Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: MANTAN KEKASIH CEO YANG KEMBALI
Gala dinner Wijaya Group adalah acara paling mewah yang pernah aku datangi seumur hidupku.
Acara itu diadakan di ballroom hotel bintang 7 di Jakarta, Hotel Langham. Seluruh lantai ballroom dihiasi bunga mawar putih asli yang didatangkan dari Belanda, lampu kristal raksasa menggantung di atas, dan semua tamu yang datang adalah orang-orang terkaya di Indonesia. Menteri, artis papan atas, pengusaha konglomerat, semuanya ada.
Dan aku, Sinta Maharani, anak tukang becak yang jual gorengan, berdiri di tengah-tengah mereka dengan gaun haute couture berwarna hitam legam yang membelah paha, gaun seharga 300 juta yang dibelikan Arga kemarin.
Tanganku gemetar memegang clutch berlian. Aku merasa seperti penyusup.
Arga Wijaya di sampingku terlihat seperti raja. Jas tuxedo hitamnya sangat pas di tubuhnya, rambutnya disisir rapi ke belakang, wajahnya dingin dan berwibawa. Semua orang menunduk hormat saat kami lewat.
"Jangan gemetar, kamu mempermalukan saya," bisik Arga di telingaku sambil merangkul pinggangku erat, pura-pura mesra.
"Saya takut Pak... semua orang menatap saya..."
"Biarkan mereka menatap. Mereka iri karena kamu berhasil mendapatkan saya. Tersenyum. Angkat dagu kamu. Kamu sekarang Nyonya Wijaya, bukan Sinta penjual gorengan."
Aku mencoba tersenyum. Arga membawaku berkeliling menyapa para direksi.
"Pak Menteri, kenalkan ini istri saya, Sinta."
"Pak Menteri, cantik sekali istrinya Pak Arga, beruntung sekali Pak Arga."
Aku hanya mengangguk dan tersenyum kaku. Aktingku sangat buruk, tapi Arga selalu menyelamatkanku dengan rangkulan dan kecupan di kening yang membuat semua orang histeris.
Di tengah acara, saat Arga sedang naik ke atas panggung untuk memberikan pidato sebagai CEO baru penerus warisan 2 Triliun, aku memutuskan untuk pergi ke balkon sebentar untuk mencari udara segar. Aku pusing mencium bau parfum mahal yang menyengat.
Balkon itu sepi dan anginnya sejuk. Aku melepas sepatu hak tinggiku sebentar dan memijat kakiku yang pegal.
"Sinta Maharani?"
Suara wanita yang sangat lembut dan merdu terdengar dari belakangku.
Aku berbalik. Seorang wanita cantik jelita berdiri di sana. Rambutnya panjang pirang kecoklatan, wajahnya bule blasteran, tubuhnya tinggi semampai seperti model internasional, dan dia memakai gaun merah menyala yang sangat seksi dan mahal. Wajahnya sangat familiar, aku pernah melihatnya di majalah.
Itu Luna! Luna Amanda! Supermodel internasional dan aktris papan atas! Mantan kekasih Arga Wijaya yang fotonya pernah viral 2 tahun lalu!
Jantungku langsung berdegup kencang.
"Kamu... Kak Luna?"
Luna tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke matanya. Matanya menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang sama seperti Tante Mira.
"Jadi kamu ya istri barunya Arga? Yang katanya dari panti asuhan? Wow, Arga seleranya turun drastis ya sekarang. Dulu dia sama aku, supermodel, sekarang sama... kamu."
Kata-katanya seperti pisau yang menusuk jantungku.
"Kak Luna... saya..."
"Shhh," Luna meletakkan jari telunjuknya di bibirku. "Kamu tidak perlu menjelaskan. Aku tahu semuanya. Arga cerita ke aku. Pernikahan kontrak kan? Demi warisan 2 Triliun dari Kakek?"
Darahku membeku. Bagaimana Luna bisa tahu?! Apakah Arga yang cerita?! Apakah Arga masih berhubungan dengan mantannya?!
"Kakak tahu dari mana?"
Luna tertawa angkuh. "Arga itu milikku, sayang. Kami 5 tahun pacaran. Dia sangat mencintaiku. Dia hanya menikahimu karena terpaksa. Setelah dia dapat warisan, dia akan menceraikanmu dan kembali padaku. Dia sudah janji itu padaku seminggu lalu, sebelum dia menikahimu."
Seminggu lalu? Sebelum menikahiku, Arga sudah janji akan kembali ke Luna setelah dapat warisan?
Dadaku sesak. Sakit sekali. Padahal aku tidak boleh jatuh cinta, tapi kenapa mendengar itu rasanya seperti ditusuk ribuan jarum?
"Tidak mungkin... Arga tidak pernah bilang..."
"Dia tidak bilang karena dia kasihan padamu. Anak miskin seperti kamu mana paham dunia kami. Dengar ya, Sinta sayang, saya kasih kamu saran. Nikmati saja uangnya selama satu tahun ini. Pakai kartu hitamnya, beli tas Hermes, pamer di Instagram. Setelah itu, angkat kaki dari hidup Arga. Karena Arga itu Alpha dominan, dia butuh Luna yang selevel, bukan Omega miskin seperti kamu yang bahkan tidak bisa membedakan mana berlian asli dan palsu."
Luna kemudian mendekat dan berbisik di telingaku dengan kejam, "Kalung yang kamu pakai itu palsu tau. Arga pasti belikan yang KW untuk istri kontrak murahan seperti kamu."
Kalung ini palsu? Padahal Arga bilang 500 juta?
Air mataku mulai menggenang. Aku merasa sangat hina.
Saat itu, pintu balkon terbuka dengan keras.
Arga Wijaya berdiri di sana dengan wajah yang sangat marah. Matanya merah menyala menatap Luna.
"LUNA! APA YANG KAMU LAKUKAN DI SINI?!"
Luna langsung berubah 180 derajat. Wajahnya yang tadi kejam langsung menjadi manja dan ceng.
"Arga sayang! Aku kangen kamu! Aku hanya mau menyapa istri barumu! Aku mau berteman dengannya!"
Arga berjalan cepat dan menarik Luna menjauh dariku. Dia menatap Luna dengan tatapan benci.
"Saya sudah bilang jangan pernah dekati istri saya! Pernikahan saya bukan urusan kamu! Kita sudah putus 2 tahun lalu!"
"Tapi Arga, kamu janji mau balikan sama aku setelah dapat warisan..."
"SAYA TIDAK PERNAH JANJI SEPERTI ITU! PERGI DARI ACARA SAYA SEKARANG ATAU SAYA PANGGIL SATPAM!"
Luna terkejut melihat Arga begitu marah membelaku. Dia menatapku dengan tatapan penuh dendam, lalu pergi sambil menghentakkan kaki dengan sepatu hak tingginya.
Balkon itu kini hanya tinggal aku dan Arga.
Aku masih menangis, memegang kalung berlianku.
"Kalung ini... palsu ya Pak?" tanyaku dengan suara parau.
Arga terdiam. Dia menatap kalung itu, lalu menatapku.
"Siapa bilang palsu?"
"Kak Luna bilang..."
"Luna itu pembohong! Kalung itu asli! 500 juta! Saya beli di toko berlian Tiffany! Jangan pernah percaya omongan mantan saya!"
Arga terlihat sangat marah, tapi bukan marah padaku, marah pada Luna.
Dia kemudian dengan kasar menghapus air mataku dengan jempolnya.
"Jangan menangis karena wanita seperti dia. Kamu istri saya sekarang, bukan dia. Mengerti?"
"Tapi... Bapak masih cinta Kak Luna ya?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku. Aku langsung menyesal.
Arga terdiam lama. Matanya menatap jauh ke lampu Jakarta.
"Cinta? Saya sudah tidak percaya cinta sejak orang tua saya meninggal. Luna mengkhianati saya saat saya terpuruk dulu. Dia selingkuh dengan sahabat saya sendiri. Jadi untuk apa saya cintai pengkhianat?"
Jadi Luna yang selingkuh? Pantas Arga begitu dingin pada wanita.
"Lalu kenapa Bapak masih simpan foto Kak Luna di dompet Bapak?" Aku memberanikan diri bertanya lagi, karena kemarin saat Arga membayar di mall, aku tidak sengaja melihat foto Luna di dompetnya.
Arga terkejut. Wajahnya langsung tegang.
"Kamu menggeledah dompet saya?!"
"Tidak! Tidak sengaja terlihat Pak..."
Arga menghela napas panjang. Dia mengambil dompetnya dan mengeluarkan foto itu, lalu merobeknya menjadi dua di depanku dan melemparkannya dari balkon lantai 50 itu.
"Foto itu sudah lama mau saya buang, hanya lupa. Sekarang sudah tidak ada. Puas?"
Aku mengangguk pelan.
Arga kemudian kembali merangkul pinggangku dan membawaku masuk kembali ke dalam ballroom.
"Jangan pernah dengarkan omongan orang lain tentang pernikahan kita. Hanya saya dan kamu yang tahu kebenarannya. Dan selama kontrak masih berlaku, kamu adalah satu-satunya Nyonya Wijaya. Tidak ada Luna, tidak ada wanita lain. Hanya kamu."
Kata-kata itu seharusnya membuatku senang, tapi kenapa terdengar begitu menyedihkan? Hanya satu tahun. Hanya kontrak.
Di dalam ballroom, semua orang masih berpesta, tidak tahu drama yang baru saja terjadi di balkon.
Luna sudah tidak terlihat lagi, mungkin sudah diusir satpam.
Tapi tatapan dendam Luna tadi... aku tahu ini belum selesai. Wanita seperti Luna tidak akan menyerah begitu saja mendapatkan kembali Arga Wijaya dan warisan 2 Triliun.
Malam ini, musuh baruku bukan hanya keluarga Wijaya yang serakah, tapi juga mantan supermodel yang sangat cantik dan berbahaya.
Dan aku, hanya Sinta Maharani, gadis miskin dengan IPK 3.9 dan kalung 500 juta yang dibilang palsu.
Mampukah aku bertahan?
(Bersambung...)
""Komen aja kalo ada yg typo:^)""