Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.
Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.
Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2:BAYANG-BAYANG MASA LALU
Suara sirine ambulans dan mobil polisi melolong sayup-sayup dari kejauhan, membelah heningnya kawasan perumahan elit pagi itu. Di dalam mobil SUV hitam yang terparkir dua blok dari rumahnya, Ranti duduk membisu di balik kemudi.
Mesin mobil mati. Suasana di dalam kabin begitu hening, hanya terisi oleh helaan napas Tasya dan Lala yang masih mencoba menetralkan detak jantung mereka di kursi belakang.
Ranti menatap lurus ke depan, memperhatikan jemarinya yang masih bergetar tipis di atas lingkar kemudi. Bau uap air panas dan aroma penderitaan dua pengkhianat itu seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Namun, bukannya kepuasan tiada tara yang melingkupi dadanya, Ranti justru merasakan kehampaan yang luar biasa besar.
"Ti... kamu benar-benar tidak apa-apa?" tanya Tasya pelan dari belakang, memecah keheningan. "Tim medis dan polisi sudah datang ke rumahmu. Video rekaman tadi sudah aman disimpan di tiga cloud berbeda."
Ranti tidak langsung menjawab. Matanya menatap pantulan dirinya di kaca spion tengah. Wajahnya pucat, tetapi matanya memancarkan keteguhan yang dingin.
"Aku tidak apa-apa," bisik Ranti halus. "Justru aku baru merasa bernapas lega."
Ia menyandarkan kepala ke sandaran jok, memejamkan mata erat-erat. Begitu kelopak matanya tertutup, memori yang tersimpan belasan tahun lalu mendadak meluncur deras tanpa sanggup ia tahan. Otaknya seolah menolak kenyataan pahit hari ini dan memutar kembali pita kaset masa lalu—saat semuanya masih murni, saat nama Sony adalah alasan utamanya untuk tersenyum.
Sepuluh Tahun Lalu – Perpustakaan Kampus Utama
Aroma kertas tua, debu halus, dan pendingin ruangan yang berhembus konstan memenuhi ruangan perpustakaan lantai tiga. Ranti—mahasiswi semester tiga jurusan Sastra yang saat itu dikenal pendiam dan selalu membawa tumpukan buku—sedang berjuang di antara deretan rak tinggi.
Jemarinya berjinjit, mencoba meraih sebuah buku tebal ber-cover kain biru tua di rak paling atas. Teori Konstruksi Sosial.
"Sedikit lagi..." gumam Ranti pada diri sendiri.
Namun, bukannya berhasil menarik buku tersebut, tumpukan dua buku tebal di sebelahnya justru hilang keseimbangan dan meluncur jatuh tepat ke arah kepalanya. Ranti memejamkan mata refleks, bersiap merasakan hantaman keras.
SREKK! BRAKK!
Bukan rasa sakit yang ia rasakan, melainkan kehangatan dari sesosok tubuh tinggi yang mendadak berdiri pas di depannya. Sebuah tangan berurat tegas dengan cekatan menahan tumpukan buku yang jatuh, sementara tangan satunya lagi menahan bahu Ranti agar tidak terlentang ke belakang.
Ranti membuka matanya perlahan. Suasana di antara mereka mendadak begitu dekat.
Seorang pemuda bermata tajam dengan kemeja flanel gulung siku berdiri menatapnya khawatir. Rambutnya sedikit acak-acakan, membawa aroma wangi sabun maskulin dan sedikit bau kopi yang segar.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya pemuda itu dengan suara berat yang menenangkan.
Ranti berkedip beberapa kali, jantungnya berdegup kencang—bukan hanya karena terkejut hampir tertimpa buku, tetapi juga karena jarak wajah mereka yang hanya berjarak beberapa sentimeter.
"A-aku... iya, aku tidak apa-apa. Terima kasih banyak," sahut Ranti terbata-bata seraya bergeser mundur satu langkah.
Pemuda itu tersenyum tipis, merapikan dua buku tebal di tangannya lalu meletakkannya kembali ke rak dengan mudah. Ia kemudian mengambil buku ber-cover biru tua yang tadi Ranti incar, lalu mengulurkannya pada Ranti.
"Ini buku yang mau kamu ambil, kan?" katanya ramah.
Ranti menerima buku itu dengan kedua tangan. "Iya, betul. Terima kasih... umm..."
"Sony," potong pemuda itu cepat seraya mengulurkan tangannya hangat. "Sony dari Fakultas Ekonomi, semester lima."
Ranti menyambut uluran tangan itu ragu-ragu. "Ranti. Sastra Indonesia, semester tiga."
"Ranti..." Sony mengulang nama itu pelan, seolah sedang menghafalnya dalam ingatan. "Nama yang cantik. Sesuai dengan orangnya."
Pipi Ranti seketika merona merah. Ia menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan rasa canggungnya dengan memeluk buku tebal itu erat-erat.
"Ngomong-ngomong, Ranti," lanjut Sony seraya menyandarkan bahunya santai pada rak buku. "Buku tebal begitu mau kamu baca di sini atau dibawa pulang? Kalau mau dibaca di sini, meja di sudut dekat jendela masih kosong. Mau bareng?"
Ranti mendongak, menatap mata Sony yang dipenuhi ketulusan. "Boleh... kalau tidak mengganggu."
"Sama sekali tidak mengganggu. Justru aku yang merasa beruntung bisa belajar bareng mahasiswi Sastra," kelakar Sony sambil terkekeh pelan.
Sore itu menjadi awal dari segalanya. Di meja sudut perpustakaan yang tersiram sinar matahari senja, mereka duduk berhadapan. Yang awalnya hanya fokus pada buku masing-masing, lambat laun berubah menjadi obrolan hangat dalam bisikan pelan agar tidak ditegur petugas perpustakaan.
"Jadi kamu bercita-cita mau jadi penulis?" tanya Sony berbisik, memajukan tubuhnya di atas meja.
"Bukan cuma penulis," jawab Ranti dengan mata berbinar. "Aku ingin punya rumah tangga yang hangat, menulis cerita dari rumah, sambil merawat anak-anakku kelak. Rasanya seperti mimpi yang sempurna."
Sony menatap Ranti tanpa kedip. Ada kilat kehangatan yang dalam di matanya. "Rumah tangga yang sempurna, ya? Pria yang mendapatkan kamu nanti pasti jadi pria paling beruntung di dunia, Ran."
"Ah, Mas Sony bisa saja," tutur Ranti malu-malu.
"Aku serius," bisik Sony tegas. "Kalau suatu hari nanti aku sukses dan punya cukup modal, aku mau jadi pria beruntung itu. Pria yang menjaga kamu dan mewujudkan mimpi-mimpimu."
Kata-kata sederhana itu terngiang begitu indah di telinga Ranti muda. Sejak hari itu, Sony selalu ada di sekitar Ranti. Pria itu menunggunya di depan kelas seusai kuliah, membelikannya es teh manis saat cuaca terik, dan selalu menjadi pendengar setia setiap kali Ranti menceritakan impian-impian kecilnya.
Hingga pada malam kelulusan Sony dua tahun kemudian, di bawah remang lampu taman kampus yang romantis, Sony berlutut di hadapan Ranti. Ia membawa sekotak cincin perak sederhana.
"Ranti... aku mungkin belum punya apa-apa sekarang. Aku baru lulus dan baru mau memulai karier," ucap Sony dengan suara bergetar menahan haru. "Tapi aku janji, aku akan bekerja keras untuk membuat hidupmu bahagia. Maukah kamu berjalan bersamaku dari nol?"
Air mata bahagia Ranti menetes malam itu. Ia mengangguk mantap, meyakini bahwa Sony adalah takdir terbaik yang dikirimkan Tuhan untuknya.
Kembali ke Masa Kini – Di Dalam Mobil
Tuk! Tuk! Tuk!
Ketukan pelan di kaca jendela mobil mengejutkan Ranti dari kenangan masa lalunya. Air mata yang tanpa sadar telah menetes di pipinya segera ia usap dengan kasar.
Ranti menurunkan kaca mobil sedikit. Dilihatnya Lala berdiri di luar dengan wajah khawatir.
"Ti, polisi sudah selesai mengevakuasi Sony dan Raya ke rumah sakit untuk pertolongan pertama," panggil Lala pelan. "Pengacara yang kamu hubungi tadi sudah tiba di lokasi. Dia menunggu kita di kafe depan."
Ranti menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan untuk membuang sisa-sisa rasa sesak akibat ingatan masa lalu yang menggerogoti dadanya. Janji Sony dari nol, kerja keras mereka membangun rumah tangga, dan senyum manis pria itu di perpustakaan... semuanya kini hanyalah sampah tak berguna.
Janji manis dari mulut pria yang sama yang tadi pagi berbaring tanpa busana bersama wanita lain di atas ranjang mereka.
Ranti membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan mantap. Ia membenahi tatanan rambutnya dan memoles kembali lipstik merah di bibirnya melalui pantulan kaca mobil.
"Ayo," ucap Ranti tegas, matanya tak lagi memancarkan kelemahan. "Saatnya menyelesaikan apa yang sudah dimulai."
.
.
.
Aroma kopi hitam yang pekat mengepul di meja sebuah kafe bernuansa kayu di sudut kota. Di hadapan Ranti, seorang pria berkacamata dengan setelan jas rapi—Pak Hendra, pengacara spesialis perceraian dan pidana—sedang memeriksa dokumen-dokumen yang baru saja diserahkan oleh Tasya.
"Semua bukti foto, rekaman video berdurasi lima menit saat penggerebekan, hingga kuitansi pembelian kalung emas berinisial SR atas nama Sony sudah saya amankan," ujar Pak Hendra seraya merapikan letak kacamatanya. "Tindakan penyiraman air panas memang berisiko menjadi celah bagi pihak Sony untuk melaporkan Anda atas dugaan penganiayaan, Bu Ranti. Namun, melihat posisi mereka yang tertangkap basah perzinahan in flagrante delicto, posisi tawar kita di kepolisian dan pengadilan agama sangat kuat."
Ranti menyesap teh hangatnya perlahan. Wajahnya begitu tenang, kontras dengan gejolak emosi yang membakar dadanya.
"Lakukan apa saja yang perlu dilakukan, Pak Hendra," sahut Ranti dingin. "Saya tidak akan mundur selangkah pun. Rumah, mobil, hak asuh anak, dan seluruh aset yang kami bangun dari nol harus jatuh ke tangan saya. Pria itu tidak berhak membawa satu sen pun untuk wanita selingkuhannya."
"Baik, Bu Ranti. Kami akan mengurus draf gugatan cerai sekaligus pelaporan pasal perzinahan hari ini juga."
Ranti mengangguk pelan. Pandangannya menerawang menembus jendela kaca kafe, menatap rintik hujan yang mulai membasahi jalanan.
Di balik ketenangannya, benak Ranti kembali terlempar pada ingatan satu tahun yang lalu. Masa di mana benih-benih pengkhianatan itu mulai tertanam tanpa pernah ia sadari sedikit pun.
Satu Tahun Lalu – Gedung Taman Kanak-Kanak Cendekia
Pagi itu, sinar matahari hangat menerobos sela-sela pepohonan rindang di halaman TK Cendekia. Ranti berdiri di samping Sony, menggandeng jemari kecil putra tunggal mereka, Bima, yang baru berusia lima tahun. Hari itu adalah hari pertama Bima masuk sekolah.
"Mas, dasimu miring sedikit," ujar Ranti penuh perhatian seraya merapikan lipatan kemeja kerja Sony sebelum suaminya itu berangkat ke kantor.
"Terima kasih, Sayang," balas Sony dengan senyum hangat. Pria itu menepuk kepala Bima lembut. "Bima, belajar yang pintar ya di sekolah. Jangan nakal sama Bu Guru."
"Siap, Papa!" seru Bima dengan polosnya.
Saat mereka bertiga berjalan menuju pintu kelas, seorang wanita muda berparas manis dengan balutan blazer cream dan rok lipit anggun menyambut mereka. Rambut panjangnya diikat rapi, dipadu dengan riasan tipis yang menonjolkan kesan ramah dan lembut.
"Selamat pagi! Wah, ini Bima ya?" sapa wanita itu dengan suara renyah dan senyum yang sangat memikat.
"Pagi, Bu..." Ranti membalas senyuman itu dengan tulus. "Iya, ini Bima. Bima, ayo sapa guru barumu."
"Pagi, Bu Guru," cicit Bima malu-malu di balik kaki ibunya.
Wanita muda itu berlutut sejajar dengan tinggi Bima, memegang kedua bahu anak kecil itu dengan kehangatan yang tampak begitu natural. "Halo Bima! Kenalkan, nama Ibu... Bu Raya. Mulai hari ini, Bu Raya yang akan menemani Bima bermain dan belajar di kelas, ya?"
Raya mendongak, matanya yang jernih bersitatap dengan Ranti, lalu beralih ke arah Sony yang berdiri tepat di samping Ranti.
Untuk sefraksi detik, Ranti tidak menyadari adanya kilat berbeda di mata suaminya. Sony menatap Raya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan terkagum-kagum. Wajah Raya yang masih muda, segar, dan polos seolah memberikan penyegaran mendadak bagi indra penglihatan Sony.
"Saya Sony, ayahnya Bima," sapa Sony mendahului, mengulurkan tangannya dengan senyum yang terlalu lebar dari biasanya.
Raya menyambut uluran tangan Sony. "Saya Raya, Pak Sony. Salam kenal."
Jabat tangan itu berlangsung beberapa detik lebih lama dari durasi sopan santun biasa. Ranti yang berdiri di sana sama sekali tidak menaruh curiga. Bagi Ranti, Raya adalah sosok guru yang hangat, penyabar, dan bisa dipercaya untuk menjaga putranya.
"Mbak Ranti dan Mas Sony tidak perlu khawatir," tutur Raya manis seraya berdiri kembali. "Bima anak yang pintar. Saya akan menjaga dan mendidiknya dengan sepenuh hati di sini."
"Terima kasih banyak ya, Bu Raya. Kalau Bima rewel, tolong kabari saya saja," balas Ranti tulus.
"Tentu, Mbak Ranti. Nanti kita bisa bertukar nomor WhatsApp supaya lebih mudah berkoordinasi."
Hari itu, pertukaran nomor telepon yang berkedok informasi perkembangan anak menjadi pintu masuk awal dari bencana besar dalam rumah tangga mereka.
Tiga Bulan Kemudian – Sebuah Restoran di Pusat Kota
Sony duduk di sudut restoran yang cukup remang. Di hadapannya, Raya duduk seraya mengaduk jus stroberinya dengan raut wajah yang sengaja dibuat layu dan sedih.
Sore itu, Ranti sedang ada acara keluarga di luar kota bersama Bima. Kesempatan emas itu digunakan Sony untuk mengajak Raya makan malam bersama dengan alasan "membicarakan perkembangan belajar Bima yang sedikit menurun".
"Jadi... gimana perkembangan Bima, Raya?" tanya Sony, suaranya sengaja direndahkan agar terdengar lebih intim.
Raya mendesah pelan, menatap Sony dengan tatapan sayu yang dibuat-buat. "Sebenarnya Bima baik-baik saja, Mas Sony. Anak cerdas. Saya... saya cuma menjadikan Bima alasan supaya bisa bertemu Mas Sony."
Sony tertegun. Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar. "Maksud kamu?"
Raya menunduk malu-malu, jemarinya memegang tepi meja dengan gelisah. "Saya merasa bersalah banget sama Mbak Ranti... Mbak Ranti itu orangnya sangat baik. Tapi... tapi saya tidak bisa membohongi perasaan saya sendiri, Mas."
"Raya..."
"Setiap kali melihat Mas Sony mengantar Bima, melihat betapa perhatiannya Mas Sony sebagai pria... saya iri," bisik Raya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kehidupan saya berat, Mas. Saya cuma guru TK dengan gaji pas-pasan, tinggal di kontrakan sempit sendirian. Kadang saya merasa kesepian dan butuh sosok pria yang bisa melindungi saya..."
Kalimat rentan dan penuh manipulasi itu tepat menghantam ego Sony sebagai seorang lelaki. Di rumah, Ranti adalah istri yang mandiri, cerdas, dan selalu bisa mengurus segala hal dengan sempurna. Sony kerap merasa "tidak terlalu dibutuhkan" karena Ranti begitu cekatan.
Namun di hadapan Raya, Sony merasa dirinya dibutuhkan bagaikan seorang pahlawan.
Sony mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam jemari Raya yang terasa dingin. "Kamu tidak sendirian lagi sekarang, Raya. Kalau ada kesulitan apa pun... kamu bisa cerita sama Mas."
Raya mendongak, menatap Sony dengan mata berbinar-binar penuh kepalsuan. "Tapi... Mbak Ranti gimana, Mas? Saya takut menyakiti hati Mbak Ranti."
"Ranti tidak perlu tahu," bisik Sony tegas, pertahanannya runtuh sepenuhnya oleh godaan. "Ranti sibuk dengan dunianya sendiri. Mas yang akan jaga kamu, Raya. Mas akan penuhi semua kebutuhan kamu..."
Raya tersenyum manis di balik air mata buatannya. Sejak malam itu, hubungan terlarang mereka dimulai. Berawal dari ciuman sembunyi-sembunyi di dalam mobil Sony di parkiran sekolah, berlanjut ke kamar-kamar hotel berbintang, hingga akhirnya Raya dengan berani meminta Sony menyewa apartemen mewah untuknya.
Puncaknya adalah ketika Sony membelikan kalung emas putih berinisial SR.
Saat Ranti menemukan kalung itu di dalam tas kerja Sony beberapa bulan lalu, Sony dengan lihai bersilat lidah. "Ini kejutan buat kamu, Sayang. SR itu Sony dan Ranti." Ranti yang polos dan penuh rasa percaya menangis terharu saat Sony melingkarkan kalung itu di lehernya.
Padahal, kenyataan pahit yang sebenarnya: Sony membeli dua kalung yang sama persis. Satu untuk istri sahnya sebagai tameng agar tidak dicurigai, dan satu lagi untuk Raya—sebagai simbol dari Sony dan Raya.
Kembali ke Masa Kini – Dalam Kafe
Gebrakan pelan di meja mengembalikan kesadaran Ranti.
Tasya menyodorkan selembar tisu ke arah Ranti. "Ti, kamu ngelamun? Matamu sampai merah begitu."
Ranti menerima tisu itu dan menyapu sudut matanya yang kering. Tidak ada lagi air mata yang tersisa untuk ditumpahkan. Yang ada hanyalah lahar dingin kebencian yang makin membeku.
"Aku cuma mendadak ingat pertama kali kita ketemu Raya di sekolah Bima," kata Ranti dengan suara datar tanpa emosi. "Betapa rapinya dia akting jadi wanita polos dan penuh kasih sayang. Ternyata di belakangku, dia mengincar suamiku dan fasilitas hidup mewahnya."
Lala memegang lengan Ranti erat-erat. "Tapi sekarang topeng mereka berdua sudah lepas, Ti. Seluruh komite sekolah tempat Raya mengajar sudah geger gara-gara video pendek yang aku sebar terselubung di grup wali murid. Pihak yayasan sekolah baru saja mengeluarkan surat pemecatan tidak dengan hormat untuk Raya!"
Ranti tersenyum sinis. "Pemecatan itu belum ada apa-apanya, La. Karirnya hancur, tubuhnya melepuh terkena air panas, dan sebentar lagi dia akan mendekam di sel tahanan atas tuduhan perzinahan."
Pak Hendra merapikan berkas-berkasnya ke dalam tas kerja. "Ibu Ranti, proses persidangan dan pemanggilan kepolisian akan dimulai lusa. Apakah Anda siap berhadapan langsung dengan Sony dan Raya di pengadilan?"
Ranti berdiri tegak, membenahi posisi tas sandangnya. Tatapan matanya tajam memancarkan keberanian yang mutlak.
"Saya sangat siap, Pak Hendra," tegas Ranti. "Saya yang membesarkan nama Sony hingga dia menjadi pengusaha sukses seperti sekarang, dan dengan tangan saya sendiri pula... saya akan memulangkannya ke tempat asalnya: menjadi pria yang tidak punya apa-apa."
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.
pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
pengacara ranti yg kurang keren
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.
ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.