Sepuluh tahun pernikahan, tujuh tahun penantian panjang yang diwarnai doa dan air mata, hingga akhirnya Aira lahir sebagai keajaiban pertama bagi pasangan Nala (30 tahun) dan Arka (33 tahun).
Arka, seorang Lead Structural Engineer yang tegas, kaku, dan biasa menaklukkan proyek-proyek raksasa di lautan lepas, harus merelakan seluruh gengsinya runtuh tanpa sisa saat melangkah pulang. Kepulangannya ke rumah justru disambut kepolosan Aira (3 tahun) yang cadel dan dengan polosnya memanggil sang ayah "Om asing yang keluar dari HP".
Di saat Arka sibuk meluluhkan hati putri kecilnya dan memanjakan Nala setelah bertahun-tahun terpisah jarak, kebahagiaan mereka kembali diuji dengan kejutan indah: kehadiran calon bayi kedua mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odee_eeeee15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar ngikat rambut
Setelah hukuman berdiri menghadap tembok selesai, Arka langsung membawa Aira ke kamar mandi untuk dibilas dari sisa-sisa tepung terigu yang menempel di badan dan rambutnya. Sementara itu, Nala yang masih lemas dan mual luar biasa sudah tertidur pulas di kamar utama untuk beristirahat total, sama sekali tidak tahu-menahu soal kehebohan yang akan terjadi di kamar Aira.
Begitu selesai dibilas, Aira yang sudah wangi dan mengenakan piyama gambar kelinci duduk manis di tepi tempat tidur. Di belakangnya, Arka berdiri tegap siap mengendalikan alat di tangannya: hair dryer alias pengering rambut warna pink milik Nala.
WUUUUUSSSSHHH!
Suara mesin pengering rambut berhembus kencang. Arka dengan sangat hati-hati mengarahkan angin hangat itu ke kepala Aira. Rambut halus balita tiga tahun itu terbang berkibar-kibar menutupi seluruh wajahnya.
Aira cuma diam pasrah. Matanya merem-melek, bibirnya mengerucut diam tanpa bersuara sedikit pun, membiarkan Papanya mengacak-acak rambutnya ke kiri dan ke kanan.
"Sabar ya, Anak Pintar... Dikit lagi kering kok," gumam Arka serius, matanya fokus luar biasa seolah sedang mengawasi pengecoran semen di proyek.
Setelah sepuluh menit berjuang, Arka mematikan pengering rambut. Hasilnya? Rambut Aira mekar mekar ke segala arah mirip singa kecil yang baru bangun tidur!
Aira perlahan menengok ke cermin di meja hias, lalu menatap Papanya lewat pantulan cermin dengan tatapan datar dan diam tanpa ekspresi.
"Papa ..." panggil Aira pelan dengan suara polosnya.
"Iya, Sayang?" sahut Arka lembut.
"Aila kok jadi kayak burung hantu?" tanya Aira singkat.
Arka terkekeh canggung sambil menepuk jidatnya. "Eh... he he, maaf ya, Nak. Nanti kan mau dikuncir sama Papa biar rapi dan cantik!"
Arka mengambil sisir pink dan satu bungkus karet gelang warna-warni. Pria tegap berotot yang terbiasa memegang gambar rancangan bangunan dan besi baja itu mendadak gemetaran memegang sisir kecil dan karet gelang mungil di tangannya.
"Nah, Aira diam ya... Papa mau kuncir dua. Biar rapi, biar gak mengganggu mata Aira," ujar Arka penuh semangat.
Aira kembali diam penurut. Bocah kecil itu membelakangi Arka, duduk bersila dengan tenang di atas kasur, membiarkan Papanya mencoba mengendalikan rambutnya.
Arka mulai membagi rambut Aira menjadi dua bagian. Namun, jari-jari besarnya terasa sangat kaku. Rambut Aira yang halus dan licin berkali-kali lepas dari genggamannya begitu mau diikat.
"Aduh... kok lepas lagi sih?" bisik Arka mulai panik sendiri.
"Papa ..." panggil Aira pelan tanpa menengok.
"Iya, Nak? Sebentar ya, ini karetnya agak licin..."
"Papa bisa gak?" tanya Aira menohok.
"Bisa dong! Papa kan Engineer! Masa ngikat rambut balita aja gak bisa!" balas Arka gengsi.
Arka mencobanya lagi dengan tenaga ekstra. Diputarnya karet gelang itu dengan susah payah. Tapi bukannya rapi, kunciran sebelah kanan posisinya tinggi banget dekat telinga, sedangkan kunciran sebelah kiri malah melorot ke dekat leher!
Aira yang dari tadi diam memperhatikan gerakan canggung Arka di cermin perlahan menoleh ke belakang. Tatapan matanya jernih dan polos, menatap Papanya yang sudah mandi keringat dingin.
"Papa ..." panggil Aira lagi.
"Iya, Aira sayang?"
"Papa gak bisa nguncir ya?" ulang Aira dengan nada sangat polos tapi membunuh pertahanan Arka.
"Eh... bi-bisa kok! Ini sedikit lagi selesai!" sahut Arka membela diri sambil mencoba melepas karet yang malah melilit makin kencang.
Aira cuma menghela napas pendek, lalu kembali diam dan menatap lurus ke tembok depan dengan muka pasrah. "Papa mendingan bangun gedung aja deh... jangan bangun kunciran Aila..."
DEG!
Arka membeku kaku di tempat. Kalimat singkat dari putrinya yang dari tadi cuma diam itu benar-benar menyengat ulu hati Arka!
"Bisa kok, Nak! Lihat nih, tinggal diputar sekali lagi!" seru Arka tidak mau kalah.
Arka memutar karet gelang itu berkali-kali sampai sangat ketat. Namun, karena diikat terlalu kencang dan posisinya miring, kulit kepala Aira mendadak tertarik ke atas. Alis sebelah kanan Aira terangkat tinggi secara otomatis!
Aira memegang kepalanya, matanya berkedip-kedip kaget. "Aduh... Aduh! Papa !"
"Kenapa, Nak?! Ada yang lepas?!" panik Arka.
"Kencang banget, Papa !" ringis Aira sambil menunjuk alisnya di cermin. "Lihat nih! Alis Aila sampai naik sebelah! Aila jadi kayak orang galak!"
"Eh?! Maaf, maaf, Nak!" Arka panik setengah mati. Jari-jari besarnya berusaha melepas karet gelang itu kembali, tapi karena diikat terlalu banyak putaran, karetnya malah makin tersangkut rapat dan menggumpal di rambut halus Aira.
"Aduh... aduh... sakit Papa..." bisik Aira sambil memegangi kepala dengan mata berkaca-kaca.
Arka yang sudah kewalahan, pusing, dan panik melihat Aira mau menangis akhirnya memegangi kepalanya sendiri dengan kedua tangan. Pria tegap berotot itu terduduk lemas di kasur dengan raut wajah sangat frustrasi.
"Aduh, gak bisa, Nak... Papa gak bisa! 😭😭" keluh Arka pasrah dengan wajah memelas. "Tangan Papa kebesaran, gak bisa nguncir rambut kecil begini! Pusing kepala Papa!"
Aira yang tadinya mau menangis karena kepalanya tertarik kencang, mendadak diam saat melihat Papanya yang tegap dan kekar itu malah merengek pasrah di depannya.
Aira berbalik menghadap Arka. Tangan mungilnya menepuk-nepuk paha tegap Arka dengan lembut, lalu menghibur Papanya dengan wajah sangat polos.
"Gak apa-apa, Papa ..." bisik Aira pelan dan lembut. "Gak usah pusing... Nanti Aila dipotong gundul aja kayak Om yang di proyek Papa, biar Papa gak usah kuncir-kuncir lagi!"
PRANGGG!
Serasa ada petir di siang bolong mendengarnya. Arka langsung membelalak panik, memegangi kedua bahu Aira.
"Jangan gundul dong, Nak! Nanti cantiknya hilang!" seru Arka panik.
"Ya habisnya Papa pusing..." celoteh Aira santai. "Daripada Papa pusing tlus cepat tua, mending Aila gundul aja! Nanti Aila pakai topi kayak Pak Tani!"
Arka cuma bisa menyandarkan dahi tegapnya di bahu mungil Aira, menghela napas pasrah mengandalkan keajaiban agar rambut anak kesayangannya ini bisa lepas dari gumpalan karet tanpa harus membangunkan Nala yang sedang istirahat.
(Hari ini Papa coba keringkan lambut Aila pakai alat angin tlus coba kuncil dua! Tapi Papa gak bisa-bisa sampai pusing sendiri! Kuncirannya bikin alis Aila naik sebelah kayak orang galak. Papa akhirnya menyerah tlus Aila usul mau dipotong gundul aja biar Papa gak pusing!)
sekarang mama Nala ,juga ikut dramatis
mau di bilang benar tapi nggak benar juga