Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTEMU KAISAR
"Sudah, simpan rasa cemas mu itu, mending kamu bantu aku merapikan gaunku sekarang, kereta sebentar lagi sampai," perintah Aura.
"B-baik, Nona!" jawab Sora sigap, berdiri sedikit untuk merapikan lipatan gaun malam biru lembut milik Aura yang tampak sangat elegan.
Tidak berapa lama kemudian, gerakan kereta kuda mulai melambat sebelum akhirnya berhenti.
Suara ketukan pelan terdengar dari luar pintu kereta.
Tok
Tok
Tok
"Lady Aura, kita sudah sampai di gerbang kediaman pribadi Yang Mulia Kaisar di istana Barat," ucap kusir kereta dari luar.
Aura menarik napas panjang, mengembuskan nya perlahan, sembari mengumbar senyum percaya diri.
"Ayo, Sora, saatnya melihat permainan apa yang disiapkan Kaisar dingin itu untukku," gumam Aura dengan mata berkilat penuh rasa ingin tahu.
Tidak ada sedikit pun rasa takut di hati Aura, justru dia merasa tertantang untuk menjatuhkan pertahanan Kaisar Zane yang terkenal dingin tanpa perasaan.
Aura melangkah keluar dari kereta kuda, disusul oleh Sora yang mengekor di belakangnya dengan tubuh agak gemetar.
Di depan mereka, bangunan megah dan kokoh berdiri tegak, dengan nuansa hitam dan perak yang dominan, suasana nya begitu sunyi dan penuh tekanan, sangat berbeda dengan area istana utama yang ramai.
Beberapa prajurit membungkuk hormat tanpa bersuara, membukakan pintu yang langsung menuju ke dalam kediaman pribadi Kaisar.
Tak
Tak
Tak
Suara ketukan sepatu hak tinggi Aura terdengar jelas memecah keheningan koridor.
Sora dengan terburu-buru menahan gaun bagian belakang Aura, pandangannya terus menunduk menatap lantai.
Nico sudah berdiri menanti di ujung lorong dengan berdiri tegap, pria kepercayaan Kaisar itu membungkuk singkat saat Aura mendekat.
"Selamat pagi, Lady Aura. Yang Mulia sudah menunggu Anda di balkon lantai dua," ucap Nico dengan suara rendah dan tenang.
Aura menyunggingkan senyum tipis, mengangkat sedikit ujung gaunnya.
"Terima kasih, Tuan Nico, tolong biarkan pelayanku menunggu di sini," jawab Aura santai.
Sora langsung membelalakkan matanya, menatap Aura dengan pandangan memohon.
"N-Nona..." bisik Sora cemas.
Aura menoleh pelan, menepuk bahu Sora singkat.
"Tunggu di sini, Sora, jangan panik," bisik Aura, menenangkan.
Nico memberi isyarat tangan agar Aura mengikutinya menaiki tangga melingkar menuju lantai atas.
Di setiap sudut, penjagaan terasa sangat ketat, namun Aura tetap melangkah dengan angkuh dan penuh percaya diri.
Begitu sampai di area balkon terbuka yang menghadap langsung ke arah taman bunga istana, udara dingin pagi menyapa wajah Aura.
Di sana, Kaisar Zane sedang duduk santai di meja bundar berisi cangkir teh yang masih berasap, pria itu mengenakan pakaian kasual kerajaan berwarna gelap tanpa jubah kebesarannya, namun aura dominan dan intimidasi nya tetap terasa begitu pekat menyelimuti udara di sekitarnya.
Kaisar Zane sama sekali tidak menoleh saat mendengar langkah kaki mendekat, pria itu fokus menyesap tehnya dengan gerakan yang sangat tenang.
"Salam Yang Mulia, Lady Aura Luminar sudah datang," ucap Nico membungkuk hormat di belakang Aura.
"Tinggalkan kami," perintah Kaisar Zane dengan suara berat dan dalam yang dingin.
"Baik, Yang Mulia," jawab Nico sigap, lalu berbalik dan melangkah pergi menuruni tangga, meninggalkan mereka berdua.
Aura melangkah maju beberapa tindak, lalu membungkuk hormat dengan sangat anggun.
"Salam, Yang Mulia Kaisar Zane Caliber. Semoga kejayaan selalu menyertai Anda," ucap Aura dengan nada suara yang tenang dan halus.
Pria itu perlahan memutarkan kepalanya, menatap Aura dari atas sampai bawah dengan mata hitamnya yang tajam bagaikan elang, tatapan itu terasa begitu menekan, seolah bisa membaca seluruh pikiran orang yang ditatapnya.
"Duduklah, Lady Luminar," perintah Kaisar Zane singkat, nadanya datar tanpa emosi sedikit pun.
Aura tidak membuang waktu, dia menarik kursi kayu berukir di seberang meja dan duduk dengan posisi tegak serta elegan, menatap lurus ke dalam mata Kaisar tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Kaisar Zane menyandarkan punggungnya di kursi, menyilangkan kedua tangannya di atas meja, lalu menatap Aura dengan sebelah alis terangkat.
"Kamu cukup pemberani," ucap Kaisar Zane dengan nada dingin dan berat.
"Banyak jenderal perang yang berkeringat dingin hanya untuk duduk di hadapanku, tapi kamu bahkan tidak mengedipkan mata," lanjut sang Kaisar penuh penekanan.
Aura tersenyum tipis, menyikapi tatapan mengintimidasi itu dengan santai.
"Saya tidak merasa punya alasan untuk takut pada penguasa kekaisaran yang bijaksana, Yang Mulia," jawab Aura, tenang.
Kaisar Zane terkekeh pelan, tawa yang sangat tipis dan dingin tanpa kehangatan.
"Bijaksana?" ulang Kaisar Zane mengejek.
"Bukannya semalam kamu baru saja menusuk mantan pangeran kekaisaran ini tepat di depan mataku?" tanya sang Kaisar dengan tatapan yang makin tajam, mengunci pandangan Aura.
Aura menyilangkan jarinya di atas pangkuan, menanggapi tuduhan itu dengan tenang.
"Saya hanya membela diri dari seorang mantan pangeran bodoh yang mencoba melukai saya, Yang Mulia," jawab Aura lugas tanpa berbelit-belit.
"Lagi pula, Anda sendiri yang membiarkan dia diseret ke penjara bawah tanah. Itu artinya tindakan saya tidak menyalahi aturan Anda," lanjut Aura membalikkan keadaan secara cerdik.
Kaisar Zane menatap Aura beberapa detik dalam keheningan yang mencekam, tidak ada satu pun ekspresi yang bisa dibaca dari wajah tampannya.
"Menarik," gumam Kaisar Zane pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan yang penuh ancaman.
"Kamu tidak seperti rumor gadis bodoh yang tergila-gila pada Luis," lanjut Kaisar Zane datar.
"Gadis bodoh itu sudah mati di danau, Yang Mulia, yang berdiri di hadapan Anda sekarang adalah Aura Luminar yang tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injaknya lagi," jawab Aura mendengus sinis secara terang-terangan.
Kaisar Zane memajukan sedikit tubuhnya ke depan meja, membuat jarak di antara mereka makin terkikis.
Aura dingin yang dipancarkannya membuat suhu di balkon terasa makin membeku.
"Lalu, apa rencanamu selanjutnya, Lady Luminar?" tanya Kaisar Zane dengan suara rendah yang mengintimidasi.
"Kamu sudah menghancurkan Luis, mengusir keluarga Velis, dan membatalkan pertunangan. Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari kekaisaran ini?" lanjut sang Kaisar menatap lurus ke manik mata Aura.
Aura menaikkan dagunya tinggi-tinggi, menyunggingkan senyum miring yang sangat memikat namun penuh kewaspadaan.
"Saya hanya menginginkan ketenangan untuk keluarga saya, Yang Mulia," jawab Aura tegas.
"Dan tentu saja, memastikan tidak ada lagi benalu yang mencoba mengganggu kediaman Duke Luminar," lanjut Aura penuh penekanan.
Kaisar Zane meraih cangkir tehnya kembali, menyesapnya perlahan sembari terus mengawasi setiap gerak-gerik gadis di depannya.
"Jawaban yang cukup bagus," ucap Kaisar Zane dingin.
"Tapi ingat, Lady Aura, di kekaisaran ini, tidak ada yang benar-benar gratis," lanjut Kaisar Zane menatap Aura dengan kilatan misterius di matanya.
karna tak yg nandingi nya
selalu aku karya mu thor
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪