Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Akhirnya Bertemu Juga
Air mata Milka akhirnya luruh tanpa mampu lagi ia bendung. Langkahnya terasa ringan, tetapi dadanya begitu sesak, seolah ada sesuatu yang baru saja direnggut paksa dari dalam dirinya.
Dengan tangan bergetar, ia menarik ponsel dari tas kerjanya. Menekan panggilan pada sang komandan.
"Komandan, saya membatalkan rencana cuti kemarin ... Ya buat nanti akhir tahun aja ... Saya akan ke kantor sekarang ... Saya baik-baik saja ... Baik, terima kasih."
Ia memeriksa kunci kendaraan, ternyata karena suasana tak nyaman tadi, Milka lupa membawa kunci kendaraannya. Namun, kakinya terasa berat untuk masuk dan mengambilnya.
Ia memilih melangkah, meski tak tau arah. Yang ia tahu, ia hanya ingin menjauh dari rumah itu. Dari rumah yang baru sebulan ia tempati sebagai seorang istri, tetapi kini terasa begitu asing.
Seragam kepolisian yang melekat di tubuhnya masih tampak rapi. Dua balok emas di pundaknya masih memancarkan wibawa seorang perwira.
Namun, tak seorang pun tahu ...
Di balik seragam kebanggaan itu, hati seorang perempuan baru saja hancur berkeping-keping.
Selama ini Milka mampu menghadapi penjahat bersenjata. Mampu mengejar buronan. Mampu berdiri tegak menghadapi berbagai tekanan dalam pekerjaannya.
Tetapi ...
Ia tak pernah diajarkan bagaimana caranya menghadapi pengkhianatan dari pria yang baru sebulan lalu mengucapkan janji setia di hadapan penghulu.
"Kalau tahu dari dulu kamu lebih hebat dari dia ..."
"... aku pasti menolak dijodohkan dengan wanita itu."
Kalimat Vando kembali terngiang berulang di kepala Milka. Langkahnya semakin gontai. Air matanya kembali jatuh membasahi pipi.
.
.
.
Di saat yang sama ... Sebuah mobil SUV mewah melaju membelah jalan raya.
"Eh, lihat deh!"
Seorang pria muda berseragam putih yang duduk di kursi penumpang depan menunjuk ke arah trotoar.
"Tumben-tumbennya ada polisi jalan kaki?"
Pengemudi hanya melirik sekilas. "Terus?"
"Eh ... kayaknya dia lagi nangis, deh."
Ucapan itu membuat pria yang duduk di kursi belakang perlahan mengangkat pandangan dari tablet yang sedang dibacanya. Tatapannya beralih ke luar jendela.
Di balik kaca mobil yang sedikit gelap, matanya menangkap sosok seorang polisi wanita yang berjalan sendirian.
Seragam itu ... Langkah itu...
Dan wajah yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya. Pria itu membeku.
"Milka ..."
Suara rendahnya nyaris tak terdengar. "Milka Tera Wijaya."
Dua pria di depan langsung saling berpandangan.
"Lho ... bukannya itu—"
"Yang Bos suka waktu SMA?" sambung rekan di sebelahnya.
Pria di kursi belakang tak menjawab. Tatapannya tak pernah lepas dari sosok Milka yang berjalan dengan kepala tertunduk. Sudah bertahun-tahun ia membayangkan pertemuan itu.
Namun bukan yang seperti ini.
Bukan ketika perempuan yang selalu ia kenang dengan senyum cerahnya kini berjalan sendirian tanpa menatap arah.
"Putar balik."
Nada suaranya tetap tenang. Namun, cukup membuat pengemudi segera memutar kemudi tanpa bertanya lagi. Mobil berhenti beberapa meter di depan Milka.
Pria itu melepas jas putih yang sejak tadi dikenakannya. Ia merapikan kerah kemeja, mengacak sedikit rambutnya agar tidak terlihat terlalu formal, lalu menatap bayangannya di spion depan mobil.
"Aku nggak boleh membuatnya merasa canggung."
Ia mengambil dompet dari saku celananya. Sebuah ide sederhana muncul di kepalanya.
"Aku butuh alasan untuk menghentikannya."
"Bos?" Dua orang yang duduk di bagian depan mobil saling bertatapan.
"Kalian tetap di sini," perintahnya.
"Siap."
Pria itu keluar dari mobil. Langkahnya tenang hingga memastikan Milka tepat berada di belakangnya.
Sekitar dua meter di depan Milka, ia sengaja menjatuhkan dompet dari genggamannya, lalu terus berjalan seolah tidak menyadarinya.
Bruk.
Dompet kulit berwarna hitam itu jatuh tepat di hadapan Milka. Langkah Milka otomatis terhenti. Ia langsung memungut dompet tersebut, lalu mempercepat langkah.
"Maaf ... Permisi ..."
Suara seraknya terdengar lirih. Pria itu berhenti dan menoleh perlahan.
"Ya?"
Milka mengulurkan dompet itu. "Dompet Anda terjatuh."
Pria itu menerima dompet tersebut. Belum sempat melanjutkan drama yang akan dimainkan, ternyata gadis incarannya itu berlalu begitu saja.
*Bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣