"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Jam 10 malam. Mobil yang dikemudikan Elang berhenti di depan rumah Alisya. Rumah mewah di salah satu cluster elit di Jakarta.
Lampu kuning menerangi setiap sisi jalanan komplek yang sepi. Jangankan malam, siang pun, di perumahan seperti ini memang selalu sepi. Jarang terlihat ada interaksi antar tetangga.
Di dalam mobil, radio mati. Yang ada cuma suara AC.
Sepanjang film tadi mereka diam. Alisya ketawa pas adegan lucu, tapi pas menoleh ke samping, ia melihat Elang cuma diam, pandangannya kosong.
Pas adegan sedih, Alisya nangis, dan lagi, saat menoleh, ekspresi Elang sangat datar. Fix, kekasihnya itu tidak fokus sama sekali pada film. Elang ada disana, tapi tidak dengan hati dan pikirannya.
"Yank." Panggil Alisya sebelum turun dari mobil.
Elang nengok. "Hm?"
"Kamu berubah," kata Alisya pelan. "Sejak pulang dari Bali, aku ngerasa kamu seperti orang lain. Bukan hanya hari ini, kemarin, beberapa hari yang lalu, bahkan saat acara lamaran, kamu tak seperti Elang yang aku kenal."
Elang mencengkeram setir, pandangannya lurus ke depan. Ia tak tahu harus beralasan apa lagi pada Alisya. Dua tahun bersama, tidak mungkin gadis itu tidak ngeh dengan sedikit saja perubahannya.
Alisya menarik tangan Elang, menggenggamnya. "Ada apa, cerita sama aku?" Kedua matanya menatap Elang.
Hening.
Elang nutup mata, nafasnya berat.
"Sya," Elang menoleh.
Jantung Alisya berdetak kencang, tatapan Elang tak seperti biasanya. Ada banyak beban, seperti menyimpan masalah yang berat. "Apa ada perempuan lain? Jujur sama aku. Aku bisa ngerasain perubahan kamu." Air matanya mulai meleleh.
Elang menarik bahu Alisya, memeluknya. Ia berada dalam dilema. Satu sisi, ia tak ingin menyakiti Alisya, tapi satu sisi lagi, hati dan fikirannya penuh dengan Ilona, ia ingin memberikan seluruh hidupnya untuk Ilona, menebus dosanya.
Alisya semakin terisak. "kamu cuma milik aku, Lang. Kamu udah janji pada kedua orang tuaku untuk menjagaku. Kamu gak boleh ingkar, Lang."
"Maafin aku, Sya." Elang merasa jika terus seperti ini, Alisya akan semakin terluka.
"Enggak, aku gak akan pernah maafin kamu jika kamu ninggalin aku."
Elang melepas pelukannya, menyeka air mata di kedua pipi Alisya. Dua tahun bersama, pertengkaran kecil pasti ada, tapi belum pernah mereka sampai putus. Ia menarik nafas panjang, tangannya menggenggam kedua tangan Alisya.
"Aku mau... kita break dulu. Beberapa waktu."
Alisya syok. "Break?" ulangnya pelan, nyaris tak terdengar.
"Iya. Bukan putus, tapi jeda." Elang buru-buru jelasin. Ia tak mau tergesa-gesa mengambil keputusan, karena hubungan mereka bukan hanya antara dua orang, tapi sudah masuk ranah dua keluarga. "Aku sedang kacau, Sya. Aku perlu waktu untuk memahami diriku sendiri."
"Siapa wanita itu?" Alisya yakin, wanita lain yang membuat Elang berubah seperti ini. "Siapa, Lang?"
Elang menggeleng. "Satu bulan. Mari kita sama-sama berfikir, hubungan ini harus lanjut atau sebaiknya sampai disini saja."
"Kita?" Alisya terkekeh. "Bukan kita Lang, tapi kamu." Ia menarik tangannya dari genggaman Elang. "Aku tidak pernah ragu dengan hubungan kita. Aku tidak butuh waktu untuk mikir, karena sekarang, besok atau kapanpun, aku tetap sama. Aku mau kita bersama. Kamu Lang, bukan aku yang butuh waktu."
Elang mengangguk, merasa bersalah. "Kamu benar."
Alisya menarik handle pintu, sebelum turun, ia menoleh kembali pada Elang. "Oke, satu bulan. Selesaikan masalah kamu. Setelah itu, kembali padaku. Kembali jadi Elang yang dulu." Kata orang, ada aja cobaan menjelang pernikahan, mungkin ini salah satunya. Ia berusaha menurunkan ego, memberi waktu pada Elang, yang mungkin ingin memuaskan dulu egonya sebelum nantinya mereka menikah.
Alisya keluar, lalu menutup pintu kembali.
Elang membuka kaca mobilnya, menatap Alisya yang sekarang berdiri di depan gerbang rumahnya. "Tidur yang nyenyak, jangan lupa makan."
"Gak akan bisa." Alisya menyeka sudut mata, balik badan lalu masuk.
Elang masih disana, diam di mobil beberapa menit. Mencengkeram stir, kuat.
Di kepalanya, ada wajah Alisya yang kecewa.
Wajah Ilona yang pasrah dengan kondisinya, dengan kisah cintanya yang selalu kandas.