutan Kancana masih ada di sana. Garis-garis merah muda yang baru mengering, menyilang di sepanjang telapak dan tumit. Di lengannya, kulit yang melepuh oleh sutra selendang saat menyeret Raja menuruni jalan setapak kambing sudah mengelupas, meninggalkan bercak-bercak yang lebih terang. Di bawah dagunya, garis tipis dari ujung Kyai Naga Sasra. Di telapak tangan kanannya, luka sumpah darah.
Ia tidak menutupi satu pun.
***
Di tepi alun-alun, di atas panggung tamu yang dihiasi janur kuning, para tamu agung duduk berjajar.
Utusan Medang Utara dengan sorban kuningnya. Para adipati pesisir dengan istri-istri mereka. Saudagar-saudagar Cina dan Keling. Brahmana Agung dengan jubah putihnya, duduk di samping gong besar yang tergantung di rangka kayu jati.
Di barisan menteri, Rakryan Wiradipa tidak lagi menyembunyikan tangannya di dalam lengan baju. Kedua tangannya kini bertumpu di atas lutut. Jemarinya mencengkeram kain.
Di panggung perempuan Keputren, Selir Ratna menutup mulutnya dengan kipas. Di sampingnya, sebuah kursi berbantal sutra hijau zamrud kosong. Permaisuri tidak hadir malam ini. Ia tidak diizinkan.
Dan di atas dampar kencana yang didirikan di tengah panggung tamu, Prabu Hayam Vira duduk dengan mahkota pusaka Kagendra di kepalanya. Ia tidak bergerak sejak Dyah Ayu muncul dari selasar. Tangannya bertumpu di lengan singgasana. Wajahnya tidak memperlihatkan apa-apa.
Tetapi Dyah Ayu, yang sudah belajar membaca setiap garis di wajah itu, melihat jemari di atas lengan singgasana. Ujung-ujungnya menekan ukiran naga sampai buku-buku jarinya memucat.
***
Gong berbunyi sekali.
Dyah Ayu mengangkat kedua tangannya. Sampur kuning gading di bahunya terentang, ujung-ujungnya terjepit di antara ibu jari dan telunjuk. Lalu ia menurunkan tubuhnya ke sembah pertama. Menghadap ke timur. Ke arah candi leluhur Kagendra.
Lambat. Sempurna. Persis seperti yang diajarkan Nyi Sumirah.
Sembah kedua. Tenggara. Sembah ketiga. Selatan.
Ia merasakan keringat pertama muncul di pelipisnya, panas dari bara dupa merambat ke kulit. Di bawah sutra merah sumba, kulitnya tetap tenang. Tidak ada semut. Tidak ada jelatang.
Sembah keempat. Sembah kelima.
Gamelan mengalun dengan irama yang lambat dan dalam. Pengendang bermain dengan sangat hati-hati, dengan seorang prajurit Sayap Dalam berdiri tepat di belakangnya.
Sembah keenam. Barat laut.
Di pinggir alun-alun, di antara kerumunan rakyat yang berdesakan, Dyah Ayu melihat wajah-wajah yang ia kenal. Pak Karto, berdiri di samping lesung panjang yang digunakan untuk upacara panen, tangannya yang besar memegang alu kayu. Mbok Sumi dengan bayinya di gendongan. Mbok Darmi. Dua dayang buangan dari dapur sesaji.
Puluhan wajah Watugaluh. Tersebar di antara ribuan orang Kagendra. Tidak ada yang memperhatikan mereka.
Sembah ketujuh.
***
Sembah ketujuh adalah putaran. Tubuh berputar perlahan di tempat, sampur terentang di kedua tangan, kepala menengadah ke bulan. Di sinilah selir dari Pajang tersandung tiga puluh dua tahun lalu.
Dyah Ayu mulai berputar.
Lalu, di tengah putaran, ia menghentakkan kaki kanannya ke papan jati.
Keras. Satu kali. Bunyi tumit telanjang di atas kayu menggema di seluruh alun-alun, memotong irama gamelan.
Pengendang tersentak. Tangannya membeku di atas kulit kendang. Gamelan goyah, kehilangan iramanya, lalu berhenti satu per satu.
Ribuan orang menahan napas lagi. Brahmana Agung setengah bangkit dari tempat duduknya.
Dyah Ayu menghentakkan kaki kirinya. Lalu kanan. Kiri. Kanan. Irama yang berbeda. Lebih cepat. Tidak teratur, seperti derap kuda yang menuruni lereng berbatu.
Dan dari pinggir alun-alun, sebuah alu kayu menghantam lesung.
Dok.
Pak Karto. Lengan sebesar batang pisang mengangkat alu itu tinggi-tinggi dan menghantamkannya lagi ke dalam lesung kayu panjang. Dok. Dok-dok. Mengikuti hentakan kaki Dyah Ayu.
Lalu alu kedua bergabung. Seorang perempuan di sampingnya. Lalu alu ketiga. Lalu tangan-tangan yang menepuk paha, menepuk dada, menepuk batang bambu.
Gejog lesung. Irama perang Watugaluh. Irama yang dimainkan perempuan-perempuan kadipaten itu setiap kali lelaki-lelaki mereka berangkat ke medan, untuk memberitahu mereka bahwa rumah masih berdiri dan akan menunggu.
Tidak ada seorang pun di Kagendra yang pernah mendengarnya. Sampai malam ini.
***
Dyah Ayu menari.
Bukan sembah. Tidak lagi. Tubuhnya merendah, lutut ditekuk dalam-dalam seperti harimau yang bersiap menerkam. Sampur di tangannya tidak lagi terentang lembut. Ia memutarnya, menyentaknya, membuat kain kuning gading itu melecut di udara seperti cambuk.
Ctas.
Ujung sampur itu melesat sejengkal di atas lantai, lalu terangkat lagi, tidak pernah menyentuh papan. Para penonton di barisan terdepan mundur tanpa sadar.
Ia berputar, dan sutra merah sumba itu mengembang di sekeliling tubuhnya, tersibak sampai ke lutut, memperlihatkan betis dan telapak kaki yang penuh luka. Ia menghentak, dan setiap hentakan menerbangkan abu sekam dari bawah tikar, abu kelabu yang berputar di udara dan tertangkap cahaya bulan seperti debu di atas medan pertempuran.
Ia mengangkat lengannya yang mengelupas ke arah bulan. Ia menurunkannya ke arah tungku dupa, begitu dekat sampai panas bara menyengat kulitnya, lalu menariknya kembali dengan sentakan yang tajam. Seperti menarik tangan dari api yang membakar balai kadipaten.
Gerakannya bercerita, dan ribuan orang yang tidak mengerti bahasa Watugaluh mengerti ceritanya.
Pasukan yang menyeberang sungai. Balai yang terbakar. Seorang perempuan yang menolak keluar dari api. Seorang anak perempuan di atas pedati tawanan, menghitung panji-panji merah.
Lalu tubuhnya bangkit. Perlahan, dari posisi merendah, kedua tangannya terangkat tinggi dengan sampur terentang lurus di antara keduanya. Kepalanya menengadah. Napasnya keras, terdengar sampai ke barisan depan, berirama dengan hantaman alu di lesung.
Bukan perempuan yang kalah. Perempuan yang masih berdiri.
Dan yang belum selesai.
***
Utusan Medang Utara menoleh ke penerjemahnya dan membisikkan sesuatu. Penerjemah itu tidak menjawab. Matanya terpaku ke pendapa.
Rakryan Wiradipa duduk kaku di barisan menteri. Wajahnya kelabu. Ia sedang menghitung sesuatu. Dyah Ayu tahu apa yang ia hitung: berapa banyak alu yang menghantam lesung malam ini, dan berapa banyak wajah Watugaluh yang ternyata berdiri di antara rakyat Kagendra. Di dapur-dapur. Di gudang-gudang. Di pasar-pasar.
Di barisan Bhayangkara di tepi alun-alun, Sayap Utara berdiri berjajar dengan topeng-topeng hitam. Dyah Ayu menyapu barisan itu dengan matanya saat berputar.
Ada satu tempat kosong di barisan depan. Tempat Senopati.
Malam Purnama Kadasa. Di ujung saluran air di tepi Kali Gending, dengan dua kuda.
Ia tidak berhenti berputar.
***
Di atas dampar kencana, Prabu Hayam Vira sudah tidak lagi duduk bersandar.
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua siku bertumpu di lutut. Matanya mengikuti setiap gerakan di atas pendapa, setiap lecutan sampur, setiap hentakan tumit yang terluka. Bibirnya sedikit terbuka. Dadanya naik-turun lebih cepat dari biasanya.
Para menteri di dekatnya tidak berani meliriknya.
Dyah Ayu berputar sekali lagi, dan matanya bertemu mata Raja itu dari seberang alun-alun.
Hanya sekejap. Di tengah putaran, di bawah bulan, dengan abu sekam yang berputar di sekelilingnya dan alu-alu yang menghantam lesung.
Ia tidak tersenyum. Ia tidak menunduk. Ia menatap Hayam Vira seperti ia menatapnya pada malam pertama, di bilik peraduan, dengan cundhuk beracun di sanggulnya.
Ini aku. Kau tidak membakar ini.
Hayam Vira berdiri.
***
Mahkota pusaka masih di kepalanya. Ia tidak melepasnya. Ia menuruni anak tangga Dampar Kencana, melangkah ke rumput alun-alun, dan berjalan lurus ke arah pendapa.
Para pengawal di sekitar panggung tamu tersentak dan bergerak mengikutinya. Ia mengangkat satu tangan tanpa menoleh. Mereka berhenti.
Rakyat yang berdesakan di jalurnya menyingkir, berlutut, bersujud. Seperti air yang terbelah. Bisikan menjalar dari satu mulut ke mulut lain, lalu mati, digantikan oleh hantaman alu yang masih bergema dari lesung.
Pak Karto melihat Raja itu datang. Ia tidak berhenti menabuh.
Dyah Ayu sedang memasuki gerakan terakhir. Putaran penuh, sampur dilepaskan dari satu tangan dan dibiarkan melayang di udara di sekeliling tubuhnya. Gerakan yang paling berbahaya. Satu kesalahan, dan ujung sampur itu akan jatuh menyentuh lantai.
Ia berputar. Sampur kuning gading itu melayang, melingkar, mulai turun.
Lebih cepat dari yang ia perhitungkan. Kakinya yang terluka terpeleset sedikit di atas abu sekam. Ujung sampur meluncur ke bawah, sejengkal dari papan jati. Sejari.
Sebuah tangan menangkapnya.
Hayam Vira berdiri di tepi pendapa. Ia sudah menaiki tiga anak tangga batu tanpa ada yang mendengar langkahnya di tengah gemuruh lesung. Ujung sampur itu tergenggam di kepalan tangannya. Tidak menyentuh lantai.
Alu-alu di lesung berhenti satu per satu.
Keheningan yang turun di alun-alun utara begitu dalam sampai Dyah Ayu bisa mendengar bara di keempat tungku dupa berderak.
Raja Kagendra berdiri di atas panggung Persembahan Sanghyang. Di tempat yang tidak pernah diinjak seorang raja dalam seratus tahun. Mahkota pusaka di kepalanya memantulkan cahaya bulan. Ia menatap perempuan di hadapannya. Napas perempuan itu masih tersengal, keringat mengalir di lehernya, dadanya naik-turun di balik sutra merah sumba.
Ia melilitkan ujung sampur itu di pergelangan tangannya sendiri. Satu kali. Dua kali. Menarik kain itu sampai Dyah Ayu tertarik selangkah ke arahnya.
Lalu ia membungkuk, menyelipkan satu lengan di bawah lutut Dyah Ayu dan satu lagi di balik punggungnya, dan mengangkatnya dari papan jati.
Ribuan orang menyaksikan dalam diam.
Brahmana Agung berdiri di samping gong besar dengan pemukul di tangan. Sembah kesembilan belum dilakukan. Gong penutup belum dipukul. Tarian itu belum selesai. Menurut adat, tarian yang tidak selesai adalah penghinaan kepada leluhur.
Lelaki tua itu menatap Raja. Pemukul gong di tangannya bergetar.
Hayam Vira menoleh ke arahnya. Hanya sekali.
"Leluhurku sudah melihat cukup malam ini," ucapnya. Tidak keras. Tetapi seluruh alun-alun mendengarnya.
Lalu ia berbalik dan menuruni tangga pendapa, dengan Dyah Ayu di dalam lengannya, menembus kerumunan yang bersujud, ke arah Gerbang Kedaton. Ujung sampur kuning gading masih melilit pergelangan tangannya, berkibar di belakangnya seperti bendera.
Dyah Ayu tidak melawan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Raja itu, di atas luka panah yang masih terbalut di balik kain kebesaran. Ia bisa merasakan jantung Hayam Vira berdetak di bawah pipinya. Keras. Cepat.
Di atas bahu itu, ia menatap ke selatan. Melewati atap-atap keraton, melewati tembok luar, ke arah Kali Gending yang tidak terlihat dalam gelap.
Di sana, jauh di tepi sungai, sebuah nyala api kecil berkedip. Satu obor. Sendirian.
Nyala itu bertahan selama tiga tarikan napas.
Lalu padam.
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..