Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Al baru bangun dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah aneka cookies emoticon di atas meja kerjanya.
Pukul 07.05 Al sudah bersiap ke kantor. Hoodienya sudah berganti dengan kemeja navy yang lengannya di gulung hingga ke siku.
Di luar, ketiga penghuni rumah lagi sarapan bubur yang di beli diujung gang.
"Bang semalam Lo ketawa ya? Ada cerita apaan?" Al berhenti mendengar pertanyaan Arza.
Al berhenti,"Kaga!"
"Ketawa, gua denger!" kekeh Arza. "Jam sebelas lewatan dah. Terus gua denger lu buka tutup laci meja kerja beberapa kali. Lo ngapain bang?" tanya Arza penuh selidik.
Jonas yang lagi ngaduk kopi "Laci? Pasti yang ada gelang ungu itu kan?"
"Berisik lo berdua!"
"Ribut mulu, masih pagi ini!" Bima baru masuk ke ruang makan sambil mengeringkan rambutnya.
"Bubur lagi?" tanya Bima. Arza nyengir.
"Rumah kita ini butuh sentuhan perempuan! Capek gue bersihinnya!" komentar Bima melihat ke sekeliling ruangan. Dimana pun ruangannya nggak ada yang rapi. Dimana-mana ada botol air mineral, ada gelas kopi. Di kursi tergeletak gitar Al.
"Gue setuju. Nanti gue ajak Cintya ke sini!" ucap Jonas semangat.
"Nggak usah!" ketiga temannya yang lain kompak menolak. Jonas mengkerut di kursinya.
Tentang gelang ungu, Al harus kembalikan gelang itu ke Rin hari ini. Nanti sore dia akan ke bukit lagi. Dengan penuh semangat, Al menyambar kunci motornya.
"Bang, salam buat si gelang ungu ya? Kapan mau diajakin ke sini?" ucap Jonas. Al tak menjawab tapi suara gas motornya menandakan pemiliknya sedang kesal. Jonas dan Arza tos bareng sambil ketawa.
Al sedang duduk di ruangannya, mengeluarkan gelang dari sakunya. Selalu gagal buat mengembalikan gelang itu ke pemiliknya padahal hampir setiap hari Al bertemu dengan Rin. Dan daripada selalu jadi bahan ejekan Jonas dan Arza, gelang itu harus dikembalikan hari ini.
Pikiran Al nggak tenang. Untunglah pekerjaannya hari ini lumayan banyak. Setelah jam makan siang, pikirannya di penuhi dengan catatan laporan.
Pukul 16.00 Al menyambar hoodienya dan pergi. Tak butuh waktu yang lama, dia sudah sampai di bukit. Rin sudah di sana sedang menulis sesuatu. Rambutnya yang selalu diikat ala ekor kuda. Beberapa anak rambut yang jatuh di sekitar wajahnya terkadang membuat Al gemas untuk merapikannya.
"Mikirin apa lo?" tanya Rin.
"Nggak ada!" Al duduk di sampingnya dan memperhatikan banyak sekali catatan di buku Rin.
"Tugas?"
"Iya, buat minggu depan!" jawab Rin.
"Rin..."
"Ya?" Rin mengalihkan pandangan dari catatan di pangkuannya.
"Bentar!" Al merogoh sakunya meraih gelang ungu di sakunya.
"Eh Al, temen-teman lo suka cookiesnya nggak?" belum sempat Al mengeluarkan gelangnya Rin nanya soal cookies.
"Eh? Suka. Cookiesnya enak kata mereka"
"lo sendiri gimana? Suka nggak?" tanya Rin lagi. Jari Al yang di saku langsung lepasin gelangnya. Telinga Al memerah lagi.
"Hehehe syukurlah. Total semua ada empat macam cookies sekarang. Telinga lo kenapa?" tanya Rin.
"Nggak! Silau matahari!" Al membuang pandangan.
"Jadi, sebagai ucapan terimakasih soal catatan keuntungan dan bantuin nyariin box. Gue mau ngajak lo makan malam. Lo bisa nggak?" tanya Rin.
Al buang muka, "Terserah!"
"Terserah itu jam 7 bisa?"
"Ya" Rin geregetan sendiri kalo ngajak Al ngobrol.
Sebelum matahari terbenam, keduanya sudah turun. Al mengantar Rin sampai di Roemah Roti. Rin melambai saat Al langsung pulang.
Rin segera bersiap untuk mandi dan bersiap untuk nanti malam. Rin memakai dress kuning selutut dengan sepatu putih tanpa heels. Tak lupa satu tas di bahunya. Rin nunggu di Roemah Roti.
Sementara itu, Al mengutuk dirinya sendiri. Gelang itu lupa lagi! Al segera bersiap tak lupa menyemprotkan parfum andalannya.
"Bang, lo punya... Nge-date lo?" tanya Arza. Al menatapnya dingin.
"Nanya doang bang, jangan galak-galak bang. Nanti anak orang ketakutan liat lo!" Arza masih mengejar Al sampai ke depan pintu. Al hanya diam, tenaganya habis kalau meladeni Arza.
Mobil Al memasuki area Roemah Roti. Al turun dan merasa senang. Keputusannya untuk membawa mobil tidak salah saat melihat Rin keluar dengan dress yang manis.
"Nek, pergi dulu ya!" Rin pamit pada nenek, begutu juga dengan Al.
"Hati-hati!" nenek berpesan pada keduanya.
Di mobil rasa canggung terasa. Rin merasa ini berlebihan hanya untuk makan malam. Sedangkan Al memilih diam karena terlalu gugup untuk memulai pembicaraan.
Tempat yang mereka tuju tidak terlalu jauh. Rumah makan yang menghadap ke sungai. Pilihan Al memang tak pernah salah. Tempat makan itu bisa di ruangan atau diluar ruangan. Di luar ruangan, tepat di bawah pohon besar terdapat meja dan kursi yang menghadap ke sungai. Di seberang sungai juga banyak yang berjualan sehinggan cahaya lampu memantul dari air sungai.
"Keren banget! Gue baru tau ada tempat secantik ini!" kata Rin sambil menggoyangkan lengan Al. Telinga Al kembali memerah.
"Ayo duduk!" Al menggaruk belakang telinganya. Untung ini malam, Rin tidak terlalu memperhatikan telinganya.
Mereka memesan makanan dan menikmatinya sambil bercerita banyak hal.
"Makasih banyak ya Al, berkat lo dagangan gue sekarang makin banyak peminatnya,"
"Sama-sama," Al memainkan gelang yang ada di sakunya dan menunggu momen yang pas untuk mengembalikanya. Tapi Al tidak bisa memotong pembicaraan Rin, jadi dia lebih banyak mendengarkan semua cerita Rin. Mulai dari kuliah, kue-kuenya, dosen kampusnya.
Al menikmati itu semua, sesekali berkomentar tentang cerita Rin. Ikut tersenyum saat ada hal yang lucu.
"Jarang banget gue liat lu senyum. Gue kira lu nggak bisa senyum," ucap Rin.
"Ehemmm!" Al hanya mendehem singkat.
"Al? Lo di sini?" tanya beberapa orang.
"oh hai!" Al melambaikan tangan.
"foto dong!" ucap mereka.
"Oke," mereka berswafoto
"thanks Al! Kapan manggung lagi?"
"Nanti dikabari!" ucap Al. Mereka berlalu dari sana.
"lo terkenal juga ya, dimana aja ada yang nyapa," ucap Rin.
"Lumayan!" jawab Al.
"Eh... Bisa turun?" Al memperhatikan beberapa orang turun mendekati aliran sungai di bawah.
"Bisa!"
"Ayo turun!" ajak Rin. Meski Al protes tapi Rin tetap menarik tangan Al. Keduanya turun tapi tidak sampai ke bibir sungai. Al menahan Rin karena bibir sungai pasti becek dan kotor.
"Bagus yah!" ucap Rin. Al hanya mengangguk.
"Ehemmmm... Rin. Gue mau balikin ini!" ucap Al menarik gelang dari sakunya.
"Gelang gue! Thanks Al!" refleks saking senangnya Rin memeluk Al. Badan Al seketika jadi kaku.
"Eeh sorry!" Rin melepaskan pelukannya, canggung.
"ya!" ucap Al pelan. Kali ini nggak cuma telinga tapi seluruh muka Al udah memerah. Gelap malam menyelamatkan muka Al malam ini.
"Gue nyariin gelang ini kemana-mana! Ini dari temen gue! Penting banget!" Rin masih tersenyum senang sambil memainkan gelang di tangannya.
Al yang tadinya berdiri kaku abis dipeluk langsung mengangguk. Senyumnya ketahan.
Dari teman ya...
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok