Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Arsy terdiam.
Langit malam mendadak terasa lebih berat dan menekan dadanya. Kata-kata Omar masih menggema di kepalanya, satu per satu, seperti palu yang menghantam lapisan pertahanan yang selama ini Arsy bangun rapat-rapat. Tubuhnya kaku, kakinya seolah kehilangan daya untuk melangkah. Tangannya yang sejak tadi mencengkeram tali tas perlahan melemas. Selama ini ternyata ada seseorang yang mencintainya dengan cara seperti itu.
Arsy menunduk. Air matanya jatuh satu per satu dan membasahi ujung sepatunya. Dadanya terasa sesak, bukan karena sakit, tapi karena kesadaran yang terlambat datang. Ia teringat setiap kali hidupnya terasa runtuh, selalu ada jalan yang terbuka, selalu ada tangan tak terlihat yang menariknya kembali ke permukaan. Dan kini ia tahu, tangan itu bernama Syakil.
“Ya Allah…” bisik Arsy lirih dengan suaranya yang nyaris tak terdengar. “Betapa bodohnya aku yang tidak bisa melihat kehadiran seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku.”
Bayangan Syakil terlintas di kepala Arsy. Wajahnya yang selalu terlihat tenang dan peduli. Caranya berbicara yang lembut namun tegas. Cara ia memandang Arsy sebagai sesuatu yang paling berharga, dan bagaimana dirinya yang hampir pergi meninggalkan semua itu begitu saja, membuat Arsy menyesal. Ia mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, hidungnya tersumbat, tapi kini ada sesuatu yang berbeda di sana. Sebuah penyesalan, rasa bersalah dan ketakutan yang nyata—takut kehilangan Syakil karena keputusannya sendiri.
“Apa… apa yang akan terjadi padanya,” suara Arsy bergetar saat akhirnya berbicara, “kalau aku benar-benar pergi?”
Omar terdiam sesaat. Rahangnya mengeras, bukan karena marah, melainkan karena ia terlalu mengenal tuannya.
“Saya tidak tahu pasti, Nyonya,” jawab Omar jujur. “Tapi saya tahu satu hal. Tuan Syakil bukan tipe laki-laki yang akan menyalahkan siapa pun selain dirinya sendiri.” Kata-kata itu membuat dada Arsy terasa semakin perih. “Dia akan berpikir bahwa semua yang ia lakukan belum cukup,” lanjut Omar pelan. “Bahwa cintanya tidak layak diperjuangkan. Dan bagi seseorang seperti Tuan Syakil, pemikiran seperti itu jauh lebih menyakitkan daripada penolakan secara langsung.”
Arsy memejamkan matanya. Ia membayangkan Syakil terbangun dan mendapati rumah itu kosong. Tak ada dirinya, pesan ataupun penjelasan. Hanya kesunyian yang membentang panjang, sama seperti malam-malam yang mungkin akan ia jalani seorang diri. Tidak. Arsy tidak sanggup membayangkannya jika itu sampai terjadi pada syakil.
Perlahan, Arsy mengangkat tangannya dan mengusap air mata di wajahnya sendiri lalu menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Tas besar di tangannya kini terasa seperti beban yang tidak lagi ingin ia bawa.
“Omar…” ucapnya pelan.
“Ya, Nyonya?”
“Terima kasih,” kata Arsy dengan suara lirih namun tulus. “Terima kasih sudah menghentikan aku. Terima kasih sudah jujur dan memberitahu semua ini kepadaku.” pinta Arsy yang membuat Omar menatap Arsy, dengan tatapan matanya yang melembut.
“Saya hanya melakukan apa yang seharusnya, Nyonya. Saya tidak mau melihat tuan Syakil kehilangan cinta sejatinya dan menghabiskan seluruh hidupnya dalam kesendirian.” kata Omar yang membuat Arsy menggeleng pelan.
“Tidak. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku sudah membuat kesalahan terbesar dalam hidupku.” Arsy menarik napas, lalu menegakkan tubuhnya. Ada ketegasan baru dalam sikapnya, meski matanya masih basah oleh air matanya. “Aku sadar sekarang,” lanjut Arsy. “Aku terlalu fokus pada rasa sakit ku sendiri sampai lupa melihat siapa yang selama ini berdiri di sampingku.”
Omar tersenyum tipis. Senyum yang mengandung kelegaan mendalam.
“Lalu bagaimana dengan keputusan Nyonya sekarang?” tanya Omar dengan hati-hati.
Arsy menoleh ke arah pintu kontrakan. Rumah kecil itu kini tak lagi terasa menyesakkan. Di dalamnya ada seorang laki-laki yang tertidur dengan penuh rasa kelelahan, setelah mengorbankan begitu banyak hal tanpa pernah meminta balasan.
“Aku tidak akan pergi,” jawab Arsy mantap. “Aku akan tinggal. Aku akan menemani Syakil dan menjadi istrinya, sebaik yang aku bisa.”
Arsy menelan ludah, lalu melanjutkan dengan perkataannya dengan suaranya yang lebih pelan namun penuh tekad.
“Mungkin aku belum bisa mencintainya sekarang. Tapi aku berjanji akan berusaha untuk mencintai suamiku dengan cinta yang sama begitu besarnya dengan cinta yang ia miliki untukku. Aku tidak akan lari lagi dari takdir yang tuhan berikan untukku.”
Omar menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Bahunya terasa lebih ringan.
“Terima kasih, Nyonya,” ucapnya tulus. “Terima kasih sudah memberi Tuan Syakil kesempatan.”
Arsy tersenyum kecil, meski air mata masih menggenang di pelupuk matanya.
“Terima kasih juga sudah menjaga dia selama ini, Omar.”
Malam itu terasa berbeda. Setelah percakapan itu berakhir, Arsy melangkah kembali menuju ke kontrakannya. Tangannya terlihat gemetar saat memegang gagang pintu, namun kali ini bukan karena ingin pergi, melainkan karena ia takut terlambat menyadari semua ini. Ia masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan. Menutup pintu tanpa suara, lalu berdiri sejenak di ruang tengah. Suasana sunyi kembali menyambutnya, tapi bukan sunyi yang menyakitkan. Lebih seperti keheningan yang memberi ruang baginya untuk berpikir.
Langkah Arsy membawanya kembali ke kamar. Ia membuka pintu kamarnya perlahan.
Lampu kamar masih menyala dan suaminya itu masih tertidur di atas ranjang dengan posisinya yang tidak banyak berubah. Wajahnya tampak sangat lelah, namun tetap tenang. Arsy berdiri di ambang pintu, menatapnya lama, seolah ingin menghafal setiap detail wajah laki-laki itu.
“Mas…” bisiknya lirih, hampir seperti angin yang lewat. Ia melangkah masuk dan menutup pintu kembali. Meletakkan tas besarnya di sudut kamar dan jauh dari ranjang, seolah menandai bahwa ia tidak akan lagi menggunakannya untuk pergi.
Perlahan, Arsy naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi Syakil. Ia memiringkan tubuhnya dan menghadap suaminya itu. Jarak mereka sangat dekat, cukup dekat hingga ia bisa mendengar napas Syakil yang teratur. Arsy menatap wajah itu dalam waktu yang lama. Ia teringat dengan perkataan ayahnya.
“Syakil itu laki-laki baik, Arsy. Ayah yakin, dia akan menjagamu.”
Dulu Arsy hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan makna di balik kata-kata itu. Tapi sekarang, setelah semua yang ia dengar dari Omar, setelah semua yang ia lihat dan rasakan sendiri, Arsy tahu. Ayahnya benar. Syakil bukan hanya laki-laki baik. Ia adalah laki-laki yang mencintainya dengan cara diam diam dan paling setia.
Perlahan, tanpa sadar, Arsy mengangkat tangannya. Jemarinya tampak gemetar saat menyentuh wajah Syakil. Ia mengusap pelan pipi itu, nyaris tak berani, seolah takut membangunkannya.
“Maaf…” bisiknya. “Maaf karena aku hampir meninggalkanmu.”
Air mata kembali jatuh di pipi Arsy, namun kali ini terasa berbeda.
“Terima kasih,” lanjut Arsy dengan lirih. “Terima kasih karena selalu ada buat aku. Bahkan saat aku sendiri belum tahu harus ke mana.” Tangan Arsy berhenti di sana. Ia menatap Syakil dengan mata yang kini penuh tekad. “Aku tidak tahu bagaimana caranya mencintai dengan cepat,” ucap Arsy pelan. “Tapi aku berjanji, aku akan belajar. Aku akan berusaha mencintaimu dengan caraku sendiri, mas.”