NovelToon NovelToon
Hari Terakhir Bersama Keluarga

Hari Terakhir Bersama Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Anak Genius
Popularitas:877
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

"Atas dasar apa kamu pindah ke lantai dua?! Siapa yang memberimu izin?!" bentak Kak Charles padaku, suaranya menggelegar memecah keheningan ruang tamu. Ia melangkah maju dengan urat leher yang menegang kaku. "Padahal selama ini kamu tinggal di gudang lantai tiga dan tidak pernah terjadi sesuatu pada tubuhmu! Setelah kamu keluar dari rumah sakit, kenapa tiba-tiba kamu dipindahkan ke lantai dua? Aku harus bertanya langsung pada Kak Ethan!"

Mendengar rentetan kalimat kejam yang terus memojokkan keberadaanku, seluruh tubuhku seketika bergetar hebat. Aku menundukkan kepala dalam-dalam, meremas tali tas jinjingku hingga buku-buku jariku memutih demi menahan air mata yang mendesak keluar.

Namun, sebelum Kak Charles sempat melangkah lebih jauh untuk mencercaku, sebuah bentakan bariton yang teramat tegas tiba-tiba menginterupsi di tengah ruangan.

"Cukup, Charles!" bentak Kak Aaron keras, langsung melangkah maju dan berdiri di antara aku dan Kak Charles.

Kak Charles tertegun, menatap tidak percaya ke arah kakak keduanya yang kini menatapnya dengan sorot mata tajam penuh peringatan.

"Kak Ethan sedang dinas ke luar kota untuk beberapa hari ke depan, jadi kamu tidak perlu menelepon atau mengganggunya sekarang!" ucap Kak Aaron dengan nada suara yang meninggi dan penuh penekanan, mematahkan emosi Kak Charles seketika.

Kak Aaron menjeda kalimatnya, melipat kedua tangannya di dada sambil mempertegas kalimat berikutnya dengan mutlak.

"Dan satu hal yang harus kamu tahu, Charles ... pemindahan kamar Bella ke lantai dua ini bukan keputusanku, melainkan perintah mutlak dari Kak Ethan sebelum dia pergi kemarin! Kak Ethan sendiri yang menyuruh Olivia menyiapkan kamar kosong di sebelah kamarnya untuk Bella! Jika kamu tidak terima atau memiliki masalah dengan keputusan ini, silakan protes langsung pada Kak Ethan setelah dia pulang nanti. Jangan membuat keributan di sini!"

Mendengar penegasan mutlak dari Kak Aaron yang membawa nama Kak Ethan, Kak Charles seketika terbungkam kaku di tempatnya berdiri. Amarah yang sejak tadi meluap-luap di wajahnya mendadak membeku, digantikan oleh rasa terkejut dan kebingungan yang amat sangat besar. Gengsi tingginya laksana dipaksa runtuh mendengar bahwa kakak sulung mereka—pria yang selama belasan tahun paling keras menjaga jarak dariku—kini justru menjadi orang pertama yang meruntuhkan dinding isolasi gudang lantai tiga.

Bukannya mundur setelah mendengar penjelasan Kak Aaron, Kak Charles justru melangkah satu kali lagi ke arahku. Sepasang matanya menyalang penuh kebencian yang mendalam.

"Apa yang kamu katakan pada Kak Ethan hingga dia mendadak memperhatikanmu, hah?!" tuduh Kak Charles berang.

Aku terdiam kaku di tempatku berdiri, menatap ujung sepatu marmerku yang dingin. Apa pun yang aku katakan dan lakukan, selalu salah di mata Kak Charles dari dulu sampai sekarang, batinku pilu dengan rasa sedih yang teramat sangat menusuk relung hati.

"Aku sedang bertanya padamu! Kenapa kamu diam? Apa kamu bisu sekarang?!" sentak Kak Charles lagi, emosinya kian meluap-luap memenuhi ruang tamu.

Aku meremas tali tas jinjingku erat-erat, mencoba meredakan debaran cemas di dadaku yang mulai memicu denyutan perih di lambung. "Aku ... aku tidak melakukan apa-apa, Kak. Aku hanya mengikuti perkataan Kak Ethan. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa," jawabku teramat lirih, berusaha membela diri semampuku.

"Jangan kira karena kamu masuk rumah sakit, hal itu bisa kamu jadikan senjata untuk menipu Kak Ethan!" seru Kak Charles dengan tawa sinis yang memekakkan telinga. Ia menudingkan telunjuknya tepat di depan wajahku. "Kamu tidak bisa menipuku begitu saja! Aku bukan orang bodoh yang bisa kamu kelabui dengan sandiwara pembawa sialmu, ya!"

Mendengar rangkaian makian kejam yang terus menghujam telak ke arahku, dadaku mendadak terasa begitu sesak layaknya kehabisan pasokan oksigen. Dua bulan perawatan intensif di rumah sakit seolah lenyap dalam hitungan detik. Di rumah besar ini, aku tetaplah musuh utama di mata Kak Charles.

"Cukup, Kak Charles!"

Sebuah teriakan melengking yang bergetar hebat menahan tangis tiba-tiba memotong makian kejam Kak Charles. Dari arah tangga marmer lantai dua, sosok Olivia muncul. Langkah kakinya bergerak tergesa-gesa, berlari turun melompati anak tangga demi anak tangga dengan raut wajah yang dipenuhi kemarahan luar biasa.

Tanpa rasa takut sedikit pun, adik bungsu kami itu langsung menerobos maju. Ia pasang badan, memosisikan tubuh kecilnya tepat di antaraku dan Kak Charles, menjadikannya tameng pelindung yang kokoh untukku.

"Kak! Apa yang sedang Kakak lakukan?!" seru Olivia berapi-api, menatap Kak Charles dengan sepasang mata yang berkaca-kaca karena kecewa. "Kak Bella itu masih sangat lemah! Dia baru saja diperbolehkan keluar dari rumah sakit hari ini! Kenapa Kakak tega membentak-bentak kakakku?!"

Kak Charles tertegun kaku. Telunjuknya yang tadi menuding wajahku perlahan diturunkannya karena terkejut melihat kedatangan Olivia yang mendadak. "Olivia ... minggir kamu! Jangan ikut campur—"

"Aku tidak mau minggir!" potong Olivia nekat, suaranya naik satu oktav dan bergema hebat di tengah ruang tamu yang megah. Ia menatap Kak Charles lurus-lurus dengan tatapan menantang. "Kak Charles itu keterlaluan, tahu tidak, Kak?! Kakak selalu saja menuduh dan memaki Kak Bella tanpa pernah mau tahu apa yang sebenarnya terjadi!"

Olivia menjeda kalimatnya demi meraup napas yang terasa kian sesak di dadanya, lalu berbalik menunjuk ke arahku yang hanya bisa menangis diam di belakang punggungnya.

"Dua bulan Kak Bella berjuang di rumah sakit demi menyembuhkan organ dalamnya yang rusak parah! Dan begitu dia menginjakkan kakinya kembali di rumah ini, Kakak langsung menyambutnya dengan bentakan dan makian kasar! Di mana hati nurani Kak Charles, hah?!" teriak Olivia histeris, menumpahkan seluruh pembelaannya yang membuat atmosfer ketegangan di ruangan ini memuncak drastis.

Mendengar ledakan kemarahan dari adik terkecil kesayangannya, Kak Charles seketika membeku laksana patung di tempatnya berdiri. Ego besar dan harga diri tingginya seolah dipaksa runtuh mendengar kalimat “kenapa kamu membentak kakakku” keluar dari mulut Olivia. Sorot mata penuh kebenciannya mendadak goyah, digantikan oleh rasa salah tingkah dan kecanggungan yang teramat besar saat ia menatap wajah polos Olivia yang basah oleh air mata kekecewaan.

"Bukan begitu maksud Kakak, Olivia," ucap Kak Charles dengan nada suara yang mendadak melunak dan teramat lembut, sangat berbanding terbalik dengan bentakan kasarnya padaku tadi.

Ia melangkah maju, mencoba meraih pundak adik bungsu kesayangannya itu. Namun, sepasang mata elang Kak Charles seketika kembali melirik tajam ke arahku yang berdiri gemetar di belakang punggung Olivia. Kilat permusuhan di matanya sama sekali tidak bisa disembunyikan.

"Kamu jangan dekat-dekat dengan dia. Dia itu pembawa sial, Olivia! Nanti kamu bisa tertimpa kesialan yang sama," kata Kak Charles penuh penekanan, menyuarakan doktrin lama yang selama dua puluh tahun ini mengurung keluarga kami dalam ketakutan.

Ia menjeda kalimatnya sejenak, menatap Olivia dengan sorot mata yang sarat akan rasa khawatir yang keliru.

"Dia itu licik, Dek. Kalau kamu terlalu dekat dengannya, kamu akan berada dalam bahaya. Kakak melakukan ini semua hanya karena ingin melindungimu," lanjut Kak Charles, berusaha keras meyakinkan Olivia agar menjauh dariku.

Mendengar kata "licik" dan "bahaya" yang kembali dialamatkan pada keberadaanku, dadaku mendadak terasa laksana dihantam oleh batu besar yang tak kasat mata. Rasa perih di lambungku kian berdenyut sakit. Aku hanya bisa meremas tali tas jinjingku erat-erat, menahan sesak di dada sekuat tenaga seiring dengan air mata hangat yang kian menderas membasahi pipiku yang memucat.

Di mata Kak Charles, tidak peduli seberapa parah organ dalamku rusak akibat menahan siksaan kutukan sendirian di gudang, aku akan tetap dianggap sebagai monster manipulatif yang berniat mencelakai adikku sendiri.

Plak!

Olivia langsung mengempaskan tangan Kak Charles dengan kasar sebelum jemari pria itu sempat menyentuh pundaknya. Gerakan tegas adik bungsu kami itu seketika membuat Kak Charles tertegun kaku di tempatnya berdiri, menatap tangannya yang baru saja ditolak mentah-mentah dengan sorot mata tak percaya.

"Dia adalah kakakku!" teriak Olivia lantang, suaranya menggema hebat memutus keheningan ruang tamu dan mematahkan seluruh doktrin takhayul kesialan milik Kak Charles. "Dia memiliki hubungan darah yang nyata dengan kita semua, Kak! Bagaimana mungkin dia tega mencelakai adiknya sendiri?!"

Air mata kekecewaan kini mengalir deras membasahi pipi Olivia, tetapi sorot matanya menatap Kak Charles dan Kak Aaron bergantian dengan kemarahan yang teramat pekat.

"Bukannya malah sebaliknya?!" seru Olivia terisak, suaranya naik satu oktav menumpahkan seluruh beban kebenaran yang selama ini disembunyikan di rumah besar ini. "Selama belasan tahun ini, justru Kak Aaron dan Kak Charles yang selalu menargetkan Kak Bella! Kalian yang selalu menyudutkannya, mengurungnya, dan membuatnya tersiksa dalam kesendirian di gudang lantai tiga itu!"

Olivia menjeda kalimatnya demi meraup pasokan udara yang terasa kian mencekik dadanya, lalu menunjuk tepat ke arah dada Kak Charles dengan telunjuknya yang gemetar karena emosi.

"Dan fakta itulah yang membuatku sangat marah pada kalian semua!" amuk Olivia histeris, menyuarakan seluruh rasa sakit hati yang selama dua bulan ini ia pendam setelah melihat tubuh ringkihku hancur di rumah sakit. "Kalian yang kejam, tapi kalian yang selalu bersembunyi di balik alasan ingin melindungiku! Aku tidak takut pada takhayul kesialan apa pun, Kak! Aku justru lebih takut pada hati kalian yang begitu dingin dan tidak punya perasaan pada kakak perempuan kita sendiri!"

Mendengar ledakan pembelaan dari Olivia yang begitu menusuk nurani, ruang tamu megah itu mendadak diselimuti oleh keheningan mati yang mencekam. Kak Charles seketika membeku laksana patung. Ego besar dan kesombongan tingginya laksana dihantam oleh tamparan ghaib yang teramat keras. Sepasang mata elangnya bergetar hebat, menatap tak percaya pada adik kecil kesayangannya yang kini justru memandangnya dengan sorot mata penuh kebencian dan rasa jijik yang amat dalam. Di sudut lain, Kak Aaron hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, terbungkam mati kutu oleh hantaman rasa bersalah yang kembali mencoreng harga dirinya sebagai seorang kakak laki-laki.

"Olivia, kamu itu masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Sebaiknya dengarkan ucapan kami, ya? Semua ini agar kamu aman dari bahaya," bujuk Kak Charles dengan nada suara yang teramat lembut, mencoba meraih kembali hati adik bungsu kesayangannya itu.

Sepasang mata elang Kak Charles menatap Olivia penuh permohonan. Untuk pertama kalinya, pria angkuh itu terlihat begitu frustrasi dan salah tingkah karena ditolak mentah-mentah oleh orang yang paling ingin dilindunginya.

Namun, Olivia sama sekali tidak goyah. Ia langsung mundur satu langkah, menjauhkan dirinya dari jangkauan tangan Kak Charles. Tatapan matanya yang basah oleh air mata menyiratkan kekecewaan yang sudah teramat mendalam.

"Jangan berbicara padaku lagi! Aku tidak mau berbicara dengan kalian lagi!" seru Olivia tegas, memotong seluruh kalimat bujukan Kak Charles tanpa ampun.

Suara lantang Olivia seketika menggema di tengah ruang tamu yang megah dan sunyi, menyisakan hantaman tamparan emosional yang telak bagi Kak Charles. Kalimat penolakan yang begitu dingin dari mulut Olivia laksana memutus seluruh ikatan kedekatan mereka selama ini.

Dari tempatku berdiri di belakang punggung Olivia, aku bisa melihat tubuh Kak Charles seketika membeku kaku bagai patung. Wajah tegasnya pucat pasi, dan tangannya yang menggantung di udara bergetar hebat. Ego besar dan doktrin kebencian yang selama dua puluh tahun ia agungkan untuk menargetkanku, kini justru berbalik menghancurkan hubungannya sendiri dengan adik kesayangannya.

Aku mencengkeram erat tali tas jinjingku dengan dada yang kian terasa sesak dihantam rasa bersalah yang teramat asing. Di satu sisi, batin dan hatiku membubung penuh haru karena keberanian Olivia pembelaku. Namun di sisi lain, aku teramat takut jika perpecahan di antara kakak laki-laki dan adik bungsuku ini justru akan memicu badai kebencian baru yang jauh lebih mengerikan di rumah besar keluarga Adipta.

"Olivia, naik ke atas dulu, ya," ucap Kak Charles lirih, mencoba melunakkan suaranya sembari mengulurkan tangan untuk menenangkan adik bungsunya.

"Jangan menyentuhku!" potong Olivia ketus.

Ia menepis tangan Kak Charles bahkan sebelum jemari pria itu sempat menyentuh seujung lengannya. Tanpa memedulikan wajah Kak Charles yang seketika berubah pucat pasi karena terkejut, Olivia langsung berbalik dan menghampiriku. Amarah di matanya mendadak luruh, digantikan oleh sorot mata yang teramat lembut saat ia menggenggam kedua telapak tanganku yang masih sedingin es.

"Kak, naik ke atas yuk, bareng Olivia," ajak Olivia lembut, menarik lenganku perlahan agar aku melangkah mengikutinya. "Tidak usah pedulikan mereka. Mereka tidak penting. Lebih baik kita segera ke kamar baru Kak Bella saja. Aku mau menunjukkan sesuatu pada Kakak di atas, pasti Kakak akan sangat suka dengan kamarnya."

Melihat binar tekad yang begitu besar di mata bulat adik kecilku, dadaku terasa bergemuruh oleh rasa haru yang luar biasa. "Mmm ... baiklah, Olivia," jawabku teramat pelan, membiarkan diriku dituntun olehnya.

Sebelum kami melangkah menaiki anak tangga marmer, Olivia sempat memutar tubuhnya sekilas. Ia menatap tajam ke arah Kak Charles dan Kak Aaron bergantian dengan sorot mata yang teramat dingin dan menusuk.

"Awas, jangan menghalangi jalan kami! Awas kalian, ya!" ancam Olivia sinis pada kedua kakak laki-lakinya.

Setelah melayangkan peringatan keras yang membuat Kak Charles dan Kak Aaron terbungkam kaku di tempatnya berdiri, Olivia langsung membimbingku berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun hidupku setelah kepergian Papa dan Mama, aku akhirnya melangkah menapakkan kakiku di lantai ini. Setiap undakan tangga marmer yang kupijak terasa begitu emosional, meruntuhkan seluruh dinding isolasi dan kesepian yang selama bertahun-tahun ini mengurungku di dalam kegelapan gudang lantai tiga.

Begitu derap langkah kaki Olivia dan Bella menghilang di balik kelokan tangga lantai dua, keheningan yang mencekam kembali menguasai ruang tamu. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Kak Charles langsung membalikkan badannya dengan gusar, meluapkan seluruh frustrasi dan amarah yang sejak tadi tertahan di dadanya kepada Kak Aaron.

"Kak Bella itu hanya membawa sial buat keluarga kita!" seru Kak Charles dengan suara baritonnya yang gemetar menahan kesal. Ia melangkah lebar, menghampiri Kak Aaron dengan tatapan menuntut. "Tapi kenapa Kakak diam saja dan tidak melakukan apa-apa?! Kenapa Kakak hanya melihat dan membiarkan dia dipindahkan ke sekitar kita di lantai dua?!"

Kak Aaron tidak langsung menjawab. Pria itu mengembuskan napas panjang yang teramat berat, lalu perlahan mendongak untuk menatap adik ketiganya. Sisa-sisa teguran keras dari Kak Ethan dan pembelaan histeris Olivia beberapa waktu lalu tampaknya telah meruntuhkan sebagian besar keangkuhannya.

"Kak Ethan tidak pernah menarik kembali apa pun yang sudah dia katakan, Charles," sahut Kak Aaron dengan nada suara yang mendadak datar dan dingin.Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Charles lurus-urus demi menegaskan kenyataan yang ada.

"Walaupun kamu berbicara sampai mulutmu berbusa pun, Kak Ethan tidak akan pernah mengubah apa yang sudah dia ucapkan," lanjut Kak Aaron penuh penekanan. "Kamu tahu sendiri bagaimana watak Kakak sulung kita. Sekali dia mengeluarkan perintah mutlak, maka tidak ada satu pun dari kita yang bisa membantahnya. Jadi, berhentilah membuat keributan yang sia-sia dan terimalah kenyataan bahwa Bella sekarang tinggal di lantai dua."

Mendengar penegasan dari Kak Aaron, Kak Charles seketika terbungkam dengan rahang yang mengatup rapat. Rasa frustrasi dan salah tingkah yang teramat besar berkejaran di dalam dadanya. Untuk pertama kalinya, ia merasa terasing di rumahnya sendiri, menghadapi kenyataan bahwa jajaran kakak laki-lakinya perlahan-lahan mulai berbalik arah untuk melindungi si "anak pembawa sial" yang selama dua puluh tahun ini selalu mereka telantarkan di gudang lantai tiga.

"Beberapa saat lagi kita akan kedatangan tamu penting," lanjut Kak Aaron, menatap tajam ke arah adik ketiganya dengan sorot mata penuh peringatan. "Jadi, aku harap kamu bisa menahan emosimu terhadap Bella. Jangan berbuat ulah yang membuat nama baik keluarga kita buruk di mata orang lain hanya karena mereka tahu kita memperlakukan Bella dengan tidak layak selama ini. Apalagi saat ini Kak Ethan sedang tidak ada di rumah. Intinya, jangan membuat ulah. Paham kamu?!"

Mendengar rentetan kalimat peringatan dari Kak Aaron, rahang Kak Charles seketika mengatup rapat. Dada pria itu bergemuruh hebat, dihantam oleh rasa kecewa, amarah, dan sakit hati yang teramat pekat. Kata-kata Kak Aaron laksana penegas bahwa tidak ada satu pun orang di rumah ini yang berdiri di pihaknya lagi.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagai jawaban, Kak Charles yang telanjur sakit hati langsung berbalik badan dengan gusar. Langkah kakinya bergerak lebar dan tergesa-gesa meninggalkan ruang tamu, melangkah keluar menuju pintu utama rumah besar keluarga Adipta.

Brak!

Suara dentuman keras menggema hebat ke seluruh penjuru ruangan saat Kak Charles membanting pintu utama dengan penuh amarah. Pria itu pergi meninggalkan rumah begitu saja, memacu emosinya di tengah jalanan kota karena sangat kesal telah ditolak mentah-mentah oleh seluruh saudara kandungnya sendiri.

Di ruang tamu yang kini kembali sunyi, Kak Aaron hanya bisa mengembuskan napas pendek yang teramat berat. Ia melirik sekilas ke arah tangga marmer yang menuju ke lantai dua, merenungkan bagaimana nasib lembaran hidup baru Bella setelah dinding isolasi gudang lantai tiga dihancurkan sepenuhnya hari ini.

1
M. Al-Farezi
Lanjutkan👍

eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~
my queen 👸: siap kk
total 1 replies
Sayekti 0519
sangat mengenaskan.mili terus air mata Ama ingus ku thooor
my queen 👸: terima kasih sudah mampir kk
pantau cerita ku yang lain ya 🙏❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!